Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat

Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat
Perjalanan Terakhir


__ADS_3

Hari ini pemuda rupawan itu juga mengunjungi adiknya. Adiknya yang benar-benar cantik membawa beberapa helai pakaian, meminum teh sambil bersenda gurau. Hingga kalimat itu tiba-tiba keluar dari mulut adiknya, membuat sang kakak tertegun.


"Kakak, maaf aku tidak punya teman bicara. Sebenarnya aku menyukai seseorang. Awalnya aku mengira dia sudah menikah, karena dia membeli bunga mawar setiap hari. Tapi dia menjelaskan, dia belum menikah. Apa aku boleh berharap menyukai seseorang?" Pernyataan dari Sesilia dengan raut wajah sendu.


Jemari tangan Triton gemetar, terangkat perlahan membelai wajah cantik adiknya. Buta? Itulah kondisi Sesilia saat ini, tidak ada yang dapat dilakukan Triton dengan itu. Air matanya mengalir. Jika dirinya dapat melakukannya, lebih baik dirinya yang tidak dapat melihat, memberikan kornea matanya pada adiknya. Tapi sekali lagi tidak akan ada dokter yang bersedia melakukannya.


"Adikku adalah yang tercantik, walaupun kamu tidak dapat melihat akan ada orang yang menyukaimu..." Senyuman menyungging di wajah Triton, mengecup pucuk kepala adik yang dicintainya. Adiknya sudah dewasa, sudah cukup dewasa untuk jatuh cinta.


"Dia menyatakan cinta padamu?" tanya Triton, meminum teh dengan tenang.


Sesilia menggeleng."Dia tidak menyukaiku, mungkin... mungkin saja hanya menganggapku sebagai teman."


"Di...dia mengacuhkan adikku? Dengar! Jangan dekat-dekat dengan pria seperti itu. Carilah pria jujur dan terus terang. Kakak yang akan menyeleksi untuk adikku tersayang." Triton menahan tawanya menatap adiknya yang diam-diam tersipu.


"Jika kamu menikah nanti, kakak tetap tidak akan menikah untuk menjagamu!" Tegas Triton lagi.


"Tidak mau! Aku tau banyak wanita yang mengincar kakak! Mulailah terima mereka!" Sesilia tidak mau kalah.


"Jika menerima mereka semua, aku akan menjadi playboy..." Triton terkekeh, sejenak kemudian menatap ke langit."Mungkin aku hanya akan bertemu dengan wanita yang aku cintai di kehidupan yang akan datang."


"Kakak masih mengingatnya?" Pertanyaan dari Sesilia menbuat Triton tertunduk. Mengingat seorang wanita yang selalu ada di panti. Benar! Cinta pertama Triton adalah wanita yang jauh lebih tua darinya. Cinta adalah kegilaan bukan? Wanita yang menghadap Tuhan hanya karena kecelakaan bis antarkota.


Ekspresi yang tidak dapat dilihat oleh Sesilia. Sang adik malah tertawa kencang."Carilah wanita muda yang cantik! Kakakku malah jatuh cinta pada perawan tua keriput berusia 48 tahun."


Triton hanya ikut tertawa. Adiknya benar, itu hanya kisah cinta sekilas. Wanita tua yang meninggal kala dirinya remaja. Apa itu cinta? Atau perasaan kesepian karena tidak memiliki orang tua? Entahlah, perasaan yang tidak pernah dinyatakan olehnya pada orang yang selalu memberinya makanan dan selimut hangat. Wanita yang menjaga dirinya dan adiknya, perawan tua yang menjaga panti dari panti asuhan itu berdiri.

__ADS_1


"Jika aku bertemu dengannya di kehidupan yang akan datang. Bolehkah aku berharap kami akan seumuran?" Candaan darinya tersenyum di hadapan adiknya.


Bunga Lily yang indah ada di tempat itu. Dipenuhi dengan berbagai bunga yang indah. Bunga yang akan berpadu darah suatu hari nanti.


*


Hari berganti, kala dirinya kembali dari luar kota, seseorang telah melecehkan adiknya. Sesilia masih terlihat mengalami trauma berat, adiknya benar-benar telah dihancurkan. Mendekap tubuh adiknya erat yang hanya berbalut selimut.


Menyelidiki siapa pelakunya menjadi prioritasnya saat ini. Namun, dirinya tertegun kala memeriksa rekaman CCTV. Seorang pemuda yang dulunya selalu membeli bunga setiap sore. Orang yang disukai oleh Sesilia.


