
Lily of valley (bunga lonceng)
...Menunduk? Hanya itulah kamu, tidak memohon cinta padaku. Tidak juga meminta untuk aku cintai....
...Hanya menunduk, merasakan air hujan membasahi seluruh tubuhmu. Tidak memperlihatkan kecantikanmu. Walaupun semua orang mengetahui betapa cantiknya dirimu....
...Mengapa bunga kecil itu tertunduk? Apa dia malu? Aku yang seharusnya malu, betapa tidak tahu dirinya aku karena menginginkanmu....
...Hanya ingin memilikimu, tanpa tahu betapa rendahannya diriku....
Fabian.
Toko sekitar area itu telah tutup. Benar-benar tutup, kaca jendela etalase toko berembun. Mungkin hujan yang semakin lebat penyebabnya. Benar-benar hujan lebat, hingga hanya suara air hujan yang terdengar. Jeritan dan tangisannya mungkin hanya didengar oleh dirinya dan orang ini.
Ini begitu memalukan, begitu kotor. Tubuhnya dibaringkan paksa di ranjang. Dirinya memang selalu tidur di toko bunga. Tepatnya di kamar kecil dalam area toko. Orang ini mengetahuinya, pengetahuan busuk.
"Hentikan!" pinta Sesilia, menutupi tubuhnya kala merasakan pakaiannya terlepas paksa.
Suara ikat pinggang yang terjatuh di lantai. Mungkin pakaian? Pemuda ini tengah membuka pakaiannya. Sesilia berusaha melarikan diri? Berteriak juga tidak gunanya.
Pemuda itu mendekapnya dari belakang. Kala dirinya yang tidak dapat melihat sudah dapat berdiri turun dari tempat tidur.
Takut? Seluruh tubuhnya gemetaran, merasakan tubuh asing memeluknya dari belakang. Tubuh yang tidak mengenakkan apapun, sama seperti tubuhnya.
"Sesilia..." panggilan pria itu bagaikan memohon.
"Tu... tuan tolong. Lepaskan saya." Pintanya lirih.
Tapi apa akan dituruti? Bagian tubuh mana saja yang sudah dimiliki Triton? Fabian ingin memilikinya, wanita ini ada untuknya, hanya miliknya. Air mata pemuda itu juga mengalir tanpa disadari Sesilia. Pemuda yang menyadari dirinya berada di pihak yang tidak dicintai.
Tapi mengapa? Mungkin... mungkin setelah malam ini Sesilia akan mencintainya. Hanya karena sebutir obat logikanya lumpuh. Bukan hanya napsu yang menguasai tubuhnya tapi juga rasa putus asa.
Tubuh itu dibalik, kemudian dibaringkan paksa. Menegang tangan wanita buta itu di atas kepalanya. Tidak terlihat jelas tubuhnya dalam ruangan yang gelap. Namun, aroma alpukat yang lembut ini? Benar-benar Sesilia, suara indahnya memohon. Membuat Fabian iba, tapi tidak ada cara lain lagi. Dirinya putus asa, untuk hidup bersama malaikatnya. Ingin bersama dengannya.
Tangan itu diikat pada akhirnya. Membuai seluruh tubuh Sesilia, dari atas hingga bawah menggunakan bibirnya. Benar-benar memujanya, wanita yang ada dalam ketakutan itu sesekali meracau.
Dia hanya manusia biasa, yang ingin menghentikan segalanya. Tapi juga kesulitan mengatasi hal yang dilakukan pemuda ini.
Hal yang ada dalam kegilaan.
"Hentikan!" pinta wanita itu lagi dan lagi putus asa. Tidak menjawab segalanya, malaikat ini hanya boleh dimiliki olehnya.
Hingga saat itu tiba, jarak minus antara pria dan wanita. Fabian menyadari, dirinya yang pertama memiliki Sesilia. Mengusap air mata wanita itu yang mengalir. Dirinya merasa iba, mendekap tubuh wanita yang telah hampir kehilangan energinya. Wanita yang tidak dapat melawan lagi, setelah menjerit kesakitan akibat dirinya.
Ikatan tangan Sesilia dilepas."Maaf, aku hanya ingin memilikimu."
"Lepaskan aku, sakit..." pinta Sesilia lemah.
__ADS_1
Tapi tidak, Fabian memaksakan bibirnya untuk berciuman. Wanita ini tidak merespon, mungkin sudah lelah untuk melawan. Rasa bersalah, dan penuh harap untuk dicintai serta memilikinya hanya itulah yang sisa.
Menjadi manusia paling serakah dan menjijikan untuk memiliki wanita ini. Orang yang paling jahat? Itulah dirinya. Pemuda yang juga meneteskan air matanya tapi tidak menghentikan perbuatannya sama sekali. Hanya dalam keputusasaan.
*
Matahari sudah akan terbit saat itu. Hujan juga sudah mulai reda. Pemuda yang terbangun dengan wajah pucat pasi menelan ludahnya."Apa yang aku lakukan!?" teriaknya penuh penyesalan dan ketakutan.
