
ARKAN POV
Kediaman Abhimanyu, pagi yang tenang….
Ralat- pagi yang mengganggu ketenangannya
“Yaaaaaaaaaaa… Arkan Delana Abhimanyu….” suara panggilan itu menggelegar memenuhi rumah.
Sungguh penyambut pagi nan cerah yang sangat jauh dari kata lembut. Apalagi suara panggilan itu semakin mendekat ke arahku yang saat ini sedang menikmati minggu tenangku di ruang keluarga, dengan sebuah koran dan secangkir kopi expresso.
Nah, kalau pria tua itu sudah mulai berteriak sekencang begitu – seperti kumpulan pendemo yang tidak puas – atau emak-emak yang menuntut harga kebutuhan pokok diturunkan, maka ketenangan yang aku harapkan bakal menghilang dalam hitungan detik. Pastinya pria tua itu bakalan menghujaniku dengan omelan entah tentang apa itu.
Namun aku memilih pura-pura tidak melihatnya, mendengarnya, apalagi menyahut akan panggilan pria tua itu. Tetap bersikukuh dengan koran yang aku baca.
Yaa abaikan saja pria tua itu Arkan
Begitulah perintah otakku. Sayangnya, otakku yang cerdas melupakan betapa keras kepalanya ketika menginginkan sesuatu.
Tetap saja papah berteriak memanggil namaku. Ya ampun, apalagi yang diinginkan pria tua ini???
“Arkan, berikan papah cucu. Sekarang!!" Teriak papah tepat di depanku.
Pria tua itu merebut koran yang aku baca untuk kemudian menghempaskan bokong keriputnya di sebelahku.
“Yaaakkk Arkan…” teriaknya kembali. Membuat telingaku berdenging akibat suara paru bayanya.
Ishhh, papah ini, dulunya pernah nelan loudspeaker ya, sampai suaranya kencang begitu.
__ADS_1
“Iya, ada apa pah?” tak ada pilihan bagiku selain menyambut panggilannya.
Habisan, berteriak di sebelahku begini, hanya orang tuli saja yang tidak mendengarnya.
“Berikan papah cucu, segera…” ia mengulangi rengekannya.
Aku menahan nafas. Cucu???
Hanya pendengaranku saja atau barusan papah memang berteriak meminta cucu ke arahku???
Sigh, kelihatannya penyakit haus-akan-kehadiran-cucu si pria tua suka kumat akhir-akhir ini. Biasanya sih dimulai dengan memanggil nama lengkapku Arkan Delana Abhimanyu sebagai pertanda bahwa papah cukup kesal untuk mengacaukan hariku, sebelum akhirnya merengek-rengek bak anak kecil yang menginginkan permen.
“Berikan papah cucu yah…..” masih merengek untuk hal yang sama.
Oh my God, dimana pria tua ini kerasukan??? Sampai-sampai meminta cucu segala. Dikiranya memberikan cucu itu perkara mudah apa??? Mudah bagimu papah untuk menuntut demikian, kan papah tinggal teriak-teriak di depan mukaku dengan harapan aku akan sepatuh anak penurut.
Tidak mau,,, aku tidak mau punya anak plus ibunya sekarang, tahun ini, tahun depan, atau beberapa tahun yang akan datang. Terutama, tidak dalam waktu dekat!!!!
“Kenapa??? Kamu bilang kenapa??? “ teriak papah dengan gaya mendramatisir – pretending to be a king of drama,
“Apa kamu tahu semua teman-temanku minimal sudah menggendong dua atau tiga cucu? Kamu bahkan belum memberikan aku seorang cucu….bla…bla….bla….bla…”
Ya ampun, ini semua tentang persaingan rupanya. Oh my Gosh, kelihatannya pria tua ini tidak mau kalah saing dengan temannya. Aish…dasar pria tua tukang saing…
“Kan papah ingin menggendong cucu papah di depan teman-teman papah…” ungkap pria tua itu.
Dan tukang pamer….
__ADS_1
Sebelum papah menulikan telingaku dengan kisah sedih versinya mengenai betapa memalukannya mempunyai anak laki-laki yang sudah berumur namun belum memberikan cucu atau melemparkan ancaman tentang akan mencoretku dari daftar ahli waris jika tidak memenuhi keinginannya.
Aku buru-buru melemparkan balasan, “Maaf pah, aku tidak berminat untuk berkomitmen dalam waktu dekat ini. Aku sibuk sekali”
“Setidaknya bisalah kamu melihat foto-foto ini” ucap papah seraya merogoh kantong kemejanya lalu menghempaskan sejumlah foto di atas meja,
“Semua yang ada di foto ini adalah putri dari teman papah”
Aku memasang wajah datar, “Kalau ada yang foto minimal half *****, aku baru berminat”
“Aishhhh, kamu ini. Sekali-kali tunjukkan minatmu terhadap wanita yang masih memakai baju” nasihatnya kepadaku.
Sorry ya papah, bukannya aku yang tertarik kepada wanita telanjang, melainkan mereka yang berusaha menarikku dengan pose bugil mereka. Dan, aku tipikal pria yang tidak menyia-nyiakan apapun yang ditawarkan dihadapanku.
“Maaf pah, aku tidak berminat. Suruh saja Kak Arion untuk kencan buta” tanpa rasa bersalah aku menyodorkan saja saudara kembarku itu.
Ketika aku menyebutkan kata “Kembar” Jangan bayangkan bahwa kami berdua identik. Tidak selamanya kembar berarti sama, aku dan Kak Arion –
Isshhh sebenarnya malas banget memanggilnya Kakak padahal lahir kami hanya terpaut hitungan menit, adalah bukti nyata kembar bukan berarti identik.
Malahan secara fisik dan karakter kami berdua sangat bertolak belakang, sangat berlawanan bagai bumi dan langit.
Satu-satunya kesamaan kami hanyalah memiliki wajah yang sedap dipandang plus suara yang merdu. Itu warisan yang tidak bisa diganggu gugat.
Hanya saja, Kak Arion lebih mewarisi kecantikan, serta kemolekan mamahku. Tak heran, meskipun pria namun secara fisik kakakku memang secantik dan semolek wanita tulen. Terbukti dengan beberapa pria tertipu mentah oleh wajah cantiknya itu, mereka menggodanya selayaknya menggoda wanita sampai ia menyingkap bagian bawah celana panjangnya dan mempertunjukkan kaki penuh bulunya, jjjiahhh.
Sedangkan aku, lebih mirip papahku di masa muda. Yang berarti berlaku kebalikannya, yakni aku bisa mendapatkan gambaran mengenai rupa masa tuaku – lebih tepatnya seperti apa rupaku di usia akhir lima puluhan, dengan bercermin kepada papah.
__ADS_1
Satu-satunya doaku saat ini adalah semoga saja perut gendut ala papah tidak termasuk dalam kemiripan itu nantinya.
***