Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat

Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat
My Son


__ADS_3

"Aku hanya ingin membawa anakku pergi. Apa hakmu menahanku?" Kalimat penuh tekanan dari Sesilia, memegang erat jemari tangan putranya.


"Dia anakku, aku dapat membuat kalian berpisah. Jadi fikirkan baik-baik dan jaga perilakumu..." Pria yang tidak mau kalah sama sekali. Wanita ini dan Zeyan adalah miliknya. Rasa protektif yang membuatnya benar-benar membenci sosok Triton.


"Dia bukan anakmu. Aku juga melakukannya dengan pria lain." Dusta Sesilia menyilangkan tangannya di depan dada, mengangkat wajahnya seakan-akan tidak takut pada pria ini.


"Melakukan dengan pria lain? Aku masih ingat malam itu ada darah yang keluar." Sinis pria berpakaian resmi yang sudah seperti akan menghadiri Grammy award itu. Benar-benar berpenampilan maksimal dengan pakaian terbaik.


Sesilia mengigit bagian bawah bibirnya sendiri, kehabisan kata-kata sesaat."Aku melakukannya dengan pria lain setelah pelecehan yang kamu lakukan."


Fabian tertawa, tapi hanya sejenak. Wajah Triton yang tersenyum setiap bertemu dengan Sesilia di toko bunga masih terbayang. Mengepalkan tangannya menghirup napas dalam-dalam. Dirinya tidak cemburu sama sekali, karena detektif tengil itu tidak selevel dengannya. Dari segi kekayaan, walaupun dari segi wajah...


Tidak! Tetap saja tidak selevel. Detektif tengil yang diincar banyak wanita. Tapi hanya terpaku pada Sesilia."Lalu dimana pria lain (Triton) yang menidurimu?"


"Di ...dia ada di luar negeri! Kami akan menikah setelah kontrak kerjanya di luar negeri berakhir. Zeyan adalah putra kandungnya! Jadi jangan coba-coba mendekati Zeyan!" Tegas wanita itu menelan ludahnya sendiri. Berbohong tanpa berkedip, bahkan pacar saja tidak punya. Walaupun ada banyak yang sempat melamar dan mendekatinya. Mulai dari juragan kos-kosan sampai calon dokter muda, terlebih lagi salah satunya bahkan tentara angkatan udara.


Sejatinya semuanya ditolak olehnya. Tidak ingin egois pada Zeyan. Selain itu tiba-tiba satu-persatu aib mereka menjadi konsumsi publik. Mulai dari skandal video asusila, sampai drama anak durhaka pada orang tuanya. Tidak ada yang tahu penyebabnya. Katanya ada hacker yang membobol keamanan phonecell pintar mereka.


"Luar negeri? Besok hasil tes akan keluar! Jangan memiliki keinginan atau memikirkan untuk melarikan diri!" Tegas Fabian bangkit dari sofa tempatnya duduk. Tidak dapat dibayangkan olehnya si tengil Triton meniduri Sesilia. Tapi satu yang diyakininya, Zeyan merupakan putranya. Benar-benar mirip dengannya, apapun yang terjadi ibu dan anak ini adalah miliknya.


"Zeyan! Kamu tidur dengan ayah!" Ucap Fabian tersenyum pada putranya.


Zeyan menggeleng, mengenyitkan keningnya, tertunduk. Wajah yang terlihat benar-benar imut."Tidak mau, ayah galak pada ibu. Padahal tadi berlari hanya dengan piyama ke kamar, setelah tahu ibu datang. Berganti baju dan memakai parfum Caron Poivre, ayah memakai parfum mahal bagaikan akan mandi parfum. Tapi setelah bertemu dengan ibu, ayah malah bertengkar dengan ibu..." Mata anak itu berkaca-kaca dirinya memang harus menjual nama ibunya.


Rencana picik ada di otaknya. Kala ayahnya menikah dengan ibunya dan menyayangi dirinya. Maka tinggal mendapatkan donor sumsum dari ayahnya. Setelah dirinya sembuh, tinggal mengadu domba ayah dan ibunya untuk segera bercerai. Rasa dendam itu sejatinya masih ada pada sang ayah durhaka yang tidak bertanggung jawab. Bagaimana bisa melecehkan seorang wanita buta, kemudian meninggalkannya seperti sampah. Anak mana yang tidak sakit hati?


