
"Ki...kita akan kemana?" Derrick mengenyitkan keningnya. Namun, Sesilia hanya tersenyum menatap ke arah putranya.
"Dia sudah menolongmu. Haruskah balas budi?" tanya sang ibu pada putranya.
Anak itu mengangguk."Pakaian santai, lumayan cocok. Potongan rambutnya harus dirapikan. Kacamatanya juga, membuatnya terlihat seperti kakek-kakek."
Sesilia mengangguk tanda setuju, mengigit bagian bawah bibirnya sendiri. Melihat pria itu dari sudut pandang berbeda."Dia perlu diamplas!"
"Hah?" Apa yang difikirkan ibu dan anak ini? Sama sekali tidak dapat dibayangkan olehnya. Dirinya akan menjadi mainan boneka-bonekaan bagi Zeyan dan Sesilia.
*
Suara mesin hairdryer terdengar dari luar sana. Ini benar-benar gila, dirinya tau, jatuh cinta pada orang yang tidak tepat, adalah sebuah penderitaan. Tapi tidak semenderita ini juga.
Masker terlihat di wajahnya. Tubuhnya dipenuhi dengan lulur, berbaring di atas tempat tidur.
Krak!
Suara itu terdengar, bersamaan dengan dirinya yang mengigit bantal. Ini sudah gila! Benar-benar menyakitkan. Kenapa orang harus bersedia membayar mahal hanya untuk perawatan?
Sesuatu yang tidak dimengerti olehnya. Satu jam? Ini lebih dari itu, ibu dan anak ini benar-benar sudah gila. Sekitar 5 jam dihabiskannya di salon yang juga membuka jasa spa. Rambutnya dipotong, tidak dapat melihat cermin sama sekali. Lebih tepatnya tidak diijinkan, menurut instruksi Sesilia.
Namun, kulitnya memang terasa lebih segar. Entah apa yang dilakukan orang-orang ini dengan rambutnya. Hanya dapat menghela napas membayangkan bagaimana akan membayar jasa salon nanti. Berapa juta yang habis untuk perawatan lengkap?
Hingga pakaian diberikan oleh salah seorang karyawan."Kakak yang datang bersama anda, menyuruh anda memakainya."
Pada akhirnya hanya menurut, sembari mengambil phonecellnya. Hanya 3 juta rupiah yang ada di rekeningnya saat ini. Apa akan cukup untuk uang makan bulan ini? Ingin menangis rasanya, membayangkan berapa rupiah yang akan habis di tempat ini.
Menganti pakaian, kemudian melangkah keluar. Wanita itu terlihat di sana, mengenyitkan keningnya seakan berusaha menerka-nerka."Lumayan..." ucapnya terkekeh, memalingkan wajahnya.
"Apa jelek?" batin pemuda itu kebingungan.
"Ayo kita kembali ke rumah sakit!" Ucap Sesilia berjalan mendahului Derrick.
"Ki...kita belum bayar!" Derrick hendak mengeluarkan phonecellnya. Membayar via QR, namun dengan cepat Sesilia menarik tangannya.
__ADS_1
"Orang yang mengaku sebagai ibuku, berkata ingin memberikan hadiah pada orang yang sudah membantu cucunya." Sesilia tersenyum, tidak menatap wajah itu lagi entah kenapa.
Benar-benar aneh bagi sang pemuda. Apa ada yang salah dengan penampilannya? Mengingat dirinya tidak diperbolehkan menatap cermin. Melalui area spa khusus yang tidak memiliki cermin sama sekali."Uangnya nanti aku ganti," ucapnya tertunduk ragu.
Sesilia mengenyitkan keningnya."Kapan? Bagaimana jika ganti dengan menemani Zeyan?"
Hanya mengangguk itulah yang dilakukan olehnya sembari tersenyum. Dua hari ini bagaikan keajaiban baginya, dapat bicara dengan Sesilia. Jika saja dirinya tidak ke sungai dan mendengar suara kuntilanak menangis, dirinya tidak akan semujur ini.
"Untung aku kebelet pipis!" batinnya.
*
Hari ini dirinya shift sore. Berharap dapat mengganti pakaiannya di rumah sakit.
Berjalan masuk dengan potongan rambut baru. Bahkan kacamata yang terkesan lebih modern, berbanding terbalik dengan kacamatanya sebelumnya. Tidak percaya diri mengingat Sesilia tidak bersedia memandang wajahnya.
Belum mengerti apa yang salah. Sama sekali calon dokter ini belum mengerti apa-apa.
Beberapa orang berbisik-bisik menatapnya yang melangkah. Sumpah! Jantungnya berdegup kencang.
Sesilia mengangguk."Jangan jadi play boy." Pesan wanita itu masih tidak mau melihat wajah Derrick. Melangkah meninggalkannya, berjalan menuju ruang rawat Zeyan. Anak yang kini tengah dalam pengawasan Asnee.
