Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat

Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat
Married


__ADS_3

Hari ini Jesseline juga sarapan seorang diri. Cukup aneh sejatinya baginya, ibu dan kakaknya tengah sibuk menangani urusan usaha mereka masing-masing. Sedangkan Sesilia dan Zeyan tidak terlihat sama sekali, tapi itu masih wajar saja baginya. Bagaimana pun juga beberapa hari ini dirinya tengah mengikuti pelatihan, perekrutan pegawai baru di sebuah perusahaan swasta. Jadwal kerja yang tidak tetap menjadi kendala untuknya.


Mungkin saja, Sesilia dan Zeyan ada di rumah saat dirinya tidak ada. Walaupun ada kalanya dirinya mendatangi kamar Zeyan tidak menemukan keberadaan anak itu. Wanita yang selalu terburu-buru itu tengah menikmati hari liburnya.


Mungkin dirinya akan membawa keponakannya yang jenius jalan-jalan hari ini. Itulah yang mungkin ada di benaknya. Mengirim pesan pada Sesilia agar segera pulang. Tapi apa Sesilia juga mengikuti Fabian? Apa mungkin Zeyan dititipkan di tempat lain?


Menghela napas kasar, kala pesan terkirim tapi tidak dibaca atau pun dibalas. Pada akhirnya dirinya mengirimkan pesan pada Fabian.'Kak kapan pulangnya?' itulah isi pesan yang dikirimkannya. Berharap Sesilia dan Zeyan ikut pulang bersama mereka.


'Kami hampir sampai rumah. Suruh pelayan membuatkan sarapan lebih!' Pesan balasan dari Fabian.


Kata kami mungkin mengacu pada Fabian dan Sesilia, atau mungkin Zeyan juga ikut? Tidak sabar rasanya ingin menarik pipi chubby keponakannya tersayang, yang selucu kelinci tapi lebih mengerikan dari dedemit jika sedang marah.


Menunggu! Tidak sabaran lagi, sesekali melihat media sosial sembari sarapan. Hingga suara mobil terdengar, perhatiannya teralih, jantungnya berdegup kencang. Bukan karena jatuh cinta, tapi karena merindukan keponakannya.


Pintu depan masih terbuka. Suara langkah kaki terdengar, matanya menelisik.


"Zeyan! Zeyan! Zeyan sayang?" Suara Mulyasari terdengar, baru memasuki rumah menenteng beberapa paper bag. Terlihat berkeliling, setelah menengok keruang makan tempatnya berada saat ini.


Sedangkan Fabian menghela napas kasar. Terlihat mengatur suara, juga ikut-ikutan mencari sesuatu. Tapi tidak lama kemudian kedua orang itu terduduk di kursi meja makan.


Dua orang yang terlihat ragu untuk bicara. Tapi pada akhirnya Fabian yang duluan berucap."Apa Sesilia masih marah padaku?" tanyanya.


"Hah?" Jesseline mengenyitkan keningnya tidak mengerti sama sekali. Ada masalah apa dengan ibu dan kakaknya. Bukannya mereka seharusnya pergi bersama Sesilia?


"Mungkin mereka masih marah. Ibu juga keterlaluan sudah salah bicara. Seharusnya ibu tau Zeyan sudah cukup cerdas. Hah..." Mulyasari menghela napas kasar menjeda kata-katanya."Mulut dan otak ini memang tidak cerdas. Bagaimana dapat berfikiran buruk untuk merebut Zeyan."


"Jesseline, bisa tolong panggil Sesilia di kamarnya? A...aku terlalu canggung untuk mengetuk pintu." pinta Fabian.

__ADS_1


"Canggung? Setan gila sepertimu bisa canggung seperti kutu buku SMP?" Jesseline tertawa sejenak. Tapi hanya tawa sejenak saja, ada yang aneh dan hal itu dilewatkan olehnya. Kamar? Bagaimana Sesilia bisa ada di kamar? Bukannya Sesilia ikut dengan mereka?


"Tolong panggil Sesilia ya? Aku akan menambahkan jatah bulananmu." Lagi-lagi Fabian memelas.


"Aku mau sih... memanggil Zeyan dan Sesilia kalau mereka ada di rumah. Ta...tapi mereka tidak ada, bukannya Sesilia ikut denganmu dan ibu?" tanya wanita itu tergagap. Dirinya bingung harus bagaimana, rasa cemas kembali ada.


"Tidak ada? Sesilia beberapa hari ini tidak masuk ke kantor." Fabian terdiam sejenak, segera berlari dengan cepat. Naik ke lantai dua tempat kamar Zeyan dan Sesilia berada. Sementara Mulyasari terlihat lebih kebingungan lagi mencoba menghubungi Sesilia.


