Antara Aku, Kamu, Dan Bayi Itu

Antara Aku, Kamu, Dan Bayi Itu
Ep. 42


__ADS_3

ARKAN POV


Saat menutup pintu kamarku sebuah pikiran melintas dibenakku, sebenarnya aku merasa ada yang aneh dengan pelayan itu.


Pertama, aku tidak mengenalnya, padahal seharusnya aku menghapal semua pegawai yang aku pekerjakan. Seharusnya sih begitu karena aku memang memiliki kemampuan yang bagus dalam mengingat seseorang.  Dan dalam kasusku, aku berani sumpah kalau aku memang mengingat seluruh pekerja di Blue Sapphire yang masih aktif hingga saat ini.


Some how, pria itu tidak terlihat seperti pelayan hotel sini. Atau mungkin saja ia adalah pelayan baru. Aku rasa ia memang pelayan baru disini. Dan seorang pelayan yang cakap, mengingat aku menangkap kesan ia sangatlah biasa seakan-akan ia sanggup berbaur dengan furnitur saat memasuki sebuah ruangan.


Aku harus mencari tahu tentangnya. But, ada hal lain yang menarik minatku sekarang, aku tersenyum lebar…


“Ngapain malam-malam kemari??” bentak Aqilla saat mengetahui akulah orang yang mengetuk pintu kamarnya. Look at her, a grumpy girl say hello to me….


Seharusnya aku tahu itu. Sejak kapan aku bisa mengharapkan wanita mungil ini menyapaku semanis madu.


Ia pernah melakukannya sekali, yang akhirnya membuat wajah tampanku coreng moreng. Ironisnya terhadap si setan kecil itu, wanita mungil ini selalu menyembunyikan durinya.


Kepada Kak Arion, bahkan kepada David, dan Edgar pun ia bersikap manis. Hanya kepadaku ia memasang duri tajamnya. Yakkk, si monyet kan sama mesumnya denganku, kenapa kau bersikap tidak adil begitu. Seharusnya sesama pelaku mesum mendapat perlakuan adil. Aishhh….


“Pelayan mengantarkan pesananmu ke kamarku, mereka mengirim ke kamar yang salah babe. Sebagai orang jujur aku merasa harus membenarkannya” Aqilla mendengus seraya memutar bola matanya pertanda tak percaya.


“Modus, aku tidak mempercayainya” ia mulai memegang pintunya dengan posisi hendak menutup.


“Sungguh. Setidaknya kau bisa mengeceknya sendiri” aku menyodorkan nampan yang aku pegang sedari tadi. Pegal tauk…

__ADS_1


“Come on Aqilla, nampan ini tidak akan menggigitmu” bujukku.


Wanita itu memandangku penuh pertimbangan, ia menyerah oleh bujukanku. Ia meraih nampan itu dan membukanya.


“Itu makanan kesukaanmu ya???” tanyaku


Ia mengangguk, “Aku suka, tapi bukan makanan kesukaanku. Ini makanan kesukaan temanku Stella. Kami bertiga bersama Edric adalah sahabat baik”


“Andai aku tahu Edric punya sahabat secantikmu  babe, aku akan membujuknya untuk mengundangmu. Apa kau yakin kau sahabatnya? Adikku tidak pernah bercerita tentangmu”


“Hahaha, tentu saja tidak. Sebagai sahabat yang baik ia tidak akan menyodorkan temannya ke pria mesum sepertimu” sindirnya telak.


“Boleh aku masuk. Aku juga tertarik mencicipinya??” aku sampai meminjam tatapan andalan ikan setengah matang itu. Aneh juga ikan kok punya tatapan mata ala puppy??


Mungkin itulah alasanku mulai menyukai wanita ini. Tak mudah untuk didapatkan. Bukan karena sok jual mahal, namun karena ia memang segalak mawar berduri.


But, sesuatu yang didapatkan dengan usahalah yang membuatnya berarti. Right??


“Eh lihat, ada pesan di bawah piringnya” Ketika aku menggeser posisi piringnya, mataku secara tidak sengaja menangkap adanya  secarik kertas terselip di bagian bawahnya. Aku mengambilnya, berusaha membacanya namun hanya membuat keningku berkerut, bahasa mana ini??


“Pesan?? Apa tulisannya??”


“Entahlah, tertulis dalam bahasa yang tidak aku pahami”

__ADS_1


Aqilla mengambil kertas tersebut, membacanya dan….


Aku terperangah saat melihat tubuh mungilnya mendadak rubuh seperti balok-balok yang tersusun rapuh yang tak sengaja tersenggol.


"Aqilla!" teriakku


***


AUTHOR POV


Gedung terbengkalai, kembali kepada pria itu, a secret guardian…


Pergantian selalu menjadi celah bagi kejahatan. Dan situasi baru saja membuktikannya. Pria itu berlari dengan kencangnya menuruni deretan tangga, menyeberangi jalanan, untuk mencapai gedung seberang.


Ia sudah mengirim kode hitam kepada temannya yang berada di dalam gedung yang sekarang menjadi tujuannya itu. Semoga saja si penjaga disana sudah bertindak lebih dulu. Tidak ada gunanya menangisi susu yang tumpah, sekarang antisipasi dari kemungkinan terburuk lah yang bisa ia lakukan.


Sang saksi bukan sekadar sang saksi. Ia adalah kenangan hidup akan seseorang yang dicintainya. Matanya, dan senyumannya, benar-benar mengingatkan aku kepada sosok yang telah tiada; kakak kesayanganku. Dan aku berharap kenangan hidup itu tidak berakhir pada kematian. Pria itu mengucapkan harapannya itu dalam jeritan benaknya.


Sementara itu di Blue Sapphire, dengan pria yang berbeda…


Aku membenci penyusup sebesar tikus umpat pria itu seraya berlari menuju kamar sang saksi. Semoga saja pembunuh sialan itu tidak melakukan apapun selain menggores pintu dengan cakarnya.


Sesampai di tempat tujuan, semua kewaspadaan memenuhi pori-pori tubuhnya, dengan siaga tangannya mulai meraba senjata yang disimpannya di balik baju. Dengan mata mengawasi seluruh penjuru, mengendus bahaya yang mungkin mengintai, tangan pria itu menyentuh benda dingin yang mematikan tersebut. Dan ia pun memasuki kamar tersebut ; kamar Aqilla.

__ADS_1


***


__ADS_2