
...Jika ibu adalah lentera, maka aku adalah lilinnya. Berlindung dan mengambil api darimu setiap padam....
...Jika ibu adalah daun, maka aku adalah serangga kecil yang berlindung dan makan darimu....
...Jika ibu adalah air, aku hanya ikan yang bergantung padamu....
...Tapi ada kalanya aku menyadari. Hidupku hanyalah sebuah beban. Kala dewasa ingin berbakti padamu? Hanya itulah alasanku hidup kini....
...Jika...jika saja Tuhan tidak menjemput ku. Aku hanya berharap tangan Tuhan belum ingin menarikku, dari pelukan kasihmu. ...
Zeyan.
Kaki kecil itu baru saja turun dari taksi pribadi miliknya. Menutup pintu sambil tersenyum mengucapkan terimakasih pada supir pribadinya. Tentu saja petugas kepolisian.
Anak manis itu berjalan sambil sesekali melompat-lompat, bernyanyi lagu anak kecil. Dunia yang tenang dan ceria untuknya. Hari-hari yang menyenangkan, namun ada kalanya dirinya tertegun. Darah mengalir dari hidungnya, jemari tangannya gemetar. Mencari keran terdekat guna menghapus jejak darah. Tapi kali ini kaki itu terlalu lemah.
"Ibu..." Hanya satu kata yang tersisa kala tubuh itu roboh.
*
Perlahan matanya terbuka, kesadarannya kembali. Ini sudah biasa, kondisi fisiknya perlahan akan menurun, akibat dari daya tahan tubuhnya yang melemah. Jarum infus masih terpasang di tangan kecilnya. Sesilia berada di sana, menangisi dirinya. Membelai pipi kecilnya. Ini rumah sakit, bau obat-obatan yang tercium sebagai penandanya.
Suhu tubuhnya tinggi, dirinya demam lagi.
Matanya menelisik, tidak ada satu orangpun selain Sesilia. Mereka belum tahu, penghuni rumah itu belum tahu tentang penyakit yang diidapnya.
Air matanya mengalir, memegang jemari tangan ibunya. Jika dirinya tidak ada, adakah yang akan menyayangi Sesilia seperti dirinya? Apa Sesilia dapat bertahan?
"I... ibu maaf..." ucapnya tersenyum.
__ADS_1
"Kenapa minta maaf, seharusnya ibu yang minta maaf. Ze... Zeyan seharusnya mendapatkan perawatan dengan dokter terbaik. Ini salah ibu, ti... tidak punya uang untuk membawamu ke rumah sakit di luar negeri. Ibu akan meminjam uang, ibu dengar perawatan disana lebih---" Kalimat Sesilia disela.
Anak dengan wajah putih pucat dan bibir memutih itu hanya tersenyum, menggeleng."Ibu jalanku hidup mungkin hanya ayah. Jika sumsumnya cocok maka---"
"Jadi karena itu kamu ingin ibu kembali bersama ayah?" Tanya Sesilia menatap ke arah putranya.
Zeyan mengangguk membenarkan."Aku egois bukan?"
"Ti... tidak ibu yang egois. Ibu akan berusaha untuk menerima hati ayahmu. De... dengan begitu dia mungkin akan berbelas kasih mempertaruhkan hidupnya, menjalani operasi." Sesilia menitikkan air matanya, mendekap tubuh putranya erat. Benar-benar takut kehilangannya. Bukan anak polos, tapi anak cerdas yang selalu menjadi kebanggaannya.
"Aku ingin hidup lebih lama..." Jeritan Zeyan untuk pertama kalinya. Benar-benar alami bagaikan anak kecil. Tapi itulah kenyataannya, jika bisa memilih di kehidupan yang lalu dirinya ingin hidup. Tapi tidak diberikan kesempatan tulangnya remuk akibat dipukuli, puluhan luka tembakan ditambah dadanya tertembus pedang samurai. Ingin rasanya dirinya berteriak seperti ini, masih ingin hidup.
Bahkan kali ini Tuhan juga masih merindukannya. Mungkin sebagai Zeyan dirinya benar-benar akan diambil. Jika begitu menjadi Zeyan adalah kesempatan terakhirnya untuk menjaga Sesilia.
Sesilia mengangguk."I...ibu akan mendekati ayahmu. Jika perlu menikahinya, kamu akan hidup, dia akan rela berkorban untuk kita," lirihnya.
Terkadang memerlukan tempat untuk bersandar. Jemari tangan kecil itu membelai wajah Sesilia. Rambut pirang dengan mata biru, tersenyum padanya."Aku jahat pada ibu. Bolehkah kali ini aku egois?"
