Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat

Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat
Menangis Lagi


__ADS_3

Petunjuk, hanya itulah informasi yang didapatkan oleh mereka dari seorang white hacker.


Sepasang suami istri yang sudah puluhan tahun mengira anak mereka telah tiada. Flo dan Asnee, itulah mereka. Asnee berdarah asli Filipina, bertemu dengan Flo kala mereka hendak melakukan kerjasama bisnis.


Menikah di usia yang dapat dianggap belum matang 22 tahun. Masa saling memahami yang singkat, membuat mereka menjadi egois sejenak. Bertengkar, membanding-bandingkan pasangan mereka dengan orang lain menjadi cikal bakal segalanya terjadi.


Bercerai? Itu sejatinya jalan yang dulu ingin mereka ambil. Namun menyadari mungkin hanya emosi sesaat setelah pertengkaran besar. Sepasang anak mereka dititipkan pada Tiger, kakak kandung Flo.


Mereka bermaksud menjernihkan fikiran mereka masing-masing. Tidak ingin membawa anak mereka dalam pertengkaran, tidak ingin merusak mental putra dan putri mereka yang manis.


Walaupun godaan itu ada terkadang Asnee menatap ke arah langit meminum bir di pinggir jalan bersama teman-temannya. Rasa rindu dengan Flo itu ada, benar-benar ada. Wanita yang sering dibandingkannya dengan Flo, dirinya menyadari itu hanya tindakan emosinya sesaat saja.


Sedangkan Flo sendiri, menetap sementara di Beijing. Mengurus bisnis sambil menjernihkan fikirannya. Menangis seorang diri, ini juga salahnya, terkadang terlalu dekat dengan klien. Sepasang suami istri yang tidak berselingkuh sejatinya. Hanya dipengaruhi sahabat terdekat mereka, untuk saling berkelahi dan menjatuhkan.


Hingga dua minggu berlalu, mereka bertemu dalam keadaan canggung. Hingga berfikir lebih jernih dan dewasa, kembali menjalani cinta yang menggebu-gebu. Hari mereka bertemu, sekaligus menjadi hari dimana mereka memutuskan untuk berangkat menjemput anak mereka.


Walaupun kata perceraian itu terucap. Namun, mereka menyadari masih terlalu dini untuk segalanya. Pada akhirnya menjemput anak mereka. Namun, kenyataan pahit mereka dapatkan. Tiger tertangkap oleh pihak kepolisian karena melakukan pelecehan sekaligus pembunuhan terhadap anak dibawah umur.


Tidak mengaku, pria itu bersumpah keponakannya kabur dari rumah. Tidak termasuk diantara 8 korbannya. Tapi siapa yang percaya, Flo saat itu terbaring tidak sadarkan diri. Sedangkan Asnee menghajar kakak iparnya walaupun pada akhirnya dihentikan oleh pihak kepolisian.


Apa kurangnya mereka? Mereka tidak bermaksud membuang anak mereka. Sejumlah uang dengan nominal yang cukup besar mereka kirimkan pada Tiger. Berharap mental anak mereka tidak tertekan karena pertengkaran diantara mereka yang kerap terjadi.


Kini tidak ada yang dapat mereka lakukan. Saat itu Asnee hanya dapat merawat istrinya hingga sadarkan diri. Kemudian menangis bersamanya, mencari anak mereka. Walaupun kemungkinan besar Tiger berbohong, anak mereka menjadi salah satu korban sang paman.

__ADS_1


Harapan tinggal harapan, mereka tidak memiliki anak lagi. Kandungan Flo yang lemah menjadi penyebabnya pasca melahirkan Sesilia dulu. Hanya mencari penuh harap keberadaan sepasang anak mereka.


Hingga kini setelah puluhan tahun seseorang memberikan harapan. Informasi yang dibayarkan dengan cukup mahal, pada seorang white hacker cukup terkenal.


Informasi bahwa Triton sudah mati, lengkap dengan letak makamnya. Serta informasi tentang Sesilia yang masih hidup. Namun, anehnya sang white hacker tidak memberikan informasi keberadaan Sesilia.


Pasangan yang kini telah menginjak usia paruh baya. Benar-benar menyesalkan pertengkaran mereka saat itu. Pertengkaran yang membuat keluarga mereka terpisah. Bahkan putra kebanggaan mereka yang selalu mendapatkan nilai terbaik kini sudah tiada.


Namun satu hal yang membuat mereka tertegun. Foto Triton saat masih hidup, dengan Sesilia kala remaja.


