
“Apa? Apa kau yakin nona” tanya madam yang turut terkejut juga.
Mungkin di dalam pikirannya, tempatnya inilah yang paling aman bagiku untuk bersembunyi. Itu sebabnya madam Kim bersikeras untuk menyembunyikanku disini, alih-alih membiarkan pamanku yang menyembunyikanku.
Aku mendapat kesan, sepertinya hubungan ayahku dan madam Kim sangat akrab, namun aku menduga tidak banyak orang yang mengetahui jalinan keakraban keduanya. Bahkan sepertinya madam Kim yakin jika si penghianat juga tidak mengetahuinya.
Well, dugaan madam meleset rupanya. Buktinya anjing-anjing buduk si penghianat berhasil mengendus kemari.
“Sepertinya aku sependapat dengan nona, madam. Keduanya mengendap-endap begitu. Pastinya keduanya berusaha mencari jejak nona disini secara diam-diam, iyakan???” ungkap Sandra.
Madam mengangguk setuju, “Ya, tidak ada pengunjung di tempatku ini yang mengendap-endap sebelumnya, pastinya mereka lewat pintu depan, kecuali keduanya memiliki maksud terselubung”
“Bagaimana ini madam?” tanya Sandra.
Madam, buru-buru menuju lemarinya “Aku mau kau membawanya keluar Sandra. Sekarang juga. Inapkan nona di salah satu hotel sementara aku aku memanggil penjaga untuk menangkap kedua penyusup itu. Aku juga akan berusaha menghubungi pamannya sesegera mungkin”
Madam Kim menghampiriku, menyampirkan sebuah jubah hitam di tubuhku,
“Pakai ini” ucapnya, lalu ia menyelipkan sesuatu.
“Ini adalah identitas milik putriku, kau pakai saja untuk sementara waktu. Kartu kreditnya juga, kau bisa gunakan”
Hah putri??
Aku tidak tahu kalau madam Kim mempunyai putri.
__ADS_1
“Aku bisa menceritakannya kapan-kapan saat senggang. Sekarang kau harus segera kabur nona” ucap madam lembut, lalu ia menatap Sandra,
“Cepat…” perintahnya.
Dan Sandra pun menyeretku menjauhi kamar madam. Wanita berbaju hijau tua itu menyeretku dengan tergesa-gesa. Memaksaku untuk menyamai langkah kakinya – agak sulit untuk aku lakukan dengan kaki pendekku ini.
Namun, aku tak mengeluh. Apapun asalkan kedua pria yang aku curigai sebagai bawahan si pengkhianat tidak menemukanku disini, aku akan mengikuti semua kemauan Sandra.
“Sial…” sebuah umpatan lolos dari bibirnya itu,
“Kenapa bannya malah kempes…” gerutunya kembali.
Sementara itu aku hanya berdiri terdiam di belakangnya. Kata dia aku haruslah sediam tembok – sebenarnya sih sediam kuburan adalah pepatah yang benar, namun kuburan terlalu menyeramkan makanya dia menggantinya dengan sediam tembok.
Aku mendengar derap langkah seorang menuju arah kami, sontak aku memegang erat pena yang aku pegang sedari tadi. Aku tidak sempat meraih benda tajam di sekitarku sebagai senjataku, hanya pena ini yang sempat aku jangkau. Tidak masalah, asalkan aku memiliki sesuatu sebagai senjataku, hanya sekadar berjaga-jaga.
“Tuan muda….” Aku mendengar Sandra menyapa si pemilik derap langkah tersebut.
Langkah itu berhenti. Sandra menyeretku bersamanya, sepertinya mengikuti langkah pria itu.
Namun pria itu mengabaikan kami dan berlalu begitu saja. Itu terlihat dari bagaimana Sandra membuat aku terpaksa diseret lagi olehnya. Akhirnya kami berhenti di depan sebuah mobil mewah
“Tuan muda apa apakah anda mau pulang?” tanya Sandra sengaja mengeluarkan nada menggoda.
Sebuah dengusan menjawab pertanyaannya Idih, sepertinya tuan muda yang disapa Sandra sangat jauh dari kata ramah.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan disini???” tanyanya.
Ya ampun, suaranya saja sedingin kuburan tengah malam. Tapi, kenapa rasanya suaranya tidak asing ya??
Terdengar familiar??
“Kak…” sebuah suara kembali tertangkap olehku. Suara Pria juga.
“Aisssh, mengapa kau meninggalkanku kak…” omelnya,
“Dan siapa namamu nona cantik” suaranya berubah melembut dalam sekejap. Sepertinya ia menyadari keberadaan Sandra.
“Tuan muda, sepertinya mobil kami bermasalah, bisakah kami menumpang” pinta Sandra
“Ada apa?” tanya pria yang baru datang itu,
“Kalian mau kemana?” tanyanya penasaran.
“Madam memintaku untuk mengantar paket ini…” Aku bisa merasakan Sandra sedang menunjukku meskipun tudung yang aku pakai menyulitkanku untuk melihat sekitar.
Ya, Sandra memaksaku memakai jubah itu lengkap dengan tudungnya. Jadinya hanya tanah di bawah kakiku saja yang berada dalam jarak pandangku akibat tudungnya besar sekali. Untungnya jubahnya itu pas badan denganku.
“Ohhhh….”
***
__ADS_1