
Mengejar Fabian dengan misi hanya untuk mengambil apa yang dimilikinya. Tidak, sebenarnya itu hanya sebuah alasan. Dirinya terkadang ingin hidup normal. Mungkin... mungkin saja hanya dengan menikah dengan Fabian yang berani menentang keinginan Chan, dirinya dapat terlepas sepenuhnya dari ayahnya.
Cinta? Itu tidak dibutuhkannya di dunia ini lagi. Perasaan cinta terkadang menyakitkan, kala dirinya ingin melindungi. Tapi tidak memiliki cara, untuk menghentikan ayahnya. Hanya menuruti kata-katanya itulah yang dilakukan olehnya.
Pria yang bertugas mengawasinya dari dirinya remaja itu menghela napas kasar. Berjalan di lorong hotel dengan dirinya. Bagaikan menjaga batasan, entah kenapa.
"Nona, saya sudah mempertimbangkannya. Tolong tinggalkan tempat ini." Kalimat darinya lagi, membuat wanita itu tertunduk, jemari tangannya gemetar.
"Ada banyak yang akan mati jika aku pergi bukan?" tanyanya tersenyum penuh kepura-puraan.
"Saya, tidak memiliki keinginan untuk hidup..." Jawaban dari pemuda itu tersenyum cerah. Tanpa beban sama sekali.
"Bodoh!" Anjani tertawa, menertawakan pemuda yang berjalan beriringan bersama dengannya.
Tapi Aster hanya tersenyum, sedikit melirik ke arah Anjani. Suara tembakan itu masih terdengar jelas dalam otaknya, semua orang yang ada di keluarganya dibunuh.
Hanya dirinya yang hidup, tapi apa yang dilakukannya? Dirinya takut mati, hingga berlutut di hadapan iblis itu. Menjanjikan kesetiaan, agar dirinya tidak mati seperti keluarganya.
Pada akhirnya Chan membawanya, tapi hidupnya tidak juga lebih baik dari kematian. Kekerasan fisik, harus menjadi penipu ulung yang berguna, segalanya sudah pernah dialami olehnya. Termasuk diancam organ tubuhnya akan dijual satu persatu jika dirinya tidak dapat menjadi seseorang yang berguna bagi Chan.
Segalanya berlangsung hingga usianya menginjak 21 tahun. Saat itulah dirinya berpindah tugas untuk mengawasi Anjani. Tentu tidak sendirian, dirinya juga di tugaskan dengan satu orang lagi, agar saling mengawasi gerak-gerik masing-masing.
Bagaimana iblis itu dapat begitu kejam pada putrinya? Di ranjang, itulah kali pertama dirinya bertemu dengan Anjani. Remaja berusia 17 tahun yang telah dilecehkan oleh seorang pengusaha mata keranjang, atas suruhan Chan.
Wanita yang menangis, dengan bercak darah terdapat di seprei. Pria yang mungkin seusia dengan Chan merokok di sampingnya.
Pria yang acuh, hanya tersenyum setelah mendapatkan kepuasan. Iblis bernama Chan itu sudah gila! Itulah yang ada dalam benak Aster saat itu.
Mengikuti langkah wanita yang dipanggilnya dengan nona muda ini. Wanita yang mulai tumbuh dan jatuh cinta, dapat dikatakan dirinya yang paling memahami Anjani.
Seseorang yang terkadang berbincang dengannya. Walaupun tatapan kosong terlihat disana. Pada akhirnya wanita yang mulai merebut hatinya jatuh cinta, tapi bukan pada dirinya, melainkan pada pria yang diincar oleh Chan untuk direbut kekayaannya.
Mereka saling jatuh cinta. Saat itulah diam-diam Aster menitikkan air matanya. Dadanya terasa sesak, tapi anehnya dirinya bahagia melihat wanita yang biasanya tanpa ekspresi itu tersenyum.
__ADS_1
Benar-benar bahagia, perasaan bahagia yang membuat dirinya kecanduan. Bukan untuk memilikinya, tapi untuk melihatnya bahagia.
Namun ada kalanya segalanya memiliki batasan waktu. Chan memerintahkan Anjani menjalankan misi awalnya, dengan ancaman nyawa pria itu. Pada akhirnya Anjani menurut, tapi menangis di setiap kesempatan karena merindukan pria itu. Pria yang pada akhirnya bunuh diri, karena merasa dikhianati oleh Anjani yang merebut semua hartanya.
Dirinya menyaksikan segalanya, bagaimana hancurnya wanita yang diam-diam dicintainya.
Kini, dirinya melirik sedikit ke arah wanita itu. Wajahnya tersenyum, mungkin dengan mengorbankan nyawanya Anjani dapat hidup bebas dan tersenyum lepas seperti dulu. Saat jatuh cinta pada pria yang telah tiada itu.
Dirinya tidak memiliki orang tua lagi, tidak memiliki saudara, atau pun teman. Tidak akan ada yang merindukannya jika dirinya tiada di tangan Chan. Tidak akan menyesal mempertaruhkan hidupnya, sama sekali tidak menyesal.
