
Enter.
Itulah tombol terakhir yang ditekannya. Hingga hanya game balapan yang terlihat, bersamaan dengan pintu yang terbuka. Fabian mengenyitkan keningnya menghela napas kasar."Jangan main game, sudah malam tidur ya?" pintanya, menggendong putranya.
"Aku sedang mencari uang..." Zeyan memelas, mencium pipi ayahnya.
Seketika wajah yang biasanya dingin itu merah merona, mengecup gemas pipi putranya. Bagaimana bisa ada anak semanis ini? Itulah yang ada dalam benaknya. Benar-benar keturunan dirinya dan Sesilia.
"Sayang koin emas yang ada di game tidak bisa dijadikan uang dunia nyata." Penjelasan lugu dari Fabian. Beranggapan putranya terlalu polos hingga mengira koin yang ada di game dapat ditukar dengan koin dunia nyata.
"Ayah durhaka! Mengira aku bodoh..." batin Zeyan berusaha untuk tersenyum, menahan rasa geramnya. Namun, ada bagusnya juga menjadi anak manis lugu.
"Jadi tidak bisa dijadikan uang?" tanya Zeyan dengan mata berkaca-kaca ingin menangis, benar-benar malaikat lemah, lugu yang tidak tahu apapun tentang dunia.
Dengan cepat Fabian memeluknya erat."Jangan menangis ya? Besok ayah berikan uang jajan. Berapapun Zeyan minta ayah berikan."
Senyuman picik itu kembali menyungging di wajahnya dalam pelukan sang ayah. Jurus ini memang selalu berhasil, tidak pernah gagal sama sekali. Berapapun uang jajan yang diinginkan akan diberikan. Haruskah dirinya meminta mobil baru?
Kriet!
Pintu tiba-tiba terbuka lebar. Sang kepala pelayan menunduk memberi hormat."Tuan seseorang bernama Sesilia datang. Beliau berkata mencari seorang anak laki-laki bernama Zeyan."
"Di...dia datang?" Fabian mengenyitkan keningnya. Wajahnya terlihat gugup, sedikit melirik ke arah cermin. Tetap terlihat tampan tapi tetap saja, rambut acak-acakan dan piyama? Dirinya hanya memakai piyama berbentuk kimono. Terlihat keren tapi tetap saja kurang.
"Zeyan! Tunggu disini! Jangan keluar dulu!" Ucap Fabian pada putranya. Pria yang kemudian berlari bagaikan angin, menuju ke arah kamarnya. Bahkan sempat terjatuh di lorong, lalu kembali berlari secepat kilat.
Sang kepala pelayan dan Zeyan saling melirik. Sesaat kemudian menghela napas bersamaan.
"Apa yang akan ayah lakukan?" Satu pertanyaan dari Zeyan.
"Biasanya dalam keadaan seperti ini dia akan menyemburkan kata-kata kasar, menampar karyawan yang berani mengganggu waktu istirahatnya." Ucap sang kepala pelayan, mengingat betapa kejinya majikannya. Pernah ada kalanya, salah satu teman karib Fabian datang dalam keadaan mabuk, pria itu melemparkannya ke pinggir jalan. Alasan yang sama menggangu waktu istirahatnya.
__ADS_1
Zeyan naik ke atas meja berfikir ibunya akan mendapatkan perlakuan serupa, mengambil pajangan dari porselen dan pisau cutter, memasukkan ke dalam sakunya.
"Tuan muda mau apa?" Kali ini sang kepala pelayan yang bertanya.
"Siap-siap untuk tauran." Anak itu tersenyum bagaikan akan mengikuti syuting film mafia jepang.
"Kenapa aku tidak menyadarinya, tuan kecil (Zeyan) dan tuan muda (Fabian) sama saja." Batin sang kepala pelayan.
*
Apa benar demikian? Percuma anak yang menggunakan piyama bagaikan kostum beruang kecil itu membawa perangkat untuk tauran. Bukan untuk mengambil hal-hal berbahaya Fabian berlari ke kamarnya.
Setelah memilih setelan terbaik miliknya, bahkan menata rambut, entah parfum semewah apa yang dipakainya. Pria itu memasuki ruang tamu bersama dengan putranya.
"Dia seperti ingin menghadiri Grammy award," batin Zeyan melihat penampilan ayahnya.
Tapi senyuman dingin itu terlihat, bagaikan menjaga citra di depan wanita yang duduk meminum teh di hadapannya. Wanita yang terlihat tenang tanpa ekspresi, ibunya terlihat kini bagaikan sosok yang dingin.
Tapi rupa wanita itu semakin cantik saja, semakin terlihat dewasa.
Rasa obsesi itu masih ada ingin memiliki wanita ini. Benar-benar ingin! Perasaan yang membuat dirinya benar-benar gila.
Tapi tetap saja, itu sama sekali tidak terlihat dari luar. Yang ditatap oleh Sesilia kini, seorang pria berpakaian rapi yang menculik anaknya. Tidak peduli seberapa tampannya, kakaknya Triton adalah yang tertampan di dunia ini baginya. Jika saja Triton masih hidup, mungkin orang yang menculik Zeyan ini akan dihajar habis-habisan olehnya.
