Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat

Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat
Balas Budi


__ADS_3

"Anak si*lan! Kamu berubah karena wanita bayaran dan anak harammu!?" Suara dengan intonasi tinggi pertanda Anggara mulai emosional.


"Paman harus bersabar..." Ucap Anjani penuh senyuman, kemudian beralih menatap Fabian."Fabian kami tulus ingin yang terbaik untukmu. Kami dapat dengan mudah mengeluarkanmu dari masalah. Tidak perlu bertanggung jawab untuk---"


Namun pemuda itu tetap tersenyum, tidak terlihat emosional sama sekali."Apa yang diketahui oleh boneka ayahnya sepertimu? Berapa pria yang membuatmu membuka pahamu lebar-lebar? Berapa pria juga yang berakhir mati setelah menyerahkan harta dan hatinya." Pemuda itu mulai kembali tertawa, benar-benar tertawa."Wanita bayaran akan pergi setelah menerima bayaran. Lebih rendah dari wanita bayaran? Lalu harus disebut apa!?"


"Fabian, kamu sudah keterlaluan. Ayahku dapat menyingkirkanmu dengan mudah..." Anjani masih tersenyum saat ini, tepatnya berusaha tersenyum.


"Kamu fikir aku takut?" tanya pemuda yang mengalami kekerasan fisik dan psikis dari ayahnya. Mental yang sudah rusak dari masa remajanya. Hanya saja, statusnya saat ini semakin tinggi, semakin leluasa juga untuk memainkan bidaknya. Menginjak mereka membabi buta kali ini, tidak peduli pada apapun.


Cakra masuk ke dalam ruangan dengan cepat. Suara teriakan terdengar, kala Anggara melempar asbak pada putranya. Bukan Fabian yang berteriak pemuda itu masih tersenyum tenang. Sang ayahlah yang berteriak tidak dapat menahan emosinya.


"Ibumu, dia sama sepertimu! Selain uang tidak punya apa-apa! Dia berbeda dengan wanita lain! Wanita yang lembut dan lebih mengerti!" Teriak sang ayah murka. Jemari tangan Fabian mengepal, ternyata informasi yang dimilikinya mungkin benar. Ayahnya berselingkuh saat dengan ibunya, bahkan memiliki anak yang kini sudah berada di sekolah menengah atas. Tidak hanya wanita bayaran, tapi juga istri lain?


"Ayah membuka aib? Tapi apa anak dan istri ayah yang berbakti pernah menghasilkan uang? Mereka hanya pengemis yang menadahkan tangannya..." Fabian lagi-lagi tertawa, menyembunyikan ketakutan dan luka hatinya.


"Anak kurang ajar! Adikmu memang pantas untuk dijual! Anakmu sebaiknya mati dengan cepat! Aku akan membuat wanita bayaran yang menggodamu mati setelah ditiduri banyak pria!" Anggara memberontak hendak menyerang seperti orang gila. Membocorkan apa yang selama ini dilakukannya. Rasa dendamnya pada Fabian membuat dirinya ingin Mulyasari beserta kedua anak mereka hancur. Tentang merusak prilaku Jesseline? Sang ayah mengetahui segalanya.


Fabian tertegun membulatkan matanya. Wajahnya pucat pasi, mental yang tidak stabil. Namun berusaha untuk tenang."Cakra bawa orang miskin ini pergi..." ucapnya penuh senyuman.


Cakra segera menariknya dibantu seorang staf yang juga lembur saat ini. Anggara berusaha memberontak, sementara Anjani lebih pada pergi dengan tenang.


*


Fabian terlihat gemetar, membuka laci, meminum obat penenang yang hanya terkadang di konsumsinya. Ancaman yang nyata, benar-benar nyata. Dirinya meraih telepon, menghubungi security.

__ADS_1


"Jika menemukan pria dengan tubuh jangkung, berusia sekitar 50 tahun. Tidak lebih spesifiknya, jika kamu melihat Anggara, mantan CEO perusahaan ini, bunuh dia! Cantik-cantik mayatnya! Jangan sisakan! Pastikan dia mati!" teriak Fabian dalam amarah, matanya memerah, dirinya ketakutan. Benar-benar ketakutan, lebih baik membunuh ayahnya. Jesseline, Sesilia dan Zeyan akan aman, itulah yang ada di fikiran gilanya.


Sedangkan security yang menerima perintah. Tidak melaksanakannya begitu saja, dirinya belum gila. Berjalan dengan cepat mendekati Anggara yang terus mengumpat menggunakan kata-kata kasar.


"CEO memberikan perintah aneh." Ucap sang security gemetar menghadap Cakra.


"Biarkan, dia hanya sedang emosional." Cakra menghela napas kasar. Setelah memastikan Anggara masuk ke dalam mobilnya.