Bagaimana cara untuk menjelaskan pada ayahnya? Tangannya gemetar, mengingat dirinya yang bahkan tidak dapat melindungi diri dari pukulan ayahnya. Jika membawa Sesilia mungkin malaikatnya juga akan mengalami hal yang serupa. Atau mungkin akan dihabisi oleh ayahnya. Hanya untuk perjodohan.
Tapi Sesilia telah menjadi miliknya kini. Wanita itu terpejam, mungkin karena kelelahan. Tubuh yang dipenuhi dengan tanda keunguan, Fabian perlahan memeriksa pergelangan tangannya. Menghela napas kasar, menciumnya pelan. Pergelangan tangan yang tidak terluka karena ikatan yang sempat dilakukannya semalam.
Veron? Itu bukan nama aslinya. Mungkin Sesilia akan kebingungan untuk mencarinya, bersamaan dengan itu panggilan datang dari ayahnya. Malas untuk mengangkatnya, pada akhirnya Fabian mematikan panggilan. Dirinya akan dihajar setelah kembali ke rumah, karena meninggalkan Anjani di dalam kamar hotel.
Tapi rasa syukur itu ada, cinta pertamanya. Malaikatnya, wanita yang dicintainya dalam kelembutan. Satu kata yang tersisa."Maaf..." dirinya telah merusak sayap malaikatnya, lebih tepatnya mencabutnya agar tidak pergi dari sisinya.
Bingung harus bagaimana untuk bertanggung jawab. Dirinya menginginkannya, mungkin lebih baik menerima amukan ayahnya terlebih dahulu.
Tidak ingin membangunkan wanita yang kelelahan ini. Meninggalkan uang? Itu akan menjadi penghinaan besar. Pemuda yang duduk satu jam dalam kebingungan menjambak rambutnya frustasi.
Mengepalkan tangannya memutuskan untuk menjatuhkan ayahnya. Dirinya harus menjatuhkan ayahnya terlebih dahulu untuk dapat memiliki malaikatnya. Menyayangi malaikat dengan sayap yang telah dirusak olehnya.
Pada akhirnya Fabian memutuskan untuk pergi tanpa pesan. Tidak ingin sementara waktu Sesilia menemukannya. Tidak ingin keselamatan wanita itu terancam karena ayahnya.
"Maaf...ini hanya sebentar. Aku akan kembali." Ucapnya tertunduk, masih menatap ke arah tubuh itu. Sebelum meninggalkannya pergi.
Kala dirinya kembali, paper bag yang dibawanya terjatuh. Menatap tubuh adiknya yang hanya berbalut sehelai bedcover. Tanda keunguan itu? Adiknya telah dilecehkan seseorang. Mungkin suara pintu terbuka membangunkan adiknya. Ini sudah siang, tentu saja selelah apapun seseorang akan terbangun.
"Hentikan ... hentikan... Pergi!" Ucap adiknya yang tidak dapat melihat.
"I...ini aku Triton..." Sang kakak mencoba mendekat.
"Jangan mendekat!" Teriak Sesilia, menangis frustasi. Sang adik yang trauma jika mendengar suara pria. Sudah pasti adiknya dilecehkan.
Triton menitikkan air matanya. Hanya satu kata yang terucap, pria itu memeluk paksa adik yang memukul dan mendorongnya."Maaf, kakak terlambat pulang."
Sesilia tidak menjawab hanya menangis, tubuh adik yang dibesarkannya seorang diri sejak berusia 3 tahun gemetar. Adiknya yang cantik, dijaga dan dikasihinya. Walaupun adiknya buta dari berusia 18 tahun, tapi tetap saja adiknya yang tercantik. Seseorang telah melukainya.
Tubuh pemuda rupawan itu ikut gemetar. Ini menyakitkan untuknya, pemuda yang memakai kaos putih dengan celana jeans hitam itu terdiam. Namun mengumpat dalam hatinya, dirinya kakak yang buruk.
*
Meremehkan seorang Triton? Siapa yang dapat melakukannya. Seharian ini dirinya bicara pelan-pelan dengan adiknya. Meskipun Sesilia tidak menanggapi, tapi dirinya hanya berusaha menyuapi adiknya dengan makanan sembari bercanda. Sesekali Sesilia tertawa, walaupun tawa yang hanya sebentar.
Luka yang dialami Sesilia terlalu dalam. Dirinya tidak ingin membicarakan siapa yang melecehkan adiknya atau melakukan visum. Itu hanya akan semakin menyakiti hati adiknya.
Tapi Triton tidak bodoh, seprei dibawanya ke laboratorium. Darah adiknya, DNA dari cairan tubuh adiknya dan orang itu akan tertinggal. Itu dapat dijadikan sebagai bukti nantinya.
Kakak yang tidak ingin adiknya terluka sama sekali. Besok mungkin akan membawa Sesilia ke psikiater. Adiknya yang tengah tertidur dengan tubuh yang bersih dan pakaian yang lengkap.
