Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat

Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat
Putus Asa


__ADS_3

...Semut mereka saksinya. Kala aku mengingat hari untuk menemui cinta pertamaku....


...Semut mereka saksinya. Saat aku tertegun akan keindahanmu....


...Semut mereka saksinya. Betapa pengecutnya pria sepertiku, hingga membiarkanmu terluka....


...Jika gula dapat menembusnya, aku ingin menjadi gula. Menyatu dengan teh yang menenangkanmu....


...Menyatu dengan caffein yang membuatmu bersemangat. Tapi aku tidak sepertinya, yang dapat menjagamu bagaikan gula....


...Hanya sesal yang tertinggal, semut pun mungkin akan menertawakanku....


Fabian.


Pemuda itu menatap ke arah jendela. Sesekali tersenyum menatap ke arah Sesilia yang terlihat konsentrasi mempelajari segala tugasnya. Wajahnya yang lembut, rona wajah itu masih teringat di benaknya.


Beberapa tahun lalu.


Saat itu dirinya benar-benar depresi. Mengetahui perselingkuhan ayahnya. Pemuda yang baru lulus kuliah itu duduk, setelah menelan satu butir narkotika.


Ini pertama kalinya dirinya merasakan sensasi ini. Menghela napas berkali-kali, beban di dadanya terasa berkurang. Tertidur di kursi taman bagaikan gelandangan.


Bagaimana bisa orang yang paling tegas padanya berselingkuh dari ibunya? Dirinya tidak ingin pulang saat itu.


Hingga kala siang menyapa hujan mulai turun. Pengaruh narkotika yang dikonsumsinya semalam kelihatannya sudah menghilang. Berteduh di depan sebuah toko bunga, tapi sayang hujan angin yang terjadi membuatnya harus masuk.


"Selamat datang!" Ucap seorang wanita ramah, memakai pakaian sederhana. Wajahnya benar-benar lembut, gesture bagaikan malaikat menurutnya.


Rambutnya halus, sedikit bergelombang, diikat ke belakang. Dirinya tertegun sesaat, bagaikan tidak dapat menggerakkan kakinya. Dengan cepat merapikan penampilannya sendiri yang baru saja bangun tidur dari kursi taman.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu menampakan senyuman teduh. Aneh! Bagaikan ada magnet khusus yang melekat pada dirinya.


Dirinya tidak boleh terlihat berantakan di depan wanita ini. Fabian merogoh sakunya, sisa mabuk semalam dan pertama kali mencoba membeli narkotika. Berapa uang cash yang dimilikinya? Tidak terlalu banyak sejatinya.


Karena itu.


"Aku ingin setangkai mawar merah..." Ucapnya tersenyum menatap wanita itu.


Wanita yang mengambil bunga mawar, kemudian mencium wanginya sejenak. Barulah mulai memasang plastik khusus, menempelkan pintanya. Tangannya bergerak pelan tapi pasti.


Dirinya ingin menanyakan nama, tapi jemari tangannya gemetar. Setiap kata yang diucapkan wanita itu benar-benar indah baginya. Tertegun dengan rupa fisik dan suaranya. Dirinya bagaikan bertemu dengan malaikat.


"Berapa?" Pemuda itu menelan ludahnya berharap uangnya cukup.


"7.000," jawaban wanita itu membuatnya ingin mengumpat. Pada akhirnya jujur memang lebih baik, memberikan uangnya yang hanya tersisa 6.000 rupiah. Wanita itu meraba-raba tanpa menoleh pada uang yang ada di tangannya.


Ada yang salah dengan wanita ini. Apa wanita ini tidak dapat melihat?


"Uang anda kurang." Ucap wanita itu, tersenyum, memeriksa nominal menggunakan rabaan.


"Saya tau, ta...tapi tujuan saya sebenarnya hanya untuk berteduh. Diluar hujan lebat. Jadi---" Kalimatnya disela, wanita itu menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.


"Tidak perlu bayar kalau begitu. Tunggu saja hujannya reda. Matahari akan terlihat lagi." Kalimat yang membuat Fabian tertegun, bunga mawar itu kembali disimpan Sesilia.


