
Dirinya melajukan motornya kala itu setelah meninggalkan Fabian di warung. Seperti biasanya, membawa buah dengan harga paling murah, kali ini membawa buah jambu biji. Ini untuk Zeyan, jujur saja dirinya sudah menyerah dari awal untuk memiliki Sesilia. Karena betapa acuhnya wanita itu, dan juga ini tentang dirimu yang memiliki status rendah.
Tidak sesuai, itulah yang diketahuinya. Mengetahui batasan, tapi tetap saja, menyenangkan menghabiskan waktu dengan ibu dan anak itu walaupun tidak dapat memilikinya.
Hingga pada akhirnya motornya terhenti di area parkir. Seperti biasanya, dirinya melangkah masuk, menyapa ramah pada supir maupun pelayan yang dilewati olehnya.
Zeyan yang tengah meminum lime tea hangat tersenyum padanya. Dirinya berjalan mendekat, menatap anak itu yang memang tengah menggambar sketsa. Menggambar sketsa? Itulah yang dilakukan Zeyan. Dirinya ingin meninggalkan lebih banyak kenangan lagi.
Tidak dapat hidup dengan lama, itu sudah disandari olehnya. Flo, Asnee, maupun Derrick, sempat melakukan tes darah. Namun, tidak sesuai untuk donor, hanya itulah hasil yang mereka dapatkan. Mencari di negara lain? Mungkin itu yang akan dilakukan. Tidak akan putus asa. Jika perlu memberikan bayaran tinggi pada orang yang memiliki sumsum tulang belakang yang sesuai dengan cucu mereka.
Tidak banyak yang dilakukan Zeyan. Tidak seperti dulu, dirinya tidak ingin berurusan dengan Chan lagi. Mungkin karena waktunya semakin tipis untuk menikmati hidup.
Sesilia ada di sana, tidak seperti biasanya yang selalu menghindar. Wanita itu menghidangkan teh untuk Derrick, sembari menatap gambar Zeyan.
Beberapa sketsa telah rampung. Termasuk sketsa yang hampir selesai dikerjakan kali ini.
"Kenapa aku lebih tampan di sketsa buatanmu daripada aslinya?" tanya Derrick mengenyitkan keningnya.
"Paman memang tampan. Ibuku menyukai paman." Jawaban terus terang dari Zeyan, mengetahui dengan pasti tipe ideal Sesilia.
"Jangan bicara sembarangan!" Wanita itu ingin meraih putranya. Tapi dengan cepat Derrick mencegah, membawa Zeyan ke dalam pangkuannya.
"Ibu tiri jahat..." Gumam Derrick penuh senyuman.
"Kalau begitu. Ibu tiri jahat ini akan menyerang kalian!" Sesilia ikut tertawa menggelitiki mereka. Situasi yang berbahaya sejatinya.
Mengapa? Veron... pernah dicintai Sesilia karena sifatnya. Tapi pada kenyataannya Fabian berbeda dengan Veron. Apa cinta dapat terjadi karena degup jantung yang tidak beraturan saja? Tentu saja tidak, cinta dapat tumbuh dari rasa nyaman.
__ADS_1
Benar apa yang dikatakan Jesseline dalam waktu beberapa bulan mungkin saja Sesilia akan menganggap Fabian sebagai masa lalu yang menyakitkan. Harus dilupakan agar dapat menerima hidup baru dengan pria sinting ini.
Fabian terdiam sesaat, mengenyitkan keningnya. Sedangkan pandangan Derrick yang tengah melindungi Zeyan dari Sesilia itu beralih mendengar suara langkah seseorang yang datang.
Pria yang membuatnya kesal ada disini. Tapi mengapa? Apa orang ini mengikutinya?.
"Kamu mengikutiku?" tanya Derrick menatap tidak suka.
"Tidak, yang ada di pangkuanmu adalah putraku." Fabian menghela napas kasar berusaha tersenyum dan bersabar. Yang terpenting sekarang membujuk Sesilia baik-baik.
Mengapa tidak mempermasalahkan pandangan tidak suka Sesilia padanya? Mengapa tidak mempermasalahkan tentang ulat gedebong pisang ini?
Tentu saja karena banyak hal yang difikirkannya belakangan ini. Bagaimana dirinya melecehkan Sesilia, membuatnya menjadi singgel parents, tidak mencegah kematian Triton, bahkan mengecewakan wanita yang bahkan melemparkan harga dirinya agar mendapatkan pertolongan untuk putranya.
Jika Jesseline ada di posisi Sesilia. Mungkin tidak hanya akan mencari pria lain. Tapi mungkin juga membalas dendam.
Karena itu dirinya ingin mendapatkan kesempatan.
"Benar! Tidak mirip!" Tegas Sesilia, kali ini. Siapa yang tidak sakit hati dilecehkan oleh pria tidak bertanggung jawab. Dan setelah berusaha untuk memaafkan, tapi diacuhkan?