Tidak tega sama sekali. Fabian memeluk erat putranya, kemudian mencium pipinya yang menggemaskan. Anaknya memang seperti malaikat yang menyatukan dirinya dengan Sesilia, itulah dalam anggapannya.


"Ayah tidak akan marah lagi. Sekarang tidur dengan ayah ya?" Pinta Zeyan pada Sesilia.


"Kami akan pulang!" Ucap Sesilia keras kepala.


"Kamu pulang, tapi anakku tidak!" Fabian lebih keras kepala lagi. Aura permusuhan kembali menyengat.

__ADS_1


"Ayah dan ibu tidur bersama denganku..." teriak Zeyan menangis tiba-tiba, tidak akan ada yang tega melihatnya, benar-benar beruang putih tidak berdaya."Teman-teman menceritakan bagaimana rasanya tidur satu ranjang dengan ibu dan ayah. A...aku ingin tahu."


Sesilia menghela napas kasar."Kita pulang ya? Kamu ingin ayah, akan ibu carikan. Tapi jangan orang ini."


Zeyan menggeleng."Aku sayang ayah..." ucapnya memegang kaki ayahnya erat. Matanya berkaca-kaca, air mata yang mengalir itu nyata. Benar-benar patut untuk menelan piala dunia, maksudnya piala Oscar.


Semua orang bingung. Benar-benar bingung dengan situasi saat ini. Ingin memisahkan tapi anaknya tengah sakit parah.


"Anak pintar! Ayah akan memberikan uang jajan yang banyak padamu," batin Fabian memeluk putranya erat.


"Ibu? Ibu tidak menyayangiku lagi?" Zeyan memelas. Misinya untuk mendapatkan hati Fabian dimulai. Setelah mendapatkan sumsum tulang belakang, dirinya akan mencampakkan ayahnya.


"Satu malam saja." Itulah seorang ibu, akan mengalah bagaimana pun harga dirinya jatuh, bercampur trauma dan rasa takut mengingat malam itu. Rasa trauma akibat perbuatan Fabian yang disembuhkan dengan susah payah oleh Triton.


Masih teringat di benaknya. Kala sang kakak memeluknya erat, tubuhnya yang terlihat mengenaskan hanya berbalut selimut. Sang kakak yang berjanji akan selalu menjaganya walaupun kematian menjemput. Menenangkan fikirannya, pelukan yang benar-benar terasa hangat dari Triton. Kini Triton sudah tidak ada, meninggal di hari bertepatan dengan kelahiran Zeyan. Mungkin hanya Zeyan semangat hidupnya saat ini.


Namun.


"Ibu kenapa tidak tidur?" pertanyaan dari Zeyan melihat sang ibu masih membaca komik action fantasi, tentang club' penjual waktu di aplikasi mangatoon. Duduk di sofa dalam kamar Fabian.


"Berjaga-jaga siapa tau predator ini ingin melecehkan ibu atau putra ibu yang paling tampan." Senyuman keji dari wajah Sesilia. Benar-benar berbeda dengan wanita lembut, lugu yang tidak dapat melihat 6 tahun lalu.


"Tidurlah disini. Pasti tidak nyaman di sofa kan?" Fabian berusaha tersenyum.


"Lebih nyaman di sofa. Karena tidak ada predator disini. Dan jangan kira aku akan tidur!" Peringatan dari Sesilia, tangannya gemetar. Sejatinya dirinya ketakutan, mengingat betapa mengerikannya kejadian 6 tahun lalu. Pria yang tidak mempedulikan teriakkannya yang kesakitan.


Langsung memeluk dan memaafkan pelaku pelecehan seperti dalam film, novel atau komik hanya karena anak atau pelaku kaya dan tampan? Tentu saja itu tidak dapat dilakukan olehnya. Air matanya tiba-tiba mengalir kala melihat ke arah tempat tidur. Menatap dua orang yang telah dianggapnya tertidur.


Tangannya yang memegang phonecell gemetar. Benar-benar pria yang membuat kehidupannya hancur. Satu yang patut disyukurinya dari kejadian itu adalah kehadiran Zeyan.


