
Beberapa hari berlalu setelahnya, selalu seperti ini. Sesilia ingin pergi, namun malaikat kecilnya menghalangi dengan sungguh-sungguh. Benar-benar sungguh-sungguh, berbagai alasan dibuat olehnya. Mulai dari merindukan nenek, hingga bibi yang tiba-tiba bertingkah menghormati bocah ini.
Tidak ada jalan sama sekali untuk pergi bagi Sesilia. Mengabulkan keinginan putranya, agar anak itu memiliki keinginan untuk hidup. Anak yang meminum madu fermentasi aneh setiap harinya, memakan makanan pahit, walaupun setiap akan menjalani kemoterapi diam-diam anak itu sering melarikan diri. Tapi obat-obatan tetap dikonsumsinya.
Sesilia menghela napas kasar, berharap, benar-benar berharap Zeyan tidak akan meninggalkannya sama seperti Triton. Masih teringat dibenaknya tentang cerita orang-orang kala kepolisian datang. Puluhan orang berhasil melarikan diri dan diselamatkan berkat Triton. Tapi nyawa sang kakak tidak selamat, belasan luka tembakan ditambah tikaman pedang samurai menjadi penyebabnya. Pedang yang masih tertancap pada tubuhnya bahkan setelah petugas kepolisian tiba.
Karena itu hanya Zeyan yang dimilikinya. Hanya anak ini, apapun keinginannya akan dikabulkan.
"Ibu aku ingin adik..." ucapnya tersenyum penuh rencana. Tentu saja itu hanya dusta, agar ayahnya semakin mencintainya hingga rela bertaruh nyawa untuk melakukan operasi.
Semua orang terdiam sesaat, bahkan Fabian yang tengah menyeruput kopi terbatuk-batuk."Ayah akan mengabulkannya!" Ucapnya penuh semangat.
"Pesta pernikahan akan segera diadakan." Mulyasari mencubit pipi cucunya gemas.
"Kali ini aku setuju." Kalimat tidak terduga dari Jesseline, dengan nada datar. Tapi meletakkan roti berisi selai coklat di piring Zeyan.
"Sayang, tidak boleh seperti itu. Orang dewasa harus saling mencintai baru mereka bisa punya anak." Penjelasan pelan-pelan dari Sesilia penuh senyuman, mengelap sudut bibir kecil putranya.
"Begitu? Jadi ayah dan ibu saling mencintai kan? Karena itu aku lahir. Karena sudah saling mencintai permintaanku untuk punya adik mudah bukan?" Logika yang masuk akal dari Zeyan, tapi juga tidak masuk akal. Bagaimana caranya menjelaskan pada putranya kalau ibunya tercinta dilecehkan? Matanya yang jernih penuh intimidasi, bibir itu tersenyum penuh harap, anak yang begitu polos. Belum mengerti dengan jalannya dunia.
"Anak pintar!" Ucap Mulyasari gemas.
"Jenius..." gumam Jesseline kagum, melihat Zeyan memanipulasi kalimat-kalimat dari Sesilia. Namun, tetap dapat terlihat bagaikan kelinci putih imut tidak bersalah.
"Benar ayah dan ibumu memang saling mencintai..." Fabian tersenyum, melanjutkan untuk memojokkan Sesilia.
Sementara Sesilia mengenyitkan keningnya, menghela napas kasar."Begini, sebenarnya kamu lahir dari biji bunga kecil pemberian seorang Dewi. Ibu menanam dan merawatnya, tumbuhlah tanaman bunga teratai yang besar di tengah kolam dengan bunga raksasa di tengahnya. Ketika bunga itu mekar, ada bayi di dalamnya dan itu kamu."
Karangan Sesilia berusaha membodohi putranya. Tapi tetap saja Zeyan mendengarnya antusias."Ibu memang cocok menjadi pengarang kisah dongeng," batinnya.
"Lalu bagaimana aku dapat memiliki hubungan darah dengan ayah?" Pertanyaan polos dari putranya, benar-benar antusias. Matanya berkaca-kaca ingin mendengar lebih banyak karangan lagi.
"Begini, ayahmu adalah raja iblis. Saat dia bertarung dengan seorang kesatria tampan. Kesatria itu melukainya, darahnya yang kotor jatuh ke kolam, menyebar terserap ke dalam akar tanaman bunga teratai. Karena itulah darah kalian cocok..." Ucap Sesilia, melakukan karangan singkat. Entah apa yang ada di fikirannya saat ini. Yang penting jalan saja.
