
Beberapa bulan kemudian...
Tidak melakukan pembelaan sama sekali. Pria itu benar-benar mendapatkan hukuman mati. Tapi tidak melalui proses yang singkat.
Kali ini anak itu kembali datang membawa kue kering lagi. Bermain ular tangga dengan seseorang yang membunuhnya di kehidupan lalu.
"Aku kalah lagi..." Keluh Zeyan.
"Aku memang ditakdirkan selalu menang!" Chan terkekeh, kembali mengulang permainan. Berprilaku baik sebagai tahanan, bukan untuk mendapatkan pembebasan dari eksekusi nanti. Namun, untuk tetap bermain dengan anak ini.
Terkadang dirinya berfikir, apa segalanya akan berubah jika dirinya tidak salah memilih pasangan? Mungkin saja, dirinya akan memiliki cucu saat ini. Hidup bahagia dengan keluarganya.
"Anjani meminta ijin padamu untuk menikah." Itulah yang diucapkan Zeyan, membuat Chan tertegun.
"Baguslah! Setelah menebus kejahatan keluarganya. Dia---" Kalimat Chan disela.
"Sudah akan mati masih saja menjadi ayah jahat pemarah." Gerutu Zeyan.
"Aku memang tidak pernah menyayanginya. Membesarkannya hanya untuk membalas rasa sakit hatiku. Tapi mendengar dia baik-baik saja. Itu sudah cukup menyenangkan." Chan kembali melempar dadu kali ini.
"Simpan sedikit saja rasa bersalah untuk dia..." Zeyan menatap sinis.
"Baik! Baik! Anak kecil cerewet!"
*
Hanya memeluknya, Aster masih hidup kala ditemukan. Walaupun sempat kritis. Pria yang juga menangis setelah sadarkan diri, mengatakan perasaannya pada akhirnya.
Tidak ada yang menduga ini akan terjadi bukan? Dua orang yang merasa diri mereka rendah. Saat ini bersama, mengadakan pernikahan yang tidak begitu meriah. Rumah kecil yang dulu disiapkan Aster kini dihuni bersama Anjani.
Pasangan yang sepakat untuk mengadopsi seorang anak tepat setelah acara pernikahan mereka. Akibat kandungan Anjani yang mengalami masalah. Tidak masalah bagi mereka, seorang anak angkat yang manis.
Apa itu kebahagiaan? Terkadang hanya sebuah kesederhanaan.
Suara mesin jahit terdengar. Pria yang biasanya terjerat dalam dunia kelam itu, kini mengerjakan orderan kemeja anak sekolah. Beberapa karyawan ada di tempat ini.
"Papa!" Teriak seorang anak yang mereka adopsi, seorang anak laki-laki berusia satu tahun dalam gendongan Anjani yang tersenyum. Membawa belasan bungkus makan siang? Itulah yang dilakukan olehnya.
__ADS_1
Hidup sederhana, berusaha melupakan luka mereka yang menyakitkan. Memiliki keluarga baru.
"Kita makan bersama!" Aster tersenyum, membagikan makanan untuk karyawannya. Menikmati waktu yang berharga untuk menyayangi satu-satunya orang yang ada di hidupnya.
Kebahagiaan bukan hanya karena kemewahan dalam segelas wine. Lebih seperti segelas air putih pereda dahaga, itulah Anjani saat ini. Hidup tanpa harus berpura-pura, tanpa trik ataupun tipu daya, bersama pria yang tulus mencintainya.
*
Terkadang ada yang namanya sebuah kebahagiaan sementara ada juga sebuah kebahagiaan mutlak. Kebahagiaan macam apa yang dirinya akan dapatkan? Entahlah...
Bagaikan fatamorgana, dirinya mendapatkan keluarga impiannya. Wanita yang mengatakan bersedia di hadapan pendeta. Mengikat janji suci di hadapan Tuhan. Gaun putih panjang menjuntai. Bukan tipikal pernikahan megah dengan banyak selebritis atau wartawan. Hanya pernikahan biasa, mengingat kondisi kesehatan Zeyan yang belum pulih sepenuhnya.
Fabian hanya dapat tersenyum, mendengar tepukan tangan dari orang-orang yang hadir. Mencium bibir pengantin wanita usai menyematkan cincin. Kini malaikat ini adalah miliknya, menemaninya sepanjang usia.
Anak yang tengah memakan kue dengan tenang itu menghelat napas kasar. Dirinya terlalu dewasa untuk bergaul dengan anak kecil yang berlarian.
Hingga perhatiannya teralih pada tangan kecil yang merayap. Mengambil kue dan memakannya di bawah meja.
Zeyan mengenyitkan keningnya. Turun dari kursi yang didudukinya. Melihat ke area bawah meja. Seorang anak perempuan gembul terlihat, benar-benar gemuk, bulat bagaikan bola.
"Aku tidak mencuri hanya mengambil sedikit. Mengambil sedikit bukan mencuri. Hanya saja aku jadi makan keterusan. I...ini hidangan memang untuk tamu sepertiku kan?" Ucap anak gemuk itu dengan mulut penuh.