Matahari akan terlihat lagi? Itu bagaikan ada hal yang berharga dalam hidupnya dapat terlihat. Dirinya melihatnya, mungkin jika dirinya tidak ada, tidak akan bertemu dengan orang ini. Kala itulah Fabian mulai menyimpan Sesilia dalam hatinya."Malaikat," batinnya kala itu.


Dirinya berkenalan dengan nama Veron, mengapa? Hanya hal iseng yang dilakukannya. Menyadari wanita ini tidak dapat melihat, ingin mengenalnya tapi tidak ingin dikenali. Terlalu malu rasanya jika menggunakan nama asli, dirinya belum mandi dan masih berbau alkohol. Walaupun kesadarannya sudah sepenuhnya pulih.


Berbagai lelucon mereka ceritakan, tertawa bersama menunggu hujan reda. Apa itu keindahan? Keindahan adalah saat melihat wanita ini tersenyum.


*

__ADS_1


Bertahun-tahun berlalu, dirinya yang dahulu selalu meminum alkohol bahkan pernah sekali menggunakan narkotika, kini banyak berubah. Selalu berpakaian rapi, memakai parfum dengan aroma menyegarkan, belajar banyak tentang berbisnis. Mendatangi toko bunga setiap sore, sepulang dirinya bekerja.


Satu buket yang indah dibelinya setiap hari. Ingin menjadi yang terbaik, itulah yang ada di benaknya, untuk memiliki wanita ini. Hanya untuk wanita ini, karena itu dirinya tidak boleh terlalu banyak meminum alkohol, yang paling penting harus tampan dan tetap kaya.


"Aku ingin memesan satu buket bunga mawar merah," ucapnya tersenyum.


"Tuan Veron membeli lagi?" Pertanyaan dari Sesilia, meraba-raba menyusun buket bunga.


Pemuda itu menggaruk-garuk area belakang kepalanya. Menghela napas kasar."Tolong tulis, untuk yang tercantik. Malaikatku."


Wanita itu mengangguk paham. Kemudian mengambil kartu, meletakkan di tempat pencetak khusus. Mulai mengetik, dengan komputer yang aneh bagi Fabian. Tombol pada keyboard, diatur memiliki tekstur. Sedangkan juga ada pengaturan suara dan koreksi. Bagaikan memang didesain untuk wanita buta ini.


"Kamu sendiri di sini?" Satu pertanyaan dari Fabian, benar-benar penasaran.


"Toko bunga ini didirikan oleh seseorang. Dia seperti pelindung, aku hanya menjaganya saja. Pagi dan sore akan ada orang yang digaji khusus untuk bersih-bersih. Tidak ada yang perlu dicemaskan." Ucapan dari Sesilia membuat Fabian mengenyitkan keningnya, matanya melirik, tidak ada cincin di jari manisnya. Berarti belum menikah, pemilik toko bunga mungkin bos dari wanita ini.


"Ini buket bunganya." Sesilia memberikan pada Fabian. Pemuda yang meraih dengan cepat kemudian. Membayar dengan uang pas, melarikan diri setelahnya.


"Tuan Veron! Istrimu pasti akan senang dengan bunganya!" Teriak Sesilia dari dalam sana.


Napas Fabian tidak teratur, dirinya benar-benar sulit mengendalikan ritme jantung. Tapi apa itu tadi? Istri? Dia menyangka Veron sudah menikah?


Cakra yang berada di kursi pengemudi menahan senyumnya."Anda sudah menikah tuan muda? Kenapa saya tidak diundang?"


"Diam!" Geram Fabian.


Pemuda yang menyandarkan punggungnya pada kursi penumpang. Memijit pelipisnya sendiri.


"Kenapa? Tidak mendapatkan jatah karena dikira sudah menikah?" Ucap Cakra lagi, menggoda majikannya.


"Aku bilang diam!" Fabian merungut kesal. Kenapa malah dikira sudah menikah? Mungkin saja karena membeli buket bunga mawar merah setiap hari.


*


Tidak ada yang unik dari kisah cinta mereka. Hanya wanita yang lembut, dengan pria kaya yang malu-malu memendam perasaannya.


