
Aku menghabiskan setengah jamku untuk memerintahkan sekertarisku supaya melarang siapapun mendekati ruanganku, kecuali aku sudah memberi persetujuan, karena aku beralasan butuh kesendirian untuk bekerja – yah untungnya ruanganku terpisah sendiri. Serta beberapa instruksi lainnya.
Juga mengabari kembaranku bahwa untuk malam ini biar Aqilla dan Seva menginap di Blue sapphire. Pemberitahuannya cuma semenit, tapi pengucapan janji kepada kakakku itu yang makan waktu sampai lima belasan menit.
Issh kelihatannya kakakku itu tahu kalau aku suka main buser alias buru sergap Aqilla, makanya sebelum aku berjanji tidak melakukan ini, itu, dan lain-lainnya terhadap Aqilla, barulah ijin diturunkan.
Gila, bagaimana kalau aku berniat mengajak Aqilla kencan, yang ada aku bakalan disuruh mentaati deretan perjanjian sepanjang aliran sungai Nil.
Tsk…tsk…tsk…
Eh??
Mengapa aku mendadak kepikiran kencan dengannya?? – pikiran itu aku berusaha mengabaikannya.
Dan aku menghabiskan sepuluh menit selanjutnya bersama Aqilla untuk menata ulang perabotku – hanya bagian dimana meja tamu dan sofaku diletakkan, sehingga meja ruang tamu akhirnya berderet bersebelahan dengan sofa, serta menempel ke dinding. Menciptakan sebuah ruang lapang di tengah ruang kerjaku, yang sesuai untuk tempat bermain sementara Seva.
Selanjutnya, Aqilla berusaha sebisa mungkin supaya ia dan Seva tidak menggangguku yang sibuk berkutat dengan pekerjaan. Ia bermain dengan Seva sambil bisik-bisik.
Yang untungnya yang diajak main, baik-baik saja walaupun diajak main sambil bisik begitu. Mana ia tidak komplain saat hanya memainkan setumpukan permen, wafer, serta beberapa bungkus roti yang diambil Aqilla dari kulkasku.
Murah amat ini anak, cukup bermodalkan cemilan saja sudah bisa main sendiri. Jadinya, tidak perlu susah payah membelikan mainan mahal. Aku tersenyum karenanya…
Dua jam kemudian aku melepas lembaran pekerjaanku, meregangkan tubuh bagian atasku untuk mengendurkan otot-ototku yang tegang , lalu mendongak ke arah Aqilla. Eh dia sudah tidur rupanya.
Ia berbaring miring dengan posisi punggung menghadap ke arahku. Aku tidak melihat Seva, jadi aku menduga bayi itu mungkin tertidur di dekapan Aqilla, yang memang tidak terlihat dari posisiku saat ini.
Dugaanku salah, ternyata detik kemudian aku melihat kepala Seva menyembul untuk kemudian merayapi tubuh kakaknya. Oh my gosh…
__ADS_1
Aku segera menghampirinya, dan berusaha menggendongnya. Ya ampun Seva, kau pikir kakakmu itu tebing panjatan apa.
Sontak aku dikejutkan oleh gerakan Seva yang malah mendorong kepalanya ke belakang. Untungnya aku menggendongnya dengan mantap. Kalau tidak, bisa jadi tubuh Seva meluncur ke lantai dengan arah kepala duluan.
Isshhh, kenapa ini anak menggeliat begini. Jangan-jangan ia tidak mau aku gendong.
Dengan jengkel akibat ditolak – tidak adik tidak kakak sama saja – dua-duanya selalu menolakku, aku menurunkannya kembali ke lantai.
Baru saja aku letakkan, bahkan pantatnya belum menyentuh permadani benar, Seva pun merebah untuk selanjutnya melata menuju tubuh kakaknya.
Sebelum Aqilla jadi sarana panjat memanjat Seva, aku menggendong wanita itu dan membaringkannya di sofa. Si Seva membuntuti langkahku dari belakang, seakan-akan ada ulat penuh iler melata di belakangku.
Bayi yang keras kepala, ia tetap berusaha meraih tubuh kakaknya, tidak peduli seberapa kerasnya aku menghalanginya. Aku sampai menawarkan tumpukan permen sebagai sogokan, ia meraupnya lalu membuangnya, dan kembali melata menujo sofa.
Aku menariknya menjauh, ia kembali melata menuju arah yang sama. Aku kembalikan ia ke posisi awal, eh dia malah memutar badannya dan kembali melata menuju Sofa. Ya ampun Seva, kau jauh lebih keras kepala dibandingkan sekumpulan para pemegang saham.
***
Aku tidak sadar kalau jatuh tertidur. Bangun-bangun aku lebih dikejutkan lagi oleh sofa yang menopang tubuhku.
Lho, aku kok bisa tertidur di sofa??
Eh Seva mana??
Aku mengedarkan pandanganku, mataku tertumbuk ke arah permadani, dimana paman mesum tertidur dengan pulasnya, sementara Seva tertidur tidak jauh darinya, dengan posisi andalannya yakni tengkurap.
Aku mendekati Seva terlebih dahulu, memasangkan selimut supaya adik laki-lakiku yang hiperaktif itu tidak kedinginan. Barulah aku mendekati paman mesum. Berhubung aku hanya membawa selimut bayi, jadi aku harus puas menyelimuti paman dengan selimut cadangan milik Seva.
__ADS_1
“Sudah bangun??” suara paman mesum yang bertanya membuatku kaget.
Eh sudah bangun ini paman mesum. Aku mendadak canggung, habisnya aku masih dalam posisi berusaha menyelimuti dadanya.
Ia tergelak, "Aqilla apa kau berusaha menyelimutiku dengan selimut Seva?”
Aku mengangguk, “Habis tidak ada selimut lagi”
“Apa dia tidur?” Si paman mesum menanyakan keadaan Seva.
“Iya, pulas”
“Anak itu memang susah ditidurkan yah?”
Aku tersenyum, “Paman bukan orang pertama yang melayangkan aduan semacam itu”
“Aku masih ingat bagaimana pelayan sudah menyanyikan lagu untuknya, mungkin cukup untuk menciptakan album kompilasi. Tetap saja Seva tidak mau tidur”
Aku menghela nafas, “Beneran susah itu anak disuruh tidur. Apalagi tidur malam”
“Iya, aku dan Edric pernah sampai lelah mengajaknya main supaya mau tidur. Anehnya, ia bisa tidur tiba-tiba. Menit sebelumnya bergerak lincah, lalu selanjutnya tahu-tahu sudah tertidur”
“Mirip mainan robot yang mendadak berhenti bergerak akibat dicopot baterenya”
“Ya ampun Aqilla, bersama adikmu benar-benar menguras energi”
Aku tergelak.
__ADS_1
***