
Air membasahi tubuhnya, matanya menatap ke arah pantulan dirinya di cermin. Ini semua salahnya jadi wajar saja mendapatkan perlakuan seperti ini dari mereka.
Namun, salahkah dirinya jika egois? Ingin memiliki Sesilia, hanya itu. Menjadi tipikal orang yang obsesif. Air shower dimatikan olehnya, memakai jubah mandi, sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Tidak ada kesempatan untuk berbicara secara pribadi dengan Sesilia. Zeyan juga, terkesan menghindari dirinya.
Penyesalan memang datang paling akhir bukan? Dirinya tidak terlalu dekat dengan Zeyan, hanya sesekali menghabiskan waktu bersamanya. Bukan tanpa alasan, namun lebih karena rasa takut dirinya akan memiliki sifat seperti Anggara. Bagaimana jika tanpa sadar dirinya menyakiti putranya?
Tapi tidak pernah berusaha, itulah yang disadari olehnya. Tidak keluar selangkah pun dari kamar ini, terlalu canggung rasanya untuk bertemu dengan mereka. Tapi juga merindukannya.
Kembali memakai pakaiannya semula. Tidak membawa baju ganti. Kejadian tadi hanya reaksi spontan nya saja. Tidak mengetahui akan ada orang tua Sesilia yang muncul, serta pria itu. Pria yang membuat Sesilia memiliki kemungkinan membuka hatinya.
Cinta pertama? Dapat dikatakan itulah Sesilia. Seseorang yang hadir di tengah kehidupannya yang kacau balau. Dituntut untuk menjadi sempurna oleh ayahnya. Mengetahui perselingkuhan sang ayah. Tidak ada celah untuk bertemu dan mengadu pada seseorang akibat pergaulannya yang dibatasi.
Alkohol awalnya dan narkotika jalan untuknya mati saat itu. Tapi di hari pertama dirinya mengkonsumsi, bagaikan gelandangan yang tersesat dirinya menemukan keindahan untuk bertahan hidup.
Bintang tercantik baginya. Menghela napas berkali-kali, dirinya bahagia. Benar-benar bahagia, seperti menemukan celah cahaya.
Tidak ingin kehilangan arah lagi. Kali ini akan menghabiskan hidupnya dengan Sesilia dan putra laknatnya.
Tepat pada pukul 11 malam, pemuda itu keluar mengamati suasana yang sepi. Tidak ingin bertemu dengan Asnee. Sesama predator tidak boleh saling mengganggu bukan?
Berjalan perlahan di lantai satu. Ada kamar yang tidak terkunci, perlahan dibukanya. Anak dengan piyama bermotif kucing itu tengah duduk di depan layar komputer. Raut wajahnya yang bagaikan pinguin itu terlihat serius. Mengetik dengan cepat ditemani secangkir coklat hangat.
Fabian mengigit bagian bawah bibirnya. Benar-benar bagaikan melihat agen mata-mata pinguin Madagaskar versi nyata. Bagaimana dirinya dapat memiliki putra secerdas ini?
Brak!
__ADS_1
"Sialan!" Geram Zeyan, mengetik dengan jemari tangannya. Layar komputer terlihat sedikit dari sisi Fabian menatap saat ini.
Ada lambang aneh di layar komputer. Apa yang sedang dilakukan putranya? Anak yang tiba-tiba mengambil tissue, meletakkannya di atas meja, terdapat bercak darah disana.
Putranya mimisan lagi? Kenapa tidak menangis? Kenapa tidak memanggil orang dewasa? Tubuh yang semakin lemah. Tapi tetap saja tidak turun dari kursinya.
Jemari tangan Fabian mengepal, benar-benar cemas pada anak durhaka yang lebih memilih ayah lain ini. Pada akhirnya, berjalan masuk ke kamarnya. Mencabut kabel yang terhubung dengan komputer.
"Kenapa mati!?" Zeyan mengacak-acak rambutnya. Tadi itu tugas penting misi barunya. Dirinya ingin mengalahkan bos besar (Chan) sebelum dirinya mati.
"Aku yang mencabutnya." Suara Fabian terdengar membuat dirinya mengenyitkan keningnya kesal.
"Ayah durhaka ini! Apa maunya!?" Batin Zeyan.
