
Tidak ingin membiarkan wanita secantik itu berlalu begitu saja, aku buru-buru menempelkan kedua tanganku ke arah tembok, membentuk sebuah perangkap intim baginya sehingga ia tidak bisa lari kemana-mana.
“Apakah kau sedang menggodaku nona cantik???” rayuku.
Wanita itu mendongak, menatap tajam ke arahku. Busyet, itu jenis tatapan yang bisa membuat sebuah pohon pun tumbang seketika. Namun, tak masalah bagiku, asalkan aku bisa mencicipinya, ia boleh melotot sepuas hati.
“Aku anggap diammu itu sebagai iya” ujarku. Tanpa banyak basa-basi lagi akupun menyambar bibir merahnya yang kelihatan seranum delima matang.
Nyammm, aku merasa wanita ini memiliki bibir yang lezat. Dengan penuh nafsu aku terus mencicipi setiap sudutnya, membiarkan lidahku mulai menari-nari di dalamnya. Mengabsen deretan giginya, menyapunya sampai akhirnya kedua lidah saling bertaut. Dengan terpaksa aku melepaskan pagutanku.
“Aku menyukaimu, berikan namamu supaya aku bisa mencarimu besok malam atau haruskah kita mencari kamar sekarang?” ucapku diantara desahan nafasku. Sepertinya otot tubuhku menegang hanya karena sebuah ciuman.
“Paman sepertinya kau tidak bisa pergi sekarang” ucap wanita itu datar.
Apa??
Paman??
Barusan ia memanggilku paman??
Yaaak, aku belum setua itu, bisa-bisanya kau samakan aku dengan paman keriputan. Untung aku terpikat olehmu, jadi aku akan menganggap tidak pernah mendengarnya.
__ADS_1
“Oho, jadi kau ingin melanjutkan yang tadi. Baiklah, aku akan memuaskanmu” aku mengatakannya dalam nada merayu yang genit. Aku mencondongkan tubuhku berusaha menciumnya. Wanita itu sontak menggunakan tangannya untuk menahan laju tubuhku.
Wanita itu tersenyum, “Kau bohong paman. Sudah jelas kau diburu waktu begitu….”
Aku mengernyitkan alisku, bagaimana bisa wanita ini berpikir demikian??
“Sepertinya paman benar-benar diburu waktu sampai tidak menyadari memakai celana yang salah. Atau paman memang suka pakai thong ya??”
Sumpah, aku bisa mendengar nada mengejek dalam caranya wanita itu berbicara. Ditambah ia mengedikkan matanya untuk memintaku melihat ke arah bawah.
Aku melongok ke bagian bawahku dengan kagetnya, saat mendapati tangan wanita itu sedang menarik sesuatu yang menyembul dari balik celana panjangku.
Apa??
Aku bahkan tidak merasakan adanya tangan yang menelusup ke balik celanaku??
Dia pastinya harus menyusupkan tangannya kan untuk meraih celanaku kan??
Eh, itu bukan celana dalamku. Pantas wanita ini mengiraku terburu-buru. Rupanya alih-alih memakai celana dalamku sendiri, aku malah memakai celana dalam kekasihku semalam. Model thong pula. Sialan…
“Tsk…tsk…tsk… paman kau genit juga” ujar wanita itu.
__ADS_1
Amarah sempat mencapai ubun-ubunku karena lidahnya itu, namun aku berhasil mengendalikannya.
Bukan Arkan namanya kalau tidak bisa membalikkan situasi. Kali ini aku kembali memasang wajah ceria. It’s time to pay back my sweet pumpkin….
“Apa kau mau membantuku melepasnya???” godaku seraya menaikkan salah satu alisku dengan gaya khas.
Wanita yang namanya belum aku ketahui itu mendengus samar, kemudian ia melakukan gerakan tak terduga. Ia menarik kuat thong yang menyembul di balik celana panjangku, menyeretnya sampai ke arah bawah sehingga tubuhku ikut mencondong ke bawah, untuk detik selanjutnya dihantam oleh tendangan lututnya.
Sontak aku tersiap kesakitan – bayangkan saja jerit sakitnya kalau area kemaluanmu mendadak terbentur sesuatu yang setajam sudut meja alias bagian ujung lutut – ishhh sakiitttt pastinya. Aku bisa merasakan asetku berdenyut kesakitan sampai ke ubun-ubun.
Sial….
“Aahhh….”. ucapku kesiap seraya menahan sakit.
Aku termundur selangkah, salah satu tanganku aku tangkupkan ke area tubuh bawahku yang kesakitan, sementara mataku melotot tajam ke arah si wanita kurang asem itu.
“!*&%#%^!#*&@” umpatan lolos dengan mudahnya dari mulutku.
“Aku tidak tertarik kepada perangkat lapukmu paman kecuali untuk menendangnya” ujar wanita itu dengan lancangnya. Dan aku benar-benar membencinya saat ia dengan tampang puas berjalan meninggalkan aku yang meratap kesakitan.
Damn you…
__ADS_1
***