Tidak menyadari Zeyan tertegun, membulatkan matanya. Kalimat yang diingatnya ketika Triton kecil melihat sukarelawan panti yang dijuluki perawan tua, memakan beberapa kue kering. Tidak mencuri, hanya mengambil sedikit, tapi jadi keterusan.
Dirinya menahan tawa, pada akhirnya menarik anak gemuk yang mungkin berusia 4 tahun itu dari bawah meja."Aku akan memberikanmu lebih banyak makanan!" Ucapnya membawanya berlari ke area yang lebih sepi. Tempat yang menyenangkan untuk bermain.
Kini dirinya dapat lebih menerima takdir, kehidupan Triton yang berakhir begitu saja. Menjadi Zeyan anak kecil yang dikasihi semua orang. Berlari membawa panda bulat, maaf salah teman barunya. Anak kecil yang mungkin lebih muda dua tahun darinya.
"Dandelion... akan mati untuk mengikuti angin. Terbang menyebarkan bijinya agar menjadi tanaman yang baru..." Kalimat yang diucapkan Zeyan, meniup bunga dandelion kecil.
"Wah...." Panda bulat, maaf salah. Anak perempuan gemuk itu tertegun, kagum bagaikan melihat trik sulap dari pangeran kecil tampan.
*
Mungkin satu hal yang menjadi masalah kini ketika pesta pernikahan usai. Dua orang yang masih canggung hingga kini. Hubungan mereka bermasalah dari awal. Benar-benar masalah besar!
Menghela napas kasar, wanita itu kini mengenakan jubah mandi dengan rambut yang masih setengah kering. Menatap ke arah Fabian yang hanya terdiam.
__ADS_1
Perasaan mereka campur aduk, malam yang mereka lewati bersama 7 tahun lalu masih terbayang dalam benak Sesilia hingga kini. Apa Fabian akan kembali berbuat hal yang begitu menakutkan padanya?
Pemuda itu hanya menghela napas kasar."Jika kamu belum siap kita tidak akan melakukannya. A ...aku masih ingat kejadian dulu. I...itu karena aku dalam pengaruh. Sudahlah, lebih baik kita tidur saja..."
Tidak marah sama sekali pengantin pria malah memiliki rasa bersalah yang begitu besar padanya. Apa salah jika dirinya mencoba?
Jemari tangannya menarik Fabian ragu. Bibir yang mendekat perlahan, memejamkan mata mereka hampir bersamaan. Tidak terburu-buru tidak ingin menyakitinya bagaikan mangkuk kaca yang rapuh.
Sepasang lidah akhirnya bertaut dalam cahaya malam remang. Aroma rose? Itulah yang tercium di penjuru ruangan. Mengantarkan perasaan sedikit lebih rileks.
Kala wanita itu, menarik tali jubah mandi pria yang kini menikmati bibirnya. Segalanya terlihat jelas, tidak seperti dahulu.
Pemuda yang mulai mengecup area bahunya. Tidak ada sentuhan kasar atau teriakan. Napas mereka memburu, menebarkan kehangatan pada seluruh penjuru nadi.
Ini sebuah kegilaan! Mungkin itulah yang ada di fikiran Sesilia. Kala tidak ada sehelai benangpun yang membatasi mereka. Kala tubuhnya direbahkan, mencengkram pelan rambut pria yang menikmati area sensitif bagian atasnya.
Rintihannya terdengar, ini tidak menyakitkan seperti dahulu. Seluruh tubuhnya bergetar, menginginkan lebih dari ini. Dimana ujung napsu ini? Entahlah. Tapi satu hal yang harus diyakini dan dilakukan sepanjang hidupnya. Mencintai pria ini.
Pemuda yang pada akhirnya mengucapkan padanya."Aku akan mencintai dan menjagamu. Bahkan ketika aku mati..." janjinya.
Hanya bertumpu pada orang ini. Mencakar punggungnya pelan. Kala namanya dipanggil dalam napas tidak teratur.
Tubuhnya terombang-ambing. Hanya dapat mendekap sang pemuda. Mempercayakan dirinya kini, mungkin seseorang yang akan menjaganya di sepanjang usia.
Apa hal yang paling sulit? Memaafkan, tapi hati dan perasaan tenang akan didapatkan. Kala permintaan maaf itu diucapkan dengan tulus. Kala permintaan maaf itu juga diterima tanpa dilumuri dendam.
Jeritan bersamaan terdengar. Pemuda yang pada akhirnya membawanya dalam dekapannya."Hanya ini untuk hari ini. Aku akan menunggumu hingga terbiasa."
Pemuda yang hanya meminta sekali. Tidak ingin menyakitinya lagi, menunggunya untuk terbiasa. Berharap dapat menjaganya di sepanjang usia. Malaikatnya...
"Aku mencintaimu..."
"Aku juga..."
Suara bisikan menyambut malam, mendekap lelah dalam balutan menyambut mimpi.
Tamat.
__ADS_1