
“Apa kau yakin nona???” tanyanya sangsi saat aku mengutarakan keinginanku untuk meminjam ponselnya. Aku ingin menghubungi seseorang.
Aku mengangguk. Aku ingin melakukan ini bukannya karena aku tidak peduli terhadap keselamatanku. Hanya saja aku sudah terisolir tanpa mengetahui kabar di luar. Begitu pula dengan teman-temanku di luar sana.
Kedua teman baikku Stella dan Edric tidak tahu apa yang terjadi kepadaku. Secara selepas berhasil kabur dari pembantaian itu, aku langsung disembunyikan oleh madam di The Insomnia ini. Dan begitu madam berhasil mengkontak pamanku – aku bahkan tidak bertanya kepada Madam bagaimana ia mengetahui mengenai pamanku itu, giliran pamanku yang menyita semua gadget yang aku miliki yakni sebuah ponsel yang kebetulan memang ada di dalam sakuku, juga ia memastikan ATMku, serta kartu kreditku diblokir.
Kata paman, apapun yang membuatku mudah untuk dilacak bakal disingkirkan olehnya. Itu sebabnya aku mengatakan benar-benar terisolir.
“Madam akan membunuhku nona kalau sampai ia mengetahuinya”
“Maaf, aku benar-benar harus menghubungi temanku. Aku tidak ingin mereka merasa cemas” aku menyodorkan tanganku kepada Sandra, memintanya untuk meminjamkan ponselnya.
Ya ampun bahkan madam Kim pun memastikan aku tidak menyentuh gadget dalam bentuk apapun. Makanya sekarang aku berusaha membujuk Sandra untuk meminjamkannya. Masalah mengembalikannya, bisa dipikir belakangan.
Mendadak Sandra menaruh tangannya di atas lenganku,
“Sssttt” bisiknya.
__ADS_1
Ada apa??
Apa ada orang yang sedang menuju kemari??
Aku ikut menajamkan telingaku. Benar saja samar-samar aku mendengar suara daun terinjak, ranting juga.
Aku menyeret Sandra untuk menyembunyikan diri di balik pohon yang kebetulan berada di dekat kami berdua. Sandra berjongkok, kepalanya dimiringkan sedikit untuk mengintip dari balik pohon.
Untunglah, malam ini kami memakai baju yang berbaur dalam gelap, jadinya kami tidak perlu khawatir langsung ketahuan. Aku mengikuti gerakan mengintip. Mataku menangkap sosok dua orang pria yang sedang mengendap-endap.
Emm, si tinggi berambut panjang, dan si pendek botak. Siapa keduanya???
Mengapa mengendap-endap kemari???
Anehnya ada sesuatu dari perawakan mereka yang mengganggu benakku saat ini, sepertinya aku melewatkan sesuatu yang penting, dan aku tidak tahu apa itu.
“Maksudmu si kembar menyebalkan itu???” sontak aku teringat ucapan salah satu pamanku dalam sebuah percakapan yang pernah terjadi sebelumnya. Entah mengapa percakapan tersebut mendadak melintasi pikiranku. Sepertinya, ada sesuatu yang sontak memicunya.
__ADS_1
“Iya, kembar aneh itu membuat ulah semalam” dan gerutuan pamanku yang lainnya pun terulang kembali dalam benakku menyerupai Flashback ala benakku.
“Kenapa disebut kembar aneh???” tanyaku saat itu yang kebetulan berada di dekat keduanya.
“Karena mereka tidak terlihat seperti anak kembar Darling. Yang satu tinggi, berambut gondrong, dan bermuka lonjong. Yang satuannya pendek, botak, berwajah bulat telur” jawab pamanku saat itu.
Aku membungkam mulutku untuk mencegah diriku berteriak kaget. Benar juga, aku ingat sekarang, mengapa postur berlawanan mereka mengganggu benakku.
Jangan-jangan kedua pria itu – yang mengendap-endap di depan mataku saat ini, adalah si kembar menyebalkan yang disebutkan paman dalam percakapan saat itu. Dan seingatku paman juga menyebutkan bahwa keduanya...
Astaga keduanya kan anak buahnya si pengkhianat – saking nistanya aku enggan untuk menyebut namanya – toh nama penghianat memang pantas baginya.
Aku mencolek Sandra, batal sudah keinginanku untuk menghubungi Stella dan Edric. Ada hal lebih mendesak yang harus aku lakukan saat ini.
Lima menit kemudian, di kamar madam Kim disitulah aku dan Sandra berada.
***
__ADS_1