Antara Aku, Kamu, Dan Bayi Itu

Antara Aku, Kamu, Dan Bayi Itu
Ep. 56


__ADS_3

Sepupuku Jerome mengabaikan tatapan heranku, juga tatapan tak percaya paman mesum, dan memilih mengambil kura-kura itu dari kardus, lalu meletakkannya di kolong meja yang berada di dekat ranjangku.


“Chip tersebut memungkinkan ada pendeteksi sidik jari di lapisan atas Kevlarnya, jadi siapapun yang sidik jarinya tak terdaftar dalam data chip alias orang asing, yang menyentuh Ddangkoma maka alarmnya akan terpicu untuk berbunyi. Itu sebabnya paman membuatnya menjadi lebih canggih, sekarang siapapun yang profilnya tidak ada dalam data chip terus mendekat ke arah Ddangko, maka chip akan menandainya sebagai penyusup, otomatis alarmnya akan berbunyi kencang, lumayan untuk membangunkan warga sekampung” ucap Jerome sedikit lebay di bagian akhir ucapannya.


“Kau serius??” aku masih tidak mempercayai penjelasannya barusan. Jangan-jangan pertempuran tadi membuatnya gegar otak dan mendadak meracau begini.


“Tidak, Ddangkoma memang dirancang sebagai pengganti anjing penjaga kok. Makanya tidak semua orang bisa mendekati kamar paman John, karena DDangkoma selalu berada di kolong ranjangnya. Untungnya aku keponakannya, makanya profilku dimasukkan ke data chip. Btw, alarmnya sekaligus terhubung dengan kepolisian. Akan ada polisi yang langsung menuju kemari ketika alarm berbunyi. Hey, Aqilla, apakah paman mesummu, si tuan Arkan ini perlu kita masukkan profilnya ke data?? Sehingga tidak dianggap orang asing.  Atau biarkan saja sebagai orang asing sehingga jika ia mendekatimu dengan niat mesumnya, satu hotel dan pihak kepolisian akan mengetahuinya” entah Jerome bertanya atau bercanda.


Aku tertawa mendengarnya, sementara Paman mesum memilih melempari bantal ke sepupuku.


“Aku penjaganya tauk, aku yang menjaganya setiap malam” ucap paman mesum sewot.


“Alah modus, bilang saja mau barengan sama sepupuku” bantah Kak Jerome.


“Aqilla, aku tidak suka melihatnya sebebas ini. Seharusnya ia menikahimu dulu baru bisa masuk ke kamarmu, atau sebaiknya aku menyeretnya ke altar pernikahan setelah kasus??” tanya Jerome sengaja memakai bahasa Indonesia.


“Yakk kalian bicara dalam bahasa apa???” bentak paman mesum. Kami mengabaikannya.


“Tenang saja aku bisa menjaga diriku dari tangannya kalau itu maksudmu”


“Oya, aku sudah menaruh saudaranya kura-kura ini di kamarnya Seva, sekarang ia bukan hanya punya pelayan sebagai penjaga,  ia juga punya kura-kura penjaga. Kayaknya yang di Seva itu Ddangkomi sedangkan yang ini Ddangkoming dah, sama-sama kelihatan kayak kura-kura dimataku. Untunglah paman memasukkan teknologi keamanan ke trio kura-kura peliharaannya” ucap Jerome.


Ya ampun, ternyata paman John ku sama parnonya seperti ke empat pamanku kalau menyangkut keamanan, sampai mengubah peliharaannya sebegitunya. Tsk…tsk…tsk..


“Yakkk jelaskan kepadaku, kalian bicara apa???” protes paman mesum karena tidak memahami percakapan antara aku dan sepupuku. Hihihihihi, kasian dah elo paman.

__ADS_1


Tengah malam…


YAKKK PENYUSUP JELEK PERGI KAU!! WAHAI PENYUSUP JELEK PERGILAH KAU DARI SINI. HUSSS…HUSS…HUSS…. NGUING…NGUING…NGUING…


Sontak suara bising itu membangunkanku serta paman mesum yang tertidur di sofa – sebenarnya ia ingin dengan mesumnya tidur di satu ranjang denganku, namun sebuah lemparan bantal menghalangi niatnya.


“Apa ini??” teriak paman mesum. Namun aku tak sempat menjawabnya karena aku melihat seseorang berdiri terperangah di dekat ranjangku. Astaga, itu penyusup.


Aku lantas melemparkan bantalku ke arah mukanya, semacam pengalih untuk membuatnya lengah. Namun penyusup itu dengan sigap menghindar. Rupanya, ia sudah sepenuhnya pulih dari rasa kagetnya akibat mendengar alarm ala saudaranya Ddangkoma. Ia mengarahkan tokalevnya ke arah tubuhku. Sebelum ia sempat menarik pelatuknya, juga sebelum aku meraih bantal sebagai tamengku, sebuah badan menabrak tubuh penjahat itu. Kemudian suara letusan tokalev terdengar berbarengan dengan suara rubuh dua orang yang jatuh. Salah satunya paman mesum. Oh my…


Aku bergegas berlari ke arah tersebut, bantal yang aku raih sebelumnya aku lemparkan ke arah penyusup itu yang berusaha menyingkirkan badan paman yang menindih tubuhnya. Aku berhasil mengibaskan bantalku ke pergelangan tangannya sehingga membuat tokalev itu terlepas dari genggamannya, lalu dengan gesitnya kakiku menendang benda besi itu sampai meluncur menjauhi posisi kami berdua. Karena, kalau aku menunduk memungutnya sama saja memberinya kesempatan untuk menyerangku.


