
...Rantai, itulah yang mengikat kaki tangan dan leherku. Ada dalam kegelapan, kala wajahnya tersenyum, mengatakan diriku manusia tidak berguna....
...Bukan dalam kenyataan...ini hanya mimpi. Tapi juga nyata, menjadi putra yang harus mendengarkannya. Menahan rasa sakit kala tubuhku dilukai sedikit demi sedikit....
...Gila? Bukankah semua orang akan gila jika menginginkan kematian? Aku hanya ingin bahagia, kala melihatmu disisiku. Hanya itu... merindukanmu, mungkin lebih berat dari kematian......
Fabian.
Wajah wanita itu terlihat, duduk di kursi taman seorang diri. Menelan ludah kasar, bagaimana caranya untuk bicara? Meyakini dirinya sudah dihapus dalam hati wanita ini.
Mengepalkan tangannya, haruskah dirinya menjadi pria jahat. Anggaplah begitu, dirinya memang memiliki sisi lain. Mencintainya dengan cara yang berbeda. Menjadi memuakan untuk mendekatinya. Tidak penakut seperti dulu lagi. Mungkin begitu, menjadi dir sendiri...
Suara tawa terdengar dari bibir pemuda itu. Membuat Sesilia mengalihkan pandangan menatap ke arahnya.
"Fabian!?" Sesilia membulatkan matanya, menelan ludahnya kasar. Dirinya harus segera kembali, itulah yang ada dalam fikirannya saat ini.
"Ada wanita cantik rupanya disini..." Senyuman dingin terlihat di wajahnya. Tidak seperti sebelumnya, selalu bertingkah hangat. Ada yang aneh dengan Fabian, itu disandari olehnya.
Wanita itu mulai bangkit, namun terlambat. Gerakannya tertahan, pria itu kini ada di hadapannya yang tengah duduk. Meraih tangannya, mengecup telapak tangannya."Taukah kamu aku merindukanmu dan Zeyan?"
"A...apa yang terjadi denganmu!? A...aku akan kembali ke kamar!" Sesilia mencoba mendorongnya.
Tapi tidak bisa, pergelangan tangannya dipegang erat."Menjelaskan pun tidak ada gunanya. Kalian yang duluan mendekatiku untuk mendapatkan donor. Karena itu bertanggung jawablah, lakukan sampai akhir." Jemari tangan Fabian menyentuh pipi Sesilia perlahan.
Ada apa ini? Ini bukan Fabian yang biasanya berprilaku baik padanya. Jujur saja dirinya ketakutan saat ini. Benar-benar ketakutan.
"Aku ingin kembali ke kamar." Ucap Sesilia gemetar.
"Baik, tapi aku akan mengikutimu." Semakin aneh saja, jemari tangannya menyisir rambut panjang wanita di hadapan. Menghirup aromanya perlahan, bagikan menikmatinya.
"Fabian apa kamu sudah gila! Kembali ke tempatmu!" Bentak Sesilia kini.
"Gila? Aku hanya bertindak sesuai kemauanku. Tidak berhati-hati atau takut membuatmu tidak menyukaiku. Karena pada dasarnya kamu sudah membenciku." Senyuman menyungging di wajahnya, dapat menghirup aroma ini lagi.
Plak!
__ADS_1
Satu tamparan didapatkannya. Wanita yang segera berlari ke dalam kamarnya. Sebuah tamparan yang cukup kencang.
Apa ini menyakitkan? Tentu saja, menerima penolakan memang menyakitkan. Tapi sensasi berada di jarak terdekat dengannya lebih menyenangkan."Aku menginginkannya..." gumam Fabian, mengigit bagian bawah bibirnya sendiri. Ini akan semakin mudah, Chan tidak memiliki kekuasaan yang cukup untuk melawannya. Dirinya kini dapat memiliki Sesilia dan Zeyan.
Duduk di kursi taman tempat Sesilia duduk sebelumnya. Rasa hangat dari tempat duduk itu, aroma yang khas. Dirinya telah terikat, telah terobsesi pada wanita yang membuatnya menentang ayahnya. Wanita yang membuatnya memiliki keberanian melepaskan rantai yang mengekang dirinya.
"A...aku benar-benar semakin menginginkannya..." gumamnya tersenyum, air matanya mengalir, jemari tangannya saat ini gemetar.
*
Piring untuknya tidak disediakan sama sekali. Menjadi satu-satunya orang yang tidak dianggap di rumah ini. Kala dirinya duduk di samping Sesilia, saat itulah wanita itu langsung pindah ke kursi yang lebih jauh membawa sarapannya.
Pemuda yang menghela napas kasar, mengenyitkan keningnya."Rupanya aku tidak diterima di rumah ini ya?" Pertanyaan darinya tersenyum tidak tahu malu.
