Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat

Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat
Meet


__ADS_3

Tombol itu ditekan sang anak, mengambil tissue kala darah mengalir dari hidungnya. Informasi yang dikirimkannya pada Asnee dan Flo, akan bertemu dengan Sesilia di sebuah rumah sakit negri.


Dirinya sudah begitu mengetahui kondisinya sendiri. Badannya panas, mimisan yang semakin sering dialaminya. Terlalu mudah sakit akibat daya tahan tubuhnya yang melemah.


Seorang anak yang hanya meminum air hangat, tiba-tiba terjatuh dari kursi warnet. Dalam kepanikan, dirinya ditidurkan di kursi panjang bagian depan tempat itu. Mengucapkan nomor phonecell Sesilia, itulah yang dilakukannya.


Ibunya akan datang, jika harapan itu tipis tidaklah apa-apa. Tapi dirinya ingin bersama keluarga yang sesungguhnya sebelum akhirnya mati.


Kesadaran yang semakin menurun, suara mobil didengarnya samar. Seorang pemuda berkacamata menggendongnya, membawanya ke rumah sakit bersama Sesilia. Wajah yang berusaha diingatnya, orang yang sering membersihkan ruang rawatnya dulu, kala menjalani rawat inap. Seorang figuran yang hanya menumpang lewat.


"Ibu...aku ingin dirawat di rumah sakit yang sebelumnya," ucapannya lirih, masih dengan kedua orang dewasa itu yang memangkunya.


"Kenapa?" tanya Sesilia menitikkan air matanya, menatap wajah putranya.


"Akan ada kejutan untuk ibu. Jangan pulang untuk mengambil barang-barang ke rumah ayah. Akan ada banyak perhiasan dan pakaian baru untuk ibu nanti, seperti tuan putri. Juga, tinggalkan semuanya di rumah, buang phonecell ibu." Jawaban aneh yang tidak dimengerti oleh Sesilia.


Namun, apapun untuk putranya. Dirinya hanya mengangguk tersenyum lirih. Handphone? Mungkin akan dijualnya untuk biaya pengobatan. Apa putranya sudah muak tinggal di tempat itu? Mungkin saja.


Zeyan kembali batuk beberapa kali. Hingga Derrick mengubah posisi anak berusia lima tahun itu menjadi memeluk tubuhnya. Menepuk-nepuk punggungnya pelan."Keluarkan semua dahaknya." Ucapnya tanpa jijik, memberikan plastik dan tissue untuk meludah.


"Terimakasih!" Hanya itulah yang diucapkan Sesilia dalam tangisan, ada seseorang yang menolongnya di saat seperti ini. Saat-saat terapuh baginya.


Apa Tuhan akan setega itu mengambil putranya? Triton berkata orang tua mereka sudah meninggal, Triton juga meninggal 6 tahun lalu. Dan kini Zeyan? Tidak dapat menerima semua ini, tapi juga tidak tega menatap betapa rapuhnya tubuh itu. Bagaimana putranya menahan rasa sakit.


Mobil yang melaju meninggalkan semuanya. Mengikhlaskan hati yang kembali terluka, tidak ada jalan untuk mengemis pertolongan. Mungkin ini akan menjadi yang terbaik. Berada di sisi yang bersebrangan untuk lebih bahagia.


*

__ADS_1


Kala mobil terhenti, penanganan didapatkan oleh sang anak. Tangisan terdengar dirinya menatap secara langsung. Infus dan peralatan medis lainnya kembali terpasang di tubuh kecil itu. Anak berusia lima tahun yang seharusnya takut pada jarum suntik. Berhadapan dengan infus berkali-kali.


"Aku akan menjual handphone sebentar. Tolong jaga Zeyan." Pinta Sesilia tersenyum pada pemuda di sampingnya.


Pemuda itu menghela napas kasar kemudian mengangguk."Beli minuman dan makanan dulu. Kita akan menjaganya semalaman. Tenangkan diri, dan jangan panik."


"Kamu mau makan apa?" tanya Sesilia menghela napas berkali-kali. Setidaknya putranya sudah mendapatkan penanganan. Ini tidak akan apa-apa, meyakinkan dirinya sendiri untuk menjadi seorang ibu yang lebih tegar.


"Aku ingin makan nasi goreng. Sudah lama tidak makan nasi goreng. Uang wisudaku sudah lunas, jadi tidak apa boros sedikit." Pemuda itu terkekeh, berusaha mencairkan suasana memberikan selembar uang 20.000 rupiah.


Sesilia menghela napas kasar kemudian menggeleng."Aku yang traktir! Terimakasih sudah membantuku."


