
Hari ini anak itu berada di rumah, memakan masakan buatan ibunya dengan lahap. Tidak ada gorengan atau makan yang mengandung banyak minyak. Sebagian besar rebusan, tapi ini bukan karena minyak goreng yang langka, atau anjuran untuk membuat gorengan menggunakan rebusan air. Tapi lebih kepada kesehatan anak itu.
Anak yang memakan apapun buatan ibunya.
"Ini untuk Zeyan. Kamu suka nugget kan?" Ucap Mulyasari meletakkan beberapa nugget di piring cucunya.
"Untuk nenek saja, aku lebih menyukai sayur." Zeyan kembali meletakkan nugget ke atas piring milik Mulyasari.
Sesilia berusaha tersenyum, benar-benar berusaha. Zeyan menyukainya, tapi tidak boleh memakannya. Putranya memiliki semangat hidup yang tinggi. Tapi kenapa harus mengidap kanker darah?
Anak yang kembali makan tidak mempedulikan apapun.
"Zeyan, bagaimana jika kamu pindah sekolah? Ada TK yang lebih bagus. Ayah akan---" Kalimat Fabian disela.
"Hanya satu tahun. Aku hanya akan bersekolah disana satu tahun. Jadi lebih baik melanjutkannya saja, di TK negeri." Anak yang biasanya ceria itu kini tertunduk. Menyadari usianya mungkin tidak lama lagi. Bibirnya memutih, wajah yang terlihat pucat.
"Ibu dan ayah sudah baikan?" Pertanyaan dari mulut kecilnya.
"Sudah, lain kali kita pergi ke taman bermain." Jawaban dari Sesilia, meraih putranya kemudian memangkunya.
Zeyan mengangguk."Suatu hari nanti..." ucapnya mengulangi kata-kata ibunya.
"Dedemit! Kamu mau mati ya? Kenapa berubah begini?" Pertanyaan dari Jesseline tiba-tiba, hanya sebuah gurauan. Namun, bagaikan tepat sasaran.
"Tidak ada yang mau mati bibi! Di film-film orang tampan selalu happy ending." Anak yang menggemaskan itu mengedipkan sebelah matanya. Astaga benar-benar iblis kecil yang imut, kembali menunjukkan senyuman mematikannya.
__ADS_1
"Ada orang tampan yang mati, Jack di film Titanic, Romeo dan Juliet, Song Yi Soo di drama 49 days, Bidam di drama The Great Queen Seon Deok. Kamu akan mati, tapi merahasiakan dari kami! Kenapa? Bermimpi malaikat kematian menemuimu? Kalau bermimpi seperti itu, selidiki aib malaikat kematian, melalui internet. Kemudian ancam akan menyebarkan aibnya!" Saran gila dari Jesseline yang terkekeh.
"Benar juga! Bibi benar! Dewa kematian pasti punya akun media sosial kan?" Zeyan ikut tertawa. Keceriaan di pagi hari yang benar-benar terasa.
Suara bel terdengar, dengan cepat salah seorang pelayan membukakan pintu. Seseorang menerobos masuk kali ini membawa beberapa paper bag di tangannya."Pagi..." Ucap Anjani penuh senyuman, menerobos masuk. Tidak ada sambutan untuknya, suasana hening, bahkan Fabian hendak berdiri untuk mengusirnya. Mengingat kejadian di pesta beberapa hari lalu.
"Ini oleh-oleh dari ayahku." Kalimat dari wanita itu sukses membuat Fabian duduk kembali.
Jemari tangannya gemetar, Chan seseorang yang tidak bisa dihadapi olehnya. Pengaruh orang itu semakin kuat saja, bahkan membunuh hal yang biasa untuknya.
Lemah? Tidak, hanya saja nyawa karyawannya tergantung pada dirinya. Masih teringat di benaknya berapa jumlah korban yang meninggal akibat kebakaran pabrik yang direkayasa oleh Chan. Hanya karena dirinya membatalkan pertunangan dan kerjasama bisnis.
"Ini untuk Jesseline, ini untuk ibu (Mulyasari) dan ini untuk Fabian. Semuanya barang-barang berkelas. Kalian seharusnya menghargai semua pemberian ayahku," ucapnya menbuat semua orang tertegun. Tidak ada yang bicara, segalanya dalam keheningan sesaat.
Tentunya terkecuali anak itu. Bagaikan bermain game, dirinya sudah game over sekali saat menghadapi bos utama (Chan). Apa akan game over lagi? Tentu saja tidak akan dibiarkan olehnya, berusaha hingga titik darah penghabisan. Wajahnya tersenyum."Bibi tidak membawakan oleh-oleh padaku? Benar-benar tidak sopan."
