
Dirinya cukup sibuk, ini sudah hari kedua dirinya tidak ada di rumah. Beberapa klien membatalkan kontrak kerjasama, tinggal langkah terakhir.
Senyuman menyungging di wajahnya, menghela napas berkali-kali. Kembali mengirimkan pesan pada Sesilia, tanda centang dua putih terlihat, pertanda pesan masuk. Namun, belum dibaca, wanita itu juga tidak datang ke kantor hari ini. Apa benar-benar marah padanya?
Hari ini konferensi pers akan diadakan oleh pihak korban yang menuntut agar pemilik perusahaan dijebloskan ke penjara. Fabian memainkan penanya di ruang kerja, wajahnya tersenyum. Mengetahui apa yang akan terjadi hari ini.
*
Tempat konferensi pers diadakan merupakan meeting room sebuah hotel ternama. Para wartawan sudah bersiap mengambil gambar, ini dapat menjatuhkan sebuah perusahaan besar. Walaupun ini hanya bisnis sampingan waralaba dari perusahaan tersebut.
Nilai saham anjlok terpantau pagi ini, namun tetap saja ada yang tiba-tiba membeli saham dalam jumlah yang tidak sedikit. Hingga nilai saham tidak jatuh terlalu dalam.
Siapa pelakunya? Mungkin Fabian sendiri, menjual beberapa asetnya. Aneh bukan? Apa pria itu benar-benar ingin pailit total?
"Saya mewakili para korban! Memang korban tidak ada korban jiwa. Tapi tetap saja, banyak diantara kami yang kesehatannya melemah akibat keracunan. Apa semuanya dapat selesai dengan biaya ganti rugi? Tentu saja tidak!" Seorang korban melemparkan beberapa lembar kertas yang berisikan hasil tes kesehatan para korban.
Seperti sebelumnya dalam perjanjian. Posisi CEO akan diganti, tanpa ragu sedikitpun tiba-tiba Anggara memasuki ruangan. Memandang iba pada para korban."Saya selaku ayah dari pimpinan perusahaan meminta maaf, atas kecerobohan kami. Dan saya pastikan perusahaan akan mengganti rugi termasuk biaya pengobatan. Ini kesalahan anak saya yang lalai saya akan memperbaikinya."
*
Cakra yang menonton segalanya lewat tab hanya dapat mengenyitkan keningnya. Menghela napas kasar. Dirinya dan Fabian ya bergadang semalaman untuk mengurus administrasi serta pemindahan para korban ke rumah sakit yang lebih besar. Biaya juga dari dompet Fabian pribadi. Kenapa jadi Anggara yang menanggung segalanya?
Pria paruh baya itu tetap mengikuti langkah Fabian bersama dengan beberapa staf dan beberapa pengawal. Harus bersabar menunggu mereka bergerak duluan itulah yang akan dilakukan olehnya.
Pintu ruangan konferensi pers terbuka, menampakan sosok Fabian. Semua orang mengalihkan pandangannya mengambil gambar.
Pemuda yang melangkah dengan pasti. Tapi tanpa diduga, salah seorang korban berlari hendak menyerangnya, bahkan ada yang ingin meludahinya. Walaupun itu tidak terlaksana akibat pengawal yang dibawanya.
__ADS_1
Suara hinaan dari beberapa korban terdengar. Pria yang meraih microphone milik salah satu wartawan. Suaranya kini terdengar lebih jelas.
"Kita langsung saja. Kalian mengumpat dengan nama-nama hewan di kebun binatang, sebaiknya diam, karena aku dapat menuntut kalian." Kalimat pembukaan darinya menbuat beberapa korban yang mengumpat terdiam membisu. Walaupun sudah dibayar oleh Chan untuk menjatuhkan Fabian. Tapi resiko lebih tinggi jika mereka terkena jeratan hukum.
"Fabian, sebaiknya kamu kembali ke perusahaan. Ayah akan menyelesaikan segalanya..." Anggara tersenyum di hadapan wartawan.
"Menyelesaikan apanya? Ingin kembali menjadi CEO dan menghancurkan perusahaan ibuku?" Tanya Fabian berusaha tersenyum. Membuat Anggara hanya dapat mengepalkan tangannya. Matanya menelisik, terdapat banyak wartawan di tempat ini, tidak dapat sembarangan bicara pada anak pembangkang ini.
Tatapan mata Fabian kembali beralih pada para wartawan yang mengambil gambar."Biaya rumah sakit ditanggung dari kantong pribadiku. Ditambah tunjangan 10 juta untuk yang keracunan ringan. 25 juta untuk yang mengalami keracunan berat. Apa itu kurang? Katakan jika kurang! Karena itu akan masuk ke dalam kategori pemerasan. Korban terakhir sudah keluar dari rumah sakit pagi ini dalam keadaan sembuh total."
