
Seperti yang sudah diduga, pria ini royal. Mobil box mengikuti mobil mereka, dipenuhi dengan mainan, furniture, dan pakaian anak-anak. Ditambah dengan makanan yang cukup banyak, di dalam mobil.
Hanya tidur agar tidak dijejali makanan lagi. Itulah yang dilakukan Zeyan. Dalam perjalanan, entah akan dibawa kemana oleh ayah kandungnya. Siluet mimpi itu terbayang samar. Benar-benar samar.
"Apa maumu?" pertanyaan dari seseorang.
"Menghancurkan dua perusahaan besar untuk Esli (Sesilia)." Mulut berlumuran darah dari seseorang yang mencoba untuk bangkit. Perangkat komputer milik pemuda itu dihancurkan oleh beberapa orang.
Suara tembakan terdengar, hingga tubuh pemuda itu terjatuh.
Pemuda rupawan tanpa tenaga setelah menerima puluhan luka tembakan."Setidaknya tiga menit lagi mobil polisi akan datang. Kalian tidak akan bisa menyingkirkan mayatku."
"Apa peduli kami dengan mayatmu yang sudah seperti sampah!?" Ucap seorang pria, menikam tubuh tidak berdaya itu menggunakan samurai.
Pemuda yang tersenyum dalam kematiannya."Jika kalian tidak sempat membuang mayatku. Maka, adikku akan dapat melihat dengan kornea mataku." Itulah isi fikiran terakhirnya. Sebelum pada akhirnya menutup matanya. Menjaga mata itu tetap utuh untuk adik yang disayanginya. Seorang kakak yang benar-benar penyayang.
Tiba-tiba dengan cepat Zeyan yang tertidur di mobil dengan kepalanya yang berada di pangkuan Fabian, terbangun. Napasnya tidak teratur, keringat dingin mengalir di pelipisnya.
Mimpi itu lagi, selalu mimpi itu. Bibirnya putih pucat, dengan cepat Fabian memeluknya."Kamu mimpi buruk?" tanyanya.
"Tidak, aku hanya terkejut. Sering terjadi seperti sensasi terjatuh ketika tidur..." Zeyan tersenyum cerah menunjukkan aura manis mengintimidasi lagi.
Seketika Fabian menahan senyumnya."Tidak bisakah kamu pelan-pelan mengemudi!? Jika putraku terjatuh aku akan menjebloskanmu ke penjara!" ancaman dari Fabian, benar-benar murka pada supir pribadinya.
"Baik Tuan!" Hanya itulah jawaban sang supir.
"Tenang! Tenang! Yang waras harus banyak-banyak bersabar dan mengalah..." batin sang supir.
Senyuman manis dari anak yang memakai baju lengkap dengan topi kelinci itu memudar sejenak. Jemari tangannya mengepal, matanya melirik kearah Fabian. Dirinya harus segera mengetahui orang-orang yang terlibat dalam kematian Triton. Kemudian menjalani kehidupan bahagia dengan ibunya.
__ADS_1
Pemikiran yang benar-benar dewasa kala melihat langit yang mulai gelap. Benar-benar mimpi yang buruk, mimpi yang terus-menerus berulang-ulang kali terbayang. Triton, tujuan kakak Sesilia meruntuhkan dua perusahaan yang bekerjasama dengan dalih pernikahan. Salah satu perusahaan bahkan melakukan banyak kejahatan yang lebih keji. Perdagangan organ manusia dan penyelundupan narkotika.
Triton, mengingat nama sang pemuda rupawan jemari tangan anak itu mengepal. Ingin rasanya mengungkap dan membalas orang yang telah membunuh Triton. 20 nyawa dapat diselamatkan oleh Triton dengan mengorbankan dirinya sendiri. Sesilia mendapatkan uang kompensasi dari kepolisian, atas jasa kakaknya. Uang yang tidak seberapa dibandingkan dengan nyawa sang kakak. Walaupun begitu tidak ada pelaku yang tertangkap. Sama sekali tidak ada, orang-orang berkuasa yang memiliki banyak uang.
Hup!
Mulut Zeyan kembali disumpal menggunakan makanan."Makanlah yang banyak. Kamu sangat kurus. Mulai sekarang kamu dan ibumu akan hidup di tempat yang berbeda. Hanya perlu makan dan tidur!"
"Aku sudah kesulitan bernapas karena kebanyakan makan..." batin Zeyan, masih disuapi, bahkan kembali dipangku Fabian dalam mobil yang melaju.
*
Seperti sudah diduganya. Diperlakukan seperti ahli waris sesungguhnya. Tapi sebagai anak manis dirinya harus berperilaku seperti anak manis bukan?
"Wah!" Zeyan terlihat takjub. Berlari kesana-kemari layaknya anak kecil sebayanya. Bahkan terpeleset terjatuh, benar-benar mengundang tawa gemas dari pelayan, Cakra, dan Fabian. Kelinci putih kecil manis terjatuh, dengan mata berkaca-kaca hampir menangis.
