Antara Aku, Kamu, Dan Bayi Itu

Antara Aku, Kamu, Dan Bayi Itu
Ep. 38


__ADS_3

AQILLA POV


Aku harusnya bernafas lega sekarang bukannya marah ke paman mesum itu. Andaikata mulutnya tidak ember begitu, pastinya aku dan Edric masih harus pontang-panting menyembunyikan Seva.


“Dasar paman mulutnya bawel” bisikku mengejeknya.


Saat ini semua pria di ruangan ini sepakat untuk membantu aku dan Edric untuk menyembunyikan Seva. Mereka bahkan tidak bertanya alasannya sampai adikku terpaksa disembunyikan begini. Benar-benar orang-orang yang baik.


“Biarin, berminat membungkamku?? Pakai ciuman??” balas si paman mesum dalam nada pelan


Kalau sudah begitu aku memilih mengabaikannya. Habis keki juga kalau setiap hari mendengarnya semesum itu. Barangkali kalau aku diamkan, paman mesum itu bakal berhenti dengan sendirinya.


Aku kembali memfokuskan perhatianku ke rapat dadakan yang sedang berlangsung. Sepertinya mereka sedang mendiskusikan jadwal untuk Seva mulai dari jam makan sampai jam mandi.


“Tidak mau…” protes Edgar.


“Aishhh, kenapa memangnya??” tanya Arion dongkol.


“Pokoknya aku mau dikasih jatah untuk mengajak Seva jalan-jalan. Harus…”


“Yaaa kenapa kau sebegitu ngototnya??” kali ini paman mesum yang bertanya.


David mengangkat tangannya, “Aku tahu…”


“Apa??” tanya Edric.


“Paling si Edgar mau pakai Seva sebagai pemikat wanita. Kan kalau kita menggendong bayi, banyak wanita suka dekat-dekat kita” jawab David.


“Aaaaah, modus rupanya” Arion mengangguk paham.


“Bagaimana kalau kita dandani Seva seperti wanita. Aku sudah lihat kok, Seva kelihatan imut…” usul David.


Ariin sontak tertarik mendengarnya, “Sungguh?? Baiklah aku setuju. Aku yang dandani yah. Sudah lebih dari lima belas tahun aku tidak melakukannya”


Edric tergelak, “Yang benar saja kak. Kan kakak masih ngotot menjadikanku wanita sampai umurku tujuh tahun. Umurku baru tujuh belas, berarti baru sepuluh tahun kaleee”

__ADS_1


“Whatever, pokoknya kita lakukan sesuai jadwal. Deal…”


Busyet dah, semua kepala main mengangguk saja. Termasuk pelayan yang juga di ikutsertakan dalam rapat. Kok tidak ada yang bertanya padaku, apa aku meng-acc jadwal itu atau tidak??


Yah, itu artinya aku hanya harus menurut keputusan terbanyak dong.


***


ARKAN POV


Tidak disangka sudah dua minggu berlalu semenjak Seva berada di rumah. Dan semuanya hanya bisa memandang takjub makhluk bertubuh kecil itu dengan tatapan


“Ya ampun bagaimana bisa makhluk sekecil ini bisa menyusahkan enam pria dewasa??”


Entah itu anak mendapat sumber energi darimana karena ia selalu selincah itu. David bahkan mengeluarkan pendapat bahwa kalaupun Seva dilepas di lapangan sepakbola yang luas, pastinya semua bagian lapangan sepakbola tersebut bisa diputarinya.


Dan, untuk sekali ini rasanya kami sependapat dengan ikan Nemo itu. Ternyata keputusanku untuk tidak memiliki anak adalah keputusan yang tepat. Mengejar bayi melata lebih menguras energi daripada mengejar wanita.


Sekertaris mengetuk pintu ruang kerjaku,


“Aqilla” ucapku kaget saat mendapati Aqilla berada di balik tubuh sekertarisku.


“Ada apa??" Tanyaku.


“Tidak, aku kebetulan lewat sini, makanya mampir”


Aku memberi isyarat supaya sekertarisku keluar ruangan. Bukan kedatangannya yang membuatku bingung, melainkan caranya berdandan yang membuatku bertanya-tanya.


Wanita itu menyamarkan rambut sebahunya dengan menyelipkannya di balik topi. Terus ia memakai kacamata hitam, lengkap dengan pakaian yang lebih pantas dipakai pria ketimbang wanita. Ia terlihat tomboy sekarang.


“Kenapa kau berpenampilan begini??” tanyaku heran.


“Menghindari pengagumku” jawabnya santai bahkan terkesan bercanda.


“Tumben kau keluar. Ada apa??”

__ADS_1


“Oh baiklah aku akan mengaku. Aku terpaksa diungsikan kemari sama Kak Arion”


“Kenapa??”


“Lho belum tahu ya, pipa rumah ada yang bocor. Makanya semua bagian rumah mau dibongkar”


“Eh?? Terus barangnya Seva yang lain mana?? Tidak dibawa??” soalnya Aqilla hanya membawa sebuah tas biru ukuran sedang.


Aqilla mengedikkan bahu, “Katanya, Kak Arion sama pelayan yang mengurusnya. Toh barang Seva tidak banyak, jadi mudah disingkirkan”


Dan dia memanggil kakak ke kembaranku, sementara ia memanggil paman mesum kepadaku pikirku muram. Entah mengapa aku tidak menyukainya.


Aku melangkah menuju pintu kerjaku, nyaris aku lupa menguncinya. Bukannya mau bertindak mesum lho, hanya berjaga-jaga takutnya papahku memutuskan untuk mengunjungi secara mendadak.


Untungnya wanita itu tidak menyadarinya saking sibuknya mengganti diapers Seva di sofa yang menjadi bagian dari set meja tamuku.


“Sini aku buangkan” aku menawarkan diri untuk membuang diapers bekasnya Seva. Busyet bau sekali popoknya ini.


“Kalau begitu kalian diam disini saja. Kalau Seva mengantuk baringkan saja di kasurku”


“Kasur?? Dimana??" Tanya Aqilla.


Aku beranjak kembali dari dudukku, membuka sebuah pintu penghubung yang berada tak jauh dari meja tamuku.


“Eh, ada kamar tidurnya ya??” ucap Aqilla takjub.


“Aku kadangkala harus lembur. Makanya di Blue Sapphire, ruanganku ada kamar tidurnya. Ada kamar mandinya juga" Aku berjalan memasuki kamar tersebut dan meraih kenop salah satu pintu yang ada di dalam ruangan tersebut.


“Tada, dapur mini, pegawaiku biasanya memenuhi stok kulkasnya dengan makanan, kau mau apa??”


“Tidak." Jawab Aqilla.


“Tinggal saja disini ya. Kebetulan aku lembur hari ini, kalau ada kalian berdua setidaknya aku tidak merasa stress. Ada hiburan gitu”


“Oke…”

__ADS_1


***


__ADS_2