Wajahnya tersenyum, tidak terlihat bagaikan orang yang menginginkan kematian. Dirinya memang tidak menginginkan kematian, tapi jika kematian itu dapat ditukar dengan senyuman cerah wanita ini, mungkin itu sepadan.
"Nona, bagaimana jika ada kesempatan bagi anda untuk pergi?" tanya Aster.
"Aku? Aku tidak akan pergi. Tidak pernah terfikir bagiku untuk pergi." Jawaban dari Anjani.
"Kenapa?" Tanyanya lagi tetap tersenyum.
"Jika aku pergi, kamu mati. Itu tidak sepadan." Anjani tersenyum dengan wajah tertunduk, menegang jemari tangan Aster yang memang menjaga jarak darinya.
"Aku tidak pantas untukmu. Karena itu aku ingin kamu tersenyum dalam kebebasan. Walaupun bukan denganku..." batin Aster, pemuda yang telah menyiapkan segalanya. Nona yang diam-diam dicintainya akan hidup bebas, sementara dirinya akan menghalangi Chan dengan taruhan nyawanya.
Dua orang yang berlaku sepanjang lorong. Wanita yang menghela napas kasar, tidak menyadari ada luka tikaman yang telah diperban pada bahu pemuda itu.
Apa yang sudah dilakukan Aster? Seharusnya ada satu orang lagi yang ditugaskan untuk mengawasi mereka. Salah satu tangan kanan Chan. Pria yang sudah ditenggelamkan dalam danau oleh Aster tanpa sepengetahuan siapapun.
Alasannya? Pria itu mencoba membunuhnya karena dirinya ingin melepaskan Anjani pergi. Luka tikaman itu dari hasil dari perkelahian.
Senyuman tetap terlihat di wajahnya. Wanita yang akan bahagia entah dengan siapa. Tapi setidaknya nyawanya yang tidak berharga ini, akan membuat Anjani kembali tersenyum.
*
Terkadang kala luka itu ada, hati yang terhubung juga ada. Mata Zeyan memincing menatap ke arah Fabian. Menghela napas berkali-kali, wajah pria itu terlihat cerah kala menyuapinya.
__ADS_1
Sedangkan Sesilia sendiri terlihat biasa-biasa saja. Suasana yang berubah setelah mereka pergi mengambil pakaiannya di villa.
Sang ibu yang tadinya canggung menjadi bertingkah bagaikan tidak ada yang terjadi. Sedangkan Fabian sebelumnya berekspresi seperti mengalami sembelit parah. Kini seperti memenangkan judi dalam jumlah besar.
Ada yang mencurigakan diantara mereka. Benar-benar mencurigakan.
"Zeyan!" Seseorang tiba-tiba masuk menggunakan seragam pekerja kebersihan.
Sesilia mengenyitkan keningnya tersenyum, kemudian menyembunyikan wajahnya. Bagaikan masa lalu watak Derrick mirip dengan almarhum kakaknya.
Tidak bermaksud menggantikan Triton. Tapi jika terlalu dekat, tetap saja dirinya akan mengingat pria terbaik di hidupnya. Cinta pertamanya yang telah tiada, sang kakak.
"Kenapa kamu kemari lagi?" Fabian mengenyitkan keningnya kesal, berusaha tersenyum. Padahal ingin rasanya mencabik-cabik orang ini, matanya melirik ke arah Sesilia. Wanita itu menyembunyikan wajahnya dibalik majalah. Ini bagaikan melihat sepasang anak SMU jatuh cinta.
Sangat menyakitkan.
"Aku? Aku kemari karena Zeyan dan Sesilia." Sungguh luar biasa jawaban pemuda ini.
Fabian menghela napas kasar."Kamu tau bukan, kamu ancaman terbesar dalam rumah tanggaku?"
"Kalian belum menikah. Jika sudah barulah aku penjahatnya." Kembali pria itu menjawab dengan lebih masuk akal lagi.
"Benar! Pacaran saja belum!" Ucap Jesseline menerobos masuk, tanpa permisi."Kakak dimana martabatmu hingga memiliki saingan seorang cleaning service!"
"Aku tidak sudi mengakuinya sebagai saingan!" bentak Fabian.
"Tapi Sesilia menyukainya kan?" Jesseline mengenyitkan keningnya.
"Kalau boleh jujur, Derrick benar-benar tipeku. Dia seperti almarhum Triton. Tapi tetap saja, kami tidak dapat bersama karena aku tidak mencintainya." Jawaban dari Sesilia pada akhirnya.
"Jadi siapa yang kamu cintai?" tanya Fabian antusias.
"Aku tidak ingin terlibat dalam permainan cinta kalian. Tapi jangan menyakiti Zeyan dan Sesilia lagi. Karena ada aku yang selalu mengintai keluarga kalian." Ancaman penuh tawa dari Derrick diikuti dengan tawa semua orang kecuali Fabian yang terlihat kesal.
__ADS_1
"Mereka mulai lagi. Kapan mereka akan belajar lebih dewasa..." Gumam sang anak berusia lima tahun memijit pelipisnya sendiri.