Tapi kenapa? Jemari tangannya mengepal, menitikkan air matanya. Adiknya yang dijaga bagaikan harta paling berharga di hidupnya, ditinggalkan setelah digunakan secara paksa. Bagaikan sampah, kakak mana yang tidak akan memendam dendam?


Mengemudikan mobil miliknya setelah sehari sebelumnya membuat keributan dengan membobol data perusahaan milik Fabian. Dirinya menunggu dengan sabar di lobby kedatangan dari pria itu.


Calon mertua? Nyawa Sesilia ada dalam bahaya karena pria br*ngsek bernama Fabian. Membawa Sesilia pergi adalah prioritasnya, sebelum Chan mengetahui tentang hal yang dilakukan Fabian pada Sesilia.


Tubuhnya gemetar, berlalu pergi tanpa sempat bertemu dengan Fabian. Dendam ini akan selalu tersimpan untuk mereka. Dua perusahaan yang akan menyatu dengan jalur pernikahan. Sebuah jalan buntu untuk Triton, menuntut pertanggung jawaban maka nyawa Sesilia akan ada dalam bahaya. Karena itu lebih baik adiknya tidak menikah, tetap ada dalam dekapan dan perlindungannya.


*


Dirinya membeli rumah kecil, membuat Sesilia tersenyum adalah prioritasnya. Sang adik yang katanya ingin mengisi kesibukan dengan menjual bunga di dekat pemakaman setempat. Seorang wanita yang baik sama sekali tidak ingin terlihat takut pada keramaian di hadapan kakaknya.


Hingga ada kala tangan Sesilia gemetar, wajah cantik itu menangis memegang alat tes kehamilan dengan hasil dua garis merah."Aku hancur! Kakak aku hancur! Iblis itu menghancurkan hidupku!" Teriak Sesilia saat itu memukul perutnya setelah Triton mengatakan hasil tesnya.


Tapi tidak, sang kakak tidak marah. Memeluk tubuh adiknya erat."Apa kamu tidak kesepian jika hanya ada kita berdua? Jika anak itu lahir, kita akan tinggal bertiga. Anggota keluarga kita bertambah."

__ADS_1


"Ta...tapi kakak..." lirih sang adik.


"Tapi apa? Seharusnya kamu bahagia akan memiliki seorang anak. Memberikan anggota keluarga baru untuk kita. Jangan menangis, atau setidaknya menangislah karena bahagia..." Ucap Triton mendekap adiknya lebih erat.


"I...iya, dia keluarga kita..." gumamnya, membalas pelukan sang kakak. Tenggelam dalam lebarnya sayap pelindung, pemuda itu. Hanya sang kakak yang dimilikinya. Hanya kakaknya, satu-satunya yang ada di sisinya.


Tidak menyadari Tuhan memiliki jalan lain. Benar-benar jalan lain, raut wajah Triton yang memeluk adiknya berubah. Dendam itu masih tersimpan pada Chan dan Fabian.


Menghadapi mereka sampai mati, itulah yang akan dilakukannya kali ini.


*


Beberapa bulan yang menyenangkan berlalu. Entah kasus apa yang ditangani sang kakak. Sesilia sama sekali tidak mengetahuinya.


Tapi sang kakak memang terlihat sibuk belakangan ini. Walaupun tetap menyempatkan dirinya mengelus perut Sesilia, sembari membacakan buku dongeng untuk calon keponakannya setiap malam. Dirinya dan sang kakak bahagia hanya dengan ini.


Namun, Sesilia tidak menyadarinya, rasa dendam masih tersimpan dalam diri malaikat pelindungnya. Pemuda yang sesekali tersenyum keji, tidak diketahui oleh adiknya yang buta.


Data informasi sudah dikantonginya. Beberapa orang akan dikirim hari ini untuk dijual organnya. Ada pula beberapa yang digunakan untuk memenuhi tuntutan bisnis prostitusi. Kejam bukan? Jika Fabian terlibat itu akan semakin bagus.


Bibirnya tersenyum, kartu truf untuk menghancurkan bisnis milik Chan ada di tangannya. Fabian? Pria itu bahkan tidak pantas untuk adiknya.


"Kakak, satu minggu lagi tanggal perkiraannya. Bisa kakak tinggal di rumah. Aku takut sendirian." Pinta Sesilia.


"Kakak janji ini akan menjadi yang terakhir. Benar-benar perjalanan terakhir..." gumamnya, mengelus perut adiknya yang membuncit.

__ADS_1


__ADS_2