Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat

Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat
Kekanak-kanakan


__ADS_3

Entah harus mengatakan apa, dirinya tidak tahu. Kornea mata itu milik Triton, tidak ada kata yang terucap, bibirnya kelu sesaat."Maaf aku tidak tau, tapi aku akan menjagamu dan Zeyan." Sebuah janji yang diucapkan oleh Fabian. Usai mengobati luka di pergelangan tangan Sesilia.


"Omong kosong, jika itu diucapkan oleh orang sepertimu, aku rasanya mual ingin muntah." Raut wajah Sesilia berubah dengan mudah, menyeka air matanya dengan cepat. Pria ini ingin melindunginya? Setelah mengkhianati kepercayaannya dengan melecehkannya? Siapa yang akan percaya.


"Kamu mengira aku tidak serius?" Fabian berusaha tersenyum. Benar-benar berusaha tersenyum, Sesilia yang hangat walaupun buta tidak pernah berkata-kata kasar padanya. Tapi orang ini berwajah sama dengan prilaku yang berbeda 180 derajat. Apa dia kerasukan?


Tapi tetap saja senyuman menyungging di wajah Fabian. Mungkin benar cinta itu buta, dirinya bahkan semakin menyukai Sesilia, malaikat yang sayapnya dipatahkan olehnya.


Jemari tangan Sesilia dikecupnya. Wanita itu membulatkan matanya, dengan cepat mendorong kening Fabian."Apa yang kamu lakukan!" Teriaknya! Antara geli, histeris dan jijik.


Mengapa? Tentu saja karena orang ini sudah pernah melecehkannya. Mungkin saja akan diulangi kan? Dirinya menjauh, benar-benar menjaga jarak. Bagaikan seekor kucing yang baru saja hendak disiram air.


Fabian berdiri mengigit bagian bawah bibirnya sendiri."Apa yang aku lakukan? Aku hanya melatihmu agar terbiasa aku sentuh."


"Ka...kamu! Pergi!" Teriak wanita itu pada akhirnya melempar beberapa bantal pada Fabian.


Seekor kucing kecil yang mengeluarkan cakar tumpul. Fabian hanya tersenyum, membuka pintu hendak pergi."Nanti malam saat tidur di kamar Zeyan. Aku harap kamu tidak mengunci pintu. Ah...salah, lebih baik kunci saja, kamu taukan seberapa ganasnya aku di ranjang."


Wajah Sesilia merah padam, pria itu pergi dengan cepat menutup pintu setelah mengedipkan sebelah matanya, menggoda.


Bug!


Bantal tepat mengenai ke arah pintu yang tertutup. Berakhir dengan sebuah teriakan."Fabian br*ngsek!"


Sementara pemuda itu ada di sisi luar pintu, menyandar, mendengar teriakkan Sesilia dari dalam. Memegangi dada kirinya, jantungnya berdegup cepat sama seperti dulu. Senyuman menyungging di wajahnya, rasanya benar-benar indah baginya. Sesilia kini ada di tempat ini, bahkan mereka memiliki putra. Walaupun Triton, pemuda yang telah tiada itu, tetap masih membekas di hati Sesilia. Namun, dirinya akan berusaha agar suatu hari nanti Sesilia bersedia membuka hatinya.


Dirinya menghela napas kasar, Anjani merupakan pengaruh buruk bagi Jesseline. Adiknya pergi berlibur berhari-hari entah kemana tanpa kabar. Bahkan menghabiskan cukup banyak uang. Bukannya tidak mampu, tapi Fabian cukup mengetahui bagaimana sosok Anjani yang sesungguhnya.


Mantan kekasih sahabatnya, bahkan masih menjalin hubungan. Kala dirinya dulu telah bertunangan dengan Anjani. Sahabatnya yang mau-maunya saja dibodohi dengan dalih itu hanya pertunangan bisnis. Tapi pada akhirnya, sahabatnya itu ditinggalkan setelah data berharga perusahaannya dicuri oleh Anjani.


Perusahaan yang pailit pada akhirnya. Anjani adalah bidak catur bagi Chan, ayahnya.


Menghela napas kasar pemuda itu enggan sejatinya memberikan hukuman pada adiknya. Tapi ini tetap harus dilakukan olehnya.


'Kartu rekeningmu aku bekukan.' Hanya itulah pesan yang dikirimkan olehnya pada sang adik. Memilih tidak bertemu sementara waktu dengan Jesseline, menghindari semua perdebatan. Apa dirinya salah? Ayahnya mendidiknya dengan cukup keras, tidak diijinkan berinteraksi dengan siapapun di masa kecil hingga remajanya. Tapi kala ayahnya ketahuan berselingkuh olehnya, barulah ayahnya berubah menjadi tidak peduli. Tapi tetap saja sering menghajarnya tanpa alasan yang jelas.