Suara tepukan tangan terdengar, semua orang mendengarnya tanpa berkedip.
"Kakak berbakat menjadi pengarang!" Jesseline heran.
"I...ini bukan karangan ini kenyataan. Kan Zeyan?" Sesilia terdengar gagap. Anak itu hanya mengangguk sambil berucap."Aku penasaran kesatria seperti apa yang lahir dari darah raja iblis dan teratai yang diberikan asal oleh sang Dewi."
__ADS_1
"Harus ada cerita kelanjutannya! Mungkin jika ada naganya seperti kisah kerajaan barat, dengan kehadiran Duke, atau Marques dari utara yang keren akan bagus." Fabian memberikan usul.
"Ter... terserah kalian! Yang pasti aku tidak mungkin mencintai pria ular ini!" Teriak Sesilia kesal setengah mati.
*
Hari ini tidak seperti biasanya, suasana kantor masih terlihat ramai. Dirinya mengikuti langkah Fabian yang berjalan entah kemana meninggalkan kantor. Dirinya mencoba memeriksa jadwal hari ini, tapi tidak ada jadwal untuk meninggalkan kantor. Jadi kemana dirinya harus pergi? Sedangkan pekerjaannya tengah menumpuk saat ini.
"Kita akan kemana?" tanyanya, tapi tidak ada jawaban. Sesilia hanya dapat menghela napas kasar. Setidaknya dirinya memiliki biaya untuk kemoterapi dan membeli obat-obatan herbal untuk Zeyan. Sembari menjaganya, tidak apa berdekatan dengan pria ular ini. Yang terpenting putranya memiliki harapan untuk hidup.
Mendekati ke arah mobil milik Fabian. Mobil mewah yang cukup luas bertipe family bukan jenis mobil sport. Menaiki mobil, yang melaju entah kemana.
Tidak ada pembicaraan sama sekali pemuda itu diam. Entah apa yang ada di fikirannya, alat kejut listrik masih ada dalam tas Sesilia. Bersiap menyerang jika akan dilecehkan pemuda ini. Tapi hal yang tidak terduga, terdengar dari mulutnya.
"Aku mencintaimu..." Kalimat dari Fabian yang membuat Sesilia ingin muntah rasanya.
"Cinta? Jika cinta tidak akan melukai seseorang." Kalimat penuh senyuman dari Sesilia.
"Gunung pun akan aku daki, laut pun akan aku seberangi jika itu untukmu. Tidak ada yang melebihi kecantikanmu bahkan bunga mawar sekalipun." Kalimat memuakan itu terucap lagi.
Mata Sesilia menelisik, kali ini ada catatan bagaikan contekan di area pergelangan tangan Fabian. Bagaikan anak SMU yang akan mengikuti ujian.
"Di tanganmu ada tato dari pulpen." Sesilia mengenyitkan keningnya.
Menghela napas kasar, dirinya berfikir bagaimana caranya menaklukkan wanita. Mungkin ala drama Korea akan lebih baik. Masih bersemangat hari ini, masih ada waktu yang cukup banyak untuk merebut hati malaikatnya.
Kala mobil itu terhenti di depan area sebuah butik ternama. Dirinya menyeret Sesilia masuk, benar-benar ala drama Korea yang ingin memberikan kesan betapa kayanya sang pemeran utama pria. Duduk dengan santai, menerima katalog. Tapi tidak diperhatikannya sama sekali. Bagaikan chaebol jika disebut di Korea dan Taipan jika disebut di China. Dengan kata lain, konglomerat atau orang kaya yang mungkin kesulitan untuk menghabiskan hartanya, walaupun arti sebenarnya pengusaha besar.
"Aku ingin yang disana sampai disana!" Ucap Fabian menunjuk ke arah beberapa pakaian branded wanita yang digantung. Matanya sedikit melirik ke arah Sesilia yang mengenyitkan keningnya heran.
"Anak taipan darimana!?"
"Mungkin kerabat raja Arab!?"
"Aku ingin jadi istri keempatnya!"
Ucap beberapa orang, menatap betapa kerennya adegan saat ini. Pria rupawan, ditambah kaya dan royal. Wanita mana yang tidak takluk.
"Kamu cross dressing (kecenderungan menyukai memakai pakaian lawan jenis)!?" Pertanyaan yang membuat penjaga butik menahan tawanya. Sementara Fabian hampir terjatuh, saking terkejutnya, mendengar kalimat yang diucapkan Sesilia.
