Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat

Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat
Ingin Bersamanya


__ADS_3

Tangan Suto gemetar kini menghadap majikannya. Terlihat ketegangan dalam dirinya entah kenapa. Hingga Fabian memulai pembicaraan terlebih dahulu.


"Kamu yang menjemput Sesilia kan? Dia kemana?" tanya Fabian pada pria di hadapannya.


Pria yang memilin jemarinya sendiri tertunduk."Sa...saya tidak tahu, Sesilia tidak ada di sana. Sudah saya cari tapi---"


"Tidak ada! Kenapa kamu tidak bilang saya!" Pemuda itu menatap tajam membuat Suto lebih takut lagi padanya.


"Sa...saya sudah menghubungi, sudah juga ingin mengatakan pada nyonya besar. Tapi tidak ada yang mengangkat panggilan atau mendengar. Jadi saya titip pesan pada Nek Mirah." Jawaban darinya, tertunduk.


"Jesseline hubungi polisi. Ibu hubungi Anjani, mungkin ini perbuatan ayahnya. Jangan katakan terang-terangan! Pancing dia bicara!" Ucap Fabian, berjalan menaiki tangga menuju lantai dua.


Tidak tenang sama sekali. Dirinya tidak tenang hanya mencoba untuk terlihat baik-baik saja. Kamar Zeyan digeledah nya, sedikit tidaknya akan ada petunjuk, itulah yang ada dalam fikirannya.


Lemari pakaian atau apapun. Satu persatu tempat itu dibongkar olehnya. Tidak ada hal yang mencurigakan sama sekali. Pakaian, mainan, bahkan buku-buku masih tertata di tempatnya, tidak ada catatan atau barang yang hilang.


Beralih menuju kamar Sesilia. Sama seperti kamar Zeyan, tidak ada tanda-tanda ibu dan anak itu berkemas. Sama sekali tidak ada, apa ini perbuatan Anjani? Itulah yang ada dalam fikirannya.


Brak!


Beberapa buku dan pakaian terjatuh. Mencari lebih dalam, fikirannya benar-benar kacau. Satu persatu dokumen diperiksanya mencari petunjuk. Salah satunya hasil pemeriksaan rumah sakit. Pemuda yang duduk di atas tempat tidur dengan tumpukan dokumen milik Sesilia itu mengenyitkan keningnya.


Pembicaraan terakhir tentang Zeyan yang sakit, segalanya masih teringat di benaknya. Jemari tangannya gemetar kali ini, Zeyan memang terkadang demam. Tapi ini bukan penyakit serius bukan?


Hasil tes yang diperiksanya, hasil diagnosa yang tidak dimengertinya. Tapi satu kata yang membuatnya tertegun, leukimia.


"Leukimia?" Gumamnya, jemari tangannya gemetar. Satu persatu kenangan teringat di memorinya. Tentang putra mereka yang sakit dan operasi yang diucapkan Sesilia. Dirinya ketakutan saat ini, benar-benar ketakutan.


Air matanya mengalir tanpa disadarinya. Menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak, dirinya tidak pernah hadir untuk membesarkan Zeyan. Dan kini? Tidak peduli dengan putranya sendiri.

__ADS_1


Kalut, itulah yang tergambar kini. Tidak ada perasaan yang jelas dalam dirinya. Ada lubang menganga di hatinya, rasa ketakutan akan kehilangan malaikat kecilnya.


Pemuda yang berlari dengan fikiran kacau menuju lantai satu. Meraih kunci mobil yang ada di atas meja.


"Fabian! Ibu sudah menghubungi Anjani! Ta...tapi dia tidak mengancam atau mengatakan apapun tentang Zeyan dan Sesilia. Jadi..." Kalimatnya disela.


"Aku ayah yang buruk! Putraku sekarat!" Ucapnya menepis tangan ibunya. Berjalan dengan cepat mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit negri, tempat pemeriksaan Zeyan sebelumnya.


Dirinya tidak tau! Sama sekali tidak mengetahuinya. Stadium berapa? Apa benar-benar sedikit waktunya bersama putranya?


Kalimat yang mencoba diingatnya ketika hacker menyerang. Seseorang yang berkata ingin merebut sumsum tulang belakangnya. Itu Zeyan, putranya yang jenius melakukannya. Berharap mendapatkan harapan hidup dari ayahnya.


"Agggh!"


