
Dirinya sudah mencari. Berusaha mencarinya, tapi bahkan sedikitpun informasi tidak didapatkannya tentang Triton dan Sesilia. Hanya pekerjaan pemuda itu sebagai detektif yang diketahuinya. Selebihnya tidak ada informasi sama sekali. Orang seperti apa sebenarnya Triton hingga dapat memutuskan akses informasinya?
Terdiam menyendiri, masih menjadi yang terbaik. Berharap jika wanita yang tidak mencintainya itu kembali, dirinya akan pantas bersanding dengannya.
Apa yang tengah dilakukan Sesilia? Wanita itu merasakan terpaan angin pedesaan. Namun air matanya mengalir, Veron pernah menjelaskan dengan ragu, dirinya tidak memiliki kekasih. Walaupun kecil kemungkinannya perasaannya berbalas tapi dirinya tetap menyimpan tuan Veron sebagai sahabat dari seorang wanita buta. Persahabatan yang tulus, tapi pernahkah kalian berfikir sahabat seperti itu dapat menusuk dari belakang?
Mengigit bagian bawah bibirnya sendiri, tidak mudah percaya pada orang selain keluarganya. Termasuk Veron yang sudah benar-benar menghancurkan hidupnya. Seseorang yang kini paling dibencinya. Menyesal sudah pernah memendam rasa kagum pada seorang pelanggan pria yang datang setiap hari.
*
Kembali pada saat ini, wanita itu terlihat bekerja dengan baik. Belajar segalanya dengan cepat, tidak ada yang tidak dapat dilakukannya. Seakan dirinya memang terlahir untuk ini. Matanya menelisik ke arah Fabian, pria ini dapat berbuat apa saja. Dirinya harus selalu waspada dan berhati-hati.
Berbagai peralatan bagaikan agen rahasia berada di dalam tasnya. Mulai dari alat kejut listrik, silet, hingga pisau cutter. Bersiap untuk segala kemungkinan itulah yang diajarkan almarhum Triton.
Tapi yang terpenting saat ini, membuat Zeyan berubah fikiran. Haruskah dirinya membuka hati untuk pria lain? Mungkin putranya memang memerlukan sosok ayah, ayah yang mungkin akan dapat menjaga dan membatu mereka.
Sedangkan Fabian tersenyum diam-diam pada akhirnya wanita ini akan menjadi miliknya. Ada Zeyan yang berpihak padanya.
Hingga Cakra memasuki ruangan, tertunduk memberi hormat."Tuan muda, Pohan (seniman yang diundang dalam kerjasama pembukaan galeri) sudah datang."
"Suruh dia masuk!" Ucap Fabian, sedikit melirik ke arah Sesilia. Pertemuan dimajukan olehnya, dirinya ingin mengundang rasa kagum wanita itu. Wanita yang seingatnya begitu menyukai musik klasik dan lukisan. Pernah berbicara, tentang masa lalunya di masa SMU kala Sesilia masih dapat melihat. Sebelum kecelakaan yang merusak kornea matanya terjadi.
Kali ini seniman muda hebat yang akan diundang. Sesilia pasti akan kagum kan?
Kala pemuda yang ahli di bidang seni lukis dan musik itu masuk. Sesilia sedikit mengalihkan perhatian dari laptopnya.
"Kamu pasti kagum kan? Karena aku dapat mengundangnya? Ayo peluk aku!" Batin Fabian, menahan senyuman di wajahnya.
Seorang pemuda blasteran Indo-Australia dengan pakaian serba putih memasuki ruangan. Pemuda yang rupawan, sial! Dirinya tidak menyangka sudah membawa seekor serigala untuk bertemu dengan malaikatnya. Menyangka setiap seniman itu pasti jelek dan serampangan. Tapi tidak dengan orang ini.
__ADS_1
Tapi tidak apa-apa. Yang terpenting kesan baik di hadapan Sesilia."Fabian..." Fabian mengulurkan tangannya pada Pohan.
"Pohan..." Pria itu membalas uluran tangan Fabian.
Tapi pandangan mata sang pemuda tidak lepas dari Sesilia. Membuat Fabian benar-benar tidak nyaman. Tapi ini kesempatannya memperkenalkan Sesilia pada seniman di dunia nyata. Mendapatkan poin dalam cinta dan perhatian.
"Sesilia, perkenalkan dia---" Kalimat Fabian terhenti, melihat hal yang terjadi.
"Gulali atau awan?" Pohan tiba-tiba mendekati meja Sesilia.
"Gulali," Sesilia mengenyitkan keningnya. Kemudian mereka berdua tertawa.
Ada apa ini? Apa ada hal yang dilewatkan Fabian. Tidak! Tidak mungkin ada yang dilewatkannya dalam beberapa detik.
"Kamu masih tetap cantik..." Pohan tertawa, duduk di atas meja kerja Sesilia.
"Ka...kalian saling mengenal?" Fabian mengenyitkan keningnya.
Dengan cepat Sesilia mengangguk."Dia adalah Pohan, ayah dari Zeyan."