"Anak manis sepertimu pasti bertanya dalam hati kenapa aku menjadi tidak tahu malu seperti ini?" Ucap Fabian, penuh senyuman namun raut wajah terlihat dingin. Jemari tangannya menyentuh pipi putranya.
"Kebahagiaan ibuku adalah yang utama bagiku saat ini. Jadi lebih baik segera pergi dari rumah ini." Tegas Zeyan, waktu yang mungkin telah mengubah keputusannya. Seorang anak yang awalnya putus asa ingin meminta pertolongan ayah kandungnya. Berubah drastis menjadi anak yang hanya menginginkan kebahagiaan ibunya.
Fabian tertawa kecil melirik ke arah Zeyan. Mengambil gunting kemudian memutuskan kabel komputer yang sudah tidak terhubung dengan arus listrik."Dengar! Dengan cara apapun putraku harus hidup. Walaupun kamu tidak menyayangi nyawamu sendiri. Tetaplah bernapas! Jika tidak aku akan mengejarmu hingga ke neraka sekalipun." Kalimat dari Fabian melangkah pergi, sedikit melirik ke arah putranya. Tersenyum aneh, pada akhirnya benar-benar meninggalkan Zeyan.
Pria yang bagaikan ancaman baginya. Apa Fabian mengancam dirinya? Mengapa memutuskan kabel komputernya?
Pada akhirnya anak itu tidak mempunyai pilihan lain, selain naik ke atas tempat tidurnya yang bermotif Frozen. Mematikan lampu tidur berwarna pink bermotif Barbie.
Menghela napas kasar dalam kegelapan. Mengepalkan tangannya, dirinya harus mendapatkan orang yang baik untuk menjaga Sesilia. Sebelum kematiannya di kehidupannya kini. Jujur saja, dirinya sudah menyerah untuk hidup. Misi terakhir untuk menangkap Chan yang bahkan sulit dilacak pihak kepolisian menjadi jalan ninja nya.
Tidak ada yang ada di fikiran kecilnya. Hanya lelah memejamkan matanya, besok harus memperbaiki komputernya. Banyak hal yang harus dilakukan olehnya.
__ADS_1
*
"Sudah kuduga! Akhirnya pinguin yang memegang granat itu tidur juga!" Gumam Fabian tersenyum bangga sudah berhasil menidurkan anaknya.
Anak yang selama ini tidak pernah istirahat setiap malam. Hanya pura-pura tidur, kemudian memulai misinya bagaikan mata-mata pinguin, setelah semua orang tidak menyadari.
"Tidak tidur! Anak psikopat itu ingin cepat mati!" Fabian menghela napas kasar kembali bermonolog."Kalau begitu, aku yang kali ini akan memburunya untuk melakukan operasi."
Apa yang ada dalam fikiran Fabian saat ini? Tentu saja tali, obat bius, peralatan operasi, itulah rencana yang tersimpan. Menculik putranya, kemudian melakukan operasi, hidup putranya bertambah panjang. Tamat.
Kembali melangkah, menuju kamarnya. Matanya menelisik menatap bayangan seseorang kala melewati lorong menuju dapur. Bukan seseorang, lebih tepatnya dua orang.
"Asnee sudah...di kamar saja. Ki... kita kemari untuk mengambil air..." Suara Flo terdengar.
"Benar tidak mau?" pertanyaan yang berani dari Asnee.
Fabian menelan ludahnya, tidak berani melihat atau mengintip sama sekali. Hanya mendengar suaranya saja dirinya sudah menebak apa yang dilakukan pasangan yang lengket bagaikan lem itu.
Bagian dapur yang gelap. Tapi bagian lorong yang terang, pakaikan dalam wanita terlihat tergeletak di celah cahaya.
Gila! Mereka melakukannya di dapur! Dengan cepat Fabian berbalik arah. Suara-suara aneh lainnya terdengar samar. Mungkin mereka berusaha menutup mulut mereka.
Benar-benar urusan yang tidak penting. Berjalan menuju kamar tempatnya menginap melalui jalan lain. Lebih tepatnya memutar, melewati area belakang rumah.
Bulan bersinar terang saat itu. Langkah demi langkahnya berjalan di malam gelap, wajah wanita yang benar-benar indah. Terdiam menatap kosong, terduduk di halaman belakang.
Seorang wanita yang dicintainya. Cinta pertama yang berkali-kali dikecewakan olehnya.
__ADS_1