Pelayan wanita yang menghidangkan cemilan menelan ludahnya. Tuan muda (Fabian) mereka terlihat begitu tampan saat ini. Menebarkan aura dingin yang memikat, sementara wanita ini memiliki wajah dan bentuk tubuh tanpa celah bagaikan melihat lukisan. Bagaimana bisa ada dua manekin yang bergerak disini? Bukan ini malaikat.
Tapi aura permusuhan dari Sesilia benar-benar terasa.
"Jadi anda belum melecehkan putra saya? Jika belum saya masih dapat menahan diri untuk tidak melaporkan pada petugas kepolisian. Tapi jika sudah, penjara seumur hidup setelah membunuh anda sepertinya cukup sepadan." Ucap Sesilia tersenyum, senyuman yang cerah. Tapi kalimat yang ganjil.
"Kamu mengira aku predator anak?" Fabian mengenyitkan keningnya. Suasana yang tidak kondusif tiba-tiba tercipta. Berbeda dengan 6 tahun lalu, wanita lembut yang selalu tersenyum padanya. Bahkan selalu memberi dukungan dan kalimat motivasi. Sekarang mengatakan dirinya adalah predator anak?
__ADS_1
"Bukan? Kalau begitu anda menginginkan tebusan. Tapi maaf saya tidak punya uang yang cukup. Karena itu kembalikan anak saya." Ucap Sesilia, menebarkan aura kebencian yang lebih menyengat lagi.
Langsung merebut Zeyan? Dirinya tidak gila. Ada banyak pria dewasa di rumah ini. Mungkin saja mereka dapat melukai putranya sebelum ibu dan anak itu sempat melarikan diri.
"Sesilia kamu mengira aku akan menculik putraku sendiri?" Fabian mengenyitkan keningnya.
"Wanita yang aku sukai menganggapku penjahat!" Teriak Fabian dalam hati, bingung harus bagaimana pada wanita ini.
"Putramu?" Satu pertanyaan dari Sesilia dijawab dengan anggukan oleh Fabian. Pemuda itu tersenyum, tidak ada yang akan dapat menolak pesonanya. Pria tampan, kaya, memiliki citra baik, termasuk wanita ini.
"Aku ayah dari Zeyan. Karena itu---" Kalimat Fabian disela.
"Kamu b*jingan itu?" Sesilia tiba-tiba tersenyum, mengeluarkan aura kebencian yang lebih tinggi lagi."Aku ingat semuanya, bagaimana aku membukakan pintu untuk orang katanya menumpang berteduh. Kemudian... kemudian! Aku sudah menyuruhmu berhenti tapi tetap saja kamu melakukannya! Pria yang katanya akan menikahiku sambil memegang tanganku agar tidak melawan! Pada pagi hari hanya meninggalkanku dengan sehelai selimut! Dasar s*tan! Buaya! Kuda Nil!"
Kali ini Sesilia lebih murka lagi, entah di level mana tingkat kemarahannya. Sekitar 20 menit wanita itu melanjutkan caciannya. Membuat Fabian benar-benar membeku mendengarkannya. Ini tidak seperti yang ada di komik atau film-film dimana wanita yang sudah dilecehkan pemeran utama hanya dapat menangis kemudian memeluknya. Atau memukul lemah sembari memeluknya. Intinya tetap dipeluk namanya, tentu saja karena ketampanan dan kekayaan, serta sulitnya hidup yang dijalani. Tapi Sesilia memang berbeda, wanita itu baru berhenti setelah memaki selama 20 menit.
"Banyak lagi nama penghuni kebun binatang yang ingin aku ucapkan. Tapi aku tidak ingin membuang-buang waktu." Sesilia menenangkan diri menghela napas kasar. Dirinya sempat trauma dan beberapa kali menemui psikiater bersama kakaknya. Pindah ke tempat yang jauh dan tenang.
Tapi jika difikirkannya sekali lagi, jika peristiwa malam itu tidak terjadi. Zeyan tidak akan lahir ke dunia ini, satu-satunya semangat hidupnya setelah kematian Triton.
"Ibu tidak pernah semarah ini, karena itu. Paman! Ayah! Aku mohon pamit. Terimakasih makanannya." Ucap Zeyan menunduk memberi hormat. Ala Kasim memberi hormat pada kaisar, masih dengan menggunakan piyama bagaikan kostum beruang yang lucu. Membuat semua orang terdiam menahan diri agar tidak memasukkan anak ini ke karung untuk dibawa pulang.
"Kami pamit! Tidak perlu minta maaf atas bertanggung jawab!" Kalimat ketus dan Sesilia.
Fabian tiba-tiba tertawa, tawa tidak wajar menbuat semua orang merinding."Tangkap mereka! Jangan biarkan keluar, sampai hasil tes DNA keluar besok."
Dan benar saja, pelayan menghalangi jalan mereka meninggalkan ruang tamu. Kepala pelayan menghubungi pengawal melalui HT."Perketat penjagaan jangan biarkan satu lalat pun keluar." Perintah dari sang kepala pelayan melalui alat komunikasi.
"Sudah aku duga, ayah adalah orang seperti ini." Gumam Zeyan, menatap senyuman picik ayahnya dan wajah pucat ibunya.
"Mau ice cream?" tanya Fabian penuh senyuman cerah.
__ADS_1