
Hari ini Zeyan terdiam sejenak. Hanya dapat menghela napas kasar, menatap jemari tangan kecilnya. Senyuman menyungging di wajahnya yang pucat.
Keluarga? Itu sudah dimilikinya saat ini. Itu artinya keinginannya sudah terpenuhi. Tapi dirinya bagaikan terikat dengan dunia ini, memiliki seutas tali penghubung. Entah apa penyebabnya.
Menatap kembali ke arah langit-langit ruangan rumah sakit. Kematian yang dialami Triton masih diingatnya. Tapi ada yang lebih baik dari itu.
Sesilia menonton beberapa kali rekaman ulang berita kematian Triton. Keluarga para korban terlihat bahagia, dapat berkumpul dengan anggota keluarga mereka yang selamat dari penculikan dan penyekapan.
Apa karena itu? Dirinya mungkin harus melanjutkan ini. Mengalahkan bos utama, hal yang belum diselesaikan Triton.
Tapi apa yang dapat dilakukan anak berusia hampir 6 tahun? Anak yang mungkin baru besok hari dapat keluar dari rumah sakit?
Wajahnya tersenyum, dirinya mungkin akan melanjutkan ini sebagai misi terakhirnya. Hal pertama yang dilakukannya adalah menyiapkan pasokan energi.
"Nenek aku ingin kue kering, yang rasanya paling manis..." pinta anak manis berwajah rupawan itu. Pipinya masih chubby saat ini, walaupun sedikit berkurang akibat berat badannya yang menurun.
Tapi tetap saja, pesona tidak terelakkan. Mengundang jiwa orang-orang gila untuk melindungi dengan cara yang brutal.
"Nenek akan belikan."
"Nenek akan belikan."
Ucap Mulyasari dan Flo bersamaan. Dua orang yang saling melirik, menebarkan aura permusuhan tingkat tinggi. Bagaimana tidak? Bagi Flo, Mulyasari adalah orang yang pernah memiliki niatan untuk memisahkan Sesilia dengan Zeyan. Sedangkan bagi Mulyasari, Flo adalah orang yang ingin memisahkan putranya dari Sesilia dan Zeyan.
"Kamu mau membelikannya apa? Es cendol?" Gumam Flo tertawa kecil.
"Cendol? Dengar aku bahkan memiliki bakery and cake shop! Kamu kira akan membelikan cucuku jajanan pinggir jalan!?" Geram Mulyasari.
"Hanya itu? Aku akan pesankan cemilan untuk cucuku dari restauran bintang lima. Tentunya cemilan sehat!" Kalimat yang diucapkan sang wanita karier (Flo).
__ADS_1
"Zeyan, kamu lebih menyukai kue kering yang akan nenek bawakan kan?" tanya Mulyasari penuh harap.
"Zeyan, nenek adalah orang yang paling menyayangi dan menantikan kehadiranmu. Karena itu kue kering yang akan nenek bawakan pasti yang terbaik." Flo turut mendekat ke tempat tidur pasien.
Anak itu hanya dapat menghela napas berkali-kali menatap dua orang yang sudah resmi menjadi budak cucu. Karena itu dirinya tidak dapat memilih jadi satu hal yang ada di fikirannya saat ini, adalah mengendalikan kedua budaknya agar tidak ada satupun diantara mereka yang kecewa.
"A...aku sebenarnya tidak pemilih. A... asalkan tidak melanggar pantangan. A...apa kedua nenekku bertengkar karena aku yang terlalu pemilih?" Tanyanya dengan mata berkaca-kaca bagaikan hampir menangis.
Anak ini sungguh suatu keanehan. Kita anggap saja ekspresi anak berambut pirang itu kini, bagaikan menjatuhkan satu ton gula kedalam secangkir teh.
Tidak peduli dan mempertanyakan lagi siapa yang dipilih oleh cucu mereka. Ingin menangis rasanya menatap anak yang lugu ini, menginginkan cemilan. Tapi takut jika kedua neneknya berkelahi.
"Tunggu disini...Biar nenek belikan." Flo menghela napas kasar, mencium pipi kiri Zeyan.
"Akan ada banyak kue kering yang manis... maafkan perkataan nenek yang sebelumnya ya?" Pinta Mulyasari, mengecup pipi kanan anak laki-laki itu.
Pada akhirnya mengalah dan tidak bertengkar hingga keduanya meninggalkan ruangan. Tapi apa benar begitu?
Tidak menyadari cucu mereka yang berada dalam kamar tersenyum memikirkan sesuatu yang mungkin akan kembali mengancam nyawanya.
