
ARKAN POV
Kamar Aqilla, di tengah kebingungan…
Pikiranku terbelah antara ingin mengurai maksud pesan berbahasa asing itu dengan ingin menyadarkan Aqilla yang entah mengapa jatuh pingsan.
Pasti ada sesuatu yang terlewatkan oleh mataku sehingga tidak mengetahui alasan pingsannya Aqilla.
Tubuh wanita mungil itu aku angkat dari lantai, untuk kemudian aku baringkan perlahan di kasur.
Aku baru saja melepaskan gendonganku dari Aqilla saat suara itu mengejutkanku ,
“Lepaskan nona itu!!” sebuah suara dingin merayap di balik pundakku.
Aku memutar kepalaku, dan aku semakin terkejut saat melihat seorang pria tengah berdiri tak jauh dari arah berdiriku, ia berdiri dengan menodongkan senjata.
Apa ini?? batinku mempertanyakannya.
“Menjauh dari nona, angkat tanganmu” perintah pria itu kembali.
“Siapa kau? Sebaiknya kau pergi sebelum aku memanggil keamanan” gertakku.
“Keamanan? Siapa kau?” pria itu balik bertanya. Namun senjata tetap terarah ke mukaku.
“Kau bukan Arion Abhimanyu pastinya, dan bukan Edric Abhimanyu juga”
__ADS_1
Aku terperanjat kaget, pria ini tahu mengenai kedua saudaraku. Siapa dia??
“Bagaimana kau yakin aku bukan salah salah satu dari mereka?” aku melayangkan tantangan.
“Mereka bilang Arion Abhimanyu berwajah cantik. Kau tidak cantik”
Damn aku tidak tahu apakah perkataannnya itu sebuah ejekan bagiku atau tidak??
“Sedangkan Edric Abhimanyu dikenal sebagai penggila PSP, ia selalu membawa PSP sebagai identitas pengenalnya. Kau siapa?” lanjut pria itu, masih mempertanyakan identitasku.
Sungguh menyebalkan, ia mengetahui kedua saudaraku dan ia tidak tahu siapa aku. Apakah aku sebegitu kupernya dibandingkan mereka??Sigh.
“Kau siapa? Mengapa kau tahu mengenai mereka?” aku balik bertanya sebagai bentuk rasa jengkelku.
“Aku tidak akan membongkar identitasku sampai kau membukanya”
“Ya, mungkin saja”
“Yaaak, apa kau gila?” bentakku kesal, sampai melupakan ada benda mengerikan yang diarahkan tepat ke dadaku. Sedikit tarikan darinya, maka berakhirlah riwayatku.
Kelihatannya kami terlalu asik dengan perdebatan kami sampai tidak menyadari keadaan sekelilingnya. Saat ia baru mau mendebatku dengan entah argumen apa, sebuah bantal mendadak melayang di depan mataku dan matanya. Lebih dekat ke matanya, karena detik selanjutnya bantal itu mendarat dimukanya, menutupi pandangannya sejenak. Aku menganggap itu sebagai kesempatan untuk melumpuhkannya, namun sekelebat bayangan mendahuluiku.
Aku terkesiap kaget saat menyadari bahwa sekelebat bayangan itu ternyata sosok Aqilla. Lebih terkejut lagi – mendekati serangan jantungan rasanya, melihat Aqilla malah berebutan senjata dengan pria itu.
Apakah aku hanya salah lihat atau memang itu Aqilla yang sedang berkelahi dengan si pria asing??
__ADS_1
Darimana ia mempelajari ilmu beladiri sebagus itu??
Kalau ia memang ahli beladiri, mengapa selama ini aku tidak mengetahuinya??
Dan mengapa selama ini aku mudah melumpuhkannya??
Jika memang wanita di depanku ini adalah Aqilla yang aku kenal.
Eh, Aqilla berhasil. Ia berhasil merebut senjata pria itu. Posisi berubah, sekarang pria asing itu yang berada dalam jarak tembak, oleh senjatanya sendiri pula.
“Tokalev?? Masih dalam jangkauan tanganku” gumam Aqilla.
Eh, dia tahu jenis senjata itu??
Kok bisa??
“Berarti kau memang Aqilla Gunadhya, kau sesuai dengan cerita mereka” ucap si pria asing sambil tersenyum.
“Benar, aku Aqilla Gunadhya. Siapa kau?? Apa kau yang menahan Stella?? Dimana dia??” bentak Aqilla meradang.
Ini kesempatan, mumpung Aqilla masih mengalihkan perhatian pria itu kepadanya, aku memanfaatkan kesempatan itu untuk meminta bantuan. Aku hanya harus mengulurkan secara diam-diam tanganku ke arah telepon yang dibelakangku. Dan menekan beberapa tombol yang berarti kode merah; kode bahaya.
“Aku juga diajarkan memegang senjata sejak kecil. Setelah ayahku meninggalkan, waliku John Bachtiar yang melatihku. Kau tahu siapa dia kan??” pria itu bertanya.
Aku rasa Aqilla mengenali pria itu karena ia mendadak menurunkan kewaspadaannya sedikit. Aku buru-buru menekan tombol terakhir. Bantuan akan datang, tunggu saja…
__ADS_1
***