Antara Aku, Kamu, Dan Bayi Itu

Antara Aku, Kamu, Dan Bayi Itu
Ep. 45


__ADS_3

EDRIC POV


“Apa?? Stella diculik??” teriakku kaget.


Bukan ini yang ingin aku dengarkan saat memasuki kamar Aqilla, yang entah mengapa malah terbuka lebar.


Paman Aqilla si Inspektur John bilang Stella akan baik-baik saja, mengapa sekarang aku mendengar kebalikannya.


“Edric” panggil Aqulla, ia menarikku mendekat sebelum akhirnya menyodorkan sebuah pesan, yang ternyata ditulis dalam bahasa Indonesia.


Selama kau diam,


maka kami mendiamkan temanmu


yang menyukai makanan ini


–          K


Aku terbeliak kaget karena pesan tersebut. Sepertinya memang Stella yang diculik kalau melihat nampan berisikan makanan favorit Stella yang diletakkan di atas meja sana.


“Kalau begitu aku bersumpah akan menutup mulutku, asalkan mereka mengembalikan Stella” ucap Aqilla dengan nada sedih. Ia bahkan sampai mengigit bibirnya, hal yang kadang dia lakukan ketika berusaha menahan tangis.


“Aku benaran akan mangkir dari sidang” kembali Aqilla mengucapkan janjinya, yang membuatku tidak bisa berkata apapun. Apa sebenarnya yang ada di benak penjahat itu, sampai tega membuat kedua sahabatku mengalami kesusahan ini.

__ADS_1


“Jangan konyol Aqilla, bukan salahmu Stella diculik. Hanya saja mereka terlalu jahat” geramku kesal.


“Jangan cemas keponakanku. Kami sedang berusaha menyelamatkannya. Kami mendapat petunjuk” sela paman John.


“Kau dengarkan, apa kata pamanmu” ucapku menenangkannya.


“Tapi Ed…” ucap Aqilla ragu.


“Itu sebabnya kau harus bersaksi. Jika mereka sampai menyakiti Stella kita, maka kau yang harus menyeret mereka sehingga membusuk di penjara. Paham!!” ucapku tegas yang dibalas Aqilla dengan anggukan.


“Sebenarnya, sidang kemungkinan tidak akan dilakukan Aqilla” semua menoleh ke arah pria itu. Eh siapa dia??


“Oh, aku belum bilang ya, aku sepupunya Aqilla. Namaku Jerome” sepertinya ia melihat tanda tanya yang terpeta di wajahku. Itu sebabnya ia memperkenalkan dirinya.


“Eh sepupuku??” kelihatannya Aqilla tidak mengenalnya sebelumnya, sama seperti ia tidak mengetahui keberadaan pamannya sebelumnya.


Jangan-jangan dugaan Aqilla bisa menjadi kenyataan. Some how, bisa jadi calon suami yang tak dikenalnya bakal muncul dan mengakuinya.


“Ibunya Jerome adalah yang tertua, menyusul ibunya Aqilla. Aku baru lahir sepuluh tahun kemudian” pamannya Aqilla menjelaskan secara singkat silsilah keluarganya.


“Oya, bagaimana kau bisa berada disini Edric?” tanya kakakku kemudian,


“Mengapa malam-malam kau mendatangi kamarnya Aqilla?”

__ADS_1


Untuk sesaat pertanyaan kakakku itu mengalihkan topik pembicaraan,


“Itu karena bagian resepsionis menghubungi kamarku. Katanya kakakku baru saja mencium wanita dengan hot. Entah mengapa ia meneleponku malam-malam untuk bergosip” protesku kesal.


Aku harus menanyai motif resepsionis itu sampai meneleponku demi gosip teranyar. Apa aku terlihat seperti pria penggosip?? Ishhh…


“Oya, mengapa sidang tidak bisa dilakukan??” tanyaku mengembalikan topik pembicaraan.


“Madam Kim baru mengabarkan mengenai Aqilla dua jam setelah kejadian ke paman John. Itu sebabnya mereka memiliki waktu untuk melenyapkan bukti” cerocos sepupunya Aqilla.