Menatap mantan majikan tidak henti-hentinya mengumpat. Apa yang terjadi pada Anggara yang dahulu canggung menempati posisi CEO? Dirinya mengenal Anggara dalam waktu yang lama. Anak angkat yang dinikahkan dengan Mulyasari. Pada masa mudanya benar-benar canggung, tapi segalanya berubah setelah beberapa tahun menggantikan Mulyasari memimpin perusahaan.


Merasa dirinya berhak bersenang-senang atas kerja kerasnya. Lebih tepatnya bersenang-senang dengan wanita bayaran. Mulyasari yang lebih fokus pada bisnis sampingan, lebih sering berada di luar kota. Itu juga karena Anggara yang sering membuat masalah di perusahaan. Mulyasari membutuhkan dana tambahan.


Fabian mengalami kekerasan fisik maupun mental dengan dalih didikan. Dirinya cukup memahami segalanya, termasuk memahami tuan mudanya yang selama ini selalu gemetar ketakutan.


"Aku ingin dia mati..." gumamnya tertunduk air matanya mengalir. Tapi bukan karena kesedihan lebih karena ketakutan.


"Anda tidak bisa berbuat seperti itu." Ucap Cakra berdiri di hadapannya.


"A...aku tau. Tapi dia dulu pernah merusak rem mobil ibu. Dia akan membunuh semuanya." Pupil mata itu bergetar kala Fabian berucap.


"Tidak ada yang dapat kita lakukan. Kecuali menghancurkan dengan cara yang benar. Tuan muda sebaiknya anda bersabar. Jangan bertindak gegabah, sama seperti 6 tahun yang lalu. Anda dapat menurunkan tuan besar, kali ini akan jauh lebih mudah jika direncanakan dengan matang." Cakra menghela napas kasar menatap ke arah majikannya yang diam tanpa ekspresi. Pemuda yang kembali bangkit membawa beberapa dokumen ke meja kerjanya.


Cakra benar! Setelah ini ayahnya maupun Chan tidak akan dapat bergerak lagi. Hanya perlu memastikan segalanya. Kehidupan impiannya akan terwujud, memiliki keluarga tanpa mencemaskan apapun. Dengan ibu, adiknya, Sesilia, serta Zeyan yang menunggunya di rumah. Memakan kue bersama, sebentar lagi ulang tahun putranya. Segalanya harus rampung sebelum ulang tahun Zeyan.


*

__ADS_1


Tetap melakukan Tes DNA, itulah yang dilakukan Sesilia. Dirinya tidak ingin ceroboh, kakaknya mengatakan kedua orang tua mereka berasal dari negara ini. Sudah meninggal akibat kecelakaan kapal laut.


Tapi kini? Ada seorang pria yang berasal dari Filipina dan wanita dari negara ini namun bagaikan keturunan Chinese datang mengatakan mereka adalah orang tua kandungnya. Memory samar masih sedikit diingatnya, walaupun hanya sedikit.


"Ini..." Derrick datang membawa roti seharga 3000 rupiah dan air mineral, menyuapi anak itu.


Anak yang lucu sekaligus cerdas baginya. Sebuah keajaiban jika memiliki anak seperti ini. Tapi itu hanya mimpi baginya, matanya sedikit melirik ke arah Sesilia. Tidak ada yang dapat diharapkannya, bagaikan pungguk merindukan bulan.


Dirinya hanya tulus menyayangi tanpa memerlukan balasan. Itu sudah cukup.


"Kenapa diam saja?" Derrick mengenyitkan keningnya menyuapi Zeyan, melirik ke arah Sesilia.


"Sedang memikirkan apa? Aku tau, kamu sedang memikirkan bagaimana caranya menyatakan cinta padaku kan?" lanjutnya mengedipkan sebelah matanya.


"Tidak!" bentak Sesilia, merungut menatap ke arah lain.


Derrick menahan tawanya. Benar-benar terlihat semakin manis saja, bagaikan bebek kecil yang marah-marah.


"Paman, boleh aku minta daftar riwayat hidupmu? Rekam jejak, penghasilan bulanan?" tanya Zeyan menyipitkan matanya. Bagikan bagian HRD yang tengah merekrut ayah baru.


"Kamu ini!" Derrick terkekeh, kembali menyumpal mulut Zeyan dengan roti.


Sesilia menatapnya sekilas mengenyitkan keningnya. Berjalan lebih dekat lagi, wanita yang tersenyum, melepaskan kacamata Derrick, kemudian menyingkap poni yang cukup panjang."Aku tau caranya untuk membalas budi. Aku akan merubahmu hingga disukai banyak wanita."


"Jarak ini terlalu dekat..." batin Derrick dengan wajah memerah, merasakan tangan Sesilia di keningnya.

__ADS_1


__ADS_2