Hingga hari itu tiba. Dirinya ingin memasuki toko bunga beretalese kaca itu. Namun seseorang terlihat di sana. Seorang pria, memakai sweater, dengan earphone tergantung di lehernya, jeans hitam, memakai sepatu putih. Rambutnya hitam, mengunyah permen karet, memiliki kharisma rupawan yang berbeda dengan dirinya. Pria yang terlihat cerah dan ramah.


Memeluk dan mengecup kening Sesilia. Gadis itu tertawa, pemuda yang membawa banyak kantong belanjaan. Terlihat lembut ketika tersenyum. Siapa pria itu? Tidak! Itu tidak penting yang terpenting apa hubungannya dengan Sesilia?


Minum dari botol air yang sama. Mereka tertawa dan tersenyum entah apa yang mereka bicarakan. Malaikatnya tersenyum untuk pria lain?


Berpelukan? Mencium kening? Bukankah itu yang biasanya dilakukan sepasang kekasih. Pemuda itu bahkan memakaikan anting-anting di telinga Sesilia.


Tertunduk tidak dapat berbuat apapun. Perasaan yang terpendam, matanya menelisik. Ada seseorang yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.


"Serasi ya? Namanya Triton! Ganteng dan cantik, itu pacar Sesilia. Tidak pernah tinggal di sini. Tapi selalu datang setiap minggu." Ucap seorang ibu-ibu mungkin pelanggan yang sering ke tempat tersebut. Benar-benar juga mengira hubungan mereka adalah sepasang kekasih.


Jemari tangan Fabian mengepal."Apa pekerjaannya?"


"Katanya detektif..." Sang ibu-ibu yang memang tinggal di wilayah sekitar terlihat berfikir.


Kala itulah keretakan terasa di hatinya. Malaikat? Wanita yang diimpikan olehnya mencintai orang lain. Meninggalkan toko bunga, tidak datang pada hari itu.


*


Terkadang hal yang tidak disangka terjadi Chan (ayah Anjani) dan Anggara (ayah Fabian). Berniat menyatukan dua perusahaan melalui jalan pernikahan. Dirinya berusaha menentang, karena Anjani merupakan mantan kekasih temannya Surya.


Tapi.


Bug!

__ADS_1


Satu pukulan didapatkannya di bagian perut. Dua orang memeganginya, beginilah ayahnya jika sudah emosi. Anggra hanya menjalankan bisnis milik Mulyasari, sebab bisnisnya tiba-tiba mengalami kebangkrutan 4 tahun lalu. Entah apa penyebabnya, mungkin karena banyaknya wanita simpanan yang dimiliki ayahnya.


Tapi Fabian masih hanya menutup mulut tidak ingin ibunya bersedih atau merasakan sakit.


Anggara menatap murka pada putranya."Apa yang kamu bilang tadi! Tidak ingin bertunangan dengan Anjani!? Perusahaan kita mengalami kesulitan keuangan. Dan apa kontribusimu!" Teriak sang ayah kembali menendang tubuh putranya.


"Aku sudah mendapatkan beberapa tender proyek. Tapi ayah merekayasa anggarannya hingga klien menuntut. Apa itu salahku jika perusahaan ini di ambang kehancuran? Lebih baik ibu yang mengelola seperti dulu." Kalimat Fabian terhenti sang ayah kembali menendang tubuhnya.


"Bertunangan dengan Anjani! Tunjukkan baktimu pada ayah dan ibumu!" Tegas Anggara melangkah pergi, meninggalkan putranya tertunduk dengan air mata mengalir.


*


Tidak ada wanita yang dicintainya, dirinya menyerah. Apa yang menjadi alasannya tidak menerima? Walaupun dirinya tahu Anjani masih menjalin hubungan dengan sahabatnya Surya.


Ada kalanya mereka menghabiskan waktu liburan di villa lebih dari seminggu. Dirinya tahu, tapi bisa apa? Ibunya terlalu percaya pada ayahnya.


