
Bagaikan sebuah lembaran kehidupan baru yang dulu di jalaninya bersama Triton. Wanita itu kini meminum sekaleng soda memikirkan segalanya. Bagaimana rencana kehidupannya setelah ini.
Hingga seseorang tiba-tiba duduk di sampingnya. Seseorang yang tersenyum menatapnya, juga membawa sekaleng soda yang mungkin dibelinya dari mesin minuman di dekat sana.
"Apa Triton tumbuh dengan baik?" tanya Asnee ragu, bukan ragu lebih tepatnya merindukannya.
"Kakak yang melindungiku. Dia ingin menjadi detektif, memiliki bakat, tapi sayangnya karena menjagaku yang sempat buta, dia mengubur cita-citanya. Pada akhirnya hanya menjadi asisten detektif, memecahkan kasus yang tidak dapat diselesaikan atau terlalu merepotkan bagi detektif. Kakak yang selalu menjagaku..." Jawaban dari Sesilia tertunduk, menghapus air matanya yang mengalir. Berusaha untuk tegar.
"Apa yang diceritakan Triton tentang kami?" Satu pertanyaan dari Asnee, memendam rasa dukanya.
"Kakak mengatakan kami berasal dari negara ini. Ayah dan ibu meninggal karena kapal penumpang yang tenggelam. A...aku tidak tau kenapa kakak berbohong," jawabnya.
"Itu karena kesalahan kami. Saat itu kami sering bertengkar di hadapan Triton. Bahkan mengatakan kata perceraian, mulai mempengaruhi kalian untuk mengikuti salah satu dari kami. Tapi lambat laun kami menyadari kami akan merusak kondisi psikologis kalian. Perceraian bukan jalannya, kami berusaha merenung dan menenangkan diri. Menitipkan kalian pada paman kalian yang tinggal di negara ini." Asnee menghela napas kasar kemudian kembali melanjutkan kata-katanya.
"Hanya sekitar dua bulan, kami sudah merasa lebih baik untuk menjemput kalian. Tapi pamanmu tersandung kasus pelecehan anak di bawah umur dan pelecehan. Mungkin karena itu Triton kabur dari rumah pamanmu, tidak ingin kamu menjadi korban. Mengatakan kami sudah meninggal, agar kamu tidak membenci kami, yang egois bagaikan membuang kalian. Tapi ayah bersumpah! Bukan itu maksud kami, kami hanya ingin menenangkan diri. Ka...kami tidak membuang kalian..." Jelas sang ayah berusaha keras untuk tidak menangis di hadapan putrinya.
Sesilia hanya menunduk berusaha mengangguk."Kakak mendonorkan kornea matanya untukku. Dia meninggal dengan puluhan luka tembakan, tulang-tulangnya patah, ditambah satu tikaman pedang samurai menembus dadanya. A...aku..."
Pada akhirnya Asnee hanya memeluk putrinya yang menangis terisak. Seorang putri yang hidup tanpa keluarga dan perlindungan. Hanya Triton yang sudah meninggal bagaikan payung untuk Sesilia.
"Zeyan mengidap kanker sel darah putih...A...aku..." Kalimat Sesilia disela.
"Tidak apa-apa, hanya kalian yang kami miliki, Zeyan akan tetap hidup. Kami sudah datang." Kalimat menenangkan berurai airmata.
Tidak menyadari Zeyan dan Derrick mengintip, bagaimana dua orang dewasa itu berpelukan bagaikan Teletubbies.
"Happy ending..." gumam Derrick.
"Belum happy ending! Ibuku belum bahagia!" tegas Zeyan, masih mengintip. Mata Zeyan menatap ke arah Derrick, pria ini harus menjadi budaknya. Menandatangani perjanjian perbudakan dengannya.
__ADS_1
"Paman, aku ingin keluar dari rumah sakit. Sebentar saja... boleh ya?" pintanya dengan tatapan mata berkaca-kaca. Kelinci putih manis, yang bagaikan ingin menangis. Pesona yang membuat semua orang dapat terhipnotis.
Derrick mengenyitkan keningnya tersenyum lembut."Karena kamu manis, jadi harus istirahat dan kembali ke kamar. Tidak boleh terlalu sering bermain komputer," ucapnya mengacak-acak rambut Zeyan.
"Tapi, paman ayolah..." Kali ini pesona yang lebih kencang lagi.
Namun, apa pemuda ini akan tertipu? Tentu saja hanya senyuman yang menyungging di wajahnya. Hanya menangani dan menipu seorang bocah apa sulitnya?
"Nanti ya? Setelah tidur siang." Ucap pemuda itu, mengantar Zeyan ke dalam kamar. Anak yang menurut dengan persyaratan yang tidak sulit.
Tapi apa benar? Anak kecil sebagian besar melupakan banyak hal setelah tidur siang. Jika sudah bangun pun tinggal kabur saja. Seberapa pun jeniusnya, anak kecil tetaplah anak kecil.