"Ekhm..." Fabian menetralkan tawanya. Kemudian mengangkat tubuh putranya."Dengar! Mulai sekarang ini adalah rumahmu. Semua pelayan disini harus tunduk padamu. Anggap saja mereka adalah budakmu,"
"Mengerikan,"
"Benar! Inilah Tuan muda (Fabian) pasti akan mengajarkan hal buruk pada putranya."
"Anaknya malaikat tapi ayahnya iblis."
Bisikan para pelayan tidak dapat didengar oleh mereka. Tapi memang benar begitu kenyataannya bukan? Dari luar memang terlihat seperti itu. Mereka tidak tahu saja wajah asli dari anak yang mereka sebut bagaikan malaikat.
Tapi tidak pada intinya. Perbudakan akan dimulai esok. Hari ini setelah mandi dirinya terlalu lelah. Memakai piyama berbentuk beruang yang dipilihkan ayahnya. Melompat-lompat kegirangan di tempat tidur dalam kamar barunya.
"Zeyan, sebaiknya kamu tidur." Ucap sang ayah mengecup keningnya. Begitu gemas pada putranya.
__ADS_1
Dengan cepat Zeyan menurut, segera masuk ke dalam selimut. Menjadi sosok yang bagaikan malaikat mungil tertidur."Anak pintar..." Fabian mengecup kening putranya.
Ada rasa bersalah, membiarkan anak ini besar di lingkungan yang sulit. Wajah putranya begitu pucat. Dirinya ingin membahagiakan putranya, hanya ingin itu. Seorang ayah yang tidak menyadari kala dirinya melangkah pergi. Tidak menyadari kapan saja putranya dapat diambil kembali oleh Tuhan, putra yang tidak pernah dibahagikannya.
Kala ayah durhaka itu telah pergi maka mata Zeyan tiba-tiba terbuka. Sang anak yang meraih tissue terbatuk-batuk, mengeluarkan darah dari hidungnya. Keadaan yang benar-benar buruk. Tanpa persediaan obat sama sekali.
Membawa tissue ke dalam kloset, berharap ayahnya tidak tahu. Tidak ingin diusir dari tempat ini karena dirinya yang penyakitan. Sedikit banyaknya dirinya tahu, betapa kejinya sosok asli Fabian.
Anak yang mulai naik duduk di kursi meja belajar. Jemari tangannya yang kecil menghidupkan tombol start. Akan mulai bekerja saat ini. Anak berusia lima tahun merupakan seorang white hacker? Tidak mungkin kan? Tapi itulah kenyataannya. Pekerjaan yang dilakukannya satu tahun terakhir. Mengumpulkan uang? Itulah tujuannya, anak yang bahkan memesan senjata api. Apa anak ini mengerikan? Tentu saja.
Beberapa perangkat keamanan dan virus dijualnya pada beberapa perusahaan besar. Mereka tidak tahu identitasnya, hanya mengirim uang setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan dari sang pengirim.
Siapa sangka anak tembem ini adalah pelakunya. Senyuman menyungging di wajah Zeyan, dirinya sedikit lagi akan mendapatkan informasi sembari mengumpulkan uang.
Ingin mendapatkan informasi tentang kasus yang diselidiki Triton sebelum kematiannya. Masih seperti dulu, membuka e-mail Triton menggunakan sandi tertentu yang rumit. Data penyelidikan yang disimpan almarhum Triton tidak cukup.
Kembali menggerakkan jari kecilnya. Fabian juga tidak luput dari penyelidikannya. Dirinya harus menyelidiki dengan menyeluruh.
Pintu kamar itu tiba-tiba terbuka. Tubuh kecilnya diangkat seseorang."Apa yang kamu lakukan?" Suara Fabian terdengar membuatnya menelan ludahnya sendiri.
*
Sedangkan di area depan rumah, mobil polisi terhenti. Menurunkan seorang wanita cantik, wanita yang menatap muram pada rumah di hadapannya.
Rumah siapa ini? Sejatinya tidak diketahui olehnya. Dirinya tidak pernah terlibat dengan orang kaya, setidaknya itulah yang ada diingatannya.
Namun, kala dirinya ingin melaporkan kehilangan Zeyan. Petugas kepolisian yang kebetulan ditipu oleh putranya mengantarkan ke sebuah perusahaan. Security perusahaan berkata bahwa anak itu dibawa oleh CEO perusahaan, memberikan alamat ini.
Dan ini adalah rumah CEO perusahaan.
__ADS_1
"Predator anak!" teriaknya murka, bagaikan induk beruang yang tidak terima anaknya diculik.
Berjalan masuk dengan langkah pasti. Wajahnya cantik bagaikan malaikat yang tidak memiliki sayap. Tapi mengeluarkan aura menyengat bagaikan iblis. Ibu mana yang dapat terima anaknya yang manis diculik dan lugu diculik?