Antara Aku, Kamu, Dan Bayi Itu

Antara Aku, Kamu, Dan Bayi Itu
Ep. 34


__ADS_3

AUTHOR POV


Si ikan dan si monyet in action….


Sebenarnya menjadi mata-mata bukanlah keahlian keduanya. Keahlian si monyet memang masih menyangkut memata-matai, hanya saja lebih condong kepada memata-matai ruang ganti wanita, bukannya ini.


Si Edgar bahkan tidak tahu harus berpikir bagaimana saat mendapati Kak Arkan nya sedang bersama pelayan, serta seorang bayi.  Makan es krim bersama pula. Ini sangat tidak lazim.


Kalau kakaknya menggandeng wanita, ia mungkin bakal tidak peduli. Toh, itu pemandangan sehari-hari. Masalahnya, apa yang dilakukan kakaknya saat ini??


Kak mengapa kau malah berkencan dengan seorang pelayan??


Hiks, hilang sudah patnerku untuk berbuat mesum. Sekarang kau sudah berpindah ke lain pria. Hiks…


David, lebih-lebih si titisan ikan itu sama sekali tidak memiliki petunjuk mengapa kakaknya makan es krim berduaan. Eh, bertigaan. Eh berdua setengah maksudnya, soalnya bayi kan biasanya dihitung setengah harga. Ngapain coba kakaknya begitu??


Apaaa jangan-jangan saking seringnya bersama wanita, akhirnya dia mencapai titik jenuh. Kak Arkan merasa bosan mencicipi wanita sehingga beralih…


David menggelengkan kepalanya, menolak pemikiran tersebut. Masa iya sekarang kakaknya itu berpindah hati ke pria. Akh, mustahil. Tidaaakkk, itu tidak masuk akal.


“Mau sampai kapan nih kita mengintip macam ini” protes David akhirnya menyerah juga.


Habisnya, ia sudah menuruti keinginan si monyet itu untuk mematai-matai, yang berarti ia harus mengikuti secara diam-diam Kak Arkan yang keluar dari Sundae Lovers untuk selanjutnya menuju pusat perbelanjaan, terus berlanjut ke game center, sumpah ia sudah merasa pegal mengikuti keakraban Kak Arkan dan si pelayan sampai sejauh ini.

__ADS_1


“Isssh, sabar dikit napa, kita harus mencari tahu apa yang sebenarnya dilakukan Kak Arkan sama pelayan itu”


“Aku tahu” jawab ikan Nemo


“Apa??” buru si monyet dengan muka super ingin tahu.


“Mereka kencan, Kak Arkan sudah berubah. Huwaa….huwaaaaa…”


Dan si monyet pun hanya bisa ikut menangis pilu. Dilihat dari sudut manapun memang hanya itu kemungkinannya.


Kak Arkan jatuh hati sama pelayan, keduanya pun memutuskan untuk berpacaran, dan berkencan secara diam-diam.


Huwa…huwa…huwa……. (Termewek-mewek ala fishy and monkey….)


***


Aku tidak butuh meminjam kecerdasan Einsten yang digadang-gadang tingkat intelejensinya mencapai 160, untuk mengetahui betapa marahnya wanita mungil itu yang kini berdiri bersidekap di hadapanku.


Menyambut kedatanganku dan pelayan yang mengendap-endap melalui pintu belakang. Ya iyalah, kami kan membawa penumpang gelap ileran ini, mana bisa melenggang dengan leluasanya lewat pintu depan.


Aku menahan ludah berkali-kali, dari kejauhan saja aku sudah mengetahui penyambutan macam apa yang bakal diberikan oleh wanita itu.


Lihat saja matanya sudah membara bak tungku api yang menyala. Begitu juga aura hitam super menakutkan yang terpancar nyata di balik punggungnya. Tanpa diminta, otakku pun langsung membayangkan tubuh six pack milikku dimutilasi menjadi sepuluh bagian oleh wanita mungil ini, lalu diumpankan kepada Hion dan kawan-kawannya untuk diganyang sampai tak bersisa. Yah, lumayan membuat nyaliku menciut setengah.

__ADS_1


"Ihhh, kayaknya wanita itu benaran marah tingkat dewa yah." Pikir Arkan.


Pikir.. apa yang harus kau lakukan??


Aku membalikkan badanku, menghadap ke arah pelayan yang sedang menggendong Seva yang tertidur pulas lengkap dengan ilernya yang membasahi bagian pundak pelayan, “Berikan Seva kepadaku”


“Eh..”


Tanpa membuang waktu aku buru-buru mengambil bocah ileran yang kemungkinan bakal menjadi penyelamatku. Untungnya ia tertidur pulas sekali sehingga tidak terbangun oleh gerakan perpindahan gendongan ke lenganku.


Kita lihat saja Aqilla, apa kau berani mengamuk dengan aku masih menggendong Seva??


He eh, tanpa disadari aku meminjam smirk evilnya magnaeku.


“Cepat bawa masuk Seva lewat dapur, mumpung sepi disana” bisik Aqilla buru-buru menyeretku yang masih menggendong Seva.


Eh, dia tidak marah??


Yah, sudah bela-belain aku menggendong Seva sebagai tameng, ternyata??


Tapi, untunglah.


***

__ADS_1


__ADS_2