Mungkin itulah yang tidak disandari Zeyan. Terbuai kasih sayang memabukkan, hingga entah kenapa dirinya menurut dengan janji palsu orang ini.
"Nanti kita baca komik 2 chapter, setelah itu tidur satu jam, baru ke warnet. Aku akan menggendongmu di punggung." Ucap pemuda itu penuh senyuman. Menggendong di punggung tidak masalah, tapi membawa anak ini keluar dari rumah sakit? Tentu saja tidak akan dilakukan olehnya.
Pemuda penuh kasih sayang yang licik, ingin anak ini banyak-banyak beristirahat, melawan anak jenius yang belum menyadari dirinya dikendalikan bagaikan boneka tali beberapa hari ini.
Apa yang dilakukan pemuda ini? Derrick menepikan langkah mereka mengusap-usap punggung sang anak pelan. Tidak jijik sama sekali, bahkan memegang tubuhnya yang lemas. Membiarkan Zeyan memuntahkan isi perutnya.
"Terkadang aku berfikir, dari pada anak seusiamu yang sakit. Lebih baik aku yang sakit, jangan ditahan, jika mual keluarkan semuanya. Aku akan membersihkannya..." ucapnya tulus, matanya berkaca-kaca.
"A...aku tidak akan mati dengan mudah." Kalimat dari Zeyan memalingkan wajahnya. Seakan menemukan tempat bersandar, hatinya masih bagaikan anak berusia lima tahun yang rapuh. Walaupun dirinya mengingat kehidupannya yang lampau. Tapi masa kecil yang kelam baginya, merawat seorang adik seorang diri tanpa kehadiran orang tua.
"Aku tau, jika menyayangi kami. Jangan biarkan Tuhan memanggilmu." Pemuda itu tersenyum padanya.
*
Sedangkan Asnee dan Sesilia yang ingin kembali ke ruang rawat Zeyan menatap dari jauh. Tertegun dengan pemuda yang masih bersama Zeyan.
__ADS_1
"Dimana ayah kandung Zeyan?" kalimat sensitif pada akhirnya ditanyakan oleh Asnee yang pada awalnya benar-benar canggung.
"Di tempat lain. Status dan perusahaan terlalu berharga untuknya. Kami hanya ada di daftar akhir pada hatinya." Ucap Sesilia berusaha tersenyum.
"Kenapa mengatakan begitu? Apa kalian tidak saling mencintai?" tanya Asnee tidak mengerti.
"Tidak semua hal bisa diselesaikan dengan kata aku mencintaimu. Dia melecehkanku tapi berfikir berulang kali untuk bertanggung jawab. Saat Zeyan sakit, kami berusaha mendekatinya, hanya agar Zeyan mendapatkan donor. Tapi kami terlanjur kecewa..." Sesilia tersenyum pahit, berjalan menghampiri putranya.
Sedangkan Derrick menggendong Zeyan di punggungnya. Sesilia membawa tongkat yang terhubung dengan infus.
"Membangun sebuah keluarga, bukan hanya cukup berlandaskan cinta. Tapi bagaimana membuat pasanganmu nyaman..." gumam Asnee berusaha tersenyum. Menatap putrinya yang sesekali tertawa dengan lelucon dari Derrick dan tingkah Zeyan yang bagaikan orang dewasa. Jemari tangannya mengepal, ayah kandung Zeyan? Pria itu bahkan tidak pernah muncul. Kehidupan bahagia putrinya itulah yang utama baginya.
*
Rumah dengan hawa pegunungan yang sejuk, dilengkapi dokter pribadi, menjadi tempat mereka untuk memilih rumah kediaman.
"Aku tidak bisa sering-sering kemari..." Derrick menghela napas kasar.
"Kenapa!?" Flo mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
"Harus bekerja. Jaraknya terlalu jauh dari rumah sakit. Tapi aku dapat sering-sering menghubungi kalian. Kita akan menjadi teman baik!" Ucapnya memaksa Sesilia berjabat tangan.
"Sahabat baik?" Asnee mengenyitkan keningnya, memincingkan matanya. Tidak mungkin pria ini tidak memiliki ketertarikan pada putrinya.
"Iya! Realistis saja, hanya pungguk merindukan bulan. Bahkan 10 tahun menjadi dokter pun tidak akan bisa dibandingkan dengan anak tunggal pengusaha. Aku akan berakhir menjadi second male lead. Karena itu menyayangi sebagai teman akan lebih baik. Walaupun ada kalimat aku mencintaimu..." Ucapnya terkekeh.
Sedangkan Sesilia membulatkan matanya. Kembali kabur, entah apa yang difikirkan wanita itu. Mungkin akan mati saling malunya, atau mungkin menyembunyikan dirinya di bawah selimut.
"Mereka cocok..." Flo berbisik pada suaminya.
__ADS_1
"Nanti juga Sesilia menyerah." Asnee hanya tersenyum, menatap Zeyan yang masih tidak mau lepas dari Derrick.