
Pelayan mengangkat sedikit bibir atas Seva, aku menajamkan mataku. Eh benaran tumbuh gigi batinku kaget saat melihat ada butiran putih yang sangat amat kecil di bagian gusi atasnya itu. Benar-benar seperti butiran beras berukuran mini dimataku. Aku menarik gelas es krim milik pelayan.
“Berarti kau tidak boleh memberinya yang manis-manis macam es krim atau giginya bakal berlubang sebelum sempat tumbuh sempurna. Lagian bayi umur tujuh bulan belum cukup umur untuk makanan semacam ini”
“Akkhhhh… khhhaaaaa…. aaaakhhaaaaa...” Yah seperti itulah jeritan protes Seva terdengar di telingaku saat aku menjauhkan es krim darinya.
Ya ampun bayi ini, umur belum nyampai setahun juga, sudah tahu caranya memprotes. Alamat, ini anak bakal segalak Aqilla besarnya.
Sebelum jeritan Seva menarik perhatian pengunjung lainnya, sehingga mereka menyadari betapa ganjilnya dua pria dan seorang bayi duduk saling berhadapan di kedai es krim ini, aku buru-buru mengembalikan es krimnya.
Aku menatap curiga, anak ini kayaknya bakal sepandai Edric dalam membuatku pusing tujuh keliling.
Adikku itu saking pintarnya mengerjai kakaknya, ia sudah menemukan fungsi remote sejak berumur dua tahun atau tiga tahun – aku lupa berapa umurnya saat itu namun ia sudah pandai bicara beberapa patah kata, dengan cara yang unik.
Yang memungkinkan kedua kakaknya menderita akibat pergantian channel. Bayangkan, lazimnya orang memencet remote untuk mengganti channel, Edric memakai metode yang berbeda. Ia melemparkan remote itu ke kepalaku atau kepala Kak Arion.
Saat kami menoleh kesal – siapa yang tidak senewen kalau kepalanya dilempari remote sampai sakit begitu, barulah ia mengeluarkan titahnya,
“anti…(Ganti maksudnya )”. Dan jika ia menginginkan channelnya berganti berulang-ulang maka kepalaku atau kepala Kak Arion bakal benjol akibat dilempari remote olehnya. Sebuah keajaiban kepala kami berdua tidak mengalami rusak permanen akibat ulah setan kecil itu.
Oh jangan tanya aku hal lain yang dilakukan Edric kecil untuk mengerjai kedua kakaknya.Kak Arion sampai senewen tingkat dewa oleh tindakannya itu.
Bayangkan saja, Kak Arion baru saja menaruh baju-baju yang baru dibelinya di atas kasur, lalu Edric mendudukinya. Belum sempat Kak Arion memperingati Edric untuk menjauhi koleksi terbarunya, si setan kecil itu langsung bangkit.
Bedanya, celana Edric dipenuhi rembesan pipis, begitu juga dengan Prada koleksi Arion yang tadinya berbau butik menjadi berbau ompol.
"Dasar anak nakal!!" jerit Kak Arion saat itu dengan nada super tinggi.
Yah, Edric juga melakukan hal serupa terhadap kasurku. Gila semalaman dia tidur di kamarku, ranjangku sudah berubah jadi lautan ompol.
__ADS_1
Aku bergidik ngeri, "Ya ampun cukup sudah satu setan penguasa di rumah, jangan ditambah lagi…." batinku memprotes.
***
AUTHOR POV
Pertemuan tak terduga di tengah jalan…
“Kau, mengapa kau disini??’
“Kau juga, apa yang kau lakukan disini??”
“Yaakkk Monyet, bukannya kau seharusnya sedang duduk di balik kursimu di Jewel” tanya David kepada Edgar.
Olala, ternyata kedua pria tampan ini; si David dan si Edgar terkejut saat secara tidak terduga bertemu di jalan. Padahal seharusnya keduanya saat ini sedang berada di balik kursi kerja mereka untuk membenamkan diri dalam urusan perusaahan yang memusingkan. Semuanya berkat wali mereka Arkan yang bersikeras keduanya terikat disana seharian supaya mulai mengenal perusahaan warisan mereka.
“Kabur, habisan laporan-laporan itu membuatku berkunang-kunang. Kau juga kabur ya??” Edgar mengangguk.
“Kita bolos barengan yuk. Bagaimana kalau kita makan es krim. Tuh dipojok jalan ada kedai es krim”
Dan ketika David mengiyakan ajakannya, keduanya tidak menyangka bakalan menemukan pemandangan yang mengejutkan. Tiada lain, tiada bukan adalah pemandangan Arkan dan pelayan yang sedang bersantai di kedai es krim “Sundae Lovers”, dan what??!!
Mata keduanya semakin membeliak kaget saat melihat ada bayi di pangkuan pelayan. Bayi siapa tuh???
“Dav apakah kau lihat apa yang aku lihat??”
“Aku melihat apa yang kau liat Gar”
“Aku melihat bayi, Dav”
__ADS_1
“Iya…”
“Aku melihat pelayan juga, Dav”
“Iya…”
“Dan, Kak Arkan, kau lihat kan Dav??”
“Iya…”
Edgar menatap jengkel ke Nemo itu. Perasaan, dari tadi dialognya cuma kata IYA doang.
“Aku mau kentut, Dav”
“Iyy… Ehhh” ralat David saat menyadari ia sedang dikerjai oleh temannya si monyet Mesum – yang sekarang lagi menertawainya.
Aishhh…
“Terus apa yang kita lakukan??”
“Kita batalin saja acara makan es krim kita."
“Mending kita mata-matain dua makhluk mencurigakan itu”
“Tiga Dav” ralat Edgar. Acara kabur pun berganti dari ingin makan es krim menjadi memata-matai.
***
Satu demi satu hal yang disembunyikan mulai terkuak. Dua pasang mata itu sudah membuktikannya. Hanya tunggu waktu saja bagi sepasang lainnya untuk mengetahuinya. Namun, masih butuh waktu bagi mereka untuk mendekati kebenaran. Sama halnya mengetahui bayang hitam, yang bahkan tidak disadari sudah mengintai sejak entah kapan. Selalu bersembunyi di balik pandangan, mengikuti tanpa derap, dan tidak megharapkanmu lengah…
__ADS_1