"Ka... kalau begitu 20.000 ini belikan sari roti rasa choco chips. Zeyan menyukainya." Pemuda itu tiba-tiba mengalihkan pandangan, sedikit melirik kemudian membentak malu."Ma... maksudku! Zeyan kami terkadang bicara. Kami saling mengenal, selain itu tidak boleh menolak. Walaupun sedikit ini bukan untukmu! Tapi untuk Zeyan!"


Ingin rasanya Sesilia menahan tawanya, tapi tetap saja suara tawa itu keluar. Hanya 20.000 tapi orang ini benar-benar tipikal orang aneh yang tidak enak hati.


Salah satu orang itu menatap tidak yakin padanya. Mungkin sudah menyodorkan selembar foto lama ini pada beberapa orang.


Foto masa kecil Triton dan seorang anak perempuan, mungkin mirip dengannya."A...apa kamu mengenal anak dalam foto ini?" tanya seorang pria paruh baya ragu.


Sesilia mengenyitkan keningnya, tidak begitu menggubris. Namun tetap saja, bagaimana bisa ada orang yang membawa foto dirinya dan kakaknya."Ini mirip dengan saya dan almarhum kakak saya..."


"Kakakmu bernama Triton?" tanya pria paruh baya itu. Sesilia mengangguk membenarkan.


"Siapa namamu?" Pria itu kembali memastikan.


"Sesilia..." Satu jawaban yang membuat pasangan itu tiba-tiba memeluknya.

__ADS_1


Dirinya terdiam tidak mengerti sama sekali. Mendengar jeritan tangisan dari mereka. Ini aneh, dua orang yang tidak dikenalnya namun terasa akrab.


"Sesilia! Ayah dan ibu akhirnya menemukanmu!" Teriak Flo, benar-benar menjerit dalam tangisan.


"Ayah dan ibu?" Sesilia mengenyitkan keningnya, tidak mengerti. Sedikit mendorong tubuh mereka hingga pelukan terpisah."Kalian mungkin salah orang, ayah dan ibuku sudah meninggal."


Dua orang itu menggeleng."Jika tidak percaya kita lakukan tes DNA. Aku benar-benar orang tuamu! Apa kamu ingat dulu aku kamu sering duduk di punggungku. Kita pergi ke Beijing, kamu mengatakan menyukai salju. Tapi dingin." Asnee mencoba mengingatkan kenangan masa lalu putrinya. Masa dimana anak berusia tiga tahun belum dapat terlalu banyak bicara.


Ingatan samar, salju? Sesuatu yang mungkin sedikit diingatnya. Dirinya sering tidur di atas perut ibunya karena udara yang terlalu dingin. Kala dirinya terdiam, mencoba meredam emosinya. Saat itulah Flo kembali memeluknya."Putraku sudah tidak ada, tapi putriku masih hidup. Kamu hidup..." gumamnya dalam tangisan.


*


Ada kalanya sesuatu harus di prioritaskan atau tidak. Fabian kini ada di rumah sakit, sudah diduga olehnya Chan akan merencanakan sesuatu. Menghela napas berkali-kali mencoba untuk tenang.


"Tuan," Cakra menunduk memberi hormat.


"Total ada berapa korban. Apa ada yang mati?" tanyanya pada pria paruh baya yang berjalan mengikutinya.


"Pegawai kita cukup cekatan. Tidak ada korban meninggal. Tapi dua orang masih dalam keadaan kritis 26 orang lainnya sudah berada di ruang rawat inap." Jawaban dari Cakra menunduk memberi hormat.


"Aku sudah menunggu mereka menyerang. Tapi tidak tau akan kembali melakukan hal yang sama. Berikan perawatan yang terbaik pada korban. Tangkap karyawan-karyawan yang berkhianat, berikan bukti pada kepolisian melalui rekaman CCTV." Perintah Fabian, kali ini bertindak agresif. Bagaikan rusa yang tidak akan tunduk pada harimau lagi. Tidak selamanya harimau yang akan menang. Ada kalanya rusa yang marah akan menyerang sekuat tenaga dengan tanduknya.


"Majukan rencana. Jika ingin secepatnya memberikan status pada Sesilia dan putra kami, Chan harus secepatnya dihancurkan." Perintah darinya penuh senyuman.


"Tapi ini beresiko---" Kalimat Cakra disela.


"Aku bilang lakukan saja. Mereka perlahan akan berani menyentuh keluargaku. Karena itu biarkan ini menjadi taruhan. Aku atau mereka yang akan mati..." Gumam Fabian penuh senyuman. Senyuman dingin, pertanda dirinya sudah tidak sabaran seperti dulu lagi.

__ADS_1


Bukan orang yang akan tunduk dengan mudah seperti 6 tahun lalu.


__ADS_2