
Menunggu mati? Itulah kalimat yang diucapkan olehnya. Pemuda yang tersenyum meletakkan paperbag dan bunga diatas meja.
"Keluar! Jika kedatanganmu hanya untuk membuat ibuku sakit hati..." Pada akhirnya hanya itulah yang diucapkan oleh Zeyan. Putra yang dirindukan olehnya.
"Aku tidak akan pergi, kecuali kamu sudah bersedia untuk dioperasi." Fabian tetap tersenyum, berjalan mendekati beberapa ruangan."Ada kamar kosong... aku akan tinggal disini."
"Kami akan berangkat ke luar negeri beberapa hari lagi. Kamu seharusnya pergi dari sini. Aku yakin ada banyak wanita yang lebih cantik dari putriku." Ucap Flo mendekat berusaha berbicara baik-baik. Meskipun dalam hatinya ingin rasanya membanting tubuh Fabian.
Fabian menghela napas kasar."Sayangnya tidak ada ibu mertua..."
"Pergi dari sini!" Tegas Flo masih berusaha tersenyum.
"Baik, kita sekeluarga pergi bersama." Fabian mengenyitkan keningnya tersenyum.
"Bagaimana bisa putriku yang cantik mendapatkan jodoh orang gila sepertimu?" Flo mengenyitkan keningnya.
"Bagaimana bisa nasib kalian serupa. Mungkin ayah mertua sebenarnya lebih berbahaya dariku." Fabian malah tertawa setelah mengucapkan semua itu. Berjalan masuk ke dalam kamar. Mengukuhkan dirinya akan tetap tinggal di tempat ini.
"Aku akan mengikatnya, mengurungnya di gudang, mencabut satu persatu kukunya, meneteskan tetes demi tetes air keras pada tubuhnya. Setidaknya dia tetap hidup kan?" Asnee menghela napas kasar, berusaha keras untuk bersabar. Bagikan bersiap untuk menghabisi anak muda kurang ajar itu. Pria yang benar-benar terlihat berbahaya.
"Tenang sayang, kita tidak boleh melukai orang lain tanpa alasan. Itu tindakan keji, aku tidak suka." Gumam Flo memegang jemari tangan Asnee. Seketika raut wajahnya yang dingin berubah cerah, mengacak-acak rambut istrinya.
__ADS_1
"Baik, itu perbuatan tercela. Jangan membenciku." Pria paruh baya yang bagaikan malaikat itu tersenyum. Siapa yang menyangka orang ini benar-benar tidak normal.
Tali yang sudah terpasang, Zeyan hanya mengenyitkan keningnya. Ingatannya sebagai Triton masih ada, benar-benar ada. Bagaimana Asnee menghajar pelayan yang berani-beraninya diam-diam menaruh hati pada Flo. Wajah pria itu ketika masih muda yang tersenyum, melihat pelayan yang tidak berdaya di hadapannya.
Tapi raut wajah itu seketika berubah gugup dan ketakutan kala Flo mengatakan akan meninggalkan rumah jika Asnee masih bertingkah posesif. Seorang pria yang begitu obsesif terhadap istrinya. Bahkan di rumah mereka di Beijing dan Filipina ada ruangan rahasia, tempat sang ayah menyimpan ribuan foto ibunya. Beberapa pakaian bekas ibunya yang akan disumbangkan sejatinya juga tersimpan disana, tidak disumbangkan oleh ayahnya. Disimpan dengan rapi, berjaga-jaga jika Flo dan dirinya terpisah untuk urusan bisnis. Sudah dikatakan Asnee tipikal pria red flag, yandere dan obsesif, mungkin tiga istilah itu yang cukup untuk menggambarkan segalanya. Pria yang hanya tergila-gila pada Flo sebagai tujuan hidupnya.
Fabian benar, jika ada orang benar-benar aneh, itu adalah Asnee. Tapi jika mereka tidak membuang Triton dan Sesilia, apa yang terjadi pada Tiger?
"Kakek, pernah bercerita tentang ibu dan paman yang dititipkan pada kakak laki-laki ibu (Tiger). Lalu dia dimana sekarang?" tanyanya, dengan mata berbinar-binar.
Asnee hanya tersenyum, mengecup pipi Zeyan."Sttt...anak kecil sebaiknya tidak tau. Jika kamu sudah dewasa kakek akan mengatakannya."