Masa kecilnya tidak begitu banyak berinteraksi dengan adiknya yang dimanjakan oleh ibunya. Apa dirinya menyesal? Mungkin, jika saja bibirnya dapat mengadu pada ibunya betapa keras pendidikan ayahnya mungkin akan lebih baik.


*


Sementara itu di tempat lain seorang gadis tengah menangis. Tangisan yang cukup kencang dari seorang wanita muda berusia 23 tahun. Untuk pertama kalinya Fabian menampar bahkan menghukumnya, anehnya tidak ada pembelaan sama sekali dari ibunya.

__ADS_1


Membiarkan pintu kamarnya sedikit terbuka, agar suara tangisannya terdengar keluar. Berharap mengundang rasa iba dari kakak dan ibunya yang mungkin melintas. Tapi tidak ada orang yang masuk satupun, bahkan setelah satu jam berlalu.


"Apa tidak ada yang menyayangiku lagi?" batinnya bagaikan anak kecil berusia 12 tahun.


Tapi derap langkah kecil terdengar. Suaranya tidak begitu jelas, tapi ada orang yang melintas.


Kriet.


Suara pintu terbuka.


Sudah diduga olehnya kakak dan ibunya akan iba. Setelah ini tinggal merengek agar anak yang bagaikan dedemit dan wanita murahan itu diusir. Dirinya lebih menyayangi Anjani yang memperkenalkannya dengan banyak pria baik dan tampan.


Wanita yang mengerti dirinya yang ingin tampil fashionable. Tidak seperti kakak dan ibunya yang selalu mengekangnya.


Tapi ada yang aneh, kala orang itu duduk, mengapa selimutnya bergeser? Dengan cepat gadis muda itu menoleh. Anak yang bagaikan iblis dimatanya itu kini memakai setelan kaos putih, dengan motif kelinci. Berusaha keras naik ke tempat tidurnya. Dan setelah beberapa saat ****** kecil itu berhasil duduk. Sungguh lucu, benar-benar lucu. Dirinya tersipu ingin tertawa pada awalnya.


Tapi tetap saja, anak ini dibencinya, anak yang bagaikan iblis dimatanya.


"Mau apa kamu kemari!?" Bentak Jesseline pada anak di hadapannya.


Anak itu hanya tersenyum, anak yang benar-benar tampan. Tiba-tiba saja menyentuh pipinya, menyeka air matanya. Jemari anak itu benar-benar rapuh, dan halus, putih, dingin bagaikan kelopak bunga teratai. Apa dirinya ingin menepis? Tidak! Entah mengapa tidak tega rasanya. Walaupun dirinya tahu anak ini sudah seperti setan.


Zeyan menghela napas kasar."Bibi kenapa menangis? Aku tidak pernah menangis jika tidak sedang berakting. Atau jika orang yang aku sayangi terluka baru aku akan menangis. Jadi kenapa bibi menangis?" tanyanya.


"Jika bibi memberikan alasan yang bagus, aku akan membujuk ibuku untuk pergi dari rumah ini." Jawaban dari Zeyan bagaikan orang dewasa yang mempermainkan anak kecil. Membujuknya untuk mengatakan hal apa yang membuatnya merajuk.


Jesseline menghela napas kasar menenangkan dirinya."Sebenarnya kakak tidak pernah menamparku, ibu selalu membelaku. Tapi mereka melakukannya karena kalian! Mereka lebih membela kalian dibandingkan dengan kak Anjani yang jauh lebih baik daripada kalian! Anak haram dan wanita murahan!"


"Bocah ini!" batin Zeyan masih berusaha tersenyum mendengarkan.


"Anjani itu orang baik. Kami liburan bersama dan dia memperkenalkan banyak hal baru padaku. Dia punya banyak teman pria yang tampan, memperkenalkanku pada mereka. Memberi kebebasan, bahkan kami berbelanja bersama dan---" Kalimat Jesseline kali ini disela.


"Bibi berciuman? Berpelukan?" Satu pertanyaan dari Zeyan.


Jesseline terlihat malu-malu, kemudian mengangguk pasti."Walaupun teman, kak Anjani bilang itu tata krama biasa di luar negeri."


"Taukah kakak lanjutannya? Terkadang ada beberapa hal yang berbeda dengan negara ini. Misal di luar negeri pacaran tapi mempunyai anak tanpa menikah itu hal biasa. Bahkan yang aku dengar, di Jepang terkadang anak SMU masih perawan itu dianggap kuper." Anak itu berucap dengan nada ringan, mengambil cemilan milik Jesseline yang ada di meja samping tempat tidur.


