Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat

Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat
Kelu


__ADS_3

Chan mengenyitkan keningnya, berusaha tersenyum. Setelan jas, pakaian yang cukup mahal. Sudah pasti anak ini yang dicari oleh Fabian, serta seorang pria yang berada di luar sana.


"Sebaiknya kamu pulang. Aku harus pergi dari tempat ini!" Jelas pria itu mulai bangkit. Tidak ingin membuat masalah lebih rumit lagi, mengingat kekuasaannya sudah banyak berkurang akibat perbuatan Fabian.


"Tunggu! Aku ingin bicara, sebentar saja ..." Ucap Zeyan pada pria di hadapannya.


Pria yang kembali duduk, namun mengeluarkan senjata apinya. Bersiap menjadikan anak ini sebagai sandera jika terjadi sesuatu.


"Apa yang ingin anak aneh sepertimu katakan?" tanyanya.


"Apa yang paman cari?" Zeyan balik bertanya.


"Aku? Tentu saja uang, memang apa lagi?" Kalimat pria itu terhenti kala, Zeyan melangkah, mengambil bingkai foto yang tergantung di dinding.


"Bukan uang kan?" Tanyanya menatap foto sepasang saudara kembar yang telah dewasa dan seorang wanita tua.


"Apa yang kamu tau? Anak sekecil dirimu tidak akan mengerti. Jika---" Kalimat Chan disela.


"Pada awalnya, mencari informasi tentang dirimu membuatku ragu. Hingga aku sedikit banyaknya paham, kenapa kamu berubah." Itulah yang diucapkan anak itu, kembali duduk memakan kue kering. Menunjukkan kembali foto saudara kembar dan seorang nenek tua.


"Dimana satu lagi?" tanya Zeyan.


"Bodohnya aku menyia-nyiakan waktu untuk hal seperti ini..." Chan tertawa kecil menghela napas kasar."Saudara kembarku sudah mati karena penyakit. Seumur hidupnya dihabiskan hanya untuk bakti sosial, bercita-cita untuk mendirikan panti asuhan kecil. Tapi dia meninggalkan kami pada usia muda. Ibuku sakit keras setelah kepergiannya." Kalimat darinya tertunduk, hanya ibu dan kembarannya yang dapat memahami dirinya.


Kepingan puzzle yang bagaikan menyatu menjadi satu."Sialan!" batin Zeyan, mengingat wajah seseorang yang melemparnya dari balkon dalam mimpinya. Persis sama seperti wajah Chan, namun terlihat lebih muda. Apa orang ini? Misinya untuk mengingat segalanya di kehidupan ini bukan untuk membunuh Chan tapi untuk menghentikannya.

__ADS_1


"Anak kecil sekarang apa maumu? Jika tidak ada yang dibicarakan lagi. Aku akan pergi." Itulah yang diucapkan Chan, menodongkan senjata api ke arahnya.


"Paman, apa yang membuatmu seperti ini?" tanyanya.


"Tidak perlu tahu, aku berubah fikiran. Lebih baik membunuhmu sekarang. Maka sedikit dendamku pada ayah dan kakekmu yang menyebabkan kerugian akan terbalaskan." Pemantik ditariknya, menatap anak manis itu malah tersenyum.


"Ibu dan saudara anda tidak akan menyukai ini. Mereka memang sudah mati, tapi jika orang mati bukankah akan menjadi bintang di langit? Mereka ingin melihat anda bahagia. Bukan anda yang seperti ini." Zeyan tetap terlihat tenang, kembali mengambil Oreo miliknya.


"Bukan aku yang seperti ini? Apa yang salah denganku? Membalas untuk kematian ibuku! Mendapatkan kekuasaan agar dapat hidup bahagia!" Bentak Chan dengan mata yang memerah.


"Hanya dua orang yang dapat menembus pertahananmu. Seorang detektif muda yang mati 6 tahun lalu dan aku." Zeyan menghela napas kasar, berucap dengan nada bicara lebih dewasa."Percaya atau tidak aku membenci orang br*ngsek sepertimu. Neraka terdalam bahkan terlalu mudah untukmu. Tapi, segala sesuatu pasti memiliki alasan. Alasan kehadiranku disini. Hanya untuk mengatakan saudara kembarmu tidak akan senang."


"Tidak senang? Kamu tau apa!? Pesan terakhirnya untuk menjaga ibu! Tapi ibu meninggal karena aku tidak memiliki kekuasaan. Orang-orang kejam itu membunuh---" Kalimat Chan disela.


"Orang sebaik mereka, tidak akan tahan melihatmu hidup seperti ini. Menangis di sampingmu, saat kamu menyiksa dan membunuh orang. Karena itu, aku akan mematahkan sayapmu sekarang." Zeyan menghela napas kasar.