Teriaknya memukul setir mobil. Otaknya tidak dapat membayangkan, tidak berhenti untuk berfikir. Bagaimana buruknya dirinya menjadi seorang ayah. Wajah anak itu pucat setiap paginya, tidak diijinkan memakan makanan instan oleh Sesilia, mengkonsumsi madu fermentasi aneh dengan bau menyengat. Itu semua karena putranya ingin hidup.


Napas Fabian tidak teratur, mungkin karena emosinya yang tidak terkontrol. Menyalahkan dirinya sendiri, apa ini alasan Sesilia pergi? Apa karena dirinya tidak peduli pada Zeyan?


"Sial!" Teriaknya menginjak pedal gas lebih dalam. Tidak ada kemungkinan pasti Zeyan berasa di rumah sakit. Namun, dirinya hanya ingin mendapatkan petunjuk separah apa penyakit putranya.


Brak!


Tempat sampah di parkiran rumah sakit di tabrakannya. Tidak mempedulikan mobilnya yang sedikit penyok atau lehernya yang terasa sakit.


Pemuda yang melangkah dengan cepat menemui bagian administrasi. Ingin bertemu dengan dokter yang pernah menangani putranya.


*


Apa yang terjadi selanjutnya? Hanya tatapan kosong kala dirinya keluar dari ruangan tersebut. Benar-benar leukimia, putranya dengan fisik yang lemah. Mengapa dapat setegar itu? Gejala? Segalanya berusaha diingatnya. Anak yang sering memegang tissue sembari berlari ke kamar mandi. Apa mungkin putranya mimisan?

__ADS_1


Tidak bisakah Sesilia dan Zeyan mempercayainya? Segalanya terasa buram, bagaikan ada dalam kabut tebal. Tidak ada arah untuk kembali. Baru saja menemukan kebahagiaannya, berjuang mati-matian demi bahagia. Tapi segalanya diambil.


Berusaha untuk lebih tenang, mungkin sedikit harapan jika sumsum tulang belakangnya cocok, putra yang tidak pernah mendapatkan kasih sayangnya akan hidup.


Tangannya masih gemetar dalam kekalutan kini. Tidak ada satu pesan pun darinya yang dibalas oleh Sesilia. Karena itu, sang pemuda yang kini menghubungi Cakra.


"Tuan muda..." Ucap seseorang di seberang sana.


"Lacak nomor phonecell Sesilia. Cari data pasien bernama Zeyan di seluruh rumah sakit di kota ini. Jika tidak ada perluas pencarian. Ka...kali ini... berani-beraninya!" Racunnya dalam fikiran kosong, menghentikan kalimatnya.


"Baik tuan muda..." Hanya itulah jawaban dari Cakra, mematikan panggilan.


Tidak tahu harus mencurahkan amarah kemana. Ini sepenuhnya salahnya. Putranya tidak boleh mati, tidak boleh sama sekali. Jika itu terjadi dirinya tidak ingin hidup lagi. Menyakiti Sesilia dan putranya sendiri, dua orang yang benar-benar dicintainya. Mendambakan memiliki keluarga, anak yang manis dan istri yang selalu ada bersamanya.


*


Beberapa hari berlalu, tidak ada petunjuk sama sekali. Phonecell tesebut ditemukan di sebuah counter. Pemilik counter mengatakan wanita yang menjual, tidak mengijinkannya mengganti nomor phonecell atau menjualnya sebelum seminggu. Entah apa yang ada dalam fikiran Sesilia.


Hacker profesional dan seorang detektif disewa olehnya, ingin menemukan petunjuk lebih cepat.


Hanya rekaman CCTV, Sesilia pernah berada di sebuah warnet, rumah sakit, dan counter. Tidak ada petunjuk lain, semuanya buntu. Benar-benar buntu.


"Fabian..." Sang ibu menegur dirinya yang hanya tertunduk diam menatap makanan.


"Ibu sudah mendapatkan petunjuk?" tanyanya tersenyum lirih.


Mulyasari menggeleng."Tidak ada petunjuk, tapi setidaknya kamu harus makan."


"Aku melecehkan Sesilia, dengan fikiran setelah ini dia akan menjadi milikku, setelah aku menentang ayah. Ta...tapi dia menghilang, tidak menunggu atau memberi kesempatan." Senyuman masih terlihat di wajahnya, tatapan mata yang masih kosong, rasa sakit bagaikan lubang menganga di dadanya.

__ADS_1


"Sesilia mengatakan putraku sekarat. Tapi aku diam saja. A...ayah macam apa aku. I...ibu, jika putraku mati..." Pada akhirnya mata Fabian menatap Mulyasari, air matanya mengalir."Ji...jika dia mati. Aku ingin mati bersamanya."


__ADS_2