Derrick menghela napas kasar. Mulai menuju loker ruang ganti, mengganti pakaiannya dengan setelan petugas pembersih. Berjalan mendorong troli.
Ada apa dengan semua orang? Beberapa perawat magang melirik ke arahnya, tersenyum-senyum, sedikit berbisik bagikan membicarakannya. Salah seorang dokter wanita yang tengah membawa data pasien melihat ke arahnya sembari berjalan.
Bug!
Dokter wanita itu terjatuh setelah membentur tiang penyangga bangunan. Bukan masalah sakitnya, tapi betapa malu rasanya. Mengusap-usap dahinya yang terbentur. Ini semua karena staf baru di bagian pembersih.
"Kak, boleh kenalan?" tanya seorang staf bagian informasi mengulurkan tangannya.
Pemuda yang mengeluarkan aura cerdas, terkesan berkelas, potongan rambut yang terlihat modern, mungkin lebih seperti pop idol yang diidolakan banyak remaja. Wajah dingin tanpa senyuman itu, bagaikan tidak tertarik pada wanita manapun yang menggodanya.
Satu kata untuk menggambarkan orang ini.'Mematikan!'
__ADS_1
Pemuda yang terdiam tidak mengerti."Untuk apa kenalan cicak!" Kalimat yang keluar dari mulut pria di dingin dengan tampang playboy di hadapannya. Membuat sang pegawai administrasi terjatuh ke lantai akibat kakinya yang lemas.
Dirinya mencoba mengingat-ingat lagi, suaranya benar-benar autentik. Tapi wujud yang berbeda, jika kalian mengatakan perubahan besar. Itulah yang terjadi saat ini, dari tampang seniman jalanan, dengan wajah kusam, kacamata tebal ala kakek-kakek. Menjadi pria pintar, tampan, dingin yang hanya dapat dilihat di TV saja.
Bayangkan saja, Derrick yang sebelumnya berambut tebal agak gondrong tidak terawat, memakai kacamata besar nan tebal. Bagaikan gagangnya diwariskan turun-temurun dari kakeknya. Ditambah wajah kusam pria yang hanya sibuk kuliah dan bekerja itu.
Bagaimana bisa gembel jadi pangeran?
"Derrick! Kamu operasi plastik!?" tanya sang staf administrasi.
"Kalau punya uang untuk operasi plastik, lebih baik aku gunakan untuk melamar dia!" Kalimat dari Derrick penuh senyuman, melepaskan kacamatanya. Mulai mengepel lantai. Kacamata dengan harga yang pastinya tidak murah, akan dijaganya sepenuh hati, sepenuh cinta, seperti menjaga dia.
Menyanyikan lagu, cinta ini membunuhku dengan penuh penghayatan. Bagaikan orang gila, kita anggap saja dirinya sudah gila. Bernyanyi-nyanyi seorang diri.
Tidak menyadari seorang anak yang membawa infusnya, menatap dari jauh. Benar-benar mengamati orang ini."Dia sudah gila! Apa dia ketularan rabies, saat keluar dengan ibu?" gumam Zeyan berusaha untuk tersenyum. Melihat tingkah absurb pria yang paling keren sedunia, tapi kelakuan minus.
*
Tapi tidak ada yang menyangka kelakuan seseorang di malam hari. Kala malam tiba, pemuda itu meminta ijin untuk masuk.
Asnee dan Flo tengah menyiapkan kediaman baru untuk mereka. Sesilia kali ini yang giliran menjaga Zeyan.
Melangkah pelan, tidak ingin membangunkan Sesilia. Namun, tanpa diduga mata Zeyan perlahan terbuka, menatap Derrick yang ada di sampingnya.
Pemuda itu tersenyum hangat. Mengusap-usap kepala Zeyan pelan. Anak yang kembali ingin memejamkan matanya. Entah kenapa dirinya merasa aman di dekat pria bodoh ini.
"Tidurlah, setelah minum air." Nasehatnya, memberikan segelas air pada Zeyan.
Zeyan mengangguk, meminumnya. Merasakan tangan pemuda ini kembali mengusap kepalanya."Cepatlah sembuh, agar semua orang bisa tersenyum bersamamu. Jangan menyerah karena kami ada untukmu." Kalimat menenangkan darinya.
Terkadang Zeyan tersenyum lirih, sedikit berfikir. Orang ini benar-benar tulus, tidak menginginkan imbalan. Apa dirinya serakah jika ingin posisi ayah durhakanya diganti?
Sedangkan Sesilia yang ikut terbangun perlahan mengenyitkan keningnya."Kamu sedang apa disini?" tanyanya menguap beberapa kali.
"Aku? Menggoda wanita..." jawaban dari Derrick mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
Tewas! Nyawa Sesilia tidak dapat diselamatkan, akibat melihat orang ini menggoda. Maaf maksudnya wanita itu langsung melarikan diri. Tidak ingin dekat-dekat dengan pesona menyilaukan darinya.