Air matanya mengalir, terduduk di balkon apartemen. Meminum segelas wine, minuman yang semerah mawar. Dapatkah dirinya bertemu malaikatnya lagi?


*


Ini hubungan yang menjijikan dirinya menyadari itu. Hari ini Anjani mendatanginya, setelah berlibur dengan Surya. Dirinya mengetahuinya, tapi tidak sedih sama sekali. Dari awal tidak mencintai. Mati rasa? Itulah yang terjadi.


Wanita itu terlihat tertarik padanya, mungkin karena Surya juga tipikal yang sama dengan Anjani. Menjalani hubungan hanya untuk bersenang-senang tanpa ada niatan untuk menikah.


Malam itu, Anggara menyewa kamar hotel untuk putranya dan Anjani. Apa benar dirinya dijual? Ini benar-benar merendahkan. Hanya datang itulah yang dilakukan olehnya. Mengikuti permainan, mungkin saja dirinya cepat atau lambat akan melupakan malaikatnya. Seseorang yang membuatnya berusaha untuk menjadi lebih baik, agar dapat bersanding dengan sang malaikat buta.


Sedikit melirik, walaupun Anjani menyembunyikannya dirinya dapat melihat minumannya dicampur sesuatu. Wanita yang hanya menggunakan jubah mandi itu mendekatinya memberikan minuman.


Fabian menatap ke arah pantulan wajahnya pada minuman ini. Mungkin ini saatnya melupakan Sesilia dan menerima hidup sebagai boneka ayahnya.


Meminum minuman itu sekali teguk. Anjani mulai mendekat, padahal obat belum bereaksi sama sekali. Bebauan samar tercium, bau parfum pria. Ini baru khas parfum yang sering digunakan Surya.


Baru menyadari segalanya, tempat tidur memang rapi tapi terdapat beberapa helai tissue di tempat sampah. Wanita ini sudah gila! Mungkin Surya ada di ruangan ini beberapa jam lalu. Apa ini pilihan ayahnya!? Terlalu busuk untuknya!


Anjani semakin mendekat. Kala itulah sisi dingin pemuda itu terlihat. Tubuh wanita itu ditepisnya, mencengkeram pipinya.


"Aku tidak peduli jika perusahaan itu hancur! Tapi aku tidak ingin direndahkan lebih dari ini!" Geram Fabian, menghempaskan Anjani kembali.


"Ke... kenapa!? Perusahaanmu akan hancur!" Teriak Anjani.


"Tidak peduli." Hanya dua kata yang diucapkan Fabian. Memecahkan gelas wine, menggenggam pecahannya. Menjaga kesadarannya. Jemari tangan pemuda itu terluka mengeluarkan darah segar.


*


Pergi dengan cepat dari area hotel, menginjak pedal gasnya dalam-dalam. Tidak dapat berfikiran jernih, napsu menguasai separuh otaknya.


Kriet!


Pembatas jalan ditabraknya, tidak peduli apapun. Dirinya ingin meraih malaikatnya, ingin memilikinya.


Memasuki toko bunga kala hujan mulai turun. Saat itu lampu toko masih menyala, walaupun telah larut."Aku ingin berteduh," ucapnya melihat wanita yang dirindukannya.


"Sebentar lagi hujan akan reda. Tuan Veron bisa menunggu disana." Wanita itu tersenyum. Tidak memandang curiga atau takut sama sekali. Orang yang sudah dikenalnya beberapa tahun ini, suara yang diketahuinya tapi tidak pernah tahu wajahnya.


Fabian membalut lukanya menggunakan kain, membalik tanda buka menjadi tanda tutup, mematikan lampu. Mendekati wanita yang tengah duduk di meja kasir.


Wanita itu terlihat samar mengenyitkan keningnya."Ke... kenapa lampunya dimatikan?" tanyanya mulai takut. Menyadari dari suara saklar.


Pria itu mendekat, mendekap tubuhnya. Sesilia mulai menangis, berusaha melawan, memukul asal. Berusaha mendorong orang ini.


"Ingin memilikimu. Aku putus asa untuk memilikimu..." lirih Fabian dengan air mata mengalir.

__ADS_1


__ADS_2