Penyusup itu bangkit lalu mulai menyerangku dengan jab dan tendangan. Aku menangkisnya. Untuk sejenak aku fokus kepadanya alih-alih ke tubuh paman mesum yang terbaring di lantai.


Damn, penyusup ini bertubuh mungil untuk ukuran pria namun ilmu beladirinya bagus sekali, sabuk hitam sepertinya. Karena ia dengan mudahnya mematahkan seranganku. Aku melakukan tendangan menjegal ke kakinya. Berhasil, ia terjatuh. Namun ia berhasil bangun dalam sekejap dengan sebuah gerakan. Sial, pria ini tangguh juga.


Gawat, kalau yang datang adalah ketiga anak kaya itu atau pelayan maka itu menyudutkan posisiku. Karena ada banyak pria yang bisa ditawan oleh si penyusup.


Teriakan mereka mengalihkan fokusku sehingga sebuah jab yang diarahkan sang penyusup ke rusuk di bagian bawah dadaku lolos, membuatku merintih sakit. Ia kembali melancarkan serangan bertubi-tubi yang membuatku semakin terpojok sampai akhirnya sebuah pukulan membuatku mental sampai menabrak meja di sudut ranjang. Tubuhku mendadak diserang rasa sakit akibat bagian ujung mejanya tepat mengenai rusuk bawah dadaku. Ouchhhh….


Detik selanjutnya tubuhku pun merosot di tepian meja, sementara kepalaku membentur lampu tidur sampai menjadikannya oleng. Pria itu mencabut lampu tersebut dan hendak menghantamnya ke arah kepalaku. Untungnya mataku menangkap sekilas DDangkoma yang diletakkan Kak Jerome di kolong meja. Aku bergegas meraihnya dan melempar ke arah penyusup itu. Di saat yang bersamaan hantaman keras kap lampu di tubuhku membuatku menjerit kesakitan. Berbaur dengan suara teriakan perih si penyusup yang mungkin mengalami pelipis robek akibat hantaman tubuh Ddangkoming atau Ddangkomi mungkin. Entahlah.


Dorrr…. Sebuah tembakan dilepaskan. Diikuti oleh suara jatuhnya si penyusup sampai tersungkur di lantai.


“Itu untuk ayahku brengsek…” itu suara umpatan. Aku melihatnya sedang mengarahkan tokalev milik si penyusup yang aku singkirkan tadi.

__ADS_1


“Kau??”


Pria itu mengabaikan panggilanku, ia berjalan mendekati tubuh si penyusup yang tersungkur di lantai,


“Ini untuk Aqilla, bayi kesayangan ayahku” umpat Stiltskin kembali seraya menendang tubuh pingsan itu. Memang tidak ada pengaruhnya karena penyusup sudah tak sadarkan diri. Namun itu sepertinya membuat dia lebih tenang. Urat-urat di seputaran lehernya mulai mengendur seketika.


“Arkan!!” jerit Arion yang saat itu berdiri  dekat pintu, seraya menumpangkan satu tangannya di pundak Edgar, satu tangan lagi di bagian perut,


“Arkan… aku merasakannya… kesakitan” jeritnya terengah. Oh sial, aku lupa kalau paman mesum masih terbaring.


“Panggil ambulance!!” teriakku,


“Cepat!! Aku merasakan sesak nafas…” ucap Arion sebelum akhirnya rubuh ke lantai.


“Kak…” itu teriakan Edgar kaget karena Arion mendadak tak sadarkan diri.


Semuanya mendadak terasa seperti hitungan detik saat aku membalikkan tubuh paman yang kini berlumuran darah di bagian perutnya.


“Paman…”  teriakku pilu seperti saat aku meneriakkan ayahku ketika tragedi itu terjadi. Namun paman juga seperti ayah, ia tidak menjawab. Aku menggoncangnya,


“Paman… Paman…bangun paman mesum…” teriakku. Mengabaikan semua hiruk pikuk yang mendadak memenuhi kamarku.


Aku terus memukul dadanya, “Bangun paman mesumku.. aku tahu kau bisa mendengarku. Bangun….” Aku tetap meneriakkan itu meskipun Kak Jeromememegang erat kedua tanganku saat para medis mengangkut tubuh paman. Aku mengalihkan kepalaku untuk bersandar di tubuh sepupuku.


“Kau harus menghajarnya sepupuku kalau ia menolak untuk bangun….kau…kita…harus…” dan aku tidak bisa berkata apapun akibat larut dalam isakan tangisku. Paman bangunlah….

__ADS_1


“Ssshhh… shhhh…” hanya itu penghiburan yang terdengar di telingaku. Tidak, aku mau suara mesum pamanku….


***


__ADS_2