Antara Aku, Kamu, Dan Bayi Itu

Antara Aku, Kamu, Dan Bayi Itu
Ep. 50


__ADS_3

JOHN BACHTIAR POV


Di **********


Aku John, dengan ditemani Dangkoma kesayanganku, berpendapat bahwa kadangkala beberapa tempat memang harus dirahasiakan keberadaannya, apalagi kalau di tempat tersebut sedang berlangsung rapat rahasia yang hanya dihadiri oleh segelintir orang bermulut rapat – atau dalam kamusku anak-anak buah kepercayaanku.


Aku memilih melakukan demikian karena aku mencurigai tembok-tembok di kepolisian bisa mencuri dengar. Daripada rencana kami ini tercuri dengar sebelum kami berhasil melaksanakannya, kami harus puas dengan tempat ini. Damn, aku harus segera menemukan si mata-mata itu secepat mungkin, A.S.A.P.


Sayangnya rapat digemparkan oleh kehadiran trio kwek-kwek yang main mendobrak pintu masuk ke ruang rapat.


“Apa yang kau lakukan Jerome??” bentakku kesal saat mendapati kedatangannya bersama dua wanita membuntutinya dari arah belakang.


Ehh.. aku harus meralatnya, menjadi seorang wanita saat menyadari yang satunya adalah wanita jadi-jadian.


Yah, tiada lain tiada bukan Jerome, Aqilla, serta Edric lah trio kwek-kwek yang menerobos masuk. Padahal aku dan anak buah pilihanku sedang merundingkan misi penyelamatan nona Stella. Kalau beruntung, misi ini bisa membawa kami ke tempat mereka menyembunyikan mayat iparku.


“Mereka ngotot untuk ikut paman. Selamat paman, kau mendapat keponakan yang sekeras kepala seperti dirimu” Jerome bahkan memberikan tepuk tangan.


Isshhh, tau anak ini bakal membelot begini, aku suruh ibunya masukkin dia kembali ke dalam perut pas baru lahir.

__ADS_1


“Aku bisa membela diri dan menunjukkan jalan” Aqilla menekankan pada bagian menunjukkan jalan.


“Please ikutkan aku paman John” Aku menoleh ke makhluk satuannya.


Busyet… ternyata penggila PSP ini cantik juga kalau jadi wanita. Sampai beberapa anak buahku pun terkecoh serta meneteskan air liur. Aku mengambil Dangkomaku – kura-kura peliharaan sekaligus senjataku – karena bagian tempurung Ddangko sudah  dilapisi Kevlar dan dipasangi chip berteknologi tinggi sehingga anti peluru, anti pecah, dan yang paling penting anti maling , lalu aku lempar si mungil Ddangkoma dengan gerakan tembakan memutar ala Anjelina Jolie dalam film WANTED, sampai akhirnya tubuh Dangkoma mengenai kepala-kepala anak buahku yang ileran, lalu setelah perputaran berakhir Dangkoma kembali ke tanganku.


Fokus dong. Masa sama pria aja ileran begitu????


“Wow kau keren paman polisi” puji Edric.


Aku mengabaikannya, aku menunjuk salah satu anak buahku. “Kau, bawa bocah PSP ini dan kurung di sel khusus, demi keamanan banyak pihak”


“Masa?? Dimana kau biasa bertarung??” tanyaku sangsi.


Anehnya Jerome tersenyum mencurigakan saat mendengar dialog ini.


Krnapa?? Ada yang salah dengan ucapank??


“Game Playstation 3” jawabnya polos yang membuatku menggeram kesal. Kalau saja aku tidak ingat ayahnya adalah orang berpengaruh di Korea mungkin aku bakalan timpuk itu anak. Takutnya nanti kalau ayahnya – yang dengar-dengar punya koneksi dengan menteri Pertahanan Republik Korea Selatan, ngamuk-ngamuk, yang ada nantinya persenjataan di divisiku diganti menjadi pistol air. Gawat kan….

__ADS_1


Yah, masih untung kalau diganti sama pistol air. Bagaimana kalau putra Hyundai ini sampai terserempet peluru? Alamat pasukanku bakal melawan penjahat memakai ketapel.


Bayangkan saja repotnya setiap kali harus mengisi batu dulu sebelum membidiknya ke arah penjahat. Atau, parahnya rompi anti peluru kami diganti dengan jas hujan.


“Kurung dia” aku mengulangi perintahku.


Sementara Aqilla aku tarik, “Seseorang carikan rompi anti peluru untuk tubuh mungil ini, sekalian senjata. Kau mau apa dibekali apa sayang???” tanyaku santai seakan-akan menanyakan bekal untuk sekolah bukannya senjata.


But, aku tahu sejarah keponakanku ini. Beri saja ia sikat gigi, ia bisa mengubahnya menjadi mematikan. Keempat penjaganya yang bertato dengan menyimpangnya telah mengajarkan Aqilla memakai senjata sejak masih anak-anak.


Ya Tuhan, aku bahkan tidak berani memikirkan pelajaran ala gangster apalagi yang dijejalkan oleh penjaga bertatto kepadanya, yang pastinya tidak melibatkan sikap santun ala Lady.


Kayaknya aku harus mulai berpikir untuk mencari sekolah kepribadian untuk Aqilla.


Tuh kan dugaanku benar, dengan entengnya ia meminta senapan mesin ringan MP5A5.


Yaakkk, bagaimana anak kecil sepertimu meminta senjata yang digunakan pasukan khusus.


Sigh, sepertinya seusai kasus ini aku benaran bakalan memasukkannya ke sekolah kepribadian.

__ADS_1


***


__ADS_2