Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat

Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat
Peninggalan


__ADS_3

"Apa yang kalian lakukan? Mereka sedang main boneka Barbie, dan aku yang jadi bonekanya. Sudah cukup, lingkungan ini tidak aman untuk Zeyan. Aku sudah bilang tidak memerlukan apapun. Jadi aku dan Zeyan akan pergi." Kalimat dingin dari Sesilia, rambutnya terlihat berantakan, ada sedikit luka memar dan carakaran di tangannya.


"Fabian aku---" kalimat dari Anjani disela.


"Pergi, aku bilang pergi!" Satu kalimat penuh tekanan dari pemuda itu.


"Aku akan mengingat ini. Betapa angkuhnya dirimu, hanya karena seorang wanita yang menjual sel*ngk*nganya." Anjani mulai bangkit, tidak mendapatkan tamparan atau apapun. Mengapa? Jemari tangan Fabian masih gemetar hingga saat ini. Menahan emosinya, tapi sekali lagi Chan(Ayah Anjani) bukan orang yang bisa dihadapinya.


Dirinya memiliki keluarga yang harus dilindungi. Tidak ada yang dapat dilakukannya sama sekali. Menghela napas berkali-kali, masih menatap kepergian Anjani. Sesuatu yang teringat di benaknya, benar-benar masih diingatannya. Begitu dirinya menjadi CEO dan memutuskan pertunangannya. Salah satu pabrik mengalami kebakaran. Belasan karyawan tidak selamat. Perbuatan siapa? Chan adalah pelakunya namun tidak ada satupun bukti.


"Kakak keterlaluan! Meskipun anak iblis itu mirip dengan kakak. Tapi mungkin saja surat hasil tes DNA dipalsukan. Kak Anjani mencintai kakak! Dia bahkan membelikan jam tangan sebagai---" Kalimat Jesseline disela.


"Hadiah? Anak kecil sepertimu tahu apa? Dia adalah boneka ayahnya untuk mendapatkan perusahaan milik ibu. Temanku yang sempat berkencan dengannya, mati bunuh diri. Kamu juga ingin mati?" Fabian berucap tanpa ekspresi.


"A...aku tidak percaya! Kak Anjani orang yang baik! Wanita ini hanya menjual tubuh dan wajahnya!" Teriak Jesseline.


Plak!


Satu tamparan dilayangkan sang kakak tanpa ekspresi sama sekali. Untuk pertama kalinya menampar adiknya."Kita bicarakan nanti," ucapannya pada Jesseline.


Fabian mengalihkan pandangannya pada seorang wanita yang telah bangkit. Dirinya membuat wanita ini terluka lagi, benar-benar pria yang buruk, ayah yang buruk. Lebih dari itu hanya seorang pria br*ngsek.


"Aku harap kamu mengerti sekarang. Tolong bicarakan baik-baik dengan Zeyan agar kami bisa pergi." Kalimat datar dari Sesilia. Tidak ada tangisan atau apapun.


"Bagus! Sadar diri! Pergi sana, bersama dengan anakmu yang seperti kerasukan dedemit!" Bentak Jesseline sembari menangis memegangi pipinya.


Matanya menatap ke arah Fabian yang mendekati wanita itu. Pertengkaran akan terjadi, kakaknya yang egois sudah pasti akan menghajar wanita ini.


Tapi.

__ADS_1


"Kamu terluka? Kita ke rumah sakit ya?" Ucap Fabian, dengan mata berkaca-kaca bagaikan anak anjing manis, memegang tangan Sesilia.


"Astaga!" Jesseline berteriak heran. Menunjuk-nunjuk ke arah mereka, tidak percaya melihat ekspresi kakaknya.


"Tidak perlu, sudah aku bilang yakinkan Zeyan untuk meninggalkan tempat ini." Wanita itu masih menatap dengan ekspresi wajah datar.


"Akm...akhm..." Fabian terlihat menyesuaikan suaranya, kemudian menghela napas kasar."Wajahmu bagaikan mentari pagi, kecantikanmu bagaikan bunga di musim semi, suaramu bagaikan kicauan burung..."


"Kakak apa kamu sudah gila!" Jesseline berteriak semakin kencang keheranan. Bagaimana manusia super cool ini dapat menjadi pria desa konyol dengan rayuan yang norak.


"Lanjutannya pasti kamu mau bilang kentutku seperti letusan gunung Krakatau." Sesilia berusaha tersenyum, padahal sudah cukup mual rasanya. Tunggu mual apa dia sedang hamil anak kedua? Pastinya tidak mual karena rayuan aneh pemuda ini.


"Ide bagus karena Cakra bilang puisinya harus berkaitan dengan fenomena alam." Jawaban polos dari pemuda itu.


