Antara Aku, Kamu, Dan Bayi Itu

Antara Aku, Kamu, Dan Bayi Itu
Ep. 4


__ADS_3

“Yang benar saja. Mereka orang-orang dari dunia hitam yang pastinya tidak akan berlaku lembut kepada anak kecil sepertimu”


“Tapi apa paman lupa, bahwa dalam darahku ini mengalir darah milik pemimpin dunia hitam legendaris Tony Gunadhya dari klan Gunadhya, yang saking legendarisnya membuat orang bergetar saat namanya disebut. Belum lagi aku dibesarkan oleh empat preman paling bengis, yang mengajarkan aku cara membela diri. Beri aku sikat gigi maka aku bisa mengubahnya menjadi senjata mematikan. Aku bahkan sudah belajar menghapus sidik jari sejak masih memegang botol susuku”


“Oh jangan sebut nama iparku itu, hanya membuatku semakin jengkel. Mereka boleh saja membuat orang tua ketakutan, namun apa kau lupa insiden yang baru kau alami nak?" Tanya paman kepadaku yang aku jawab dengan hening,


“Mereka, iparku itu, serta ke empat pengasuh bertato kesayanganmu itu sudah meninggal, dan kau tahu bagaimana mereka meninggal. Sebuah keajaiban kau masih bisa hidup setelah menjadi saksi mata pembunuhan pemimpin dunia hitam. Apa kau tahu adik perempuanku, ibumu juga meninggal karena berada di sisi ayahmu?”


Oh paman teganya kau mengatakan hal itu. Ya ampun, apa kau tidak tahu betapa teririsnya hatiku jika kau mengingatkan aku akan  kejadian tragis yang menimpa ayahku. Bahkan kejadian mengerikan itu belum berumur sehari sehingga suara tembakan, suara teriakan ayah yang menyuruhku lari, paman-pamanku yang menjadi pelindung bagiku, menjadikan tubuh mereka sebagai sasaran peluru, tawa keji pria-pria berwajah bengis itu masih memenuhi pendengaranku, pikiranku.


FLASHBACK ON


Semua kejadian itu berlangsung dengan sangat cepat, sampai aku kesusahan mencernanya. Terakhir yang aku ingat adalah, kami sedang menikmati makan malam bersama, lalu pintu rumah didobrak oleh sekumpulan pria bengis yang memegang senjata.


Suara percakapan penuh ceria kami berganti oleh suara desingan peluru. Salah satu paman yang mengasuhku menarikku menjauhi baku tembak. Namun mataku masih merekam bagaimana peluru membolongi dada ayahku yang masih dalam posisi duduk.

__ADS_1


“Ayah!!” jeritku.


Paman semakin menarikku menjauh, mengabaikan sikap merontaku yang ingin berlari menuju ayahku. Darah merembesi tubuh ayahku.


"Ayah!!" teriakku kembali.


Ayah…


Ayah….


Ayah…


"Ayah.." jerit hatiku namun tidak ada yang keluar dari bibirku kala itu. Hanya, setitik air mata menetesi pipiku.


Lalu semua berubah, scene tembak-tembakan berganti menjadi acara kejar-kejaran di padatnya jalanan. Paman berhasil mengelabui mereka. Namun ia sempat tertembak akibat berondongan peluru yang diarahkan ke arah mobil kami yang melaju cepat.

__ADS_1


Tak pelak, ketika kesadaran paman menurun akibat lukanya, ia tersungkur di kemudi mobil, dan mobil yang kami tumpangi mendadak kehilangan kendali. Mobil kami sampai menghantam pembatas jalan.


Sebuah keberanianlah yang akhirnya menyematkan nyawaku. Dengan keadaan jiwa tergoncang, aku buru-buru keluar dari mobil ringsek itu. Sebelum tertembak paman masih sempat berteriak menyebutkan nama sebuah tempat yang harus aku datangi jika aku berhasil lolos dari ini.


Dan, kesanalah aku menuju. Ke arah rumah bordil milik madam Kim.


FLASHBACK OFF


Andaikan aku wanita yang lemah, mungkin sekarang aku sedang menangis dengan rapuhnya. Tapi aku adalah putri dari ayahku, aku adalah wanita yang tangguh. Aku berjanji ayah, tangisan tidak akan menetes dari pipiku. Aku janji….


Selanjutnya aku hanya mendengar sambil lalu percakapan pamanku John Bachtiar – ya begitulah ia menyebut nama lengkapnya, dan madam Kim mengenai rencana keduanya untuk menyembunyikan aku di tempatnya madam Kim ini.


Lihat saja ayah, aku akan memastikan mereka semua berakhir di ujung tembakan kematian. Sama sepertimu ayah, sama seperti kalian paman.


***

__ADS_1


__ADS_2