"Ayah apanya? Setiap mendekat anakmu seperti harimau kecil yang ingin menggigitku." Celoteh Pohan tertawa.
Ini tidak adil, benar-benar tidak adil. Fabian mengenyitkan keningnya berusaha bersabar. Tapi kesabaran yang benar-benar setipis tissue. Apa hubungan dua orang ini sebenarnya?
Tapi dirinya harus berkenalan dan menunjukkan otoritasnya sebagai pria sejati."Aku ayah biologis dari Zeyan," ucapnya tersenyum seakan akrab. Padahal Pohan adalah seniman dengan bayaran tinggi yang dipanggilnya untuk acara pembukaan galeri.
"Iblis itu punya ayah biologis? Astaga!" Pohan tertawa terbahak-bahak, cukup lama. Benar-benar cukup lama, membuat Sesilia dan Fabian mengerutkan keningnya. Apa maksudnya dengan iblis? Mungkin itulah yang ada di benak mereka saat ini.
"Kenapa tertawa?" Sesilia mengenyitkan keningnya.
__ADS_1
"Kamu pernah ingat tentang kita yang sering bercanda di hadapan Zeyan, tentang pernikahan? Walaupun hanya bercanda, iblis kecil itu menanggapinya dengan serius." Pohan yang merupakan mantan tetangga Sesilia berucap dengan nada serius kali ini.
"A...apa maksudmu anakku iblis?" Fabian berusaha tersenyum mati-matian menekan amarahnya.
Aura membunuh dari ibu dan ayah yang membela anak mereka. Tidak ingin anak mereka yang rapuh bagaikan permen kapas dihina. Sedangkan Pohan hanya dapat memijit pelipisnya sendiri.
"Ingat insiden daftar situs-situs dewasa ya sering aku tonton dan foto-foto fulgar yang memang terkadang menjadi inspirasiku bocor ke media? Masalah yang benar-benar besar, hingga merusak reputasi ayahku. Ayahku yang tinggal di Australia menghubungi ahli IT terbaik untuk mendapatkan kembali sumbernya. Berusaha mengingat siapa saja yang dendam padaku. Tapi hanya Zeyan yang sempat berkata aku tidak sempurna untuk menjadi suamimu yang sempat mengancamku." Kalimat yang diucapkan Pohan. Kala itu Pohan memang menganggap itu kalimat asal dari anak berusia belum genap empat tahun.
Mungkin orang lain yang memendam dendam padanya. Ahli IT yang disewa, mencari data dari orang yang telah membocorkan informasi tentang dirinya.
Hasilnya Dark Angel, dialah pelakunya. Tapi cukup rumit menjelaskan, Dark Angel memiliki banyak kegiatan mulai dari bandar judi online, hingga white hacker yang bersedia menerima misi untuk memperkuat anti virus suatu perusahaan. Hacker yang sulit untuk ditemukan, tapi bukan hal yang tidak mungkin.
Kala sang hacker berusaha diserang lagi. Hanya informasi acak yang didapatkannya. Lokasi sang hacker terlacak melalui jaringan komputer star di sebuah warnet. Lokasi yang berada dekat dengan rumah Zeyan saat itu.
Sejak saat itulah dirinya memandang Zeyan dengan berbeda. Bagaimana bisa anak berusia 4 tahun memasak? Bahkan memasukkan bumbu seolah itu adalah hobinya. Zeyan terlihat terlalu berfikir dewasa untuk anak seusianya. Ada yang tidak wajar pada anak itu. Tulisan tangannya juga seperti orang dewasa.
Tapi tetap saja, karena pesonanya seperti kelinci tidak berdosa, tidak akan ada yang mencurigainya. Termasuk Sesilia yang mungkin terkena jampi-jampi tingkah dan wajah menggemaskan putranya sendiri.
"Sudah dengan omong kosongnya! Tidak mungkin hanya karena lokasi yang ada di dekat rumahku. Anakku adalah pelakunya? Umurnya baru empat tahun, setiap hari bermain guli di depan rumah. Saat itu Zeyan bahkan tidak bersedia untuk sekolah karena ketakutan." Sesilia menghela napas kasar mengingat Zeyan yang tidak ingin lepas darinya. Anak manisnya berbuat hal yang berbahaya? Tidak mungkin.
"Ya sudah kalau tidak percaya. Ayo kita makan siang bersama." Ucap Pohan menarik tangan tetangganya yang telah lama pindah rumah.
Fabian terdiam sejenak. Ingin menanyakan satu pertanyaan. Mencari kesempatan menahan sekaligus mengetahui isi hati Sesilia.
"Sesil kamu pernah menyukai seseorang?" tanyanya.
"Pernah..." Jawaban dari Sesilia, berjalan dalam tarikan Pohan. Meninggalkan Fabian yang tersenyum dengan tangan mengepal, sudah pasti Triton, itulah yang tertanam di otaknya.
Sesilia menghela napas kasar, dirinya memang pernah menyukai sosok Veron. Tapi pria itulah yang menghancurkan hidupnya. Karena itu perasaan suka yang menghilang akibat pelecehan yang dilakukan Fabian.
__ADS_1