"Dan kalian, jika aku memberikan tambahan kalian mungkin akan pergi ke restauran lain dan membubuhkan obat pencahar ke makanan mereka sendiri, memeras pemilik restauran. Aku bukan tidak bermaksud tidak bertanggung jawab! Tapi laporan kesehatan yang mereka tunjukkan ini, saat melakukan pemeriksaan pertama. Sekarang? Mereka bahkan bisa menghina dan meludah di tempat ini, meminta uang tambahan. Apa itu terlihat seperti orang sakit?" Kalimat dari Fabian membuat para korban tertunduk. Mereka memang sudah menerima uang dari perusahaan ditambah biaya pengobatan mereka yang ditanggung penuh. Tidak ada sanggahan sama sekali.
Brak!
Ada sekitar empat orang karyawan dari cabang yang berbeda di paksa berlutut oleh pengawal. Sedangkan Cakra menyiapkan OHP, proyektor dan laptop. Rekaman CCTV di setiap restauran di putar.
"Mereka yang menaruh racun pada makanan. Aku tau perusahaan tidak bisa lepas tangan begitu saja. Jadi siapa yang membayar kalian?" tanya Fabian, mereka bungkam tidak ada yang mau menjawab.
"Cakra!" Fabian seakan-akan memberikan perintah.
Rekaman CCTV kini beralih pada mutasi rekening. Ada dana yang masuk ke dalam rekening keempat pegawai ini. Masing-masing 50 juta di saat yang hampir bersamaan. Dengan pengirim uang seseorang bernama Chan.
"I...itu kebetulan! Tidak bisa dijadikan bukti! Kami memang membenci perusahaan yang mempekerjakan kami dengan gaji kecil, tidak ada yang membayar kami!" Ucapan cepat dari seorang karyawan yang berlutut. Tidak ingin dirinya dihabisi nantinya jika angkat bicara.
"Aku tidak akan berkata demikian." Fabian kembali tersenyum, dirinya membayar jasa hacker sebelumnya. Menyadap panggilan mereka yang terlibat segera setelah peristiwa keracunan terjadi.
Wajah yang pucat pasi. Kegelisahan itulah yang mereka rasakan.
__ADS_1
"Setelah ini kalian bisa melarikan diri. Segalanya sudah dipersiapkan oleh Tuan Anggara."
"To... tolong secepatnya, saya tidak ingin ditangkap."
Itulah inti dari beberapa percakapan panjang. Sesuatu yang sudah cukup untuk dijadikan bukti.
Pihak kepolisian yang mendapatkan laporan pagi ini oleh Fabian masuk tiba-tiba membekuk Anggara."Kamu anak serakah! Anak yang menjatuhkan ayahnya sendiri!" teriak Anggara.
"Lalu kamu apa!? Ayah br*ngsek yang menjual putranya untuk bisnis ilegal, ingin merebut bisnis mantan istrinya, bahkan berniat menjual anak perempuannya sendiri. Aku muak..." Hanya itulah kalimat dari Fabian, beralih kembali menatap ke arah wartawan menjelaskan segalanya.
Anggara tertegun, dirinya benar-benar jatuh kali ini. Harta gono-gini sebelumnya telah habis, karena anaknya dari istri kedua yang mengikuti pergaulan kaum jetset. Sedangkan Fabian yang menerima pendidikan keras darinya, memalingkan wajah bagaikan tidak menganggap dirinya lagi. Apa yang salah? Mungkin itulah yang ada dalam benaknya.
*
Perusahaan Chan masih dalam penyelidikan kepolisian. Ditambah dengan keberadaan Chan yang entah berada dimana saat ini.
Setidaknya pria itu sudah kehilangan satu taringnya. Fabian menghela napas kasar, tiga hari berlalu barulah dirinya dapat pulang ke rumah. Menyetir mobil dengan Mulyasari yang ada disampingnya. Sang ibu yang juga turun tangan sendiri kali ini menangkap karyawan yang berkhianat.
"Sesilia tidak berangkat ke kantor tadi pagi?" tanya Mulyasari pada putranya.
"Mungkin mengurus Zeyan. Atau sedang marah padaku." Fabian menghela napas berkali-kali. Belum juga ada balasan pesan sampai sekarang. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Marah padamu?" Mulyasari mengenyitkan keningnya.
Fabian mengangguk."Dia sedang bicara di tengah kencan kami, tapi aku meninggalkannya."
"Ibu juga salah bicara pada Zeyan dan Sesilia. Seharusnya ibu minta maaf dengan lebih baik..." gumam Mulyasari, sedikit melirik ke arah kursi penumpang bagian belakang mobil. Terdapat tumpukan paper bag di sana, berisikan pakaian dan perhiasan untuk Sesilia dan cemilan serta mainan untuk Zeyan. Dirinya ingin menunjukkan, jika itu hanya pemikiran sesaat. Dirinya tulus tidak ingin memisahkan ibu dan anak itu.
__ADS_1