Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat

Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat
Empty


__ADS_3

Tidak akan pernah dilepaskan olehnya. Siapa sangka perbuatan buruknya membawakan hasil anak ini. Seorang anak yang hanya diam, sejatinya enggan untuk menceritakan tentang penyakitnya. Dirinya memiliki alasan, mempunyai anak penyakitan? Mungkin saja dirinya akan ditolak oleh Fabian.


Jemari tangan kecil itu mengepal, dirinya harus merebut hati Fabian terlebih dahulu sebelum jujur dengan penyakitnya. Hingga pria ini pada akhirnya rela mempertaruhkan hidupnya untuk menjadi pendonor. Tapi... pria kejam tanpa hati yang meninggalkan ibunya hanya berselimutkan bed cover? Tidak bertanggung jawab sama sekali, bahkan tidak pernah berusaha mencari dan minta maaf pada wanita yang telah dilecehkannya.


Gedung rumah sakit itu pada akhirnya terlihat. Fabian masih memangkunya seakan enggan melepaskannya. Meninggalkan urusan perusahaan hanya untuk hal yang lebih penting.


"Kamu mengenal Triton? Bagaimana hubungannya dengan ibumu?" tanya Fabian berhati-hati padahal benar-benar membenci pria yang sejatinya tidak pernah ditemuinya secara langsung.


"Triton? Ibuku begitu menyayanginya, sama seperti ibu menyayangiku. Hubungannya dengan ibuku? Seseorang yang tidak akan dapat dilupakan dengan mudah." Jawaban puitis dari Zeyan, menatap penuh aura kecemerlangan pada ayahnya.


"Mau apa kamu! Tanya-tanya tentang Triton!?" batin Zeyan menahan rasa kesalnya.


"Begitu?" Fabian memincingkan matanya, menghela napas kasar."Apa ibumu sudah menikah?"


"Tidak, aku tidak punya papa..." Jawaban dari Zeyan dengan mata berkaca-kaca, wajahnya menunduk. Kelinci putih kecil terlihat sedih.


"Jika tidak terkena penyakit si*lan ini kamu kira aku akan menunduk padamu! Lebih baik ibuku sendiri, atau menikah dengan dokter, pengacara atau tentara daripada bertemu denganmu. Sabar Zeyan... yang kamu perlukan hanya sumsum tulang belakangnya." Isi fikiran kecil sang kelinci putih manis.


Fabian masih memperlihatkan wajah dinginnya. Pandangannya beralih ke arah jendela mobil, tersenyum-senyum sendiri tidak ada yang tahu apa yang ada dalam fikirannya.


Tapi ada yang aneh bagi Fabian. Mengapa Triton tidak menikahi Sesilia? Apa mungkin karena anak ini? Rasa dendam itu masih ada pada sang detektif muda. Seseorang yang hanya pernah dilihatnya dari jauh.


Wajah tengil, tapi prilaku yang dingin, Triton. Itulah dia pria yang bergerak dari belakang, kemudian menghilang bersama wanita buta, yang bekerja di toko bunga.


Masih teringat tentang sosoknya. Senyuman dingin itu kala berbalik pergi, benar-benar seperti iblis. Dendam yang tersimpan, benar-benar tersimpan dalam hati Fabian.


Turun dari mobil, menggandeng jemari tangan putranya penuh kebanggaan. Bayangkan siapa yang tidak akan bangga memiliki anak semanis ini? Bukan rumah sakit pemerintah seperti tempat Zeyan, tapi rumah sakit swasta kelas atas itulah tempat mereka berada saat ini.


Berjalan di area lobby rumah sakit. Semua mata tertuju pada mereka. Wajah anak yang mirip dengan ayahnya yang rupawan. Tapi tetap saja sang anak benar-benar manis. Sangat manis.


"Aku bersedia menjadi ibu tirinya. Anaknya lucu seperti malaikat! Ayahnya hot Dady!"


