Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat

Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat
Tersesat


__ADS_3

Senyuman menyungging di wajah anak itu. Meletakkan petasan yang terhubung dengan meteran dan sekering.


Segera setelahnya lampu di seluruh gedung padam. Apa yang akan dilakukannya kali ini. Ini semakin menarik karena dirinya akan turun tangan seorang diri tidak mengandalkan petugas kepolisian seperti yang dilakukan Triton.


Tidak membawa senter, tapi beberapa orang terlihat panik. Mencari sebab pemadaman dalam ruang utama. CCTV tidak berfungsi saat ini.


Seorang anak berusia hampir 6 tahun, bergerak dengan kaki kecilnya bagaikan agen mata-mata pinguin. Bersiap membawa senjata api lengkap dengan peredam suara.


Berjalan menelusuri lorong, dirinya belum cukup tinggi membuat salah seorang penjaga yang melihatnya berlari dalam kegelapan. Berteriak."Tuyul!"


Dor!


Satu tembakan tepat mengenai dada sang penjaga. Anak badas yang kemudian memukul area tengkuk membuat pria dewasa itu tidak sadarkan diri."Tuyul? Apa ada tuyul setampan ini?" tanya anak manis yang tengah memakan biskuit Oreo.


Anak yang menarik tubuh pria itu di sisi lain lorong. Bagaikan malaikat kecil yang menarik tubuh monster besar.


Menghela napas kasar, kembali bersembunyi. Tubuh kecil benar-benar menguntungkan baginya. Matanya menyelidik di tengah kegelapan. Mengingat-ingat lantai tempat kunci berada.


Hingga dirinya pada akhirnya memutuskan menghidupkan senter kecil. Benar-benar kecil, bagaikan cahaya kunang-kunang. Atau kita dapat menyebutnya sebagai senter mainan anak-anak, dengan baterai jam didalamnya. Sungguh agen mata-mata ini memiliki peralatan yang benar-benar canggih.


Pada akhirnya tempat kunci tergantung terlihat. Seorang penjaga berada disana. Dirinya yang sebelumnya terkena cipratan darah melangkah mendekat.


Selangkah demi selangkah, seorang anak rupawan dengan wajah pucat.


"Ka...kamu siapa?" Tanya sang penjaga gemetar ketakutan menodongkan senjata api.


"Paman... tolong aku, kuburanku dijadikan apartemen... tolong, aku kedinginan." Pinta anak itu menangis, meraih senjata api milik sang penjaga.


"Setan!" Teriaknya pingsan.


"Sebenarnya jika tidak berhasil aku ingin menghajarnya..." Gumam sang anak meminum minuman elektrolit yang mengandung ion.


Matanya menelisik, mengambil kursi, kemudian berusaha naik secepat mungkin. Tidak seperti saat-saat di tempat lain dimana dirinya kesulitan naik, hingga beberapa orang mengunggah kelucuannya di media sosial. Kali ini dirinya naik dengan cepat.


Tumpukan kunci dibawanya, kunci berisikan nomor kamar di bagian tengah rumah susun terbengkalai.


Tangannya bergerak cepat membuka salah satu unit. Lima orang terkurung disana.

__ADS_1


"Ka...kamu siapa? Jangan bunuh kami!" Pintanya.


Zeyan melangkah mendekat, menelan ludahnya menatap keadaan tempat ini yang begitu jorok. Tempat penampungan sementara orang-orang yang akan dijual sebagai pekerja tanpa di gaji atau organ-organ mereka akan dijual.


"Aku...aku malaikat..." Ucap Zeyan penuh senyuman menunjukkan tumpukan kunci pada mereka."Sebagai bayaran sudah menyelamatkan kalian, bebaskan orang-orang yang ada di kamar lain. Segera setelahnya, kumpulkan benda-benda yang dapat dijadikan sebagai senjata, datangi gedung ke tiga ruangan paling besar lantai dua. Tolong aku untuk menghadapi iblis." Pintanya, memberikan tumpukan kunci yang dibawanya.


"Ada malaikat! Terimakasih..." Ucap kelima orang itu mengambil kunci. Melaksanakan tugas mereka.


Zeyan terdiam sejenak, senyuman menghilang dari wajahnya. Dirinya kali ini akan langsung bertemu dengan bos utama.


Berjalan menelusuri lorong mulai membuka permen yupi rasa pizza. Dirinya kini benar-benar menyukai makanan manis entah kenapa.


Perjalanan yang tidak mulus sejatinya. Beberapa kali dirinya berpapasan dengan penjaga.


Namun hanya berpapasan, bersembunyi dengan cepat hal yang dilakukannya.