Chan menghela napas kasar, air matanya mengalir. Pria itu tertawa."Kamu seperti pernah bertemu dengan saudaraku saja! Cara bicara kalian yang aneh mirip."


"Aku memang pernah bertemu. Dia tetap menyayangimu." Hanya itulah yang diucapkan Zeyan, membuat Chan tertegun. Pria itu tiba-tiba tersenyum.


"Aku tidak mempercayai apa yang kamu katakan. Tapi entah kenapa aku ingin percaya. Menebus segalanya? Mungkin hukuman mati. Tapi itu sepadan, sangat sepadan..." Ucap Chan kembali tertawa.


Mengingat segalanya bagaimana dirinya dan saudaranya berdoa bersama di Greja tua kecil. Saudara kembar yang memiliki tubuh lemah. Benar-benar saudara kembar yang menyebalkan, memberi banyak nasehat, hingga dirinya dapat lulus kuliah dengan nilai yang baik. Pada akhirnya dia mati juga, tidak ada yang tersisa selain kenangan betapa bahagia hidupnya dengan saudara dan ibunya.


Jika... jika...baik dirinya akan bahagia, menempuh jalannya sendiri. Mengapa? Tidak ada alasan yang pasti, hanya sebuah tekanan emosional. Dirinya ingin bertemu keluarga sesungguhnya, walaupun segera setelahnya neraka yang menantinya. Hal yang paling berat di dunia ini mungkin mengakui kesalahan.

__ADS_1


Dua orang yang tetap duduk berhadapan. Tidak menyangka dirinya tidak dapat membunuh bos utama. Tapi entah kenapa Zeyan tersenyum, ada kalanya kehidupan manusia begitu pendek. Terlalu melelahkan jika dihabiskan untuk sebuah dendam.


Hingga satu pertanyaan disampaikan Zeyan."Apa rencana anda kedepannya?"


"Tidak ada. Aku hanya mulai berfikir, mengingat tentang dia (saudara kembar Chan). Aku sudah melupakan kakakku, dia orang yang baik. Tidak akan menyukai hal yang aku lakukan. Tapi tetap akan mengasihi ku. Karena itu, tolong jenguk aku sebelum eksekusi mati dijatuhkan nanti."


Bagaimana ekspresi Chan saat ini? Entahlah, sulit untuk mengatakannya. Pria itu menitikkan air matanya tapi tersenyum. Hal paling sensitif dalam hidupnya adalah keluarga yang menyayanginya. Tidak ada yang menyinggung atau mengingatkannya. Hati yang penuh dendam bagaikan merajalela dalam dirinya.


Karena itulah, walaupun kalimat Zeyan tidak masuk akal. Walaupun itu kebohongan, Chan dengan ketidak warasannya akan tetap mempercayainya. Rasa untuk merindukan saudara dan ibunya. Imajinasi indah dimana orang yang sudah mati tetap memperhatikan dan mencintainya.


Aneh memang! Gerakan Asnee tertahan kala cucunya ditodongkan senjata api oleh Chan. Begitu juga tahanan Chan yang tidak akan melukai Chan, melihat anak yang menyelamatkan nyawa mereka dalam bahaya.


Tapi gerakan terakhir, kala petugas kepolisian datang. Mengepung dirinya, pada akhirnya Chan menurunkan senjata. Membiarkan dirinya tertangkap.


Orang baik? Dirinya pernah menjadi orang baik, seorang suami yang walaupun ditipu dan diselingkuhi, cukup sabar untuk berharap dapat membesarkan anak dari pria lain bersama istrinya. Tolak balik, sebuah kejahatan kala melihat ibunya dibunuh oleh mertua dan selingkuhan istrinya.


Apa kesalahannya? Apa kesalahan ibunya? Sesuatu yang membuatnya membunuh sisi baik dan penyabar itu. Terkadang orang terjahat di dunia dapat tercipta dari orang baik yang terlalu banyak memiliki luka.


Itulah yang dipelajari Zeyan. Kala melihat Chan diseret dalam mobil polisi.


Asnee tersenyum, hendak mengikuti mobil polisi yang membawa Chan. Namun, jemari kecil tangan cucunya menghentikannya.


"Dia akan tetap mendapatkan hukuman mati. Selain itu, tidak ada yang lebih buruk dibandingkan hati yang terluka. Apa kakek memahaminya?" Kalimat dari mulut Zeyan, disambut dengan pelukan oleh Asnee.


"Aku memahaminya, karena putraku (Triton) sudah pergi. Balas dendam adalah---" Kalimat Asnee disela.

__ADS_1


"Aku yakin, bukan itu yang diinginkan paman Triton. Dia hanya ingin keluarganya hidup bahagia dan berkumpul tanpa dendam." Kalimat dari anak dengan pipi chubby itu, membuat Asnee semakin merindukan putranya.


__ADS_2