"Tidak datang bersama ibunya!? Mungkin duda anak satu!"


"Mobilnya mewah, ayahnya tampan, anaknya manis. Aku iri pada ibunya!"


Banyak lagi kalimat yang diucapkan oleh orang-orang yang tidak mereka kenal sama sekali. Fabian hanya tersenyum entah apa yang ada dalam fikirannya. Mungkin berapa beruntungnya sejatinya wanita itu.

__ADS_1


Atau mungkin memuji dirinya sendiri yang tampan? Tidak dari raut wajahnya yang terlihat dingin, mungkin dalam hatinya melompat kegirangan karena pujian. Sedangkan Zeyan menatap ke arah ayahnya, meskipun memberikan senyuman manis, tapi ingin rasanya mencekik ayah durhaka yang ingin dikutuknya menjadi batu ini.


*


Cakra segera membukakan ruangan khusus. Memang benar-benar aneh. Orang kaya memang berbeda, itulah yang ada di fikiran Zeyan saat ini, mengkonsumsi kue yang cukup mahal. Entah kenapa beberapa tahun ini makanan manis sangat cocok di lidahnya.


Dirinya menonggakkan kepalanya duduk di dalam ruangan kepala rumah sakit. Matanya menatap ke arah jendela, tatapan yang benar-benar kosong. Apa itu takdir Tuhan? Apa itu penghakiman Tuhan? Hanya itulah yang ada di fikirannya.


Mengapa umurnya sependek ini? Dalam fikirannya hanya satu, ingin membahagiakan ibunya. Bahkan jika Sesilia sudah tua, dirinya ingin mengurusnya dengan tangannya sendiri. Kenapa...? Kenapa usianya begitu pendek?


Pintu ruangan kepala rumah sakit terbuka dua orang petugas laboratorium datang, bersama kepala rumah sakit. Yang datang kali ini adalah Fabian. Fabian yang itu, benar-benar Fabian anak dari pemilik rumah sakit ini. Rumah sakit yang merupakan milik ibu Fabian.


"Tuan muda, maaf kami baru datang." Ucap sang kepala rumah sakit, menunduk beberapa kali.


"Kenapa baru datang? Apa orang sekarat lebih penting dan sibuk daripada aku?" Kalimat yang benar-benar arogan merupakan ciri-ciri dari pria busik ini. Aura yang bagaikan ingin meruntuhkan rumah sakit ini.


Zeyan berusaha menahan tawanya. Kesal, geram, pada ayahnya yang plin-plan. Tapi ini harus dilakukan untuk mendidik sopan santun ayahnya.


"Ayah... kenapa ayah memarahinya? Bagaimana jika benar-benar ada orang mati? A ...apa ayah sebenarnya jahat? Se... seperti penyihir dalam dongeng?" Sang anak dengan mata berkaca-kaca, benar-benar terlihat rapuh bagaikan cermin yang dapat pecah jika disentuh.


Tiba-tiba saja raut wajah Fabian berubah, sama seperti Cakra yang selalu serius. Kini keduanya tersenyum, takluk pada anak ini, bagaikan anak ini adalah majikan mereka, junjungan mereka.


"A...apa matahari terbit dari barat? Apa dunia akan kiamat?" Gumam sang kepala rumah sakit tidak dapat berkata-kata.


"Ayah bukan orang jahat. Bahkan ayah sering memberikan cuti pada karyawan, terkadang malah bonus. Ayah adalah orang rendah hati. Kamu harus meniru kebaikan ayah..." Ucap Fabian lembut, lebih lembut daripada kelapa muda, mungkin juga lebih lembut dari Sutra.


"Cuti apanya? Perluasan rumah sakit membuat kami kelabakan menampung pasien. Walaupun masalah itu sudah diselesaikan beberapa hari lalu. Tapi terakhir kali karena dalam waktu satu hari anda tidak sembuh dari flu, dokter yang menangani langsung dipindahkan ke rumah sakit cabang." Batin kepala rumah sakit berusaha tersenyum.