Pasangan yang memutuskan untuk meninggalkan urusan bisnis mereka sementara. Untuk menanti, mencari lebih banyak harapan lagi tentang keberadaan Sesilia. Mengunjungi makam putra mereka yang meninggal akibat puluhan luka tembakan dan tancapan pedang yang menembus bagian dada.


"Maaf..." Hanya itulah kata yang tersisa untuk kakak yang merawat dan menyayangi adiknya. Serta seorang adik yang tegar.


Pada akhirnya mobil mereka sampai, membeli sebuah rumah di wilayah perkotaan menjadi pilihan mereka.


"Kamu sudah berusaha menghubunginya lagi?" tanyanya pada suaminya.


"Sudah, aku berjanji memberikannya uang dengan jumlah lebih besar. Tapi dia bilang, tidak sekarang akan ada saatnya kita bertemu dengan Sesilia. Untuk saat ini dia ingin kita menyesali kematian Triton." Ucap Asnee, mendekap Flo yang terus-menerus menitikkan air matanya dalam perjalanan menuju makam putra mereka.


Hanya untuk melihat nisan dengan nama Triton yang tertulis di atasnya. Sebagai pertanda putra mereka pernah tumbuh dewasa, melanjutkan hidup di dunia ini. Walaupun itu hanya sesaat, hingga kematian menjemput putra mereka 6 tahun lalu.


Pemakaman yang cukup luas. Berjalan keluar dari mobil perlahan. Mencari satu persatu batu nisan. Hingga makam yang masih terawat itu terlihat. Dibawah rindangnya pohon kapas. Triton memang tidak menyukai udara panas, jadi mungkin ini tempat yang indah untuk makannya. Mengingat kebiasaan putra mereka, biskuit coklat diletakkannya, berserta mainan kesayangan putra mereka dulu.

__ADS_1


Tapi apa yang disukai oleh pemuda yang meninggal di usia 20-an? Mereka tidak tahu, benar-benar tidak tahu. Mengusap batu nisan itu sembari menangis.


"Seharusnya ibu sekarang sedang mengatur pernikahan untukmu. Mencari perempuan baik untuk putraku yang pintar..." Gumam Flo dengan air mata mengalir, suaranya bergetar. Mengingat masa kecil putranya yang tidak senang menyusahkannya. Selalu menjaga Sesilia, menggendong sang adik yang saat itu masih berumur 3 tahun di punggungnya.


Keluarga yang bahagia saat piknik terakhir sebelum pertengkaran mereka. Anak yang selalu berlarian sembari bernyanyi, kemudian bertingkah seperti pahlawan super.


"Putraku, aku tidak pandai bicara. Kamu tahu bukan? Tapi aku menyayangimu... maaf..." Asnee terdiam sesaat tidak dapat berkata-kata lagi. Hanya mengecup nama Triton yang tertulis. Seorang anak yang mewarisi wajah rupawan orang tuanya.


Angin bertiup saat itu. Tidak menyadari seorang anak terpaku disana menatap dari jauh. Tidak menyadari keberadaan anak itu, wajah sang anak yang tersenyum, menatap pasangan itu saling mendekap dan menguatkan. Orang tua Triton tidak bercerai pada akhirnya. Itulah yang disadari oleh Zeyan. Anak manis dengan wajah pucat pasi, bibirnya sedikit memutih. Akan ada saatnya nanti, mereka akan bertemu dan Sesilia untuknya.


Mungkin kala Fabian tidak dapat membantunya untuk bertahan hidup. Atau kala dirinya ada antara hidup dan mati kala menjalani operasi. Tapi hanya senyuman yang terlihat di wajah anak manis yang memakai piyama putih ala kelinci itu.


Senyuman yang menyiratkan dirinya cukup bahagia. Benar-benar sudah bahagia, bahkan jika dirinya dipanggil kembali. Sudah ada orang-orang yang akan menjaga Sesilia.


Anak yang memutuskan untuk tidak bertemu dengan pasangan suami-istri itu. Berjalan naik ke dalam mobil polisi.


Tunggu! Apa kejahatan anak itu ketahuan hingga diantar jemput mobil polisi? Maaf salah, apa anak kelinci manis itu dapat melakukan kejahatan dengan tangan kecilnya?


Tapi kala dirinya memasuki mobil kepolisian.


"Paman aku salah alamat! Ini bukan alamat rumahku!" Teriaknya menangis, mengundang iba pada polwan yang memeluknya.


"Coba kamu ingat-ingat lagi dimana alamat rumah atau nomor telepon orang tuamu?" Tanya sang polwan iba.

__ADS_1


"Taksi gratis..." batin Zeyan tersenyum diam-diam. Anak kelinci putih kecil lucu ini, menangis lagi.


__ADS_2