Dilecehkan... sejatinya trauma seumur hidup yang membekas. Tidak seperti sesuatu yang romantis dalam drama, dimana seorang pria rupawan dalam pengaruh obat meniduri seorang wanita cantik. Lalu perlahan jatuh cinta.
Tidak semudah itu, Sesilia mengalami trauma berat. Wanita yang masih dalam keadaan perawan saat itu. Harus menghadapi pria buas dalam pengaruh obat. Wajah yang tidak dapat dilihat olehnya, teriakan permintaan ampun yang diindahkan olehnya.
Selama ini dirinya berusaha memaafkan, hanya untuk Zeyan. Berusaha mencintainya kembali, hati yang berdebar bukan apa-apa dibandingkan rasa sakitnya menerima penolakan. Isi fikiran Mulyasari yang dapat dibaca dari kata-katanya ingin memisahkannya dengan Zeyan.
"Aku minta maaf, Zeyan akan bertahan hidup. Aku bersedia untuk---" Kalimat Fabian disela.
__ADS_1
Anak dengan wajah pucat itu tersenyum."Ibuku tidak pernah berkorban untuk hidupku. Aku sudah menyadari segalanya, aku tidak boleh serakah dengan waktu yang diberikan Tuhan. Jadi anda mohon pergi."
Tidak ada lagi panggilan ayah. Mengapa putranya menjadi begitu asing? Dirinya terdiam sesaat, ini mungkin pantas untuknya.
Sedangkan Sesilia mengepalkan tangannya bimbang. Ini harapan Zeyan untuk hidup. Apa dirinya akan melepaskan begitu saja? Ini untuk Zeyan, bukan dirinya.
"Zeyan... tidak boleh begitu pada ayahmu. Dia hanya ingin menolongmu. Zeyan ingin sembuh bukan?" tanya Derrick penuh senyuman. Tidak menyangka dirinya akan terjebak di situasi seperti ini. Sedikit melirik, pria ini bahkan membawa senjata api di balik jasnya. Sesuatu yang sejatinya hanya dilihatnya sekilas.
Bukan takut sejatinya, hanya saja dirinya cemas. Apa ini hanya salah paham? Apa jika ini diluruskan Zeyan akan dapat bertahan?
"Paman pergi ya? Mungkin sebaiknya kalian bicara." Derrick bangkit, mengacak-acak rambut Zeyan. Tapi itu hanya sejenak, pemuda yang berhenti di hadapan Fabian."Berikan senjata api di balik jasmu! Baru bicara dengan mereka."
Fabian mengeluarkan senjata apinya memberikan pada Derrick."Aku hanya bermaksud untuk melindungi mereka. Bukan melukai," ucapnya.
"Berhenti! Paman tidak boleh pergi! Dia bukan orang baik." Suara Zeyan bergetar saat mengucapkannya. Dirinya sudah tahu dari awal bagaimana kejinya orang-orang yang sudah membunuh Triton. Tapi mengapa di kehidupan ini, begitu putus asa meminta bantuan dari Fabian.
"Maaf..." Fabian berlutut di lantai. Berusaha tersenyum, menatap betapa Zeyan membencinya kini. Air matanya mengalir, ini sudah diduga olehnya. Tapi walau bagaimanapun putranya harus hidup. Harus hidup... walaupun dirinya dibenci sekalipun.
"Maaf? Untuk apa?" Wajah anak manis itu tersenyum kini, bahkan mulai tertawa. Lelucon apa lagi yang akan dibuat orang ini?
"Aku tidak dapat dimaafkan. Melecehkan ibumu, membuatnya membesarkanmu seorang diri, aku berjanji akan menebusnya tapi berakhir menyakiti kalian." Jawaban dari Fabian tersenyum dengan bibir bergetar.
Sesilia terdiam, menatap ke arah lain, wanita yang tidak mengatakan apapun padanya. Air mata yang juga mengalir tidak disadari siapapun. Mengapa? Karena putranya... bukan untuk Fabian.
Sedangkan Derrick hanya tertegun, mengepalkan tangannya. Membawa senjata api milik Fabian hendak keluar melalui pintu utama. Satu kesimpulan yang dapat ditariknya, luka memang dapat disembuhkan oleh waktu.
Tapi untuk kebahagiaan, dirinya tidak memiliki waktu sama sekali. Jika saja, dirinya bertemu dengan Sesilia terlebih dahulu. Atau jika saja dirinya dapat menyelamatkan Zeyan.
__ADS_1
Namun, kala dirinya hendak melangkah keluar. Sesuatu mengejutkannya, pria itu tersenyum ramah. Seorang pria paruh baya, yang tersenyum merebut senjata api miliknya.
"Kamu adalah calon menantu pilihanku. Jadi kamu harus aku perkenalkan secara resmi pada ayah biologis Zeyan..." Kalimat penuh senyuman tidak bersalah dari Asnee.