*


Hasil tes DNA keluar pada siang hari. Tangan Zeyan tidak pernah terlepas dari jemari tangan ibunya. Sesilia tidak tahu bagaimana hasil tesnya nanti. Tidak dapat melihat wajah pemuda itu sama sekali. Pria yang memanggil namanya beberapa kali, kala dirinya merintih dalam paksaan. Perlawanan yang tidak ada gunanya. Pria yang seakan tidak pernah puas dengan tubuhnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu melakukan itu? Kaya, tampan dari keluarga terhormat. Apa yang kurang? Banyak wanita akan berbaris. Kenapa melecehkan seorang wanita buta?" Tanya Sesilia, dalam lorong rumah sakit.


"Seseorang ingin aku tidur dengannya. Aku sudah berusaha, tapi tetap saja tidak ada perasaan. Pada akhirnya aku mendorongnya sebelum sempat melakukan apapun. Obat-obatan yang aku minum biang keladi segalanya. Kewarasan yang menghilang, membuat niat busuk itu terlaksana. Menghentikan mobilku dengan sengaja di toko bunga." Penjelasan dari Fabian, tetap menebarkan aura angkuh. Sekali lagi, dirinya memang seperti ini.


Bingung bagaimana harus mengatakannya? Apa dirinya harus mengatakan, mencoba melupakan Sesilia. Kemudian meminum obat yang sengaja dicampurkan tunangannya? Malam itu tidak terjadi apapun dengan tunangannya. Dirinya pergi, kala wanita itu mencoba untuk menggodanya. Entah kenapa tidak ingin rasanya, benar-benar tidak ingin.


Dari awal yang disukainya pegawai toko bunga yang buta. Sekian tahun hanya membeli buket bunga setiap sore untuk melihat wajahnya. Pertunangan? Dirinya bahkan hanya pernah bertemu tiga kali dengan wanita yang merupakan mantan kekasih temannya itu. Hanya untuk kerjasama dua perusahaan ayahnya egois saat itu.


Tapi sekarang tidak lagi, sang ayah sudah mundur dari perusahaan dan bercerai dengan ibunya. Pertunangan juga telah diputuskan. Dirinya tidak menjadi boneka keluarganya lagi. Membuat perusahaannya lebih maju dalam beberapa dekade terakhir.


Jujur saja, Fabian benar-benar tegang saat ini. Bagaimana jika Zeyan benar-benar anak dari pria lain? Maka dirinya akan kesulitan mendapatkan ibu dan anak ini.


Hingga pada akhirnya petugas laboratorium yang sama sekali tidak tidur membawa hasil tes. Dua orang dewasa yang gemetar menelan ludahnya sendiri.


"Aku harap hasilnya dia putraku." Batin Fabian.


"Aku harap Zeyan bukan anak orang ini. Biarlah ayah kandung Zeyan sudah mati. Aku ikhlas." Batin Sesilia.


"Ini hasilnya," Kepala rumah sakit yang memberikannya sendiri. Yang ada dalam fikirannya wanita ini (Sesilia) mungkin akan berteriak kegirangan karena dirinya berkesempatan menjadi istri Fabian. Sedangkan Fabian sudah pasti akan menyangkal bagaikan ayah tidak bertanggungjawab.


Tapi apa benar? Harapan tinggal harapan.


"Zeyan putraku! Aku punya anak!" teriak Fabian melakukan selebrasi. Benar-benar memalukan citra dinginnya menghilang sejenak.


"Kamu pasti bercanda kan? Tidak mungkin pria ular itu ayah kandung anakku yang tampan seperti malaikat! Lihat baik-baik mereka tidak mirip! Aku ingin diadakan tes ulang!" Sesilia yang murka mencengkeram kerah kemeja sang dokter.


"Ke... Kenapa terbalik?" batin sang kepala rumah sakit dengan kacamata yang hampir terjatuh.


Hingga suara seseorang membuat semua terdiam."Fabian mempunyai anak?"


Plak!


Satu tamparan dilayangkan wanita paruh baya itu pada Fabian. Semua orang kehabisan kata-kata, termasuk Sesilia.

__ADS_1


__ADS_2