"Hah?" Jesseline seakan tidak percaya. Tentu saja dirinya selama ini hanya bersembunyi di bawah ketiak ibunya.


"Apa ada yang mengatakan bentuk tubuh kakak bagus? Atau ada yang mengatakan, ayolah tidak akan terjadi apa-apa. Hanya sentuhan, kamu suka kan?" Pertanyaan dari Zeyan dengan mulut dipenuhi kue kering. Jesseline kembali mengangguk membenarkan.

__ADS_1


"Itu bujukan, seperti kakak bermain air di pantai. Pada awalnya berada di tepian, tapi akan terbawa sedikit demi sedikit, pada akhirnya berada di tengah laut. Dalam artian, jika bergaul dengan Anjani mungkin dalam waktu paling lambat 2 bulan, bibi tidak akan perawan. Dalam waktu 6 bulan mungkin Mak Erot (Anjani) akan memanfaatkan kakak untuk melayani kliennya." Jawaban tenang dari iblis kecil itu.


"Tidak mungkin kak Anjani yang baik, melakukan---" Kata-kata Jesseline kembali disela.


"Berapa yang sudah bibi habiskan untuk liburan? Pernahkah bibi berfikir bagaimana ayah dan nenek bekerja keras menghasilkan uang? Bibi sudah lulus kuliah tapi masih belum bekerja sama sekali. Ibuku dulu buta, dia mengelola toko bunga kecil, kemudian setelah dia hamil, masih saja dia berusaha untuk tidak menyusahkan orang lain dalam keterbatasannya. Dia menjual bunga di pemakaman tidak ingin terlalu membebani kakaknya. Hingga pada akhirnya aku lahir di hari yang sama dengan kematian pamanku. Ibuku bekerja sembari menjagaku." Kalimantan yang begitu dewasa dari bibir sekecil ini.


Jesseline terdiam, biaya hotel, belanja, bahkan memasuki club'malam cukup besar. Sebagian besar dirinya yang membayar.


Anak manis itu kemudian berusaha menuruni tempat tidur."Aku hanya menunjukkan ini pada bibi. Jadi bibi harus menjaga rahasia."


Dengan cepat Jesseline mengangguk tidak tahu apa yang dilakukan makhluk kecil berkaki pendek berwajah imut ini.


Anak yang berusaha mengambil laptop, kemudian meminta Jesseline kembali menaikkan dirinya ke atas tempat tidur.


"Apa yang kamu lakukan?" Satu pertanyaan dari Jesseline menatap sang anak mengotak-atik laptop di hadapannya.


Jemari tangan itu bergerak cepat. Kemudian meminta nomor Anjani. Anak yang benar-benar gila, dengan mudah mencari alamat e-mail, bahkan mengendalikan phonecell pintar milik Anjani.


Semua pesan yang dikirimkan melalui e-mail, dan beberapa aplikasi bahkan terlihat.


Hal yang membuat Jesseline semakin kesal. Tapi kali ini pada Anjani.


'Aku sudah bilang anak itu mudah untuk dikencani.'


'Lain kali aku akan tidur dengannya.'


'Tentu saja, biar aku yang atur. Tapi dia masih perawan, pelan-pelan. Jangan lupa balas jasa pada ayahku.'


'Ok, tapi malam ini mau ikut party?'


.....


Masih banyak lagi balasan pesan dari Anjani dengan seseorang. Dirinya mengepalkan tangannya, berusaha tersenyum, ternyata yang iblis selama ini bukan anak ini. Tapi Anjani, menghela napas kasar. Matanya menatap pada anak ini.


"Bibi tidak perlu menunggu ayah dan nenek menjadi dewasa untuk memahamimu. Cukup pahami mereka, jika melihat dari sudut pandang mereka. Bukankah mereka begitu mencintai bibi." Ucap anak yang tersenyum, benar-benar seperti malaikat. Tidak menghakimi dirinya, tapi ingin dirinya melihat dari sudut pandang mereka.


"Iya! Kamu keponakanku yang seperti malaikat! Malaikat yang pintar dan berkuatan besar hingga bisa memecahkan lemari dengan menendang vas bunga!" Teriaknya membawa Zeyan dalam pelukannya.


"Aku sayang bibi." Ucap Zeyan pelan, membuat wanita itu lebih gemas dan terharu lagi.


"Aku juga! Besok kita ke taman hiburan ya!" Wanita yang tidak peduli apapun lagi. Anak ini Guardian Angel, itulah yang ada dimatanya.

__ADS_1


"Kontrak resmi menjadi budak." Batin Zeyan penuh senyuman, membalas pelukan bibinya. Diam-diam tersenyum keji.


__ADS_2