"Kami akan segera mengambil sampel." Ucap sang kepala rumah sakit bagaikan meminta ijin.


Dua orang pegawai lab masuk. Satunya mengambil sampel darah Fabian, satu lagi mengambil sampel darah Zeyan.


Pegawai lab menyadarinya, menatap ke arah sang anak berusia lima tahun itu yang menggeleng agar tidak mengungkapkan kecurigaannya. Terlalu banyak bekas suntikan pada kulit Zeyan. Terlebih lagi luka baru akibat pencabutan jarum infus.


Matanya melirik, ini adalah putra pemilik rumah sakit dirinya tidak boleh sembarangan. Mungkin harus berbicara secara pribadi dulu dengan anak ini.


"Apa ada cara agar putraku tidak merasakan sakit saat darahnya diambil?" pertanyaan konyol dari Fabian.

__ADS_1


"Dasar ayah budak anak!" Isi fikiran sang kepala rumah sakit memijit pelipisnya sendiri.


"Maaf saat ini teknologi medis belum semaju itu." Jawaban dari sang kepala rumah sakit. Tapi memang siapa yang dapat menahan perasaan iba. Kala anak semanis itu harus menahan rasa sakit. Ingin rasanya menggantikannya.


Kala sampel darah hendak dibawa keluar Zeyan tiba-tiba berusaha turun dari sofa.


"Ayah aku ingin pipis." Ucap Zeyan tersenyum, anak yang ingin ke kamar mandi seorang diri.


"Kamu bisa? Biar ayah temani." Fabian tersenyum lembut menebarkan aura kebapakan tingkat tinggi. Walaupun 6 tahun lalu setelah melakukannya dirinya langsung kabur. Benar-benar kebiadaban tingkat tinggi.


Zeyan mengangguk, menegang tangan pegawai laboratorium, tersenyum secerah mungkin."Aku bisa, kakak ini akan mengantarku."


"Kenapa aku merasakan firasat buruk ya?" batin pegawai laboratorium.


*


Apa benar hanya sebuah firasat? Ternyata tidak, kedua pegawai laboratorium itu terbaring lemah di lantai kamar mandi. Anak ini benar-benar mengerikan, mengacungkan pisau bedah pada wajah mereka.


Senyuman mengerikan menyungging di wajahnya yang manis."Kalian berdua mempunyai aib, satunya memiliki foto asusila, satunya lagi terlibat dalam jual beli wanita malam. Dua orang yang kotor bekerja di rumah sakit ini..."


"A...apa yang kamu inginkan? Apa memalsukan hasil tes?" Ucap salah satu dari mereka menahan rasa sakit.


Zeyan menggeleng."Lakukan tes DNA, tapi jangan pernah mengungkit penyakit leukemia yang aku derita. Aku tidak ingin dibuang olehnya, sebelum berhasil mendapatkan sumsum tulang belakangnya."


"Ba... baik!"


"Baik!"


Ucap mereka bersamaan, tidak ingin mencari masalah dengan anak berusia lima tahun ini. Benar-benar ketakutan hingga salah satu dari mereka mengeluarkan cairan kuning dari celana. Apa akan ada tes urine?


*


Sedangkan di tempat lain, wajah Sesilia yang baru datang terlihat pucat pasi. Jemari tangannya gemetar, memegang kotak plastik berisikan sarang madu yang diinginkan putranya.


Berlari mencari keberadaan putranya. Air matanya mengalir, anak berusia lima tahun berkeliaran seorang diri? Apa yang terjadi? Anaknya pasti kehausan, kelaparan, bagaimana jika bertemu anak lain, atau mungkin orang jahat yang melukainya.


Anaknya sebaik malaikat, benar-benar baik. Entah apa yang terjadi pada anak naifnya di luar sana.

__ADS_1


"Zeyan!" Ucapnya berlari dengan cepat setelah melihat ruang rawat anaknya kosong.


__ADS_2