Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat

Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat
Kesempatan


__ADS_3

Matahari terasa bersinar lebih cerah baginya, tersenyum-senyum sendiri. Menghela napas berkali-kali, memutar penanya. Sebentar lagi dirinya akan menyambut kehidupan yang baru dengan dia.


Matanya menelisik menatap ke arah meja kerja Sesilia yang kosong. Dirinya benar-benar ingin bertemu dengan Sesilia. Tapi mau bagaimana lagi, dimaafkan saja sudah merupakan suatu keberuntungan baginya.


Hingga tiba waktu makan siang, sebuah pesan masuk di phonecellnya, dengan nama pengirim Sesilia.'Mau makan bersama? Aku menunggumu di restauran dekat kantor.'


'Ya.' Hanya itulah balasan dari Fabian, menyimpan data, mematikan laptopnya. Pemuda yang bergerak cepat, bagaikan wartawan yang tengah meliput lomba lari maraton.


Meraih jas, kunci mobil dan dompet. Merapikan sedikit penampilannya. Rambut pirang yang terkesan elegan, dengan bentuk tubuh atletis berbalut setelan jas.


Menghela napas kasar, berfikir bagaimana membuat kesan yang baik. Tapi masa bodoh! Dirinya tidak boleh membuat Sesilia menuggu.


Berjalan cepat di lorong, menaiki lift menuju lantai satu. Inilah perasaan anak SMU yang akan bertemu pujaan hati.


Hingga pada akhirnya dirinya memarkirkan mobilnya di area restauran. Matanya menelisik, wanita itu terlihat, tersenyum padanya. Tapi apa itu? Beberapa katalog terlihat di atas meja, serta beberapa kotak kecil.


Duduk berdampingan pemuda yang menelan ludahnya menatap sampul katalog berisikan setelan gaun pengantin dan tuxedo. Apa akan secepat ini? Apa benar dirinya akan menikah dengan Sesilia? Bagaimana ini? Ini tidak pernah ada dalam perkiraannya akan segera terjadi.


"Aku sudah memesan makanannya. Karena itu kamu yang memilih gaun dan cincinnya." Kalimat dari Sesilia membuat dirinya tidak tahu harus berkata apa. Dirinya akan menikah? Menikah dengan wanita ini? Dirinya memang menginginkannya. Tapi ini benar-benar terasa cepat.


"Aku akan memilih yang ini dan yang ini saja!" Tegas Fabian, memilih cincin dan setelah dengan cepat.


"Apa tidak terlalu cepat menentukan pilihan?" Tanya Sesilia mengenyitkan keningnya.


"Ka... karena pesta pernikahan tidak begitu penting bagiku. Yang terpenting janji itu dapat terucap bersamamu. Aku tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Tidak ingin kita berpisah lagi." Kalimat tulus dari Fabian.


Sesilia mengenyitkan keningnya, menahan tawanya."Jika bisa aku ingin mencium mu. Kamu begitu manis."


"Tidak boleh!" Peringatan tegas dari Fabian.

__ADS_1


"Kenapa?" Sesilia menghela napas kasar.


"Ka... karena aku dapat jadi buas sewaktu-waktu jika dipancing. A...aku ingin kita memiliki status. Tidak seperti 6 tahun lalu." Pria yang biasanya bagaikan iblis itu, kini bersungguh-sungguh tersenyum layaknya pria yang bertanggung jawab. Seorang suami yang diidamkan oleh Sesilia.


Menggenggam jemari tangannya, dirinya menghela napas kasar."Ayah dan ibuku rencananya akan kembali ke Beijing setelah pernikahan kita. Membawa Derrick bersama mereka, katanya ayah akan menyeponsori untuk melanjutkan pendidikannya."


"Itu bagus! Artinya dia menjauh darimu!" Tegas Fabian, berusaha mendingan otaknya dengan meminum air yang baru dituangkan pelayan. Setiap mendekat nama itu entah kenapa dirinya menjadi emosional. Sudah jelas! Ini sungguh luar biasa! Dirinya benar-benar mengalami kecemburuan akut.


Sesilia mengenyitkan keningnya, menghela napas kasar. Ingin melihat tingkah cemburu orang ini."Aku mulai berfikir, jika aku dan kak Triton bukan kakak beradik. Mungkin aku akan lebih menyukainya daripada menyukaimu."