"Pantas saja rayuan tahun lawas..." batin Jesseline, masih dalam keadaan, marah, depresi dan terkejut. Untuk pertama kalinya ditampar oleh kakaknya, untuk pertama kalinya juga mendengar kata-kata aneh dari mulut kakaknya.


"Mereka melakukan hal yang buruk. Nanti aku akan membuat perhitungan. Tapi jangan pergi." Ucap Fabian, dijawab dengan tatapan dingin Sesilia. Wanita yang hendak melangkah menuju lantai dua mungkin hendak mengambil putranya.


"Tidak bisa dengan cara baik-baik rupanya." Fabian mulai tertawa, dengan cepat mengangkat tubuh Sesilia bagaikan karung beras.


"Apa yang kamu lakukan! Aku mau pergi!" Suara teriakan dari Sesilia.


"Pergi! Tidak bisa! Aku terobsesi padamu dan anak kita. Kamu fikir bisa pergi!?" bentak Fabian, membawanya paksa ke dalam ruangan di lantai satu kemudian menguncinya.


"Aku membenci kakak! Kakak benar-benar sudah gila!" Suara Jesseline terdengar, masih seorang diri berada di ruang tamu.


*


Bug!

__ADS_1


Tubuh itu dijatuhkan di atas tempat tidur. Pintunya dikunci dengan cepat tanpa sempat Sesilia melarikan diri. Wanita itu mulai menangis ketakutan, peristiwa itu terbayang lagi, bau parfum yang sama, bahkan suara yang sama. Seseorang yang telah melecehkannya.


Menutup matanya ketakutan, tubuhnya bereaksi aneh. Bersembunyi di bawah meja, rasa trauma itu masih ada tentu saja luka yang akan membekas seumur hidupnya.


Tapi tidak, tangan itu tiba-tiba menariknya dari bawah meja. Kembali memaksanya duduk di tepi tempat tidur. Kotak P3K dibuka oleh sang pemuda."Kamu gemetar, ketakutan karena Jesseline dan Anjani?" tanyanya, menuangkan alkohol pada kapas.


"I...iya..." Dusta Sesilia masih takut pada predator di hadapannya.


"Maaf..." hanya itulah yang dapat diucapkan oleh Fabian. Mengetahui wanita ini terluka lagi karenanya. Malaikat yang dicintainya, malaikat yang sayapnya telah dipatahkan olehnya.


Menyakitkan? Ini lebih menyakitkan untuk Fabian. Malam itu bukan hanya Sesilia yang menitikan air matanya. Namun, dirinya juga, melukai malaikat yang dicintainya hanya untuk memilikinya.


Matanya sedikit teralih menatap ke arah Sesilia. Mengobatinya perlahan, berharap wanita ini tidak merasakan terlalu sakit. Mencintai tapi juga menyakiti.


"Triton, dimana dia?" Satu pertanyaan yang mengganjal sampai saat ini dalam benak Fabian. Mengapa hanya Sesilia yang berada bersama Zeyan? Apa pria itu tidak menerima keberadaan anak dari pria lain?


"Kamu mengenalnya?" Pertanyaan dari Sesilia dengan mata mulai berembun.


"Tidak, tapi dia orang yang kamu cintai bukan?" Tanya Fabian, jemari tangannya yang mengobati luka cakaran di pergelangan tangan Sesilia gemetar. Berharap Sesilia akan menjawab 'tidak'. Padahal dirinya mengetahui hanya menipu dirinya sendiri. Orang yang dicintainya Sesilia, hanya pemuda bernama Triton. Pemuda yang dapat menjaga dan membahagiakannya.


"Bukan hanya dicintainya. Dia pemilik hatiku, tingkahnya sombong, tapi baik hati, selalu berusaha untuk kepentinganku. Dia tidak memperhatikan dirinya sendiri, hanya memperhatikanku. Hanya ingin membuatku selalu tersenyum. Malaikat pelindung bagiku." Jawaban penuh senyuman dari Sesilia. Senyuman yang dipaksakan, air mata wanita itu tetap saja mengalir karenanya. Seseorang yang benar-benar dikasihi.


Sudah diduga olehnya dirinya kalah. Dirinya hanya iblis dimata Sesilia sedangkan Triton malaikat pelindung dengan sayap yang lebar.


"Dimana dia?" tanya pemuda itu sekali lagi, dengan hati yang hancur.


"Disini..." Jawaban tidak terduga dari Sesilia menunjuk ke arah matanya. Fabian hanya terdiam sesaat tidak mengerti dengan apa yang dimaksud wanita ini.


"Triton sudah mati, dia menyumbangkan kornea matanya padaku agar aku bisa melihat lagi." Kalimat yang dilanjutkan oleh Sesilia. Seseorang yang paling dicintai dan mencintainya telah tiada. Meninggalkan kornea mata yang indah, untuk adik tercintanya.

__ADS_1


__ADS_2