__ADS_1
"Tidak! Aku bukan cross dressing. Aku membelikan semuanya untukmu!" Tegas Fabian.
"Aku tidak perlu pakaian sebanyak ini. Berikan aku uang untuk membeli tiket melarikan diri yang jauh bersama Zeyan maka aku akan bersyukur." Kalimat dari Sesilia penuh senyuman membuat Fabian memijit pelipisnya sendiri.
"Percuma bicara dengan makhluk sepertimu! Pilih satu gaun! Kita akan ke tempat acara pernikahan temanku hari ini! Jangan yang murah dan kampungan!" Pada akhirnya sifat kejam Fabian lah yang keluar. Percuma saja bertingkah manis pada wanita yang selalu ingin melarikan diri darinya.
"Baik! Tapi ini untuk keperluan pekerjaan! Jadi kamu yang bayar! Gaun akan aku kembalikan setelah acara. Atau diletakkan di kantor saja." Tegas Sesilia.
"Ke... kenapa?" Fabian mengenyitkan keningnya heran.
"Karena aku akan menganggap ini sebagai seragam kerja." Jawaban yang sungguh manusiawi sebagai karyawan. Pada akhirnya Fabian hanya dapat memijit pelipisnya sendiri sambil berkata.
"Terserah! Tapi harus yang paling bagus! Dan lengkap dengan aksesorisnya. Tidak boleh yang jelek aku tunggu disini!" Geramnya berusaha keras tersenyum menghadapi wanita ini. Wanita yang masih membuatnya semakin jatuh cinta hingga kini.
"Baik! Bos!" Suara penuh tekanan dari Sesilia, wajahnya tersenyum. Tapi dalam hatinya murka.
*
Fabian menghela napasnya setelah menunggu beberapa belas menit. Dirinya memilih tidak masuk sama sekali, tapi dapat dibayangkan betapa kampungan selera Sesilia. Dirinya hanya berharap tidak akan ada aksesoris pita. Atau pakaian berwarna pink.
"Maaf apa anda mau sekalian memilih baju. Karena teman wanita anda mendapatkan jasa rias gratis, jadi cukup memakan waktu lama." Ucap seorang karyawan butik.
Fabian pada akhirnya mengalah, berjalan memilih satu set pakaian. Dirinya harus tampil maksimal di hadapan Sesilia bukan? Setelan jas berwarna dark blue menjadi pilihannya, dipadukan dengan dasi hitam yang memiliki motif klasik. Menata sedikit rambutnya. Benar-benar sudah tampil maksimal. Dengan begini Sesilia benar-benar akan gugup itulah yang ada di bayangannya.
Kala dirinya keluar untuk menyombongkan penampilannya, berbanding dengan malaikatnya yang pastinya tidak pandai memilih pakaian."Aku tau aku memang tam---" Kalimat Fabian terhenti, pemuda itu membulatkan matanya, menatap sesosok makhluk yang duduk di sofa.
Wanita yang menggunakan gaun berwarna dark blue. Ditambah dengan aksesoris dari silver dengan permata senada, menyamping di bagian kiri rambutnya. Riasan yang tidak begitu tebal, kalung yang berkilau. Bolehkah dirinya menerkam wanita ini? Astaga kenapa malaikatnya bisa secantik ini?
"Kenapa bengong! Kesambet demit!?" Geram Sesilia tidak ada hentinya menatap ke arah jam dinding. Mengingat Zeyan akan kesepian tanpa kehadirannya.
"A...ayo berangkat." Ucap Fabian tertunduk pada akhirnya, benar-benar menjaga jarak. Takut terkena serangan jantung, tapi wanita ini mendekatinya. Berada di jarak tidak aman dengannya. Bolehkah dirinya mencium bibir itu?
"Kita mau berangkat atau tidak?" tanya Sesilia yang memang tujuannya hanya pekerjaan.
"A...ayo!" Ucap Fabian gugup, entah dimana orang galak itu saat ini.
*
Suasana ballroom sebuah pesta yang diadakan di hotel berbintang. Mengundang cukup banyak orang dari kalangan pebisnis. Suasana yang cukup ramai, dekorasi yang benar-benar indah. Ditambah dengan alunan musik langsung dari para musisi.
__ADS_1
Mereka bukan bintang acara ini. Tapi cukup banyak pebisnis yang ingin berbicara langsung dengan Fabian.
Sementara Anjani menatap dari jauh, wajahnya tersenyum."Wanita itu juga hadir?" Gumamnya memulai permainan yang lebih menarik lagi hari ini.