*
Ada yang berbeda hari ini. Karena alasan tertentu Sesilia pulang lebih awal, kemudian kala dirinya kembali dari bekerja. Wanita itu sudah ada di rumah, namun tanpa kehadiran Zeyan sama sekali.
Membuat sup daging sapi, dan beberapa makanan sehat lainnya. Tersenyum padanya."Sayang, makanlah yang banyak. Kamu harus sehat..."
Ada apa ini? Bagaikan terkena serangan jantung. Jantungnya berdegup cepat, wanita yang kemudian mengisi mangkuknya menggunakan sup daging sapi.
"Hubungan kalian ada perkembangan!" Mulyasari terkekeh.
"Omong-ngomong dimana Zeyan?" tanya Jesseline matanya menelisik tidak menemukan keberadaan dedemit kecil. Maaf, salah maksudnya malaikat kecil.
__ADS_1
"Zeyan menginap di rumah tetangga lama kami. Katanya terlalu senang bermain." Alasan dari Sesilia berusaha tersenyum. Mengikuti perkataan putranya, untuk merahasiakan sementara waktu tentang penyakit Zeyan. Mengapa? Keluarga ini belum sepenuhnya mencintai mereka, tidak akan ada yang setuju jika Fabian mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan Zeyan. Setidaknya itulah yang dikatakannya, tidak ingin mengambil resiko. Tapi jika demi anaknya dirinya akan melakukan apa saja, termasuk menggoda Fabian.
Berperan sebagai calon istri yang baik. Apakah perasaan itu dapat tumbuh kembali? Perasaannya pada Veron yang terhapus karena pelecehan yang dilakukannya?
Entahlah, tapi jika Fabian bersedia dan dapat menyelamatkan nyawa Zeyan, Sesilia akan melakukan apapun termasuk memberikan hatinya.
Semuanya terlihat makan dengan tenang, walaupun sesekali mereka melirik meja tempat Zeyan biasa ada. Siapa yang tidak akan merindukan anak manis itu?
Tentu saja terkecuali Sesilia yang memang mengetahui putranya tengah menjalani rawat inap. Menitipkan Zeyan pada suster kepercayaannya menjadi pilihannya. Seorang suster yang sudah resmi menyandang predikat budak putranya. Sudah pasti sekarang tengah menyuapi Zeyan dengan banyak makanan.
"Kamu tampan." Ucap Sesilia pada Fabian, membuat pemuda itu terbatuk-batuk. Meminum air putih sejenak kemudian mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
"Te... terimakasih..." Pemuda itu menahan senyumnya, sedikit terbatuk-batuk berusaha menormalkan perasaannya.
"Temanku waktu SMU saja tidak sampai seperti ini. Dimana kakakku yang berwajah dingin?" Gumam Jesseline menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jadi... kapan kamu akan menikahiku?" Kalimat dari Sesilia yang sukses membuat semua orang tertegun. Dari penolakan tiba-tiba berubah menjadi ajakan untuk menikah?
"Kakak kamu pakai dukun mana? Aku minta rekomendasi..." bisik Jesseline pada Fabian.
"Kamu tidak mengancam Sesilia lagi kan?" Mulyasari berusaha untuk tersenyum.
Sedangkan Fabian seakan tidak mendengarkan kalimat orang-orang di sekitarnya. Ini adalah impiannya. Benar-benar impiannya dari pertama kali bertemu dengan Sesilia di toko bunga. Memiliki keluarga dengannya.
"Aku fikirkan nanti..." Jawaban dari Fabian menahan malunya. Sedangkan Mulyasari mengenyitkan keningnya, menghela napas kasar mengerti dengan segala keputusan putranya.
"Rupanya aku cuma dipermainkan?" batin Sesilia masih dengan senyuman menyungging di wajahnya. Seorang ibu yang tidak akan menyerah walaupun itu mempertaruhkan harga dirinya. Jika mengatakan terus terang tentang penyakit Fabian, pria dengan ego tinggi ini pasti langsung mengusir mereka.
Menjerat dengan pernikahan, hanya itulah jalan agar Fabian bersedia melakukan operasi. Seperti rencana Zeyan, jika sudah menikah, walaupun ingin menolak, Fabian tidak akan bisa jika diancam akan menyebarkan rumor di media.
__ADS_1
Sesilia menghela napas kasar."Boleh aku menginap di kamarmu malam ini?" Wajah yang benar-benar rupawan. Ucapan sensualnya membuat Fabian hampir ingin mimisan rasanya. Hatinya ingin keluar dari tubuhnya. Ini hal yang gila!