Suara tembakan terdengar dari lantai atas. Kepanikan terjadi, kala korban-korban mereka terbebaskan bahkan melawan. Teriakan para penjaga yang diserang oleh kelompok masa yang seharusnya mereka jual.


Pada akhirnya anak itu dapat melangkah di jalan yang lebih tenang penuh senyuman.


"Potong tubuhnya! Lalu kubur!" Perintah dari Chan dalam kegelapan, hanya beberapa lampu senter terlihat menyala.


Dirinya terdiam sejenak, menyayanginya sebagai ayah? Tapi tidak pernah ada yang menyayanginya di dunia ini. Begitu juga dengan istrinya, yang berpura-pura mencintainya. Menikahinya hanya agar bebas berselingkuh dengan pria beristri.


Menghela napas kasar, ini adalah jalan terbaik. Jika memiliki kekuasaan dan kekayaan, tidak akan ada orang yang dapat menghina dan melukainya. Semua orang hanya dapat tertunduk dan memujinya.


"Tuan! Ada orang yang membebaskan tahanan!" Ucap salah seorang pengawal masuk tergesa-gesa.


"Tangkap semuanya!" Pria itu memijit pelipisnya sendiri. Apa yang terjadi sebenarnya? Dimulai dari Anjani yang melarikan diri, lampu yang mati, ditambah dengan tahanan yang melarikan diri.


"Tuan, a...ada yang menghubungi anda..." Seorang pengawal lainnya memberikan phonecell.


Fabian, itulah nama yang tertera. Pria yang merusak rencananya, mengenyitkan keningnya. Kemudian mengangkat panggilan."Ada apa menghubungiku?" tanyanya.


"Dimana putraku! Kamu menculiknya kan? Kembalikan putraku! Atau aku dapat berbuat brutal!" Suara bentakan terdengar dari seberang sana.


"Aku tidak tau dimana tikus yang kamu sebut anak itu berada! Jika aku tau aku sudah membunuh dan memotong-motong dagingnya!" Chan yang tengah emosi mematikan panggilan sepihak. Masalah apa lagi ini? Benar-benar kesal rasanya.

__ADS_1


Sejenak kemudian sebuah pesan masuk ke phonecellnya.'Aku sudah menghubungi petinggi kepolisian yang memiliki koneksi dengan ibuku. Jadi kembalikan putraku! Sebelum keberadaanmu terlacak!'


"Apalagi ini..." Keluh Chan, benar-benar lelah rasanya menghadapi banyak drama.


Tapi apa benar drama sudah berakhir? Tentu saja belum, orang yang paling ditakuti belum hadir.


Brak!


Suara benturan cukup kencang terdengar. Dirinya dengan segera melihat ke arah jendela. Seorang pria menabrak gerbang depan dengan sengaja. Tidak hanya itu beberapa pengawal yang mencoba menghentikannya juga ditabrak.


Pria yang turun dari mobil dengan raut wajah dingin membawa pengera suara."Kembalikan cucuku! Atau gedung ini aku ledakan!" teriak seseorang dari luar sana.


"Gila!" Gumam Chan, menatap ke arah seseorang yang datang sendiri.


Pria yang mengeluarkan senjata api, kemudian ransel entah apa isinya. Mungkin saja stok granat.


Berjalan melangkah berkelahi dengan belasan penjaga.


Dor!


Dor!


Dor!


Tembakan yang akurat dan cepat. Menjadikan tubuh pengawal yang sudah tidak sadarkan diri sebagai tameng dari tembakan. Wajah pria itu tersenyum, terlihat tenang, bagaikan senang melihat ladang pembantaian ini.


Apa yang terjadi? Flo yang panik membebaskan suaminya melakukan apapun. Asalkan Zeyan dapat dibawa pulang tanpa tergores sedikitpun.


Chan tertawa sejenak, mengenyitkan keningnya."Anak Fabian? Cucu dari orang gila itu? Siapa? Apa salah seorang tahanan?"


Lampu di seluruh rumah susun terbengkalai itu menyala. Mungkin pertanda listrik sudah diperbaiki.


Kala itu dirinya mengenyitkan keningnya, menatap seorang anak berpose semanis mungkin sudah duduk di hadapannya.


Meminum minuman elektrolit bahkan masih juga dapat memakan Oreo."Hai paman... perkenalkan namaku Zeyan. Hari ini untuk pertama kalinya kita bertemu. Maaf jika aku sudah tidak sopan masuk ke tempat paman tanpa ijin. Aku tersesat, tidak tau kemana arah jalan pulang..." kalimat darinya mengundangnya rasa iba.


Tapi tidak bagi Chan."Kenapa anak sialan sepertimu dapat tersesat sampai kesini!" Teriaknya mengacak-acak rambutnya frustasi.

__ADS_1


__ADS_2