"Sudah tahu masih bertanya!" Itulah yang ada dalam fikiran semua orang saat ini. Tapi tidak ada yang buka mulut sedikitpun atau menganggap keberadaan Fabian.
Matanya menelisik mengamati Zeyan yang memakan hanya beberapa rebusan, sayuran, ditambah dengan madu fermentasi, serta beberapa hal lain yang diyakininya sebagai obat tradisional.
"Bocah! Kita akan melakukan operasi jadi, setelah itu kamu bisa makan daging." Ucap Fabian menatap ke arah Zeyan.
"Aku memang sudah gila, lalu kenapa?" Kalimat yang tidak terbantahkan.
"Sayang, apa tidak sebaiknya aku mengikatnya di gudang, setidaknya membiarkannya hidup sampai Zeyan mendapatkan donor?" Bisik Asnee pada istrinya.
"Biarkan saja, setelah lelah dia akan pulang." Flo menghela napas berkali-kali.
"Tapi ini tidak benar! Dia sudah seperti psikopat, mengancam akan membunuh Derrick. Ditambah membawa senjata api." Asnee kembali berbisik pada istrinya.
"Kalau dia psikopat, kamu apa..." batin Flo berusaha keras untuk tersenyum.
Tidak ada jawaban lagi, suaminya tidak sadar diri. Tidak tahu diri, tapi setidaknya sudah dapat menahan diri. Mengiris daging kembali melirik suaminya.
"Aku resah, jika Sesilia kembali dilecehkan bagaimana? Em... sebenarnya aku memiliki usul. Dia boleh tinggal disini, tapi 'itu' nya dipotong. Istilah lainnya menjadi Kasim." Usulan serius dari Asnee, membuat istrinya yang tengah memakan sosis bakar mengenyitkan keningnya.
"Fikirkan! Jika Sesilia dilecehkan bagaimana?" Pertanyaan dari Asnee, kali ini tidak dijawab olehnya. Flo berlari ke kamar mandi untuk muntah, entah apa yang ada dalam imajinasinya.
__ADS_1
"Ayah mertua...ibu mertua mual, mungkin saja hamil. Semalam kalian kan baru saja---" Fabian tersenyum cerah, tanpa makan sedikitpun, mengingat tidak ada piring yang disediakan olehnya.
"Itu kebutuhan biologis yang mendasar. Aku melakukannya dengan pasanganku. Apa ada masalah denganmu?" Tanya Asnee penuh keangkuhan.
"Tidak ada masalah, tapi kebutuhan biologis yang mendasar ya? Aku juga menginginkannya, selama 6 tahun aku belum pernah melakukannya lagi. Mungkin lain kali aku akan melakukannya lagi dengan putrimu, setelah statusnya menjadi istriku." Wajah yang tenang, penuh senyuman. Tidak dapat mengusik orang ini.
"Menyebalkan!" Satu kalimat penuh tawa dari Asnee berusaha untuk tetap waras menghadapi Fabian.
Pemuda yang hanya tetap memasang wajah penuh senyuman. Dirinya tidak akan pergi begitu saja, tanah ini (Sesilia) sudah pernah dipatok dan ditanami benih olehnya. Hingga sudah tumbuh pohon kecil (Zeyan) melepaskannya begitu saja? Dirinya tidak akan melakukannya.
Enam tahun ini dirinya hanya ingin menemukan Sesilia. Mencari cara untuk memilikinya, menyimpan hatinya. Setelah bertemu, dia kembali ingin terbang meninggalkannya.
"Paket!"
"Paket!"
Pada akhirnya pesanan 3 dus cup mie instannya sampai juga. Pop mie memang cocok menghangatkan hati yang dingin.
*
Siang ini Fabian memulai kegiatannya. Tiba-tiba saja, Cakra ada di villa ini membawa setumpuk dokumen, laptop bahkan printer.
Ruang tamu sudah seperti ruang kerja saja. Perusahaan harus tetap berjalan jika ingin waspada agar tidak ada yang mengusik keluarganya.
Kala itu Sesilia melangkah turun dari lantai dua mengenyitkan keningnya."Lebih baik kamu pulang saja."
"Nyonya muda..." Cakra tertunduk memberi hormat.
"Nyonya muda? Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan br*ndalan ini." Sesilia mengenyitkan keningnya.
"Tapi berita di koran tidak demikian." Cakra tersenyum memberikan sekitar lima koran dari media massa yang berbeda.
"Apa yang kamu lakukan?" Teriak Sesilia jengkel. Berita tentang dirinya yang melahirkan penerus perusahaan yang kini dijalankan Fabian. Lengkap dengan foto dan tanggal pernikahan yang akan berlangsung.
"Aku? Aku hanya mengumumkan tanah ini milikku. Tidak ada yang boleh membajak atau menanam bibit padanya. Jika tidak ingin mati." Senyuman tenang tetap terlihat di wajah itu, meletakkan dokumen yang tengah dibacanya.
__ADS_1