Mulut kecil itu kembali mengomel."Aku selalu diajarkan untuk menghormati orang oleh Bu guru. Jika ingin memberikan oleh-oleh sebaiknya jangan pada beberapa orang saja, karena orang lainnya dengan status yang setara akan merasa iri. Karena itu, jika liburan aku selalu membeli gantungan kunci, untuk dibagikan pada semua teman sekelas."
"Statusmu tidak setara, kamu hanya anak di luar nikah!" Tegas wanita itu.
"Bibi Jesseline bilang, ada yang namanya mantan istri, ada yang namanya mantan pacar. Tapi tidak ada yang namanya mantan anak." Pandangan mata Zeyan kini beralih pada Fabian."Ayah, selamanya ayah akan menjadi ayahku kan?"
Dengan cepat Fabian mengangguk tersenyum pada anak manis ini."Tentu saja, sayang..."
"Nah, bibi dengar sendiri. Statusku adalah keturunan satu-satunya dari ayahku. Walaupun bibi menganggap kehadiran ibuku hanya sebagai sebutir pasir. Tapi aku tetaplah putra mahkota. Anak dari pemilik rumah ini." Ucap Zeyan mulai kembali menyendok makanan. Berbicara hingga sempat tersedak.
__ADS_1
Punggung kecilnya ditepuk-tepuk oleh Sesilia. Hingga anak itu dapat kembali meminum air dan makan. Benar-benar anak yang lucu.
"Terserah, anak di luar nikah sepertimu tidak pantas bicara. Cepat atau lambat aku akan menjadi ibumu..." Suara penuh penekanan dari Anjani.
"Anjani! Pertunangan kita sudah dibatalkan. Jadi tidak ada yang perlu dibahas!" Bentak Fabian menggebrak meja.
"Tidak ada yang perlu dibahas. Ini hanya peringatan, cepat atau lambat beberapa hal akan terjadi. Jadi jangan terlalu senang dengan hidupmu." Peringatan dari Anjani penuh senyuman. Berjalan pergi hendak meninggalkan rumah.
Hingga tiba-tiba Zeyan turun dari kursinya. Menatap sang ayah seperti ada dalam keraguan dan ketakutan. Mungkin hal inilah yang membuat Fabian meninggalkan Sesilia.
Anak yang bergerak dengan cepat, menaiki kursi, berdiri di atas meja. Melompat menendang bagian punggung Anjani hingga roboh.
"Sakit! Apa yang kamu lakukan!?" teriak Anjani kala tangannya dikunci, diinjak sang anak. Anak manis yang tersenyum tidak berdosa.
"Aku? Aku hanya ingin oleh-oleh." Ucap Zeyan bagaikan kelinci tidak berdosa. Namun, hanya ilusi semata, anak itu mendekatkan bibirnya pada telinga Anjani."Kamu boleh saja berani pada Fabian yang memiliki banyak hal untuk dilindungi. Tapi kamu seharusnya takut padaku, karena aku yang tidak memiliki apa-apa dapat membunuhmu kapan saja."
"Gila! Anak ini benar-benar sudah gila! Apa itu yang seharusnya diucapkan anak berusia lima tahun? Dia benar-benar seperti setan! Mungkin ini bukan anak Fabian. Anak ini sudah pasti keturunan setan." Batin Anjani ketakutan mengeluarkan keringat dingin, masih dalam posisi tengkurap.
"Zeyan! Hentikan!" Dengan cepat Jesseline yang berada paling dekat mengangkat tubuh Zeyan.
Tapi hal yang tidak terduga, anak itu tiba-tiba menangis."Kalian mendapatkan oleh-oleh tapi kenapa hanya aku yang tidak. Karena itu aku kesal dan memukul bibi ini. Apa Ayah dan nenek akan menghukumku?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca, mengundang simpati siapapun yang melihatnya.
"Tidak sayang. Cucuku yang pintar bicara." Mulyasari meraih Zeyan secara paksa dari dekapan Jesseline.
"Kamu hanya bisa mengancam saja! Walaupun keluargamu punya banyak pengawal, tapi keluarga kami punya lebih banyak uang! Kami tidak takut padamu!" Bentak Mulyasari yang memang sudah menjadi budak cucu.
__ADS_1
Anjani mulai berdiri, mengepalkan tangan. Menyembunyikan kekesalannya."Aku pulang..." ucapnya sebelum benar-benar pergi.
Beberapa saat kemudian pandangan sang nenek beralih pada dua orang yang masih duduk dengan tenang."Kalian sebagai orang tuanya benar-benar kejam! Benar-benar tidak peduli pada anak!" geram Mulyasari melihat drama antara wanita acuh dengan pria pengecut.