Antara Aku, Kamu, Dan Bayi Itu

Antara Aku, Kamu, Dan Bayi Itu
Ep. 29


__ADS_3

“Kenapa belum tidur?? Sudah malam ini??” tanyaku. Seingatku anak bayi tidak ada yang begadang – atau aku memang tidak mengingatnya karena aku tidak pernah bersingunggan dengan bayi sebelumnya.


“Mana aku tahu, anaknya yang tidak mau tidur”


“Nyanyikan saja lagu”


“Isssh kak, seperti kakak tidak tahu Seva saja. Yang ada ia malah merayu kita balik dengan tatapan kayak puppy eyesnya si ikan asin. Supaya kita mengajaknya main”


“Kenapa bukan denganmu saja mainnya??”


“Aku ada homework kak” Alah alasannya saja, paling kau mau main PSP.


“Aqilla??” aku menanyakan wanita itu.


“Lagi jadi model dadakannya Kak Arion. Tauk disuruh pakai baju aneh apa sama dia”


Alhasil, aku harus membatalkan jadwal santai-santaiku demi seorang bayi yang sedari tadi menghasilkan banyak iler.


“Tidak mau, aku tidak mau menjaga makhluk itu” tolakku mentah-mentah.


“Ya udah kakak pilih mana, jagain Seva atau kerjakan homework aku??” si Evil memberiku opsi, mana keduanya sama tidak enaknya.


“Mana homework mu?? Sini aku kerjakan…”


Setengah jam kemudian aku berubah pikiran. Seharusnya aku memilih menjaga Seva kalau tahu homeworknya menyangkut rumus matematika nan jelimet begini.


Aku menatap sebal saat melihat Edric sedang asik bermain dengan Seva. Si bayi itu sibuk melata kesana kemari, lengkap dengan cekikikan riangnya akibat Edric yang berpura-pura mengejarnya. Aku salah pilih rasanya….

__ADS_1


“Seva…” panggil Edric yang dibalas oleh Seva dengan tatapan mata besarnya. Sepertinya anak itu setiap kali ada yang memanggilnya, atau takjub akan benda baru, ia suka membeliakan mata besarnya itu sampai seakan-akan nyaris keluar. Cute juga.


“Mana wajah gemes???” aku mengernyit bingung. Itu bahasa mana yang dipakai Edric??


Namun aku tersenyum saat Seva merespon ucapan Edric,  dalam posisi duduk bocah itu mendadak melekatkan kedua sikunya ke arah perut sementara kedua tangannya di kepal. Lalu ekspresi wajahnya dibentuk entah itu antara geregetan atau ngeden. Pokoknya lucu sekali. Edric saja sampai ketawa karenanya.


“Apa yang kau ucapkan barusan Edric??”


“Oh itu, aku memintanya memperlihatkan wajah saat gemas” Pantasan Seva memasang wajah macam itu.


“Lihat ini kak” kata Edric, ia lalu menepuk tangannya untuk mendapat perhatian Seva,


“Aunty style, mana aunty stylenya Seva??”


Hah??? Apaan tuh aunty style???


Ohh, maksudnya gaya ala tante-tante saat kesal toh, yang suka ber Aishhh ria. Anak ini lucu juga ya. Anak yang sangat manis dan menyenangkan.


“Seva… mana aunty stylenya” aku ikut-ikutan bermain dengan bayi manis itu.


Ia menjawabku dengan membalikkan badannya. Memberiku pemandangan bagian belakangnya, lalu melata menjauhi aku. Aishhh, anak yang tidak menyenangkan…


Menyesal aku ikut main…


***


ARKAN POV

__ADS_1


Edric selalu menemukan cara baru untuk membuatku darting alias darah tinggi. Dan menjadikan kamar mandi pribadiku sebagai lahan mencuci sekaligus menjemur pakaian milik Seva adalah siksaannya yang sudah dilancarkannya sejak hari kedua bayi itu berada disini.


“Laundry saja Ed”


“Kak, masa pakaian bayi dilaundry. Bikin malu saja”


“Terus kau mau menyuruh pelayan disini mencucinya dan menjemurnya di kamar mandiku???”


“Iya…”


Setelah percakapan itu, resmi sudah kamar mandiku berubah menjadi laundry mini untuk Seva. Apalagi tidak ada pelayan yang berani menyentuh kamarku termasuk area pribadiku itu selama ini kecuali aku memang memanggil mereka untuk membersihkannya. Sehingga setan kecil itu merasa kamar mandiku adalah tempat yang cocok untuk kegiatan cuci-mencuci ilegal mereka. Hah sungguh ironis, area tak terjamahku berhasil direbut oleh bayi.


Aku tahu bahwa pagi ini seperti biasanya pelayan bakal memasuki kamarku dengan membawa setumpuk cucian kotornya Seva – Demi Tuhan membayangkan pelayan itu mencuci cucian berbau pesing atau berlumuran feces bayi di kamar mandiku saja sudah membuat kulitku gatal.


Anehnya pelayan gila itu mau saja disuruh-suruh oleh pasangan setan-guminho itu. Lagaknya sudah mirip David yang mengekori Aqilla lengkap dengan tatapan memujanya.


Nah, tatapan memuja itulah yang membuatku akhirnya memaksa David untuk berangkat kerja ke HaE corporation; perusahaan milik ayahnya dari pagi sampai sore dengan alasan ia harus mulai belajar menjalankan usaha warisannya.


Pusing aku melihatnya mengekori Aqilla seharian. Entah pusing karena kesal atau karena cemburu??


Aku tidak berani menjawabnya, karena aku takut cemburu adalah jawabannya.


***



SEVA MARCELLO GUNADHYA👆👆

__ADS_1


__ADS_2