Antara Aku, Kamu, Dan Bayi Itu

Antara Aku, Kamu, Dan Bayi Itu
Ep. 10


__ADS_3

“Sungguh?”


“Ya, tentu saja. Lagipula disana banyak wanita, mereka pastinya lebih baik dalam mengasuh bayi”


“Yakkk apa kau gila??? Tempat mereka bukanlah tempat yang cocok untuk mengasuh bayi”


“Terus apa kau punya ide yang lebih baik?" Tantang si pria satu.


Si pria dua menggeleng lemah, “Tidak punya..”


“Itu sebabnya aku akan mendatangi tempatnya madam Kim. Aku akan kembali kemari untuk membawa berita selanjutnya, jadi bisakah kau merawat tuan muda untuk sementara waktu…”


“Yakkk apa kau pikir aku seburuk itu. ibunya bayi ini  pernah menyelamatkan keluargaku, jadinya aku akan balas merawat keluarganya sekarang…”


Dan sebuah jari mungil yang menggapai tangan pria satu yang kasar itu menjadi penutup satu hari yang menyedihkan ini.


“Iya, tuan muda. Aku pasti akan menemukan kakaknya tuan muda”  janji pria satu seraya menatap temannya. Si pria dua turut mengangguk.


Satu malam kembali berlalu. Mereka para manusia tidak mengetahui bagaimana benang takdir terpintal. Lihat saja, mereka tidak akan menyadarinya sampai takdir itu menyapa mereka sendiri.


***


ARKAN POV


Bilik nomor enam, The Insomnia…


Tidak ada yang lebih merepotkan selain pengunjung berkantong tebal yang gusar….

__ADS_1


“Yang ini tuan?” tanya wanita penghibur itu. Sebut saja sebagai wanita hijau karena ia memakai baju seksi sewarna apel hijau nan segar. Fresh as freshly picked – tidak ada buah yang lebih segar dari buah yang baru dipetik…


“Bukan…” jawabku singkat


“Yang ini?”


“Bukan juga”


“Atau yang ini tuan?”


Aku menggeleng. Sialan aku sudah menghabiskan lima belas menit di The Insomnia hanya untuk memelototi sejumlah foto wanita yang merupakan para penghibur di tempat ini.


Anehnya, foto wanita misterius itu tidak ada diantara kumpulan tersebut. Andaikata aku tidak merasakan denyut ngilu di asetku sampai saat ini, maka aku akan menganggap kejadian kemarin sebagai khayalanku. Hanya sebuah halusinasi barangkali.


“Apa tidak ada album yang lain???”


“Berapa jumlah penghibur disini?” tanyaku kembali.


“Dua puluh tujuh, ah tidak.. dua puluh delapan termasuk saya, tuan”


Aku membuka kembali album itu, menghitung jumlah fotonya mulai dari halaman satu sampai halaman ke duapuluh delapan. Benar, hanya segitu jumlah mereka.


“Atau masih ada yang lainnya? Yang tidak tercantum disini karena masih pemula. Semacam masih dalam masa training?”


Edgar tertawa sebagai sambutan atas pertanyaanku barusan, “Please deh kak, memangnya girlband”


“Ada tidak?” ku ulangi pertanyaanku.

__ADS_1


“Tidak ada” jawab singkat si wanita hijau.


“Bagaimana dengan pekerja lainnya? Yang bukan penghibur, adakah kalian memiliki fotonya” tanyaku masih ngotot berusaha menemukan si wanita misterius.


Wanita hijau itu terlihat ragu, “Kenapa?” tanyaku kepadanya.


“Memang madam Kim memperkerjakan beberapa pengurus rumah tangga disini, kurang lebih enam orang  namun mereka semuanya seumuran madam. Bahkan satu diantaranya umurnya sudah melampaui angka lima puluh. Apa tuan memang mencari wanita yang…. matang” ucap wanita hijau itu dengan helaan nafas lega karena berhasil menemukan kata yang sesuai alih-alih mengatai aku mencari wanita tua.


“Tidak…” buru-buru Edgar si mesum itu buru-buru membantah.


Ya, tadinya aku berniat kemari sendirian. Sayangnya niatku keburu terbaca oleh monyet satu ini – daya penciuman monyet ini selalu tajam untuk mengendus apapun yang berbau mesum, alhasil aku terpaksa mengajaknya ikut serta. Dan disinilah kami berakhir, bilik enam dengan aku, wanita hijau, monyet mesum, dan setumpuk kekecewaan.


“Kak sudahlah, kita ambil saja salah satu yang ada di album” bujuk si monyet.


“Tidak mau, aku maunya dia”


“Alah, apa bedanya sih kak? Sama-sama wanita ini”


“Aku tidak bisa mengatakan alasannya” bantahku


“Paling karena wanita itu cantik kan?”


“Dia memiliki kecantikan yang unik”


“Unik bagaimana kak?’


***

__ADS_1


__ADS_2