“Tanpa pembuktian maka proses sidang tidak bisa dijalankan. Bagaimana kita bisa melayangkan gugatan pembunuhan, kalau mayat yang diduga dibunuh saja tidak ada?? Mereka membakar lokasi kejadian, sehingga bukti terjadinya pembunuhan sudah rata menjadi abu. Tidak ada dinding yang berlumuran darah yang bisa dibuktikan memakai lumniol. Apalagi mayat ayah dan paman-pamannya Aqilla, entah dimana mereka menyembunyikannya”


“Mengapa mereka menyingkirkan mayatnya?? Kan bisa saja mereka dianggap mati akibat kebakaran. Toh, sepertinya tidak ada yang bisa membuktikan bahwa kebakaran disengaja bukannya kelalaian kan??” aku mendebat Jerome.


“Sebenarnya penjahat tersebut cukup pintar untuk meletakkan sebuah asbak penuh puntung rokok di dekat kasur. Cukup untuk membuat orang berpikir rokok tidak sengaja tersulut saat jatuh ke kasur. Sementara para pemilik rumahnya berhasil meloloskan diri, dan entah berada dimana sekarang. Sedangkan mengenai mati akibat kebakaran, pihak otopsi bisa menjelaskan sebaliknya. Jika mayat tersebut tidak melepuh, itu artinya ia sudah mati terlebih dahulu sebelum dibakar. Lagipula, Aqilla mengatakan semuanya meninggal akibat diberondong tembakan. Akan ada sejumlah peluru yang ditemukan di tubuh mereka, cukup untuk menjadi bukti pembunuhan. Dengan membakarnya, membuatnya terjerat lebih banyak pasal, berusaha menghilangkan barang bukti. Yeah, meskipun mereka sedang melakukannya saat ini” jelas Jerome panjang lebar.


“Dan menurut informasi yang aku dapatkan dari informanku, sepertinya pengikut Klan Gunadhya tidak mengetahui si pengkhianat itu” ralat Jerome saat menyadari Aqilla melotot kepadanya.


Bagiku dan Aqilla namanya terlalu nista untuk disebut, “Sudah bertindak jahat. Ia berdalih bahwa pemimpin mereka beserta ke empat tangan kanannya sedang mengantar Aqilla ke luar negeri. Katanya nona pemimpin mereka berniat melanjutkan sekolah di Swiss, atau entahlah. Pokoknya di daratan Eropa. Jadi tidak ada yang mencurigai hilangnya mereka berlima termasuk Aqilla. Itu sebabnya para penjahat bisa berdalih, bahwa rumahnya Aqilla terbakar sampai habis karena tidak ada penghuninya, kan ceritanya mereka lagi ke luar negeri. Tidak ada yang mencurigakan dari cerita karangan mereka” jelas Jerome panjang lebar .


“Bagaimana dengan orang yang mengantar Seva?? Keduanya kan mengetahui kejadian malam itu” tanyaku yang mendadak teringat dua pria yang pernah mencegatnya di depan gerbang rumah untuk menyerahkan Seva.


Inspektur John mengepalkan tangannya dengan kesal, “Keduanya juga raib. Sebenarnya keduanya hanyalah koki yang dipekerjakan oleh iparku di rumah keduanya; rumahnya Seva. Kebetulan saja salah satu diantara keduanya mendengar rencana jahat si pengkhianat entah dimana. Sehingga keduanya memutuskan untuk membawa kabur Seva sebelum menjadi korban kekejian. Penjahat-penjahat itu mungkin sudah melenyapkan keduanya supaya tidak ada yang bisa membeberkan kejadian malam itu”

__ADS_1


Damn, aku pikir aku sudah cukup muak mendengar secara detil kejahatan mereka, tetap saja masih banyak hal memuakkan yang masih masuk ke telingaku. Sepertinya penjahat-penjahat itu tidak dilengkapi hati nurani selama menjalani hidup. Benar-benar penjahat tulen…


***


__ADS_2