Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat

Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat
Jodoh Pilihan Bapak


__ADS_3

"Hah?" Kalimat aneh dari anak dengan wajah pucat pasi itu. Seorang anak yang tersenyum cerah padanya.


"Jika denganmu. Mungkin aku akan dapat tenang untuk menitipkan ibu." Zeyan tersenyum pahit.


Pemuda yang menghela napas kasar. Mengacak-acak rambutnya."Suatu hari akan ada orang yang lebih baik lagi..."


"Aku muak..." Ucap Zeyan, air matanya mengalir. Seorang anak yang berusaha untuk tersenyum."Sulit untuk mencari seseorang yang tulus."


Pada akhirnya Derrick memberanikan dirinya bertanya, walaupun sulit."Ayahmu?"


"Dia bodoh... melecehkan ibuku, kemudian melarikan diri tanpa penjelasan. Dia sudah mengatakan alasannya. Tapi itu tidak berarti apa-apa, ji...jika kondisi mental ibuku saat itu buruk. Mungkin saja ibuku akan mencoba untuk bunuh diri. Aku sudah memberikan kesempatan padanya untuk menjadi ayah yang baik. Seperti sebelumnya kami diabaikan." Jawaban dari Zeyan, membuat pemuda itu terdiam sesaat.


Orang seperti apa ayah dari anak ini? Tapi hanya satu hal yang kini ada di fikirannya, membuat anak ini tersenyum. Alasannya? Entahlah bagaikan insting alaminya.


"Saatnya makan!" Ucap pemuda itu penuh senyuman, mengalihkan pembicaraan. Tidak ingin ibu dan anak itu bersedih lagi. Jika, jika saja dirinya berada di posisi yang dapat membahagiakan mereka. Mungkin hanya itulah yang ada di fikirannya. Sebuah pemikiran yang berusaha ditepis olehnya.


Tubuhnya mengangkat Zeyan membawanya dalam gendongannya. Hingga melangkah dua orang menghalangi jalannya.


"Derrick, tolong panggilkan Sesilia ya?" Pinta Flo meraih Zeyan. Tersenyum penuh rencana.


"Ta...tapi---" Pemuda itu bagaikan enggan. Bagaimana dirinya dapat dengan kurang ajarnya memasuki kamar ayang? Tidak! Ini tidak boleh! Ayang adalah makhluk yang patut dicintai dan dihormati.


"Kami percaya padamu. Kamu tidak mungkin melecehkan Sesilia." Asnee ikut-ikutan mendorong pemuda itu. Memberi semangat dan motivasi.


Pemuda yang mengepalkan tangannya, demi terhapusnya penjajahan di atas dunia. Demi kemerdekaan bangsa dirinya harus memiliki keberanian tingkat tinggi.


Melangkah dengan hari yang berdebar cepat. Menelan ludahnya sendiri, menatap pintu itu. Matanya kembali melirik ke arah lantai satu.


"Ya! Teruskan!" Perintah Asnee, bagaikan jodoh pilihan bapak. Ingin anaknya move on.


Pintu diketuknya ragu, dapat dirasakan olehnya, ayang ada di kamar ini. Berada lebih tepatnya di balik pintu. Tidak! Ini tidak boleh! Dirinya harus mengetahui status.


Hingga pintu tiba-tiba terbuka. Sesilia terlihat di hadapannya, wanita itu membulatkan matanya tidak menyangka dengan keberadaan Derrick tepat berjarak kurang dari 10 centimeter darinya.


Pemuda ini lebih tinggi, wajahnya tanpa ekspresi, terlihat seperti anak taipan dengan setelan itu. Ini tidak benar! Tidak benar!

__ADS_1


"Sesilia sebenarnya, ini sudah waktunya memakan---" Bagaimana bisa ada pemuda yang mengatakan hal wajar tapi terlihat bagaikan godaan.


Brak!


Pintu ditutup Sesilia dengan kasar. Benar-benar kasar, apa yang terjadi tadi? Kenapa wajahnya memerah? Apa Sesilia sakit?


"Kamu kenapa?" Pemuda itu mengetuk pintu penuh rasa bersalah.


"Aku sakit perut! Jangan temui aku! Ini diare parah!" Ucap Sesilia dari dalam sana.


"Aku calon dokter! Boleh aku memeriksamu? Mungkin ada gas berlebih di perutmu, atau bakteri!" Kalimat gila dari pria itu.


Sesilia yang masih menyandar di balik pintu mengenyitkan keningnya. Pemeriksaan dapat diartikan menyingkap sedikit pakaian, pemuda itu akan menyentuh perutnya.


"Or...orang gila!" gumam Sesilia dengan suara kecil.


"Sesilia?" Suara pemuda itu masih terdengar.


"Aku tidak sakit perut! Aku hanya... hanya... Ingin kentut!" Kalimat kacau lagi dari mulutnya.