"Permainan akan dimulai lagi. Tapi sebelumnya aku memerlukan perbekalan, alat-alat medis, senjata, alat komunikasi dan uang..." Gumamnya yang telah memiliki perbekalan.
*
"Anjani...kamu sungguh cantik...ugh..." Gumam seorang pria yang pada akhirnya berteriak juga. Pria yang tersenyum setelah menjamah tubuhnya. Melemparkan alat pengaman ke dalam tempat sampah.
Pria yang hanya menyelimuti dirinya, mengecup bibirnya kemudian melangkah ke dalam bilik kamar mandi.
Dirinya diam tertegun di atas tempat tidur. Melepaskan tali yang mengikat tangannya, matanya menelisik, pakaiannya telah koyak. Bahkan bekas cabuk memerah di tubuhnya.
__ADS_1
Ini sudah biasa, wanita bayaran? Mungkin itulah yang lebih tepat tersemat pada dirinya. Jujur dirinya sendiri sudah mati rasa. Seorang ayah yang hanya memiliki satu orang anak seharusnya memanjakan anaknya bukan?
Tapi ayahnya tidak, ibunya meninggal karena melahirkan dirinya. Karena itu, sejak lahir ke dunia ini dirinya sudah memiliki hutang pada ayahnya. Hutang karena telah membunuh ibu yang melahirkannya.
Dirinya tidak mengerti sama sekali, berkali-kali memenangkan kompetisi musik dan menari balet. Walaupun di bidang akademis dirinya kurang. Tapi tidak ada senyuman penuh kebanggaan dari ayahnya.
Terdiam seorang diri menatap ke arah cermin betapa menyedihkannya penampilannya saat ini. Tanda ungu ada di sekujur tubuhnya, sudut bibirnya mengeluarkan darah. Ini karena pria yang tengah berada di kamar mandi.
Seseorang yang memiliki kekuasaan cukup untuk membuat keberadaan Chan seolah-olah tidak terlacak. Dirinya lelah, terkadang jatuh cinta pada seorang pria. Tapi ayahnya, hanya ingin menjadikan dirinya boneka untuk merayu pria. Mengambil uang dan kekuasaannya lalu pergi, hanya itulah tugasnya dari sang ayah.
Dirinya pernah jatuh cinta. Tapi sang ayah mengancam akan membunuh pria itu. Hingga akhirnya Anjani menyakiti dan mengambil semua hartanya. Agar sang ayah tidak menganggu pria yang dicintainya. Tapi apa hasilnya? Pria itu bunuh diri.
Dirinya mati rasa, bahkan melihat Fabian yang tetap menyukai Sesilia setelah 6 tahun berlalu, membuat dirinya berfikir. Mengapa Tuhan baik pada Sesilia tapi begitu kejam padanya.
Air matanya mengalir, menahan rasa sesak di dadanya.
Pintu perlahan terbuka. Seorang pemuda berdiri mematung disana. Bibirnya bergetar, wajahnya berusaha tersenyum.
Dia Aster, bawahan ayahnya. Seseorang yang ditugaskan mengawasi dirinya dari berusia 17 tahun hingga kini. Pemuda itu berjalan mendekat, memakaikan jaket panjang miliknya.
"Pakaian anda robek. Anda dapat keluar menggunakan ini," ucapnya mengancingkan jaket panjang miliknya pada tubuh Anjani."Apa menyakitkan?" tanyanya tertunduk.
"Lumayan." Hanya itulah jawaban dari Anjani. Dirinya begitu kotor, bau alkohol masih tercium di tubuh dan mulutnya. Pengaruh obat penenang yang selalu dikonsumsinya mulai menghilang. Hingga dirinya kini menganggap tubuhnya hanya tumpukan tanah kotor.
"Jika anda ingin pergi. Saya dapat menghalangi Tuan (Chan) selama dua hari. Anda dapat tinggal sementara di wilayah lain." Ucap pemuda itu.
Anjani hanya menggeleng."Kemanapun aku pergi, aku tidak akan pernah memiliki rumah. Bahkan ayahku sendiri, mengatakan aku harus membayar hutang karena menyebabkan kematian ibuku."
Pemuda itu berusaha tersenyum, menggenggam jemari tangan Anjani."Saya hanya ingin anda bahagia. Tersenyum, tanpa ada yang menyakiti anda. Karena saya---"
__ADS_1
Kalimat yang terhenti, pemuda itu pada akhirnya bangkit membimbing jalan Anjani meninggalkan ruangan itu.