__ADS_1
Pria yang meretas jaringan CCTV, mengetahui sang pelaku. Mengepalkan tangannya kesal, dirinya akan datang ke perusahaan orang ini. Atau sekalian hancurkan saja?
*
Tapi hal yang aneh bagi Fabian. Ada yang meretas jaringan perusahaannya. Keesokan harinya Triton datang untuk menemuinya. Tapi kala dirinya akan turun menuju lobby orang itu menghilang.
Fabian tidak pernah bertemu Triton yang diyakininya sebagai kekasih Sesilia itu secara langsung. Tapi mungkin ini lebih baik, kejadian kemarin mungkin akan membuat Triton meninggalkan Sesilia. Jahat bukan? Tapi pria dengan wajah yang terluka setelah dihajar oleh ayahnya itu benar-benar berharap demikian.
Sebuah harapan agar malaikatnya ditinggalkan orang yang dicintainya. Hingga lebih memilih dirinya, cinta yang egois. Menatap ke arah jendela lobby, memikirkan mengapa Triton datang untuk bertemu dengannya. Tapi pergi dengan tergesa-gesa?
Tinggal dua hari lagi Mulyasari akan pulang dari luar negeri. Kala itulah dirinya dapat terbebas dari belenggu ayahnya. Membawa Sesilia ke dalam dekapannya.
*
"Ayo kita berkeliling!" Teriak sang kakak menggendong adiknya yang buta di punggungnya. Mengelilingi rumah di luar kota yang dibelinya. Ingin menghilangkan trauma adiknya, berlari kesana-kemari. Membuat Sesilia takut tapi tersenyum tiada henti di padang rumput rumah kecil yang dibeli kakaknya.
"Kakak hentikan! Aku ingin turun!" Sesilia berteriak.
"Tidak akan! Sampai kamu berjanji untuk mau berbelanja denganku ke pasar!" Ucap Triton, berharap sang adik dapat berinteraksi dengan banyak orang. Hanya Sesilia yang dimilikinya. Hanya Sesilia.
Duduk dan tertawa di padang rumput rumah mereka. Setelah menjual toko bunga yang memang dibelinya untuk sang adik. Bercanda walaupun wajah Sesilia terkadang muram, tidur dengan adiknya tidak ingin sang adik menangis dalam mimpi buruknya lagi. Bagaikan sayap pelindung kakaknya, kini mendekap adiknya yang terluka.
*
Seperti yang diduganya, dirinya bertindak di luar batas saat ini. Ada seseorang yang harus dimilikinya, seseorang yang ketakutan dalam kesedihan akibat perbuatannya. Karena itu.
"Ayahku CEO yang tidak kompeten. Aku meminta maaf atas namanya. Aku berjanji akan meningkatkan keuntungan perusahaan lebih banyak lagi." Ucap Fabian tersenyum di depan dewan direksi serta ibunya Mulyasari. Menjatuhkan polisi ayahnya sendiri dari CEO.
Bug!
Satu pukulan di layangkan sang ayah menbuat sudut bibir pemuda itu mengeluarkan darah."Anak durhaka!" teriak ayahnya.
"Ingat? Karena perbuatanmu sebagai CEO yang tidak kompeten perusahaan hampir pailit? Aku yang berusaha memperbaikinya agar aku tetap menjadi konglomerat. Tapi kamu? Setiap hari berada di ranjang---" Kalimat dari Fabian sedikit melirik ke wajah pucat ibunya.
"Fabian! Jaga mulutmu!" teriak sang ayah seakan melupakan ini ruang rapat.
"Aku diam, karena terlalu berbakti pada orang tua. Tapi dari saat kamu menjualku seperti pria bayaran. Aku adalah pemilik perusahaan ini..." Fabian tersenyum berjalan meninggalkan ruangan diikuti oleh para pemegang saham yang sudah berpihak padanya. Meninggalkan ayahnya yang terduduk di lantai podium ruang rapat, sembari berteriak.
*
Senyuman terukir di wajahnya. Dirinya akan mendatanginya dengan benar kali ini. Tidak akan ada yang menghalanginya, termasuk sang ayah.
Tanaman yang merupakan titipannya untuk Sesilia, dibawa sang ibu dari Eropa. Lily of valley (bunga lonceng), entah kenapa seperti sayap malaikat untuknya. Mirip dengan Sesilia yang tertunduk menyembunyikan kecantikannya. Walaupun siapapun dapat mengetahuinya. Sayap malaikat yang membuat dirinya berubah, dari pemuda serampangan. Menjadi lebih bertanggung jawab, karena ingin memilikinya.
Namun, sesuatu yang mengejutkan. Toko bunga telah berubah menjadi toko pakaian. Kala dirinya bertanya pada pemilik toko sebelah.
"Wanita pemilik toko bunga? Dia sudah pindah ke luar kota dengan kekasihnya." Itulah jawaban yang didapatkannya dari seorang penjual sembako.
Hanya senyuman putus asa yang terlihat di wajah Fabian. Tidak bisakah Triton meninggalkan Sesilia? Tidak bisakah wanita itu menjadi miliknya?
__ADS_1