*


Sedangkan di luar pintu pemuda itu tertunduk kecewa. Berjalan menuruni tangga, menatap tiga orang yang menertawakannya.


"Aku tidak tau ibu dapat begitu memalukan. Biasanya citranya malaikat tidak bersalah atau induk ayam menyerang orang mengganggu anaknya. Hari ini aku melihat sisi lain ibu ..." Zeyan tertawa kencang berguling-guling di karpet tidak menyangka Sesilia memiliki sisi tidak waras.


Derrick membenahi letak kacamatanya. Menghela napas berkali-kali, menyadari dirinya ditolak.


"Jika dia mewarisi sifatku, dia sedang menggulung dirinya menggunakan selimut. Kamu harus tetap semangat, sedikit jalan sudah terbuka!" Flo memberikan motivasi.


"Ini pengalamanku sebagai pria yang pernah pacaran tiga kali sebelum menikah. Wanita itu perlu waktu untuk move on dari traumanya. Tapi jika pria br*ngsek itu datang. Kamu habisi saja, jangan jadi second male lead, jadilah antagonis!" Teriaknya tertawa bagaikan penjahat. Itulah yang dilakukannya pada orang-orang mendekati istrinya dulu.


Zeyan masih saja tertawa menatap ekspresi wajah Derrick. Antara tidak mengerti dengan ucapan mereka, benar-benar yakin dirinya dihindari bagaikan virus penyakit mematikan.


Tapi hanya sejenak, anak itu menggigil tiba-tiba. Derrick dengan sigap mengangkat tubuhnya. Entah kenapa dirinya peduli pada anak ini. Hubungan darah? Mereka tidak memilikinya.

__ADS_1


Asnee dan Flo berlari dalam kepanikan. Menghubungi dokter pribadi yang baru mereka rekrut. Walaupun akan terlambat datang akibat hujan yang turun.


Sesilia yang baru turun dari lantai dua, menitikkan air matanya sesekali. Menatap putranya yang semakin pucat saja, mengambil segala hal yang diperintahkan Derrick. Pemuda itulah yang menjaganya, malam yang dilalui di rumah Sesilia. Menjaga keluarga itu, ingin memiliki keluarga. Walaupun dirinya tau, ini bukan miliknya.


Hingga malam menjelang, setelah dokter datang dan keadaan Zeyan lebih baik. Tidak ada yang keluar dari kamar.


Derrick memeriksa suhu tubuh Zeyan dengan rutin. Sementara Asnee dan Flo menghela napas kasar tengah berdebat alot di koridor. Ingin membawa cucu tunggal mereka berobat ke negara lain.


Tatapan mata Sesilia kosong, tidak lepas dari Derrick yang tengah tersenyum menatap termometer. Mungkin suhu tubuh Zeyan sudah turun. Apa itu makna ketulusan? Dirinya mencari itu, melepaskan segalanya dalam tangisan.


Pemuda yang perlahan berjalan mendekatinya. Menyodorkan buah jeruk lokal. "Jangan menangis! Nanti jika tenagamu habis, siapa yang akan menggantikanku menjaga Zeyan..."


"Terimakasih..." Ucap Sesilia terduduk di lantai, meraih buah jeruk lokal. Dirinya tidak sendiri lagi menghadapi dunia. Apa ini rasanya memiliki orang-orang yang peduli padanya?


*


"Menikah?"


"Iya, menikah ke luar kota...kota Wentira." Kalimat darinya mengingat-ingat pembicaraan dengan Suto.


Tangan Fabian gemetar, meraih phonecellnya. Matanya menelisik mencari di google map tentang keberadaan kota Wentira. Tapi nihil, tidak ada sama sekali.


Mencari di google, malah artikel tentang misteri dan horor yang terlihat.


Pemuda itu memincingkan matanya. Mulai berfikir apa nenek yang sudah bekerja dari generasi kakeknya ini pikunnya kumat lagi?


"Pak Suto berpesan apa?" Tanya Fabian lagi.


Sang nenek yang ingatannya bercampur aduk mulai mengatakan hal yang lebih aneh lagi."Sesilia punya orang tua bangsawan. Lalu tidak setuju dengan tuan muda Fabian. Menjodohkannya dengan orang lain, tuan kecil Zeyan juga setuju dengan ayah barunya," gumam sang nenek mengingat-ingat cerita yang bercampur aduk. Tapi tepat sasaran.


Fabian memijit pelipisnya sendiri."Nenek Mirah pikunnya kumat lagi. Panggil Suto saja." Perintahnya pada kepala pelayan.


"Wah nenek pikunnya kumat lagi. Nek nomor berapa yang keluar?" tanya salah seorang pelayan pada nenek Mirah. Ingin memasang nomor togel. Menurut pengalamannya yang pernah dua kali menang judi togel akibat pikunnya nenek Mirah.


Ramalan? Mungkin saja bukan? Sesuatu yang tidak masuk akal sering terjadi di dunia ini.

__ADS_1


__ADS_2