
Di tempat berbeda lainnya….
Sebuah tempat yang bahkan tidak diketahui oleh kedua pria tersebut. Setahu keduanya hanyalah sudah berlari cukup jauh entah ke arah mana. Hanya berlari tanpa menoleh…
“Anak laki-laki yang tampan” ujar si pria satu.
“Benar, dia memang setampan ayahnya” balas pria dua. Keduanya merasa sudah cukup jauh sehingga memutuskan untuk istirahat, entah dimana ini.
“Bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan terhadapnya sekarang???” tanya pria satu.
“Tentu saja melindunginya. Dia adalah pewaris kekuasaan, maka ia yang paling diincar saat ini” jelas pria dua.
“Tidak mudah menyembunyikan bocah manis ini, kau tahu itu?” si pria satu berkata.
“Yang benar saja, apa susahnya menyembunyikan seorang bayi” si pria dua tak mempercayai ucapan pria satu.
“Memang musuh-musuh kita tidak mengetahui pasti rupa bayi ini karena ayahnya benar-benar menyembunyikan keberadaannya dengan rapi, tapi si penghianat itu mengetahuinya, ia tahu bahwa bayi ini separuh Indo, dan wajahnya lebih condong ke ibunya yang orang asing. Asia namun bukan Indo” jelas pria satu.
“Ya, kau ada benarnya juga” angguk si pria dua.
__ADS_1
“Tapi kita punya masalah yang lebih mendesak yaitu mengasuh bayi bukanlah keahlian kita. Aku takut ia bisa mati akibat kecerobohanku” ungkap pria satu.
“Kau benar, aku juga tidak pandai. Tapi kita tidak bisa menitipkannya di panti asuhan” ucap pria dua.
“Mengapa?” si pria satu heran.
“Karena setahuku ia masih memiliki saudara perempuan. Ahhh, aku tahu. Kita serahkan saja bayi ini kepada kakaknya”
Dan hanya tangis bayi yang menjawabnya. Membaur dalam kelamnya malam.
***
AQILLA POV
Bahaya mungkin masih mengintaiku. Pria-pria bengis itu pastinya sedang mengubek-ubek seisi kota untuk menemukanku si saksi yang berhasil kabur. Jika mereka tidak berhasil menemukan aku sampai menjelang persidangan – entah kapan itu namun semoga dalam waktu dekat, maka bayang-bayang hukuman mati atau membusuk di penjara memenuhi benak mereka. Pastinya, hari demi hari mereka semakin tidak tenang, kalap, dan gusar menemukanku.
Baguslah, kalian penjahat keji yang pantas mendapatkannya. Aku berharap malam kalian dihantui oleh kegelisahan, hal sama seperti yang aku rasakan belakangan ini.
“Aqilla”
__ADS_1
"Iya” jawabku.
“Madam ingin bicara denganmu”
Aku menatap wanita berbaju merah itu dengan tatapan bingung,
“Ada apa?Mengapa madam sampai memanggilku?” Sampai mengirim seseorang untuk menjemputku pula, di kamar pengasinganku ini.
Sejak kedatanganku kemari, ini pertama kalinya madam Kim ingin bicara denganku. Biasanya ia hanya mendatangi kamarku untuk menyapaku di pagi hari, lalu sisa hari kemudian aku dibiarkan berseliweran di kamar melakukan apapun yang aku inginkan – membuatku merasa seperti Rapunzel saja.
Ada apa ya??? Apa madam Kim memiliki berita terbaru dari pamanku???.
Wanita berbaju merah itu – setahuku namanya Sandra, tidak menjawab pertanyaanku.
Tanpa banyak menjelaskan ia memintaku untuk mengikutinya menuju bangunan utama The Insomnia.
Ya, tempat usaha yang dilakoni oleh madam Kim ini namanya The Insomnia, dan dijalankan diatas sebidang tanah yang lumayan luas. Sehingga bisa terdapat dua bangunan yakni bangunan utama berlantai dua– dimana segala kegiatan prostitusinya berlangsung yang berada di sayap kanan, serta sebuah bangunan tambahan berlantai tiga, yang digunakan sebagai tempat tinggal bagi madam Kim sendiri, para pelayan yang diperkerjakannya, serta para pelaku prostitusi miliknya, dimana bangunannya berada di sayap kiri. Begitu cerita bibi yang kerap mengantarkan makanan untukku. Dan selama seminggu belakangan, aku juga termasuk penghuni disana.
Catat; aku berharap ini hanya menumpang sementara sampai persidangan atas pembunuhan ayahku dan paamn-pamanku digelar . Bukan label prostitusinya yang membuatku tidak nyaman, melainkan aku tidak memiliki kebebasan selama berada disini.
__ADS_1
Sebenarnya aku saksi dalam program perlindungan atau tahanan sih???
***