Antara Aku, Kamu, Dan Bayi Itu

Antara Aku, Kamu, Dan Bayi Itu
Ep. 15


__ADS_3

“Sudah sampai” ucapku memberitahukan kedua wanita itu.


“Terima kasih tuan…” ucap si wanita berbaju hijau.


“Kami akan menanti kunjungan tuan berdua. Dan jangan cemas, tidak akan masuk tagihan” si wanita hijau itu berkata dengan nada penuh rayuan.


“Oke…” jawab si monyet dengan nada antusias. Sementara aku hanya terdiam. Dan akupun membawa mobilku meluncur, meninggalkan hotel.


Pikir kalian begitu kan???


“Kak kenapa kau memutar balik?" Tanya Edgar bingung.


Aku mendiamkannya. Ada hal mengenai mereka yang mengusik benakku, jadi aku harus menemukan jawabannya.


Aku tahu kembali ke Blue Sapphire akan mengantarkan aku ke jawaban yang aku inginkan atau tidak??


Aku sama sekali tidak menyadari takdir apa yang sudah menungguku disana. Sebuah pertemuan tak terduga, they call it rendezvous.


Sebuah paket berhasil dikirimkan ke tempat tujuan. Mengingatkan aku akan perhiasan bermatakan batu safir milik nyonya tua. -S


Ya, tunggu saja satu paket lainnya yang akan dikirimkan beberapa waktu lagi. Si paket berukuran kecil sedang dalam perjalanan. Ini lebih sulit untuk dikirim, tapi sejauh ini perjalanan tidak mengalami gangguan – MK


Bagaimana pesan-pesan singkat itu akan membentuk muara pertemuan??

__ADS_1


Sebuah pertemuan tak terduga diantara orang-orang dengan benang takdir saling bertaut itu….


***


AQILLA POV


Kamar nomor 210, Blue Sapphire hotel….


Akhirnya kami berdua berhasil menjauhi The  Insomnia. Di saat yang bersamaan madam Kim menelepon Sandra untuk menanyakan keadaan kami.


Aku mencoleknya dan memintanya mengoper ponselnya, aku ingin berbicara dengan madam Kim. Bukannya memberikan ponselnya, Sandra malah melengos dan menjauhi. Ia bahkan berjalan menuju kamar mandi.


Ishh orang ini…


Mungkin berkat jubah yang sangat menyelimuti aku ini yang mencegah angin masuk, untunglah. Kalau dipikir ulang, kenapa juga madam Kim harus memakaikan aku baju minim semacam itu, dengan dalih membuatku terlihat berbaur?? Kan akunya tetap dikurung di kamar??


Bicara tentang dikurung di kamar, jika saja keadaannya tidak berubah menjadi genting begitu, kayaknya madam Kim bakal menghukumku karena berhasil keluar dari kamar. Aku tidak tahu apa yang aku alami malam ini sebuah keberuntungan atau kesialan.


“Nona…” Sandra keluar dari kamar mandinya.


“Bagaimana? apa kata madam Kim? Apa keduanya memang penjahat?” Sandra menghempaskan tubuhnya di sampingku yang kini duduk di ranjang hotel, ia mengangguk sejenak,


“Walaupun kamar yang aku  pesan bukan yang terbaik, paling wah, setidaknya nona aman disini kan” ucapnya seraya tersenyum.

__ADS_1


Aku menjawilnya, menuntutnya untuk bicara, “Sandra…”


“Apa nona tahu sulit sekali untuk membawa adik nona kemari? Yah, aku rasa memang sulit, mengingat mereka membawa bayi dengan sekumpulan serigala jahat mengejar dari belakang”


"Apa? Adikku juga diincar?” Bagaimana aku tidak terkejut, secara adikku masih kecil begitu.


Apanya yang berbahaya dari bayi sekecil itu? Atau mereka hanya sangat kejam sehingga menjadikan bayi sebagai mangsa.


“Entah bagaimana madam mendapat info ini, tapi dikabarkan justru adik nona seharusnya dilenyapkan juga. Untungnya keburu diselamatkan sebelum berhasil dilakukan. Soalnya setengah dari kekayaan ayahnya berada di tangannya. Setengah lagi di tangan nona. Jadi nona sepenuhnya diincar bukan hanya karena nona saksi, melainkan karena nona memegang kekayaan ayah nona yang sangat dibutuhkan oleh penjahat itu”


“Tapi kan, yang dimiliki ayah hanya hotel saja?”


Sandra memandang cemoh, “Hotel berbintang lima nona, itu kalau diuangkan tidak sedikit lho. Juga harta lainnya, sayang madam tidak merincinya”


Aku tidak tahu kalau ayahku ternyata kaya. “Lalu apa yang terjadi dengan adikku?”


“Masih berusaha dibawa kemari nona”


“Yang benar San?”


“Iyaa, barusan madam mengirim pesan kalau adik nona bakal diantar kemari sesegera mungkin. Jadi untuk sementara waktu nona dan tuan muda kecil akan tinggal disini. Kata madam, paman nona juga sudah dikabari”


“Pamanku??”

__ADS_1


***


__ADS_2