"Kalian kenapa? Zeyan mungkin sedang menginap di rumah mantan tetangganya dengan Sesilia. Jangan terlalu cemas, pernikahan kak Fabian dan Sesilia tinggal di setujui saja. Maka semua urusan beres." Ucap Jesseline enteng, kembali makan dengan tenang.


"Apanya yang beres! Kamu tidak dengar!? Ibu sudah menyinggung Zeyan! Menyakiti hati kelinci putih kecil yang pintar, cucu kesayangan ibu!" Mulyasari menangis sejadi-jadinya dalam kepanikan, bahkan mengguncang-guncang tubuh putrinya, bagaikan pohon mangga yang ingin dijatuhkan buahnya.


"I...iya! Yang tenang! Tenang!" Ucap Jesseline masih bisa waras saat ini. Menyadari hanya dirinya yang waras.


Fabian terdiam melangkah turun dari lantai dua kemudian duduk di kursi meja makan.


"Barang-barang mereka masih lengkap. Termasuk buku tabungan dan jam tangan milik Sesilia. Tidak ada yang berubah..." Fabian menghela napas kasar, ada yang aneh dirinya tahu itu. Tapi tetap saja, pergi tanpa membawa apapun? Sesilia tidak mungkin gegabah. Setidaknya seperempat atau setengah isi lemari akan menghilang. Tapi tidak ada yang terjadi sama sekali.


"Mungkin mereka sedang pergi membeli guli, tunggu sebentar lagi. Mungkin saja mereka akan pulang, percaya saja padaku." Ucap Jesseline meyakinkan, dua orang yang hanya terpaku diam. Tidak menyentuh sarapannya sama sekali.


*


Satu jam...dua jam...tiga jam...


Fabian dan Mulyasari tidak beranjak dari ruang tamu melihat ke arah pintu depan. Berharap dan menunggu kedua orang yang mungkin sedang pergi ke Indoapril untuk membeli guli.


Suara gerbang terbuka terdengar, kedua orang itu membulatkan matanya. Berharap dapat bertemu dan memeluk ibu dan anak itu. Berjalan cepat menuju pintu depan, membukanya penuh harap dan rasa rindu terhadap...

__ADS_1


"Paket! Paket! Paket!" Kang paket yang muncul penuh senyuman dan pelayanan tulus. Tidak disangka dirinya akan disambut baik, bahkan Fabian sempat merentangkan tangannya hendak memeluk tapi tidak jadi.


"Paket atas nama Jesseline?" Ucap kang paket, bersamaan dengan Jesseline yang keluar, menandatangani tanda terima. Kemudian membayar paket dengan harga yang tertera.


"Permisi pak...Bu..." Ucap kang paket canggung. Melihat kondisi aneh yang tidak kondusif untuknya. Mungkin ini akan menjadi salah satu pengalaman teraneh baginya. Hampir dipeluk seorang pria.


Sementara Fabian dan Mulyasari kembali masuk menatap ke arah Jesseline.


"Kamu benar-benar tidak tahu mereka pergi kemana?" tanya Fabian, dijawab dengan gelengan kepala oleh Jesseline.


"Aku ikut pelatihan di luar kota. Harus bolak-balik menaiki mobil, sebelum keputusan penempatan kerja. Baru hari ini aku libur, kalau sempat pulang juga tidak pasti waktunya. Lebih baik tanya pelayan atau supir saja mereka pasti ada yang tau..." Saran dari Jesseline.


*


Pada akhirnya kepala pelayan yang mereka beri perintah untuk menanyakan pada beberapa pelayan di rumah ini. Hanya ada satu pelayan yang tahu. Siapa? Tentu saja Mirah, seorang nenek dengan ingatan 1GB.


Seorang wanita tua yang kini ada di hadapan majikannya.


"Kamu tau keberadaan Sesilia dan Zeyan?" tanya Mulyasari menghela napas kasar.


Dengan cepat sang nenek mengangguk, dirinya ingat sang supir berpesan padanya untuk mengatakan pada Mulyasari."Saya dimintai tolong Suto ( sang supir), karena tuan muda dan nyonya sibuk. Suto tidak bisa menghubungi."


Fabian menghela napas kasar. Supir bernama Suto sudah berada di rumah. Kini mengobrol dengan security di pos depan, tidak ada yang serius sepertinya. Dirinya mencoba untuk tenang."Lalu dimana Sesilia?" tanyanya.


"Em... kalau tidak salah katanya dibawa menikah..." Ucap sang nenek mengingat-ingat pembicaraan absurbnya dengan Suto. Bukannya Suto mengatakan Sesilia mungkin menikah.


"Menikah!?"

__ADS_1


__ADS_2