Sudah pasti, dihajar habis-habisan. Mungkin juga Flo berusaha keras menghalangi Asnee. Apa Asnee akan bergerak di belakang layar? Menghabisinya diam-diam? Tidak ada yang tau, apa yang sejatinya terjadi pada predator anak itu. Orang yang sudah membunuh beberapa anak yang sempat dilecehkan olehnya.
Derrick menghela napas kasar. Matanya sedikit melirik ke arah Sesilia yang hanya tetap duduk di sofa. Wanita yang terlihat benar-benar kacau. Perlahan berjalan mendekatinya, wajahnya tersenyum hangat. Sudah diduga olehnya ini tidak mudah sama sekali."Sesilia, aku tidak tau kenapa kamu selalu menghindar setiap bertemu denganku. Tapi aku akan tetap datang kemari. Bukan sebagai orang yang menginginkan untuk memilikimu. Aku akan datang sebagai keluarga kalian."
"A...aku tidak bermaksud menghindar. Aku hanya ingin memiliki orang sepertimu di sampingku. Aku juga merasa bersalah setiap melihatmu berucap seperti kakak. A...aku takut...aku... bingung..." Gumam Sesilia menatap ke arah pemuda di hadapannya.
Pemuda yang menghapus air matanya. Wajahnya tersenyum."Sudah aku bilang, aku akan sering datang. Walaupun hanya teman kita dapat menjadi seperti keluarga. Sejujurnya aku menyukaimu, tapi tidak terobsesi padamu. Menyenangkan melihat Zeyan memiliki kesempatan untuk hidup."
"Terimakasih! Terimakasih! Memalukan!" Sesilia menangis semakin terisak, menutup wajahnya sendiri. Tidak kuasa menahan air matanya, melupakan Fabian? Itu sudah dilakukan olehnya. Benar-benar sudah melupakannya.
__ADS_1
Mungkin semua orang salah paham. Dirinya ingin memiliki Derrick, menatapnya bagaikan menatap almarhum kakaknya yang rupawan dan baik hati. Rasa bersalah dan rasa malu selalu menghantuinya. Senyuman yang mirip, raut wajahnya juga, meski pun dengan rupa yang berbeda. Rasa sakit, di setiap kata yang diucapkannya mengingatkannya pada cinta pertama (Triton) yang selalu menggodanya mengatakan dirinya yang tercantik.
Apa dirinya mencintai Derrick? Tidak, lebih tepatnya belum.
Flo menyadari, kedatangan Fabian akan membuat Derrick mundur. Pemuda yang lebih menginginkan kebahagiaan Sesilia dan Zeyan. Padahal sedikit lagi, jika saja waktu dapat menghapus segalanya. Mungkin satu atau dua tahun lagi, dua orang ini akan menjadi pasangan tidak terpisahkan.
Tapi terlalu egois jika seperti itu. Matanya sedikit melirik ke arah kamar dimana Fabian masuk, memijit pelipisnya sendiri. Bagaimana bisa putrinya menemukan makhluk yang satu spesies dengan Asnee. Tidak! Asnee lebih parah dari Fabian. Lebih memalukan, lebih kejam, tapi juga lebih manis. Sedangkan Fabian lebih berhati-hati dalam mengambil langkah.
"Zeyan...paman pulang. Bersikap baiklah pada ayahmu." Ucap Derrick penuh senyuman.
Zeyan hanya mengangguk, tidak dapat mengatakan apapun. Pertemuan singkat dengan Sesilia, perasaan tipis yang hanya baru tumbuh. Dirinya mengerti segalanya, Derrick hanya ingin dirinya dan Sesilia bahagia."Kita tetap keluarga."
"Iya...aku akan menjadi teman baik ibumu." Derrick menghela napas kasar.
"Akan menyenangkan memiliki menantu sepertimu." Asnee tertunduk kecewa sejenak."Tapi jika ini keinginanmu aku tidak akan melakukan apapun. Setelah memastikan Zeyan sembuh, aku akan menyingkirkan Fabian. Aku harap kamu bisa menunggu."
"Orang ini gila! Fabian juga gila! Jika aku terlibat lebih banyak, aku juga akan menjadi gila..." Batin Derrick menghela napas berkali-kali.
*
Sementara Fabian, menatap ke arah langit-langit kamar. Menghela napas berkali-kali, menyadari tidak ada lagi perasaan Sesilia yang tersisa untuknya. Tapi apa yang dapat dilakukan olehnya.
__ADS_1
"Bertindak brutal. Bukannya orang itu (Asnee) sifatnya juga sama saja..."