"A... aku lebih tampan dari kakakmu!" Ucap Fabian dengan nada serius.


"Tampan dari sudut pandang maskulin. Jika dari sudut pandang manis, kakakku jauh lebih manis." Jawaban darinya membuat Fabian tidak berkutik.


Menghela napas kasar, dirinya memang tidak pernah dapat menang berdebat melawan wanita. Apalagi Sesilia memang membanggakan kakaknya yang tanpa celah. Menggenggam jemari tangannya, berusaha untuk tersenyum."Aku memang tidak dapat menjagamu lebih baik daripada dia. Karena itu, ajari aku cara untuk membuatmu nyaman..."


Berusaha ikhlas, melepaskan hal yang terjadi. Sedangkan Fabian, hanya ingin kebahagiaan keluarga mereka, apa pun akan dilakukan olehnya.


*


Pemandangan malam terlihat dari kaca jendela mobil yang melaju. Wanita itu masih tidak sadarkan diri, sedangkan sang pemuda tersenyum dengan air mata yang mengalir.


Hanya tatapan kosong yang terlihat dari Aster kini. Dirinya sudah menghabisi rekannya, atau lebih tepatnya membela diri kala dirinya diserang. Mayat yang mungkin sudah ditemukan oleh Chan.


Menepikan mobilnya di pinggir jalan, dekat dengan wilayah hutan. Jemari tangannya membelai wajah wanita yang tengah tertidur, akibat minuman yang diberikan olehnya.


"Siapa bilang kamu tidak berhak untuk dicintai?" tanya sang pemuda meraih jemari tangan Anjani, meletakkannya di pipinya pelan. Merasakan hangatnya jemari tangan wanita itu. Air mata yang mengalir di celah jemari sang wanita.


Inilah perpisahan mereka. Hari terakhir untuk bertemu, burung indah dalam kandang emas ini akan dilepaskan olehnya. Dengan mengorbankan nyawanya sendiri.

__ADS_1


"Aku bodoh... tidak memiliki orang tua, saudara ataupun teman. Hanya kamu yang aku miliki. Tidak! Aku bahkan tidak memilikimu. Hiduplah dengan baik setelah ini, aku sudah menyiapkan garmen kecil di luar kota. Rumah sederhana yang tidak besar. Hiduplah dengan baik, dan temukan cinta sejatimu..." Sebuah pesan yang tidak didengar oleh Anjani. Pemuda itu mendekat, mengecup bibirnya untuk yang terakhir kalinya. Mengetahui nyawanya tidak akan selamat. Mungkin tubuhnya pun tidak akan tersisa.


Hingga seseorang datang mengetuk jendela mobilnya.


"Aster, kamu yakin akan melakukan ini?" tanya seorang pria kala jendela mobil dibuka.


Aster mengangguk."Jika dia bertanya, katakan aku sudah bahagia jika dia pergi. Jangan kembali, karena jika kembali sama dengan menyia-nyiakan kesempatan yang aku berikan."


Pria itu hanya menghela napas kasar. Membuka pintu penumpang bagian depan, memindahkan tubuh seorang wanita yang berada di sana. Dibawa menuju mobilnya.


Aster tetap diam tanpa ekspresi. Menatap Anjani dibawa pergi menggunakan mobil lain oleh orang kepercayaannya.


Air matanya mengalir tanpa henti. Menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak. Tidak harus memiliki Anjani, wanita yang mungkin akan menemukan seorang pria baik untuk menjaganya.


Tidak ada yang dapat dilakukannya kali ini. Menahan Chan menggunakan nyawanya. Tidak akan dapat hidup.


...Matahari terbenam membawa kepergianmu. Jika aku dapat memelukmu dengan erat akan aku lakukan. ...


...Jika kita, terlahir di dunia yang lebih baik. Aku ingin mendekapmu, menikmati matahari pagi yang hangat bersamamu. ...


...Melihat wajahmu, kala aku membuka mata. Mengeluh tentang hari yang melelahkan kala mendekapmu, saat dinginnya malam....


...Segalanya yang aku tinggalkan hanya kata 'Jika'...


...Hanya satu kata, dalam jutaan perasaan yang tidak dapat aku ucapkan....


...Hanya jika. ...


Aster.

__ADS_1


__ADS_2